Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Pengetahuan Keluarga pada Pasien Gangguan Jiwa yang dipasung di Kota Bukittinggi Tahun 2025 Engla Rati Pratama; Hanif Casaktri; Silvia Intan Suri
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan yang berdampak besar pada individu, keluarga, dan masyarakat. Rendahnya literasi kesehatan jiwa sering kali membuat keluarga memilih pemasungan sebagai cara mengendalikan perilaku orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Praktik ini masih banyak ditemukan di Indonesia, termasuk di Kota Bukittinggi. Tingkat pengetahuan keluarga menjadi faktor penting dalam menentukan cara penanganan pasien gangguan jiwa di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan keluarga pada pasien gangguan jiwa yang dipasung di Kota Bukittinggi tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah keluarga pasien gangguan jiwa yang dipasung di wilayah kerja puskesmas Kota Bukittinggi. Sampel berjumlah 160 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dengan distribusi frekuensi. Dari 160 responden, diperoleh hasil bahwa pengetahuan keluarga dalam kategori baik sebanyak 12 responden (7,5%), kategori cukup sebanyak 93 responden (58%), dan kategori kurang sebanyak 55 responden (34,4%). Mayoritas responden mengetahui definisi dan indikasi pemasungan, namun pengetahuan masih rendah terkait dampak dan pencegahan pasung. Sebagian besar keluarga pasien gangguan jiwa di Kota Bukittinggi memiliki tingkat pengetahuan cukup mengenai pasung, namun masih terdapat 34,4% dengan pengetahuan kurang. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi edukasi berkelanjutan dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman keluarga agar praktik pemasungan dapat diminimalisir.
Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Pasien Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Tahun 2025 Rivo Rivo; Engla Rati Pratama; Silvia Intan Suri
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala gangguan persepsi sensori yang sering dialami pasien dengan skizofrenia. Gejala ini dapat mengganggu fungsi sosial, emosional, dan kualitas hidup pasien. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah terapi music klasik Mozart, yang diketahui mampu memberikan efek relaksasi, menurunkan kecemasan, dan membantu pasien mengalihkan perhatian dari stimulus halusinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi music klasik mozart terhadap pasien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasy eksperimental dengan rancangan on-group pretest-posstets. Sampel berjumlah 33 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) dan Lembar Observasi Tanda dan Gejala. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 30 responden (90,9%) mengalami penurunan skor halusinasi pendengaran, sedangkan 3 responden (9,1%) tidak mengalami perubahan, dan tidak ada yang mengalami peningkatan gejala. Hasil uji statistik diperoleh nilai Z = 4,889 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara skor sebelum dan sesudah diberikan terapi musik klasik Mozart. Kesimpulan penelitian ini adalah terapi musik klasik Mozart efektif menurunkan tingkat halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan persepsi sensori, sehingga dapat dijadikan intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien
Pengaruh Relaksasi Nafas Dalam terhadap Perilaku Kekerasan pada Pasien Gangguan Jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Mandiangin Kota Bukittinggi Tahun 2025 Intan Idtra Yani; Silvia Intan Suri; Engla Rati Pratama
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku kekerasan pada penderita gangguan jiwa merupakan kondisi yang serius yang dapat mengancam jiwa baik orang lain maupun dirinya sendiri, sehingga dibutuhkan upaya yang komprehensif untuk pengendalian dan pencegahan perilaku kekerasan pada penderita. Sekitar 35% pasien gangguan jiwa di Indonesia merupakan kelompok yang menunjukkan perilaku kekerasan. Begitu juga di wilayah kerja Puskesmas Mandiangin sebagai satu-satunya Puskemas yang melaporkan pasien gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan di Kota Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi nafas dalam terhadap perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa di wilayah kerja Puskemas Mandiangin Kota Bukittinggi tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah pra eksperimental dengan pendekatan one group pre test post test design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan yaitu sebanyak 16 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan besaran sampel sebanyak 16 responden. Pengumpulan data menggunakan instrumen RUFA perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa. Analisis data meliputi analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum rata-rata skor RUFA perilaku kekerasan responden adalah 8,81 dan setelah intervensi turun menjadi 6,37. Terdapat perbedaan rata-rata perilaku kekerasan antara sebelum dan sesudah intervensi dengan beda rata-rata 2,44 dan p value = 0,000 (p < 0,05). Disimpulkan bahwa pemberian relaksasi nafas dalam berpengaruh signifikan terhadap penurunan perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa. Maka dari itu diharapkan kepada semua pihak terutama petugas kesehatan dan anggota keluarga untuk dapat menerapkan teknik relaksasi nafas dalam untuk meredakan marah dan menekan frekuensi perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa.