Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ROLLING KAPAL PANCING TONDA DI KABUPATEN SINJAI ROLLING OF TROLLING LINER ON SINJAI REGENCY Aulia Azhar Wahab; St. Aisjah Farhum; Faisal Amir
Fish Scientiae Vol 7 No 2 (2017): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.354 KB)

Abstract

Trolling liner was a dominance used by fishermans in Sinjai Regency was made by traditional without planning before, so stability and sea keeping ability about sea condition was unknown. The research aimed to analyze the rolling motion of trolling liner in regular condition of beam seas. The research was a case study of trolling liner used by the fisherman in Sinjai.Geometry measurement vessel form was done to get a model of trolling liner and then make a redesign as a compared and then make a simulation using program Maxsurf v8.i. the result showed that the sample have a good stability. Higher rolling was 18,168 on high wave -0,1971 m and lower rolling was -18,168 on high wave 0,1971 m,while there design showed high errolling was14,102 on high wave -0,1970 m and lower rolling was -14,102 on high wave 0.1968 m.
STABILITAS KAPAL PANCING TONDA DI KABUPATEN SINJAI Aulia Azhar Wahab; St. Aisjah Fahrum; Faisal Amir; Admi Athirah
Fish Scientiae Vol 8 No 2 (2018): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.039 KB)

Abstract

Kapal pancing tonda paling dominan digunakan nelayan di kabupaten sinjai dibuat secara tradisional dan tidak memiliki perencanaan sebelumnya sehingga kestabilan kapal pada saat pengoperasian tidak diketahui.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas kapal pancing tonda yang digunakan nelayan di Kabupaten Sinjai.Penelitian ini merupakan studi kasus terhadap kapal pancing tonda yang digunakan nelayan.Menggunakan metode purposive sampling. Sampel yang digunakan mewakili tiga ukuran kapal yaitu 15,80 m (kecil), 18,00 m (sedang), dan 20,27 m (besar).Sampel dibuatkan model berdasaarkan dimensi utama kapal menggunakan program Maxsurf v8.i kemudian disimulasikan untuk memperoleh nilai stabilitas kapal sampel pada 3 kondisi yang berbeda (kapal berangkat, kapal beroperasi, dan kapal pulang). Hasil penelitian menunjukkan kapal yang diteliti memiliki nilai Cb=0,25-0,28, Cp=0,56-0,58, Cm=0,56-0,65, Cw=0,46-0,49 dan nilai GZ Max pada 3 kondisi yang berbeda berada pada kisaran 0,73-0,99 telah memenuhi nilai standarisasi yang telah ditetapkan oleh International Maritime Organization (IMO).
STRUKTUR UKURAN SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus) DI PERAIRAN RAWA BANGKAU KALIMANTAN SELATAN Eka Anto Supeni; Aulia Azhar Wahab; Ariska Ariska
Fish Scientiae Vol 10 No 1 (2020): Issue June-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.834 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v10i1.150

Abstract

Sepat rawa (Trichogaster trichopterus) merupakan ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis sebagai sumber protein. Upaya nelayan hanya mengandalkan hasil tangkapan dari alam dengan melakukan penangkapan terus-menerus, sehingga hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap populasi sepat rawa di perairan rawa Bangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur ukuran sepat rawa di perairan rawa Bangkau. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dari bulan Maret – Juni 2019. Metode yang digunakan adalah sampling acak sederhana, kemudian data dianalisis secara deskriptif. Selama penelitian total sampel yang diukur sebanyak 2371 individu, dimana panjang sepat rawa yang tertangkap berkisar 54 – 105 mm dengan panjang rerata 8,0 ± 8,69 mm dan ukuran berat sepat rawa yang tertangkap berkisar antara 2,42 – 21,12 gram dengan berat rerata 8,40 ± 2,82 gram. Persamaan regresi yang terbentuk dari hubungan panjang total dan berat sepat rawa yaitu Y = 0,294X - 15,144 dengan koefisien korelasi R2 = 0,824.
Evaluasi palka ikan sebagai upaya pemenuhan standar penanganan ikan yang baik pada kapal bouke ami: Evaluation of fish cold storage as an effort to fulfill good quality fish on the fishing vessel of bouke ami Aulia Azhar Wahab; Budhi Hascaryo Iskandar; Yopi Novita; Vita Rumanti Kurniawati; Uju Uju
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 26 No 2 (2023): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 26(2)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v26i2.46083

Abstract

Kapal bouke ami adalah salah satu kapal yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman dengan durasi pengoperasian yang lama di laut. Permasalahan yang dihadapi oleh kapal dengan durasi trip panjang adalah ketersediaan palka sebagai fasilitas penanganan ikan di kapal sesuai standar yang sudah ditetapkan untuk menjaga kesegaran ikan di atas kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator sebagai acuan standar palka yang diatur secara legal oleh pemerintah dan mengkaji kesesuaian kondisi palka kapal bouke ami terhadap indikator acuan standar palka yang ditetapkan secara legal di Indonesia, khususnya pada kapal bouke ami yang berbasis di PPSNZ Jakarta. Metode yang digunakan yaitu studi literatur terhadap peraturan mengenai palka sebagai fasilitas penanganan di atas kapal yang diatur oleh pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan dan melalui Badan Standardisasi Nasional serta observasi terhadap 30 unit kapal bouke ami. Hasil penelitian menunjukkan indikator yang digunakan dalam penetapan standar fasilitas penanganan di atas kapal adalah material, desain, dan instrumen pelengkap yang diatur melalui Permen KP No. 7 tahun 2019, No. 33 tahun 2021, SNI 01-4872.1-2006, SNI 2729:2013, dan SNI 4110:2014. Terdapat beberapa indikator yang tidak sesuai dengan standar pada palka kapal bouke ami antara lain material masih terbuat dari besi yang dapat menyebabkan korosif, desain palka tidak memungkinkan untuk dilakukan sistem penyimpanan first in first out, serta ketersediaan instrumen pelengkap yaitu pengukur suhu, tempat sampah serta ketersediaan fasilitas higienis untuk ABK masih kurang diperhatikan
Analisis Kesesuaian Area Kerja pada Kapal Gillnet Hasil Konversi Kapal Lampara (Trawl): Suitability Analisis of Working Area for Gillnet Vessel Modification from Lampara (Trawl) Vessel Sukardi, Sudirman; Wahab, Aulia Azhar; Fadhani, Ahmad Najmuddin Pangku
JFMR-Journal of Fisheries and Marine Research Vol. 10 No. 1 (2026): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2026.010.01.6

Abstract

Penggunaan alat tangkap pukat hela (trawl) masih dijumpai di wilayah pesisir Kalimantan Selatan. Meskipun telah dilarang melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/PERMEN-KP/2015. Di Kabupaten Tanah Laut, alat tangkap ini dikenal sebagai lampara yang secara operasional memiliki karakteristik serupa dengan trawl. Keberadaan lampara menimbulkan permasalahan dari aspek legalitas, ekologi, dan sosial, sehingga diperlukan upaya konversi ke alat tangkap yang lebih ramah lingkungan, salah satunya gillnet. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian kebutuhan area kerja (working area) pada kapal gillnet hasil redesain kapal lampara. Metode yang digunakan adalah rekayasa desain melalui pengubahan general arrangement dan tata letak area kerja kapal lampara agar sesuai dengan kebutuhan operasional kapal gillnet. Data yang digunakan terdiri atas 34 kapal, dengan rincian 17 kapal lampara dan 17 kapal gillnet. Redesain dilakukan melalui penggambaran ulang general arrangement untuk menyesuaikan tata letak area kerja berdasarkan acuan desain kapal gillnet. Analisis ketersediaan area kerja dilakukan dengan membandingkan luas area bebas yang tersedia dan kebutuhan area kerja anak buah kapal (ABK). Hasil analisis two-step cluster terhadap rasio ukuran utama menunjukkan bahwa kapal lampara dan kapal gillnet memiliki tingkat kemiripan yang tinggi, sehingga secara teknis relevan untuk dialihfungsikan menjadi kapal gillnet. Ketersediaan working area pada kapal gillnet eksisting sebesar 2,10 m², sedangkan pada kapal gillnet hasil redesain mencapai 4,3 m² dengan area bebas sebesar 3,3 m². Hasil ini menunjukkan bahwa ketersediaan area kerja pada kapal gillnet hasil redesain masih mencukupi untuk pengoperasian oleh dua orang ABK.   Trawl fishing gear is still found in use in the coastal waters of South Kalimantan, although it has been prohibited under the Regulation of the Minister of Marine Affairs and Fisheries Number 2/PERMEN-KP/2015. In Tanah Laut Regency, this fishing gear is locally known as lampara, which operationally has characteristics similar to trawl. The use of lampara causes legal, ecological, and social problems, therefore conversion to more environmentally friendly fishing gear, such as gillnet, is required. This study aims to analyze the suitability of working area requirements on gillnet vessels resulting from the redesign of lampara vessels. The method used was design engineering by modifying the general arrangement and the working area layout of lampara vessels to conform to the operational requirements of gillnet vessels. The data consisted of 34 vessels, including 17 lampara vessels and 17 gillnet vessels. The redesign was carried out by redrawing the general arrangement to adjust the working area layout based on gillnet vessel design references. The analysis of working area availability was conducted by comparing the available free area with the working area requirements of the crew. The results of the two-step cluster analysis on the ratios of principal dimensions show that lampara vessels and gillnet vessels have a high level of similarity, indicating that they are technically feasible to be converted into gillnet vessels. The available working area on existing gillnet vessels is 2.10 m², while the redesigned gillnet vessel provides a working area of 4.3 m² with a free area of 3.3 m². These results indicate that the working area on the redesigned gillnet vessel is sufficient to support operations by two crew members.