K Kurniawan
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Perbandingan Kadar Total Flavonoid Metode Infusa Dan Rendaman Buah Kurma Ajwa (Phoenix Dactylifera L.) Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis Aural Miftahul Hasanah; K Kurniawan; Amal Fadholah
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 1 (2023): JIGF - Mei
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i1.2

Abstract

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder dari polifenol, yang ditemukan secara luas pada tanaman serta makanan dan juga memiliki berbagai efek bioaktif termasuk anti-inflamasi anti virus, kardioprotektif, anti-diabetes, anti penuaan, anti kanker dan antioksidan. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan flavonoid adalah buah kurma (Phoenix dactylifera L.). Kandungan kadar total flavonoid kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) diketahui dengan menggunakan metode infusa dan rendaman. Infusa dan rendaman kurma ajwa dilakukan dengan menimbang sampel buah kurma sebanyak 50 gram yang dipisahkan dengan bijinya, lalu ditambahkan aquades sebanyak 200 ml hingga kurma ajwa terendam seluruhnya, pada infusa dipanaskan dalam penangas air selama 15 menit, dihitung ketika suhu dalam panci telah mencapai 90°C dan rendaman didiamkan selama 24 jam. Adanya perbandingan kadar total flavonoid metode infusa dan rendaman buah kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) diketahui dengan analisis kualitatif dengan metode Wilstater dan analisis kuantitatif spektrofotometri Uv-Vis. Perbedaan metode yang digunakan menghasilkan kadar flavonoid yang berbeda. Kadar senyawa flavonoid metode rendaman lebih tinggi (0.1564 % dibandingkan dengan metode infusa (0.0628 %) sesuai dengan hasil uji SPSS dengan nilai sgnifikan < 0.05. Kata kunci: Kadar total flavonoid, infusa ajwa, rendaman ajwa, spektrofotometri Uv-Visible.
Uji Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Buah Labu Air (Lagenaria Siceraria (Molina) Standl.) Dan Madu Multiflora Terhadap Salmonella Typhi Secara In Vitro Desta Astarina Saputri Toasa; K Kurniawan; Solikah Ana Estikomah
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 1 (2023): JIGF - Mei
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i1.3

Abstract

Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak buah labu air (Lagenaria siceraria (Molina) Standl.) dan madu multiflora, serta aktivitas kombinasi keduanya dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi secara in vitro. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan 7 kelompok perlakuan yang terdiri dari 5 kelompok kombinasi ekstrak buah air dan madu multiflora yaitu konsentrasi 100%:0%, 75%:25%, 50%:50%, 25%:75%, 0%:100% v/v dan 2 kelompok kontrol positif dan negatif. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 kali pengulangan. Hasil: Hasil identifikasi senyawa menunjukkan bahwa ekstrak buah labu air mengandung saponin dan polifenol. Sedangkan madu multiflora tidak mengandung satupun senyawa metabolit sekunder baik alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan polifenol. Hasil uji antibakteri dengan metode difusi cakram menunjukkan bahwa semua konsentrasi kombinasi eksrak buah labu air dan madu multiflora memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Kesimpulan: Konsentrasi teraktif dari kombinasi ekstrak buah labu air dan madu multiflora dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi adalah konsentrasi 0%:100% v/v dengan diamter zona hambat sebesar 20.13 mm.
Uji Perbandingan Aktifitas Antioksidan Ekstrak Daun Kenikir (Cosmos Caudatus Kunth) Dan Daun Leunca (Solanum Ningrum L) Dengan Metode Dpph (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil) Ivo Silvani; K Kurniawan; Indah Tri Lestari
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 1 (2023): JIGF - Mei
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i1.4

Abstract

Kenikir dan leunca seringkali digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai penikmat makanan atau yang biasa disebut dengan lalapan. Kenikir (Cosmos caudatus Kunth) dan Leunca (Solanum ningrum L) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan suatu molekul yang mampu menetralkan efek radikal bebas dalam penstabilan molekul yang berbahaya, dengan cara menerima dan juga mendonasikan elektron untuk mengeliminasi molekul dalam kondisi yang tidak berpasangan. Radikal bebas sering didapatkan dari lingkungan, seperti asap rokok, obat, makanan dalam kemasan, bahan adiktif, dan yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak daun kenikir dan daun leunca dengan metode DPPH. Metode yang digunakan dalam pengujian kali ini adalah dengan menggunakan skrining fitokimia dan uji antioksidan dengan DPPH, DPPH merupakan radikal bebas yang stabil. Parameter yang digunakan dalam mengetahui aktivitas antioksidan adalah IC50. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa estrak daun kenikir dan daun leunca memiliki aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan yang tinggi terdapat pada daun leunca dengan nilai IC50 sebesar 91,43 ppm, dan pada daun kenikir menunjukkan aktivitas antioksidan yang lemah dengan nilai IC50 sebesar 706,49 ppm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun leunca memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dari pada ekstrak daun kenikir.
ESTABLISHMENT AND ASSISTANCE OF INDEPENDENT CARE FOR THE USE OF FAMILY MEDICINAL PLANTS FOR SOCIETY K Kurniawan; Solikah Ana Istiqomah; Satwika Budi Sawitri
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAKes) Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Abdimas Kesehatan
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Health Effort Based Human Resources is a real fact of community participated in health development that can trigger the community empowerment activities, such as Family Medicinal Plants (FMP). FMP are several kinds of selection plants that could be planted in the yard or home environment. The existence of this plants in the home yard are important, especially for the family with lack of access to the health services. This was a community service; community empowerment entitled “Establishment and Assistance for Independent Care for the Use of Family Medicinal Plants (TOGA) in the Community" in Tempursari Hamlet, Karanganyar, Sambungmacan, Sragen Regency. The aims were to improve the community and cadre knowledge and ability about the utization of FMP. There were 16 people involved in this community service. The instruments were pre-posttest questionnaire and observation cheklist. The analize was used frequency distribution, graph for the pre-posttest value, and also give a module about the Family Medicinal Plants (FMP) and 5 kinds of medicinal plants to the participants. The result showed mean of pretest was 71,56 and its increase to 84,69 in posttest, it showed the achievement of the Communication Information and Education (CIE)implementation and the dissemination that the minimum score level of posttest was 75. It means, there were the raising level of community knowledge about FMP and the utilization. It is recommended to the public health center to held the workshop and founding the cadre and community about FMP and the utilization
Making Sour Turmeric Herbal Drink to Relieve Dysmenorrhea K Kurniawan; Nadia Iha Fatihah; Satwika Budi Sawitri
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAKes) Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Abdimas Kesehatan
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jakes.v1i1.29

Abstract

Adolescence is a period of transition or transition from childhood to adulthood which is marked by changes both physically and psychologically, one of the physical changes in adolescents is menstruation. 98.8% of adolescents in Indonesia experience dysmenorrhea during menstruation. Herbal products or phytopharmaceuticals are currently the main alternative for adolescence girls in overcoming dysmenorrhea, one of which is turmeric sour herbal drink. Turmeric sour drink is a drink that is processed with the main ingredient of turmeric. The active compounds of turmeric and sour, namely curcumin and essential oils, have the potential as analgesics that will inhibit uterine contractions, thereby reducing dysmenorrhea. Turmeric is one of the spices that are widely cultivated in Pondok Gontor. Even though they are known for their turmeric production, there are not many adolescence girls in Pondok Gontor Village that produce turmeric and sour herbal drinks. The purpose of this community service is to increase the knowledge and skills of adolescence girls in Pondok Gontor Village in making turmeric and sour herbal drinks. This activity was carried out on 20 adolescence girls in the Hall Pondok Gontor Village in October 2023. The methods used were socialization, demonstration and interactive discussion. Adolescence girls were given training and hands-on demonstrations for processing turmeric. Participants who took part in the activity were very enthusiastic and had many direct discussions related to the manufacturing process. The manufacture of turmeric sour herbal drink can be used as a dysmenorrhea reliever and can be developed into a commercial product and has a selling value.