Prayitno Prayitno
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PROSES SEEDING DAN AKLIMATISASI AEROB – ANAEROB UNTUK PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI GONDORUKEM Nabila Tasya Amalia; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4920

Abstract

Air limbah yang dihasilkan oleh industri gondorukem mengandung bahan – bahan organik BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) yang cukup tinggi sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan perairan. Salah satu metode pengolahan air limbah industri gondorukem adalah menggunakan proses biologi (anaerob – aerob) yang melibatkan bakteri anaerob – aerob. Efisiensi pengolahan sangat dipengaruhi oleh jumlah, metabolisme, dan aktivitas dari bakteri tersebut. Selanjutnya metabolisme mikroorganisme sangat ditentukan oleh proses pembenihan (seeding) dan aklimatisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat dalam air limbah industri gondorukem. Penelitian dilakukan proses seeding terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan proses aklimatisasi. Sedangkan parameter yang diuji adalah pH, suhu (temperature), dan jumlah mikroorganisme. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas mikroorganisme pada aerob telah dapat berkembang biak dengan baik dalam hari ke 14 dengan capaian sebesar 9,1 x 107 dan hari ke 21 sebesar 0,9 x 108. Setelah hari ke 28, aktivitas mikroorganisme menurun mencapai 8,5 x 106. Pada aktivitas mikroorganisme anaerob berkembang baik pada hari ke 28 dengan capaian sebesar 3,1 x 108 lalu menurun di hari ke 35 sebesar 7,7 x 106.
OPTIMASI PENGGUNAAN SODA KAUSTIK PADA PROSES TREATING PERTASOL CA UNIT CDU PPSDM MIGAS CEPU Prayitno Prayitno; Adenia Aulia Hapsari; Mochamad Rochim
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5070

Abstract

Hasil olahan minyak mentah berupa pertasol CA di PPSDM MIGAS Cepu diproduksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Sebelum didistribusikan kepada konsumen, pertasol CA harus memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan Pertamina. Pertasol CA yang didak memenuhi spesifikasi ditandai dengan kandungan sulfur yang tinggi, dimana sulfur merupakan impurities. Kandungan sulfur yang mengkontaminasi pertasol CA berada dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S) dan merkaptan (RHS) dalam fase gas terlarut. Untuk menghilangkan senyawa sulfur perlu dilakukan treating. Treating merupakan proses pemurnian untuk mengurangi impurities seperti belerang dan senyawa organik lain yang terkandung dalam produk. Proses treating dilakukan dengan menggunakan soda kaustik sebagai agen pengikat impurities. Kandungan sulfur berlebih dapat menyebabkan penurunan mutu produk, menimbulkan korosi dan menurunkan stabilitas pada penyimpanan, sehingga proses treating perlu dioptimalkan. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh konsentrasi soda kaustik, rasio volume pertasol CA: soda kaustik, dan lama waktu penggunaan kembali soda kaustik pada proses treating terhadap kualitas pertasol CA. Proses treating pada percobaan ini menggunakan konsentrasi soda kaustik (7,5; 10; 12,5 M), rasio volume pertasol CA: soda kaustik (4 : 1 ; 3 : 1 ; 2 : 1). Parameter yang dianalisis, antara lain: analisis sulphur content ASTM D 2622, color saybolt ASTM D 156, copper corrosion ASTM D 130 dan doctor test. Hasil penelitian menunjukkan pertasol CA on spec diperoleh pada kondisi operasi optimum yaitu pada konsentrasi 12,5 M, dan rasio volume pertasol CA : soda kaustik 2 : 1, dengan efisiensi desulfurisasi sebesar 50,24 %. Penggunaan kembali soda kaustik menunjukkan keberadaan sulfur relatif tinggi pada penggunaan ke-13.
EFEKTIVITAS TEPUNG TEH DAN TEPUNG AMPAS TEH SEBAGAI FILLER PHENOL-FORMALDEHYDE RESIN TERHADAP KUALITAS PLYWOOD Ellysa Rahma Afrillia; Balgis Sulha; Sandra Santosa; Prayitno Prayitno; Any Sulistio
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i3.6235

Abstract

Hasil polimerisasi kondensasi antara phenol dengan formaldehyde disebut phenol-formaldehyde resin yang diaplikasikan untuk merekatkan lapisan veneer pada kayu lapis kelas eksterior. Bahan pengisi atau filler ditambahkan pada phenol-formaldehyde resin untuk meningkatkan keteguhan rekatnya. Bahan ini biasanya mengandung selulosa. Ditinjau dari kandungan selulosa yang cukup besar pada teh 34%  dan ampas teh 43,87%, maka digunakan kedua bahan tersebut sebagai alternatif bahan pengisi (filler). Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi  pengaruh kadar filler tepung teh dan tepung ampas teh terhadap viskositas phenol-formaldehyde resin serta pengaruhnya terhadap kualitas plywood. Penelitian dilakukan menggunakan metode pengempaan dingin selama 30 menit dan pengempaan panas dengan suhu 125°C selama 330 detik. Variabel tetap yang digunakan yaitu jenis veneer berupa kayu meranti, phenol-formaldehyde resin sebagai perekat, dan waktu pengadukan selama 5 menit. Sedangkan, variabel bebas yang digunakan adalah tepung ampas teh dan tepung teh sebagai filler dengan kadar 12,5% dan 6%. Efektivitas penambahan filler dinilai dari hasil analisis bonding strength dan delaminasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar filler yang ditambahkan dapat meningkatkan viskositas campuran. Hasil bonding strength dan delaminasi menunjukkan bahwa tepung ampas teh dan tepung teh telah memenuhi JAS dengan nilai rata-rata tepung ampas teh yang lebih besar baik pada range viskositas 20-30 Poise (kadar filler 12,5%) dan 6-10 Poise (kadar filler 6%). Sehingga, tepung teh dan tepung ampas teh dapat dijadikan sebagi filler phenol-formalehyde resin.
STUDI PENGARUH KOAGULASI-FLOKULASI DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR LABORATORIUM JURUSAN TEKNIK KIMIA DALAM PENURUNAN KEKERUHAN DAN TSS Yessy Prisca Yunia; Profiyanti Hermien Suharti; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 2 (2025): June 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i2.6718

Abstract

Politeknik Negeri Malang, sebagai institusi pendidikan vokasional, menghasilkan limbah laboratorium kimia yang memerlukan pengelolaan khusus untuk mencegah dampak negatif terhadap lingkungan. Saat ini, limbah tersebut diolah dengan cara sederhana yang berpotensi membahayakan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas koagulan tawas dan PAC dalam proses koagulasi-flokulasi untuk pengolahan limbah laboratorium Jurusan Teknik Kimia (JTK) Politeknik Negeri Malang, dengan fokus pada parameter pH, kekeruhan, dan Total Suspended Solid (TSS). Metodologi penelitian ini melibatkan eksperimen di Laboratorium Pengolahan Limbah JTK Politeknik Negeri Malang. Limbah laboratorium diolah dengan koagulan tawas dan PAC pada berbagai dosis. Proses koagulasi dilakukan dengan pengadukan cepat diikuti oleh pengadukan lambat, dan hasilnya dianalisis untuk mengukur perubahan pH, kekeruhan, dan TSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan koagulan tawas dan PAC mampu menurunkan pH limbah dari 8 menjadi 7, serta meningkatkan penurunan kekeruhan dan TSS. Koagulan PAC mencapai penurunan kekeruhan tertinggi sebesar 87% pada dosis 101 ppm, sementara tawas mencapai 72% pada dosis 80 ppm. Untuk TSS, PAC menunjukkan penurunan tertinggi sebesar 86,8% pada dosis 101 ppm, sedangkan tawas mencapai 72% pada dosis 80 ppm. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa PAC lebih efektif dalam menurunkan kekeruhan dan TSS dibandingkan tawas. Penggunaan alat pH meter dan rentang dosis koagulan yang lebih besar direkomendasikan untuk penelitian selanjutnya guna mendapatkan hasil yang lebih akurat dan representatif.
KAJIAN PENGGUNAAN LIMBAH K3 SEBAGAI ALTERNATIVE FUEL RAW MATERIAL DI PT SEMEN GRESIK PABRIK REMBANG Nabilah Fauziah Agustina; Prayitno Prayitno; Alfi Fadhli
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 2 (2025): June 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i2.6773

Abstract

Industri semen secara global sedang mencari dan menerapkan berbagai sumber energi baru yang mampu mengurangi dampak negatif pada lingkungan, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar batubara, menghemat biaya, dan mendukung keberlajutan dalam produksi. PT Semen Gresik Rembang telah menginisiasi penggunaan beberapa bahan bakar alternatif pada unit AFR (Alternative Fuel Raw Material), antara lain: penggunaan limbah biomassa pertanian, limbah kemasan, oli bekas, dan majun bekas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan limbah padat K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) sebagai bahan bakar alternatif pengganti Batubara. Limbah padat berupa K3 yang digunakan selama percobaan, antara lain safety helmet, chinstrap, dan sepatu safety. Percobaan dilakukan dengan memasukkan limbah K3 ke dalam kalsiner yang selanjutnya dilakukan analisis pengujian di laboratorium QA (quality assurance). Parameter yang digunakan selama penelitian, antara lain: penghematan biaya (saving cost), torci kiln, massa batubara, temperature kalsiner, Freelime, dan parameter hasil CEMs. Sedangkan parameter yang diujikan, antara lain: ash content, moisture, dan kadar kalori. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan komposisi campuran limbah K3 terbaik adalah (80% helm, 10% chinstrap, dan 10% sepatu) yang menghasilkan kadar ash content (1,180%), kadar moisture (0,620%), dan kadar kalori (10075 kalori/gram). Selanjutnya limbah padat K3 sebesar 2,4% pada pemasukkan kalsiner dapat memberikan kontribusi dengan saving cost (Rp 803.615,07/jam), torci kiln (35,4%), massa batubara (28,4 ton/jam), temperature kalsiner (891 °C), dan Freelime (0%). Sedangkan gas buang yang dihasilkan jauh di bawah batas baku mutu pada Peraturan Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 19, 2017 yaitu Dust 20,73 mg/m³, SO₂ 17,89 mg/Nm³, NOx 56,13 mg/Nm³, CO 301,51 mg/Nm³, O2 10,1%.
PENGARUH BERAT DAN UKURAN ADSORBEN TERHADAP PENURUNAN KADAR AMMONIA DAN COD PADA ADSORPSI KONTINYU AIR LIMBAH INDUSTRI AMMONIA Eka Emiliana Putri; Prayitno Prayitno; Amran Halim
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i1.6888

Abstract

PT. Pupuk Kujang merupakan pabrik yang memproduksi beberapa jenis pupuk, salah satunya pupuk urea   yang dalam pembuatannya menghasilkan air limbah amonia. Air limbah amonia yang dihasilkan masih mengandung amonia dengan kadar tinggi sehingga perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut. Pada saat ini, air limbah amonia diolah dengan menggunakan stripper amonia, namun hasil pengolahan masih mengandung kadar amonia tinggi sekitar 2500 mg/L, sehingga pada penelitian ini dilakukan pengolahan limbah amonia menggunakan adsorben berupa karbon aktif.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berat dan ukuran adsorben (karbon aktif) terhadap penurunan kadar amonia dan COD dengan uji adsorpsi kontinyu. Variabel yang digunakan dalam percobaan adalah berat adsorben sebesar 400 gram, 600 gram dan 800 gram dengan ukuran mesh 8 dan mesh 16. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada berat adsorben 800 gr, dan ukuran adsorben 16 mesh diperoleh penurunan kadar amonia maksimum sebesar 68,95%, dan COD 72,50%.
PENGARUH PENAMBAHAN ASAM SITRAT PADA PROSES ACID DEGUMMING TERHADAP KUALITAS GUM ROSIN DI PT INHUTANI V TRENGGALEK Fadya Haya Bryliani; Prayitno Prayitno; Desta Enggar Dwi Prasetya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i3.7036

Abstract

PT Inhutani V Trenggalek merupakan sebuah industri yang bergerak di bidang pengolahan getah pinus menjadi gum rosin dan terpentine. Pengolahan Oleo Pine Resin yang dilakukan pada PT Inhutani V masih menggunakan asam oksalat sebagai pengikat kotoran halus, dimana kotoran tersebut merupakan penghambat dalam proses pembentukan gum rosin. Oleo Pine Resin merupakan getah pinus yang diencerkan menggunakan minyak terpentin untuk diproses lebih lanjut dengan hasil akhir yaitu gum rosin. Namun metode pengolahan OPR yang dilakukan oleh PT Inhutani V, grade warna yang didapatkan masih menjadi masalah utama dalam produksi gum rosin. Metode lain yang dapat dikembangkan dalam men-treatment getah untuk meningkatkan kualitas warna gum rosin yaitu dengan proses acid-degumming. Acid degumming adalah proses perendaman getah menggunakan larutan asam dengan pemanasan untuk menghilangkan kandungan lendir yang ada di dalam getah pinus. Asam yang digunakan dalam proses acid degumming adalah asam sitrat karena mampu mengikat ion-ion logam serta kotoran halus pada getah pinus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh variasi asam sitrat pada proses acid-degumming terhadap kualitas Gum rosin. Percobaan dilakukan dengan cara getah pinus direndam,  ditambahkan asam sitrat kemudian dipanaskan. Parameter yang diuji, antara lain analisis bilangan asam, analisis warna, analisis non-volatile, dan analisis titik lunak. Hasil penelitian yang didapatkan menggunakan proses degumming yaitu semakin tinggi konsentrasi asam sitrat yang digunakan maka kualitas warna Gum rosin semakin baik, dimana pada konsentrasi asam sitrat sebesar 2,5% menghasilkan warna gum rosin yang baik yaitu warna sebesar 5,9 gardner scale.
PENGARUH DOSIS TERPENTIN TERHADAP KUALITAS GUM ROSIN Ervina Dewi Widyastuti; Prayitno Prayitno; Desta Enggar Dwi Prasetya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i3.7309

Abstract

Gondorukem (gum rosin) merupakan bottom product dari proses distilasi getah pinus sedangkan minyak terpentin adalah sebagai hasil distilat. Pada saat ini gum rosin yang dihasilkan oleh PT Inhutani V Unit Industri Trenggalek masih berwarna kecoklatan dan termasuk golongan kelas kedua (Window Glass) dengan skala Gardner ≤ 8. Beberapa upaya perbaikan warna telah dilakukan salah satunya dengan cara menambahkan asam oksalat. Namun demikian, dengan penambahan asam oksalat tersebut masih juga belum memenuhi kualitas gum rosin yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan dosis terpentin pada proses pencucian getah pinus terhadap kualitas gum rosin. Adapun tahapan penelitian ini antara lain: tahap awal persiapan, pelaksanan dan analisis. Tahap awal persiapan meliputi preparasi alat dan bahan, tahap pelaksanaan percobaan yaitu pemurnian getah pinus dan distilasi, tahap analisis yaitu meliputi nilai yield, color Gardner (warna), bilangan asam dengan metode titrasi, softening point (titik lunak) dan non-volatile. Variabel penelitian yang digunakan adalah variasi dosis terpentin yaitu  27,5 ; 30,5 ; 33,5% (b/b). Hasil penelitian didapatkan bahwa penambahan dosis terpentin pada pengolahan getah pinus dapat berpengaruhi terhadap kualitas produk gum rosin, dimana penambahan dosis terpentin 30,5% (b/b) dapat meningkatkan warna skala Gardner sebesar 8,1 yang termasuk golongan kelas ketiga (Nancy).
ANALISIS EFEKTIVITAS KINERJA SEPARATOR PADA UNIT PENGOLAHAN LIMBAH (UPL) 1 PGT REJOWINANGUN TRENGGALEK Atma Gusti Amanda Putri; Prayitno Prayitno; Andik Iswarayudha
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 4 (2025): December 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i4.7553

Abstract

Pada industri gondorukem dan terpentin menghasilkan air limbah yang mengandung jonjot dan minyak terpentin terlarut. Pada tahap awal pengolahan air limbah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), air limbah diolah dalam suatu separator guna memisahkan jonjot dan minyak terpentin dari air limbah. Namun demikian, proses pemisahan dalam separator masih belum efektif sehingga effluent separator masih memiliki kandungan minyak terpentin tinggi, dimana kondisi demikian mengakibatkan gangguan dan penurunan kualitas kinerja IPAL. Oleh karena itu, diperlukan proses pre-treatment sebelum separator melalui penggunaan proses demulsifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kecepatan pengadukan dan dosis demulsifier pada proses demulsifikasi terhadap efektifitas kinerja separator. Penelitian dilakukan menggunakan alat aeration apparatus dengan variasi kecepatan pengadukan serta penambahan dosis demulsifier. Variabel yang digunakan adalah kecepatan pengadukan pada 787 rpm, 905 rpm, dan 1088 rpm, dan dosis demulsifier 1000 ppm, 2000 ppm, dan 3000 ppm. Parameter yang diuji adalah Total Suspended Solid (TSS), Non-volatile (NV), dan Dissolved Oxygen (DO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kecepatan 787 rpm, dan dosis demulsifier 2000 ppm mampu menurunan kadar Total Suspened Solid (TSS) sebesar 88,43%. Sedangkan pengadukan 1088 rpm dan dosis demulsifier sebesar 3000 ppm mampu menurunkan konsentrasi Non-volatile (NV), dan Dissolved Oxygen (DO) masing-masing sebesar 35% dan 61,76%. Kombinasi kecepatan pengadukan 1088 rpm dengan dosis demulsifier 3000 ppm memberikan hasil terbaik secara keseluruhan dalam proses demulsifikasi.