Prayitno Prayitno
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI PENGOLAHAN RUMPUT LAUT MENGGUNAKAN KOMBINASI PROSES AERATED FIXED FILM BIOFILTER (AF2B) DAN ADSORPSI GRANULAR Fanisia Salsyabila Fanani; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 1 (2023): March 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i1.521

Abstract

Limbah yang digunakan pada penelitian ini diambil dari industri pengolahan rumput laut yang mengolah rumput laut menjadi produk ATCC (Alcali Treated Cottonii Chips), dimana dalam proses produksinya menghasilkan limbah cair yang yang berasal dari proses pemasakan dan pencucian. Upaya yang dilakukan dalam pengolahan air limbah di industri tersebut dengan mengolahnya dalam suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menggunakan sistem pengolahan secara biologi (lumpur aktif) yang diikuti dengan proses adsorpsi. Namun, sistem pengolahan tersebut masih belum efektif dalam menurunkan konsentrasi bahan pencemar. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh beban organik pada proses AF2B dan laju alir pada kolom adsorpsi terhadap penurunan konsentrasi BOD, COD, kekeruhan, dan pH. Penelitian dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah dari industri pengolahan rumput laut ke dalam reaktor AF2B yang berisi bakteri sehingga terjadi proses degradasi bahan-bahan pencemar dalam air limbah, kemudian dilanjutkan dengan mengalirkan effluent dari AF2B ke dalam kolom adsorpsi yang berisi karbon aktif berbentuk granular. Dengan mengukur BOD, COD, TSS dan pH sebelum dan sesudah proses dari reaktor AF2B maupun kolom adsorpsi maka dapat diketahui besarnya penurunan konsentrasi BOD, COD, kekeruhan dan pH. Percobaan dilakukan dengan menggunakan variable bebas beban organik sebesar 7300 mg/jam, dan 8000 mg/jam, serta laju alir sebesar 3,3 liter/menit dan 3 liter/menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada beban organik 8000 mg/jam dan laju alir umpan pada kolom adsorpsi sebesar 3 L/menit dapat menurunkan konsentrasi bahan pencemara secara keseluruhan masing - masing sebesar: BOD (87,04%), COD (88.97%), kekeruhan (96,55%).
PENGARUH RASIO STARTER TERHADAP SUBSTRAT DALAM PRODUKSI BIOGAS Diana Sayyidah Hafsah; Dini Arina Fasa Z.; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i2.14

Abstract

Limbah cair tahu merupakan limbah yang memiliki kandungan bahan organik yang cukup tinggi. Jika langsung dibuang tanpa pengolahan limbah terlebih dahulu akan menyebabkan pencemaran lingkungan, maka dengan pemanfaatan limbah cair tahu sebagai bahan baku produksi biogas untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Produksi biogas dari limbah cair tahu di proses secara fermentasi selama 25 hari dengan bantuan bakteri metanogenik yang berasal dari kotoran sapi menggunakan reaktor UASB dengan kapasitas ± 20 liter. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh rasio volume starter kotoran sapi dengan volume limbah cair tahu terhadap produksi biogas yang dihasilkan. Rasio tersebut berdasarkan perbandingan volume dengan variasi 2:10, 4:10 dan 6:10. Selanjutnya campuran tersebut dimasukkan ke dalam reaktor. Hasil karakteritik limbah cair tahu menggunakan metode botol winkle menunjukkan kandungan BOD sebesar 2.905,2 mg/l. Pengamatan terhadap produksi biogas dilakukan dengan melihat volume biogas setiap 5 hari serta melihat kandungan gas metana (CH4) menggunakan multi gas monitor AS8900. Kondisi operasi terbaik diperoleh pada rasio volume starter kotoran sapi dengan volume limbah cair tahu 4:10 (R2) dengan volume biogas yang dihasilkan sebesar 666 ml. Volume gas metana yang terbaik diperoleh dari rasio 6:10 (R3) dengan volume sebesar 0,7 ml.
PENGARUH WAKTU PENGAMBILAN STARTER TERHADAP PRODUKSI BIOGAS Dini A. F. Zakiyyah; Diana S. Hafsah; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i2.22

Abstract

Ketersediaan bahan bakar fosil saat ini semakin menipis, sedangkan kebutuhannya terus meningkat. Salah satu sumber energi alternatif yang potensial adalah biogas. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob. Bahan organik yang digunakan berasal dari limbah cair tahu sedangkan bakteri anaerob berasal dari kotoran sapi. Limbah cair tahu dicampur dengan kotoran sapi yang memiliki variasi waktu pengambilan setelah keluar dari lubang keluaran sapi yaitu setelah 1 hari, 7 hari, dan 14 hari. Limbah cair tahu dan kotoran sapi difermentasi selama 25 hari dalam reaktor UASB dengan kapasitas 20 L. Tujuan dari penelitian ini yaitu mempelajari pengaruh waktu pengambilan starter terhadap produksi biogas yang dihasilkan. Hasil biogas yang maksimal diperoleh dari kotoran sapi dengan waktu pengambilan 1 hari dengan volume yang dihasilkan yaitu sebesar 1057 ml.
STUDI LITERATUR LIMBAH TAPIOKA UNTUK PRODUKSI BIOGAS: METODE PENGOLAHAN DAN PERANAN STARTER SUBSTRAT Virly Septira Anggari; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.106

Abstract

Biogas merupakan sumber energi alternatif dan diproduksi dari air limbah tepung tapioka yang berpotensi sebagai sumber pencemaran lingkungan perairan apabila tidak diolah secara baik dan benar. Limbah cair tepung tapioka mengandung bahan organik tersuspensi seperti protein, lemak, karbohidrat, dan mengandung COD sekitar 7.000 - 30.000 mg/l. Besarnya kandungan COD limbah ini dapat dimanfaatkan untuk memproduksi biogas melalui proses pengolahan secara anaerobik. Tujuan dari studi literatur untuk menemukan gambaran yang menyeluruh serta keterkaitan antar pengaruh starter-substrat terhadap produksi biogas dari limbah cair industri tepung tapioka. Berdasarkan hasil studi literatur menunjukkan bahwa metode yang efektif digunakan untuk penelitian skala laboratorium adalah menggunakan metode batch dan pada rasio starter/substrat 4:10 serta jenis starter kotoran sapi mampu menghasilkan biogas sebesar 666 ml
PENGARUH KONSENTRASI UMPAN TERHADAP PERSENTASE PENURUNAN KONSENTRASI BAHAN PENCEMAR AIR LIMBAH INDUSTRI TEPUNG TAPIOKA MENGGUNAKAN PROSES ANAEROBIC FIXED FILM BIOFILTER (AF2B) Nur Alfiatuz Zahroh; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.118

Abstract

Limbah cair industri tepung tapioka berasal dari proses pencucian bahan baku serta pengendapan pati, dimana limbah cair ini masih banyak mengandung bahan-bahan organik yang cukup tinggi sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan perairan (sungai) yang berupa bau busuk, warna hitam, dan kematian ikan dan menurunnya kualitas air sungai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi BOD umpan terhadap penurunan konsentrasi BOD, COD, dan TSS dalam air limbah industri tepung tapioka menggunakan proses anaerobic fixed film biofilter yang bekerja secara kontinyu. Media biofilter yang digunakan adalah media sarang tawon. Variabel yang digunakan pada percobaan ini adalah konsentrasi BOD umpan sebesar 813,089 mg/l, dan 2439,1056 mg/L serta waktu tinggal 2 hari. Parameter yang diuji dalam penelitian ini antara lain: BOD, COD, dan TSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi BOD umpan sebesar 813,089 mg/l terjadi penurunan maksimal konsentrasi BOD, COD dan TSS masing – masing sebesar 90%, 17%, dan 75%.
LIMBAH TAPIOKA UNTUK PRODUKSI BIOGAS: ALTERNATIF PENGOLAHAN DAN PENGARUH KONSENTRASI SUBSTRAT Dinda Gusti Sensih; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.158

Abstract

Limbah cair industri tepung tapioka mengandung bahan-bahan organik dengan kosentrasi yang tinggi yaitu COD sekitar 7.000 - 30.000 mg/L dan BOD sekitar 3000-6000 mg/L sehingga memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan biogas. Dengan menggunakan fermentasi secara anaerobik di dalam reaktor (digester), limbah cair industri tapioka mengalami proses dekomposisi menjadi biogas oleh mikroorganisme anaerob. Beberapa teknologi pengolahan limbah cair tapioka menjadi biogas antara lain, digester sistem batch, covered lagoon anaerobic reactor (CoLAR), Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR), CSTR dengan Resirkulasi Padatan, Plug Flow Reactor, FBR (Fixed Bed Reactor), Expanded Bed Digester, dan UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket). Untuk meningkatkan efisiensi pengolahan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain: pemilihan starter, konsentrasi awal substrat, suhu operasi, tingkat keasaman (pH) dan rasio perbandingan C/N. Beberapa studi menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi awal substrat maka semakin tinggi kualitas dan kuantitas biogas yang dihasilkan. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa metode covered lagoon anaerobic reactor (CoLAR) memiliki efektifitas yang tinggi untuk menghasilkan biogas dari limbah tapioka. Pada konsentrasi awal substrat sebesar 9.011 mg/L mampu menghasilkan biogas mencapai 485,4 m3 /hari.
EVALUASI KINERJA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) DI PPSDM MIGAS CEPU Vastu Kayhan Sang Paniklan; Septian Dicky Ardiansyah; Prayitno Prayitno; Rieza Mahendra Kusuma
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 1 (2022): March 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i1.311

Abstract

Salah satu IPAL yang berada di PPSDM Migas Cepu yaitu berupa unit American Petroleum Institue (API) dan Corrugated Plate Interceptor (CPI) merupakan alat pengolah limbah cair yang proses kerjanya yaitu pemisahan berdasarkan berat jenis. IPAL tersebut sudah beroperasi sejak tahun 1897. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana kinerja dari unit API dan CPI, efektifitasnya dalam mengolah limbah cair yang berada di PPSDM Migas Cepu dengan cara mengguji parameter yaitu BOD, COD dan amonia pada air limbah di bagian influent dan effluent dari API dan CPI. Hasil penelitian pada outlet API 2 mengalami penurunan dan masih dalam ambang batas baku mutu yang ditetapkan dan penurunan setiap parameter Amonia 10%, BOD 30% dan COD 10%.
PENGARUH WAKTU TINGAL DAN LAJU UDARA AERASI PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI GONDORUKEM MENGGUNAKAN PROSES ANAEROBIK AEROBIK BIOFILTER (A2B) TERHADAP PENURUNAN BAHAN PENCEMAR Alifia Luzza Nurrachma; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4211

Abstract

Air limbah yang dihasilkan dari industri gondorukem mengandung bahan - bahan pencemar yang sangat berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan perairan. Upaya yang dilakukan dalam pengolahan air limbah industri gondorukem yaitu dengan mengolahnya dalam suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menggunakan proses netralisasi dan diikuti proses aerasi dalam bak. Namun sistem pengolahan tersebut masih belum efektif karena belum adanya proses pengoalahan biologi, sedangkan air limbah banyak mengandung bahan-bahan pencemar organik. Salah satu usaha untuk menurunkan bahan bahan pencemar organik pada air limbah industri gondorukem adalah pengolahan air limbah menggunakan  biofilter anaerob-aerob. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh waktu tinggal dan laju alir udara aerasi terhadap penurunan kosentrasi bahan pencemar dalam proses anaerob-aerob biofilter. Percobaan dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah terpentin ke dalam reaktor anaerob-aerob biofilter yang berisi bakteri indigeneous anaerob dan aerob. Dengan melakukan perubahan - perubahan terhadap waktu tinggal 2,5 jam dan 3 jam serta laju alir udara aerasi 2,5 L/menit dan 5 L/menit selanjutnya mengukur konsentrasi bahan pencemar (BOD, COD, dan TDS) pada influent dan effluent maka akan diperoleh besarnya penurunan konsentrasinya. Penurunan kadar BOD,COD, dan TDS yang paling efektif yaitu pengolahan air limbah industri gondorukem dengan waktu tinggal 2,5 jam dan laju alir udara aerasi 5 L/menit dapat menurunkan kadar pencermar dengan % penurunan BOD  80,41%, COD 76,23%, dan TDS 50,51%.
STUDI LITERATUR KARAKTERISTIK BRIKET DENGAN PERBEDAAN RASIO CAMPURAN ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN BIOMASSA LAINNYA Mochammad Agung Indra Iswara; Asalil Mustain; Mufid Mufid; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4466

Abstract

Kebutuhan energi dapat dipenuhi dengan mencari sumber energi alternatif yang efisien dan terbarukan. Briket sebagai sumber energi terbarukan merupakan energi alternatif yang berasal dari sisa bahan organik padat dan mempunyai nilai kalor yang tinggi. Banyaknya penelitian briket dengan berbagai bahan baku biomasa dan berbagai rasio tertentu akan menghasilkan spesifikasi briket yang beragam, oleh karena itu perlu kajian mendalam dengan membandingkan nilai kalor, kadar air dan kadar abu pada masing-masing bahan baku briket terhadap spesifikasi yang sesuai dengan SNI 01-6235-2000. Metodologi yang digunakan adalah dengan melakukan studi literatur yang terdiri atas pengumpulan jurnal dan referensi, melakukan analisis dan pengumpulan data, membuat jurnal ilmiah, menganalisis data, serta menarik kesimpulan dan rekomendasi. Hasil kajian yang diperoleh adalah briket dengan kualitas terbaik dengan campuran arang kelapa dan sabut kelapa dengan nilai kalor 6211 kalori/gram, kadar air 5,39% dan kadar abu 2,86%, sedangkan campuran tempurung kelapa dengan kulit durian memiliki nilai kalor sebesar 6847,31 kalori/gram, nilai kadar air dan abu dibawah 8% dan tempurung kelapa dengan kayu madan memiliki nilai kalor 6425 kalori/gram, nilai kadar air dan abu dibawah 8%. Sehingga disimpulkan briket dengan campuran tempurung kelapa dan sabut kelapa memiliki kadar air dan abu lebih baik namun memiliki nilai kalor lebih rendah dibanding campuran tempurung kelapa dengan kulit durian dan kayu madan.
STUDI PENGOLAHAN AIR BUANGAN IPAL INDUSTRI RUMPUT LAUT MENJADI AIR PROSES Sri Wahyuni; Prayitno Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4919

Abstract

Pada industri pengolah rumput laut menjadi produk Alkali Treated Cottonii Chips (ATCC) akan dihasilkan suatu limbah cair, dimana limbah cair selanjutnya diolah dalam suatu IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) hingga memenuhi baku mutu. Namun demikian, volume air limbah yang sangat besar tersebut belum dilakukan pemanfaatan kembali (reuse), sedangkan kebutuhan air untuk proses produksi sangat besar. Air proses diperoleh dari air tanah melalui proses pengeboran, dimana proses pengeboran air tanah tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Pengambilan air tanah secara terus menerus juga dapat mengganggu ekosistem air tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk pemanfaatan air buangan (effluent) IPAL menjadi air proses melalui proses adsorpsi dan mikrofiltrasi. Penelitian dilakukan dengan cara mengalirkan air buangan (effluent) IPAL ke dalam kolom adsorpsi yang berisi karbon aktif dan membran filtrasi. Variabel yang digunakan antara lain: berat adsorben 20 kg dan 25 kg dan ukuran mikrofiltrasi 5 μm dan 10 μm. Sedangkan parameter yang diukur adalah pH, turbidity, bau, rasa, warna, besi, mangan dan Total Dissolved Solid (TDS). Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada berat adsorben 25 kg, diperoleh penurunan kadar kontaminan sebesar TDS (51,30%), turbidity (81,19%), kesadahan (26,71%), besi terlarut (95,43%), mangan (95,531%), pH 7, tidak berasa, tidak berwarna dan tidak berbau. Sedangkan hasil akhir air olahan effluent IPAL menggunakan media adsorpsi berat 25 kg dan ukuran membrane filtrasi 5 μm diperoleh persen penurunan TDS (26,9%), kesadahan (13,76%), kekeruhan (28,09%), besi (74,98%), mangan (78,16%), tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan pH netral.