Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformasi Gender pada Pembangunan Pariwisata berbasis Masyarakat di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung Ermayanti Ermayanti; Yevita Nurti; Edi Indrizal; Ade Irwandi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v12i3.66871

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana pariwisata berbasis masyarakat (CBT) telah mentransformasi peran gender di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung. Melalui pembangunan homestay, CBT telah memperjuangkan dan membentuk para perempuan untuk menegosiasikan peran gender, baik diranah domestik maupun publik. Sehingga, pembangunan homestay yang memanfaatkan Rumah Gadang berpengaruh dalam transformasi gender bagi perempuan tradisional yang selama ini tumpang tindih antara ranah domestik dan ranah publik. Di masa lalu, para perempuan mengalami keterbatasan mobilitas yang tidak dialami oleh laki-laki, terutama pada etnis Minangkabau. Perempuan ditempatkan dalam ruang Rumah Gadang yang bersifat domestik, namun laki-laki memiliki kuasa dan relasi atas keduanya, baik di luar maupun dalam Rumah Gadang dengan peran dan status yang dimilikinya sebagai Ninik Mamak (pemimpin kaum). Pengumpulan data melalui teknik wawancara serta observasi partisipasi dengan 15 perempuan pengelola homestay di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, sehingga mendapatkan realitas dan sudut pandang dari perempuan pengelola homestay. Hasilnya menujukkan perempuan telah mereproduksi peran gender tradisonal, dimana perempuan sebagai ibu maupun istri di ranah domestik dan sebagai pekerja rumah tangga, petani dan pengelola homestay merupakan identitas gender dan menyulap hal itu dengan perjuangan ganda. Melalui CBT, kegiatan rumah tangga sebagai pekerjaan yang tidak bernilai, telah berubah menjadi pekerjaan bernilai secara ekonomis. Melalui pariwisata homestay, menggeser tenaga non-pasar menjadi tenaga kerja pasar. Maka telah mengaburkan batas antara ranah domestik dan publik dalam hal reproduksi sosial peran gender. Terkait kinerja gender, perempuan mengalami peningkatan agensi dan secara positif mengubah cara pandang masyarakat luas terhadap mereka. 
Transformasi Teritorialitas Adat Mentawai di tengah Intervensi Negara Edi Indrizal; Ade Irwandi
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.113845

Abstract

Artikel ini mengkaji secara mendalam transformasi teritorialitas adat Mentawai di Pulau Siberut dalam konteks intervensi pembangunan negara, rezim konservasi, dan ekspansi komoditas. Empat ranah ruang adat Orang Mentawai yaitu pulaggaijat, leleu, pumonean, dan onaja merupakan basis ekologis, genealogis, dan kepercayaan yang mendefinisikan tata ruang dan hubungan manusia–lingkungan. Sejak 1950-an, program PKMT/KAT, pembentukan desa administratif, serta proses konservasi dan ekstraktivisme negara telah menggeser sibakkat laggai dari ruang adat menjadi kawasan industri dan konservasi, sehingga membatasi akses dan melemahkan otoritas sikabukat uma. Penelitian ini menggunakan metode etnografi pada wilayah di Pulau Siberut, dengan pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan analisis tematik dengan kerangka ekologi politik, teritorialitas masyarakat adat, dan dekolonialitas. Temuan menunjukkan bahwa pengambilalihan hutan ke dalam zona konsesi dan taman nasional memicu disposesi ekologis, fragmentasi ruang adat, dan transformasi sistem pangan serta perladangan campuran menuju komoditas pasar. Perubahan ini menciptakan dualisme tata kelola antara negara dan lembaga adat, namun masyarakat Mentawai tetap melakukan negosiasi melalui revitalisasi ruang adat dan upaya pengakuan sibakkat laggai sebagai hutan adat.