Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Keragaman Morfologi Genetik Dan Kualitas Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.) di Provinsi Aceh Uchti Nuzul Qinanti Lubis; Ajmir Akmal; Diah Fridayati
Lentera : Jurnal Ilmiah Sains, Teknologi, Ekonomi, Sosial, dan Budaya Vol 7 No 4 (2023): LENTERA, DESEMBER 2023
Publisher : LPPM Universitas Almuslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mangosteen (Garcinia mangostana L.) is an exotic tropical fruit that has many benefits such as refreshing and stimulant. This plant is believed to be native to Sumatra. Despite its importance to the local economy, however, the presence of mangosteen in Aceh Province is rarely reported. The aim of this research is to access mangosteen in Aceh regarding distribution, production, genetic variability and land suitability for mangosteen production. Research was conducted in three main production centers, namely, North Aceh, East Aceh and Pidie Jaya District from August-November 2016. Mangosteen characters, cultivation methods and quality were evaluated from field visits and interviews with farmers and merchandisers. The research results show that mangosteen is widely distributed in Aceh. Most of the trees in wild populations with ages ranging from 40 to 70 years, are cultivated in forests known as 'mangosteen forests' as well as in home gardens. Mangosteens show great variation in tree morphology, leaves, and fruit. Flowering times vary between regions. The hydrological conditions in Aceh and agroecological suitability for producing mangosteen are very good
Penyebaran, Keragaman genetik dan Kualitas Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) di Provinsi Aceh, Indonesia ajmir akmal; Qinanti Lubis, Uchti Nuzul; Fridayati, Diah
Jurnal Sains Pertanian Vol. 8 No. 1: February 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Bireuen Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51179/jsp.v8i1.2505

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan buah tropis eksotis yang memiliki banyak manfaat seperti untuk penyegaran dan stimulan. Tanaman ini diyakini asli Sumatera. Meskipun itu penting bagi perekonomian lokal, namun, keberadaan manggis di Provinsi Aceh jarang dilaporkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengakses manggis di Aceh ketentuan distribusi, produksi, variabilitas genetik, dan kesesuaian lahan terhadap produksi manggis. Penelitian dilakukan di tiga pusat produksi utama, yaitu, Aceh Utara, Aceh Timur dan Kabupaten Pidie Jaya dari Agustus-November 2016. karakter Manggis, metode budidaya dan kualitas dievaluasi dari lapangan kunjungan dan wawancara dengan petani dan merchands. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manggis didistribusikan secara luas di Aceh. Sebagian besar pohon yang populasi liar dengan usia berkisar antara 40 hingga 70 tahun, dibudidayakan di hutan disebut sebagai 'hutan manggis' serta di kebun pekarangan. manggis diperliahatkan sangat variasi morfologi pohon, daun, dan buah-buahan. Waktu berbunga bervariasi antara daerah. Keadaan hidrologi di Aceh dan agroekologi kesesuaian untuk menghasilkan manggis sangat baik.
Penerapan Pemurnian Air Darurat Pasca Banjir Bandang dengan Pelatihan Masyarakat untuk Peningkatan Ketahanan Lokal di Aceh, Indonesia Nanda Savira Ersa; Teuku Yusrizal; Heri Gustami; Ajmir Akmal; Najmuddin Najmuddin; Wenny Herdianti; Wisnu Prayogo
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.25352

Abstract

ABSTRAK Banjir bandang di Aceh sering merusak infrastruktur air minum sehingga masyarakat terdampak kehilangan akses terhadap air yang aman. Pemulihan cepat layanan air bersih yang disertai peningkatan kapasitas operasional masyarakat menjadi krusial untuk mencegah dampak kesehatan lanjutan. Artikel ini bertujuan menyajikan model terintegrasi antara penerapan teknologi pemurnian air darurat dan pelatihan teknis berbasis masyarakat pada konteks pascabanjir bandang di Aceh, Indonesia. Program dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dan bertahap yang meliputi asesmen kebutuhan cepat, commissioning unit pemurnian air bergerak tipe skid-mounted, pelatihan operator, serta pemantauan rutin. Hasil pengujian kualitas air menunjukkan penurunan parameter fisik-kimia dari air baku menuju air hasil olahan hingga air minum, yang mengindikasikan peningkatan kualitas air secara konsisten selama periode operasional, dengan tren stabilitas parameter yang menunjukkan efektivitas sistem dalam berbagai kondisi kualitas air baku lapangan yang berfluktuasi. Selain itu, evaluasi kepuasan masyarakat menunjukkan mayoritas responden menyatakan puas terhadap aspek layanan, kinerja sistem, serta dampak program terhadap kesehatan dan kebutuhan dasar air, dengan tingkat kepuasan yang tinggi pada indikator aksesibilitas, keandalan sistem, dan kemudahan operasional di tingkat pengguna lokal. Unit yang diterapkan mampu memulihkan akses air yang lebih aman bagi masyarakat terdampak serta menjaga stabilitas operasional dalam kondisi lapangan yang fluktuatif. Selain itu, pelatihan meningkatkan kompetensi operator lokal dan memperkuat praktik penanganan air yang aman di tingkat rumah tangga. Model integrasi antara teknologi pemurnian non-kimia dan pemberdayaan masyarakat ini menunjukkan pendekatan yang praktis dan replikatif untuk penyediaan air minum darurat pascabanjir, dengan menekankan pengendalian risiko rekontaminasi dan keberlanjutan operasional berbasis komunitas. Kata Kunci: Banjir Bandang, Pemurnian Air Darurat, Pelatihan Masyarakat, Air Minum Aman, Respons Bencana.  ABSTRACT Flash floods in Aceh frequently damage drinking water infrastructure, resulting in the loss of access to safe water for affected communities. Rapid restoration of clean water services, combined with strengthening community operational capacity, is essential to prevent further public health risks. This article aims to present an integrated model that combines the deployment of emergency water treatment technology with community-based technical training in a post-flash flood context in Aceh, Indonesia. The program was implemented through a participatory and phased approach, including rapid needs assessment, commissioning of a skid-mounted mobile water treatment unit, operator training, and routine monitoring. Water quality assessment results indicate a consistent reduction in physico-chemical parameters from raw water to treated water and final drinking water, demonstrating stable performance of the system under fluctuating field conditions. In addition, community satisfaction evaluation shows that most respondents expressed high satisfaction with service delivery, system performance, and program impact on health and basic water needs, particularly in terms of accessibility, system reliability, and operational ease at the local user level. The deployed unit successfully restored access to safer water for affected communities while maintaining operational stability under variable field conditions. Furthermore, the training program improved local operator competence and strengthened safe water handling practices at the household level. This integrated approach, combining non-chemical water treatment technology and community empowerment, provides a practical and replicable model for post-flood emergency drinking water supply, emphasizing recontamination risk control and community-based operational sustainability. Keywords: Flash Flood, Emergency Water Purification, Community Training, Safe Drinking Water, Disaster Response.