Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Guru sebagai Garda Terdepan: Membentuk Generasi Moderat dalam Pendidikan Agama Kristen David Folind Zega; Talizaro Tafonao; Agiana Her Visnhu Ditakristi; Rita Evimalinda; Daniel Agustin
Educatum: Jurnal Dunia Pendidikan Vol. 1 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah (LPPI), Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/je.v1i2.139-156

Abstract

Indonesia menjadi suatu bangsa yang terdiri dari ribuan pulau, berbagai macam ras, etnis, bahasa, suku, dan budaya yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Ancaman akan terjadinya konflik menjadi lebih besar. Terdapat tindakan-tindakan yang mengarah pada radikalisme, ekstremisme, kebencian terhadap pihak tertentu, kekerasan, dan vandalisme dapat menjadi faktor penghancur persatuan. Kurangnya kesadaran menghargai keberagaman akan mengarah pada sikap yang menganggap kelompoknya paling benar, sehingga berpotensi terjadinya gejolak serta fenomena-fenomena yang memunculkan kurangnya keharmonisan dalam bermasyarakat. Uraian dalam penelitian ini tentu memperlihatkan bahwa peranan guru Pendidikan Agama Kristen sangat menentukan terciptanya peserta didik yang dewasa dalam bermasyarakat. Guru Pendidikan Agama Kristen harus menanamkan niali-nilai moderasi berdasarkan dari kisah-kisah Alkitab yang seperti Yesus ajarkan. Guru pendidikan agama Kristen merupakan agen keteladanan harus mampu memberikan contoh melalui sikap perbuatan maupun tutur katanya. Selain itu guru Pendidikan Agama Kristen melaksanakan inovasi atau mengembangkam kurikulum pembelajaran dengan mencantumkan nilai-nilai moderasi. Artikel ini akan membahas mengenai peran guru sebagai Garda terdepan dalam upaya membentuk moderasi beragama di sekolah.
Misi dalam Tantangan Zaman: Sebuah Analisa Perjalanan Misi Kaum Pentakosta di Indonesia David Folind Zega; Febe Simatupang; Agiana Her Visnhu Ditakristi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 1 (2025): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i1.223

Abstract

The church's role in fulfilling God's mission is a primary calling for all people across religions and cultures. However, many churches today have begun to lose their zeal in responding to the Great Commission entrusted by God. In this modern era of rapid technological development, some churches in Indonesia tend to focus more on internal matters. This condition poses a serious challenge that may hinder the fulfillment of God's mission. Ironically, technological advancements have not been maximized to expand the scope of mission work. This article aims to identify the challenges faced by Pentecostal churches in Indonesia in the context of modern society and highlight the role of the Holy Spirit in awakening missional awareness among churches and God’s servants. Using a qualitative approach, this study encourages churches to actively respond to contemporary challenges while remaining faithful to their divine mission in a relevant and contextual manner. Abstrak:Peran gereja dalam misi Allah merupakan panggilan utama bagi seluruh umat manusia lintas agama dan budaya. Namun, banyak gereja mulai kehilangan semangat dalam menanggapi Amanat Agung yang Tuhan percayakan. Di era modern yang ditandai oleh pesatnya perkembangan teknologi, sebagian gereja di Indonesia justru lebih fokus pada urusan internal. Kondisi ini menjadi tantangan serius yang dapat menghambat pelaksanaan misi Allah. Ironisnya, kemajuan teknologi belum dimanfaatkan secara maksimal untuk memperluas pelayanan misi. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi gereja Pentakostal dalam konteks zaman modern serta menyoroti peran Roh Kudus dalam membangkitkan kesadaran misi di kalangan gereja dan hamba Tuhan. Dengan pendekatan kualitatif, tulisan ini diharapkan mendorong gereja untuk aktif menjawab tantangan zaman dan tetap setia pada panggilan misinya secara relevan dan kontekstual. Kata Kunci: Era Modern, Pelayanan Misi Pentakosta, Tantangan.
Guru sebagai Garda Terdepan: Membentuk Generasi Moderat dalam Pendidikan Agama Kristen David Folind Zega; Talizaro Tafonao; Agiana Her Visnhu Ditakristi; Rita Evimalinda; Daniel Agustin
Educatum: Jurnal Dunia Pendidikan Vol. 1 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah (LPPI), Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/je.v1i2.139-156

Abstract

Indonesia menjadi suatu bangsa yang terdiri dari ribuan pulau, berbagai macam ras, etnis, bahasa, suku, dan budaya yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Ancaman akan terjadinya konflik menjadi lebih besar. Terdapat tindakan-tindakan yang mengarah pada radikalisme, ekstremisme, kebencian terhadap pihak tertentu, kekerasan, dan vandalisme dapat menjadi faktor penghancur persatuan. Kurangnya kesadaran menghargai keberagaman akan mengarah pada sikap yang menganggap kelompoknya paling benar, sehingga berpotensi terjadinya gejolak serta fenomena-fenomena yang memunculkan kurangnya keharmonisan dalam bermasyarakat. Uraian dalam penelitian ini tentu memperlihatkan bahwa peranan guru Pendidikan Agama Kristen sangat menentukan terciptanya peserta didik yang dewasa dalam bermasyarakat. Guru Pendidikan Agama Kristen harus menanamkan niali-nilai moderasi berdasarkan dari kisah-kisah Alkitab yang seperti Yesus ajarkan. Guru pendidikan agama Kristen merupakan agen keteladanan harus mampu memberikan contoh melalui sikap perbuatan maupun tutur katanya. Selain itu guru Pendidikan Agama Kristen melaksanakan inovasi atau mengembangkam kurikulum pembelajaran dengan mencantumkan nilai-nilai moderasi. Artikel ini akan membahas mengenai peran guru sebagai Garda terdepan dalam upaya membentuk moderasi beragama di sekolah.
Analisis Kritis Pandangan Nomianisme dan Asketisme Serta Integrasinya dalam Pendidikan Agama Kristen Chenlin Doura Vivian Girsang; David Folind Zega; Amanda Kilala; Candra Gunawan Marisi
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 1 (2024): Januari
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v1i1.46-59

Abstract

Perkembangan teologi mulai dari abad pertama sampai detik ini telah menghasilkan banyak sekali ajaran-ajaran atau paham-paham teolog yang baru dalam kekristenan. Dan tidak jarang ajaran-ajaran tersebut merupakan ajaran-ajaran yang sesat atau bisa juga disebut bidat-bidat. Hal ini bisa saja terjadi karena salah menafsir atau mencoba menggabungkan Alkitab dengan kebiasaan saat itu. Salah satu dari ajaran sesat atau bidat yang muncul dalam abad pertama adalah nomianisme dan asketisme. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengertian yang benar mengenai nomianisme dan asketisme serta integrasinya dalam dunia pendidikan agama Kristen sehingga kelak diharapkan generasi ke depan bahkan orang-orang Kristen di zaman akhir ini tidak terikut dengan paham-paham yang salah ini. Dan memiliki pegangan yang kuat dalam kehidupannya sebagai orang Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Dan setelah dilakukan pengumpulan data, kemudian di analisa dan diberikan argumentasi, dimana argumentasi tersebut akan ditarik suatu kesimpulan dalam penelitian ini. Nomianisme merupakan sebuah ajaran yang berpatokan dengan hukum. Dalam hal ini hukum Taurat. Sedangkan asketisme adalah sebuah ajaran yang dimana mengajarkan menyangkal diri supaya bisa mencapai kepada kesempurnaan dan sang Ilahi. Hasil yang terlihat pada ajaran-ajaran ini jika diintegrasikan ke dalam pendidikan agama Kristen atau PAK sebagai salah satu pengajaran untuk semakin menunjukkan hidup seseorang yang ada di dalam Kristus, yang menyangkal diri memikul salib, mentaati perintah-perintah Tuhan, maka ajaran-ajaran ini dapat dipakai. Namun tidak dapat digunakan sebagai ajaran untuk memperoleh keselamatan.
Kinerja Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran David Folind Zega; Chenlin Doura Vivian Girsang; Fenny E. Nababan; Talizaro Tafonao
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2024): Juli
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v1i2.119-137

Abstract

Pendidikan agama Kristen merupakan salah satu mata pelajaran yang strategis dalam konteks pembangunan karakter dalam diri siswa. Namun pada kenyataannya masih banyak anak-anak Kristen yang karakternya buruk seperti berbicara kotor, mengejek dan lainnya, walau sudah mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Hal ini tentu tidak lepas dari pengaruh kualitas pembelajaran itu sendiri. Dan kualitas pembelajaran pun dipengaruhi oleh kinerja guru yang mengajar. Oleh karena itu penting memiliki kinerja yang baik untuk menghasilkan kualitas yang baik. Terutama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang memiliki peranan penting dalam menciptakan generasi bangsa yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang apa itu kinerja, apa itu guru agama Kristen, serta bagaimana pembelajaran agama Kristen menjadi pembelajaran yang berkualitas dan setiap guru-guru agama Kristen pun memiliki kinerja yang baik bahkan akhirnya menghasilkan orang-orang yang berkualitas juga. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Dan setelah dilakukan pengumpulan data, kemudian di analisa dan diberikan argumentasi, dimana argumentasi tersebut akan ditarik suatu kesimpulan dalam penelitian ini. Maka kinerja guru agama Kristen berarti prestasi yang dicapai seseorang yang memberikan ilmu tentang agama Kristen yang berdasarkan Alkitab dan berpusat kepada Kristus. Kinerja yang baik dari guru agama Kristen tentu akan menghasilkan pembelajaran agama Kristen yang berkualitas yang ditandai oleh pendidik dan peserta didik menghidupi firman, mengalami kebaharuan, dll. Hal ini bisa dicapai dengan beberapa upaya yaitu dengan melakukan perencanaan pembelajaran, pendekatan dan memonitoring kelas.