Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Potensi Interaksi Obat pada Resep Penyakit Degeneratif di Klinik X, Kabupaten Malang Nugroho Wibisono; Dian Novita Wulandari; Mazrifa Sengaji; Husnul Fadilah; Nafisaturrohmah Romadhoni
Scientific Journal Vol. 4 No. 6 (2025): SCIENA Volume IV No 6, November 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i6.291

Abstract

Pendahuluan: Penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia merupakan masalah kesehatan kronis dengan prevalensi tinggi di Indonesia. Terapi kombinasi pada pasien penyakit ini sering menimbulkan risiko interaksi obat akibat polifarmasi. Interaksi obat yang tidak terdeteksi dapat mengurangi efektivitas terapi atau menimbulkan efek toksik, sehingga perlu dilakukan analisis menyeluruh terhadap potensi interaksi obat. Tujuan penelitian: Untuk menganalisis potensi interaksi obat pada resep pasien dengan penyakit degeneratif di Klinik X, Kabupaten Malang, serta mengidentifikasi jenis mekanisme interaksi dan tingkat keparahannya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif analitik terhadap 90 resep pasien hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia yang diperoleh dari Instalasi Farmasi Klinik Rawat Inap Muslimat Singosari periode Januari–Maret 2022. Data dianalisis menggunakan Drug Interaction Checker (DIC) untuk mengidentifikasi jenis interaksi (farmakodinamik, farmakokinetik, dan nonspesifik) serta tingkat keparahan interaksi (mayor, moderat, dan minor). Hasil: Ditemukan total 229 potensi interaksi obat, dengan mekanisme farmakodinamik mendominasi sebesar 79,48%, diikuti farmakokinetik 13,98%, dan nonspesifik 4,36%. Sebagian besar interaksi ditemukan pada pasien hipertensi (75 kasus) dan dislipidemia (71 kasus). Berdasarkan tingkat keparahan, 69,64% interaksi tergolong moderat, 15,18% mayor, dan 15,18% minor. Interaksi paling umum terjadi pada kombinasi antihipertensi (ACE inhibitor, beta-bloker, diuretik) dan antihiperlipidemia (statin, fibrat) yang melibatkan mekanisme aditif atau antagonistik. Kesimpulan: Sebagian besar potensi interaksi obat pada pasien penyakit degeneratif terjadi melalui mekanisme farmakodinamik dengan tingkat keparahan sedang. Faktor utama penyebabnya adalah polifarmasi, khususnya pada pasien hipertensi dan dislipidemia. Diperlukan pemantauan terapi secara berkelanjutan, edukasi pasien, serta penerapan sistem pendukung keputusan klinis (CDSS) untuk mencegah interaksi obat yang merugikan dan meningkatkan keamanan terapi.
Analysis of the Antioxidant Activity of Young and Mature Bidara Leaves Using 2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH) and Phytochemical Screening Test Alvelin Bunga Kurniawati; Gatra Ervi Jayanti; Majida Ramadhan; Dian Novita Wulandari; Ike Widyaningrum
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2025.142.1257-1263

Abstract

This study aimed to compare the antioxidant activity of young and mature bidara leaves using the DPPH method and to identify the content of secondary metabolites through phytochemical testing. Antioxidant activity was measured using the IC50 parameter, which represents the concentration of the extract that can capture 50% of DPPH free radicals. The test results showed that mature bidara leaves had an IC50 value of 34.984 ppm, indicating vigorous antioxidant activity, while young leaves had an IC50 value of 100.327 ppm, classified as moderate activity. Phytochemical testing revealed that both types of leaves contained alkaloids, saponins, and tannins, while flavonoids and triterpenoids were only found in old leaves. These results suggest that variations in secondary metabolite content, influenced by leaf age, contribute to differences in antioxidant activity. Thus, older bidara leaves are more potent as an antioxidant source compared to younger leaves. This study supports the utilization of bidara plants in the pharmaceutical industry and the development of traditional medicine based on natural ingredients.