Anggi Margaretha
Universitas Ngudi Waluyo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi Dampak Buruk Konsumsi Mie Instan Berlebihan Sri Wahyuni; Heri Sugiarto; Sigit Ambar Widyawati; Anggi Margaretha; Mukhamad Mustain
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3: Mei 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joongki.v3i3.3647

Abstract

Konsumsi mie instan yang berlebihan merupakan kebiasaan yang tidak sehat yang bisa berdampak pada obesitas. Kantin sekolah merupakan kantin yang umum menyediakan mie instan yang langsung di wadah (cup) agar anak-anak lebih mudah mengkonsumsinya, dimana hal tersebut jika dibiarkan dapat timbul masalah yaitu obesitas, karena mie instan tidak memiliki kandungan gizi seimbang untuk anak usia sekolah. Hasil survei dan wawancara dengan pelajar/ siswa dan staff sekolah MI Kalirejo Kec. Ungaran Timur, Kabupaten Semarang didapatkan sebagian besar pelajar belum mengetahui mengenai pemenuhan gizi seimbang, belum memahami akibat dari konsumsi mie instan yang berlebihan dan masih diperbolehkannya penjualan jajanan mie instan di lingkungan kantin sekolah. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan media pengenalan gizi kepada pelajar, meningkatkan pengetahuan dan wawasan pada pelajar tentang apa yang sebaiknya dikonsumsi atau mengurangi konsumsi mie instan dan peningkatan kemandirian pelajar peduli terhadap asupan gizi yang dikonsumsi dengan membawa bekal dari rumah. Metode yang dilakukan yaitu berupa penyuluhan dampak buruk mie instan, edukasi gizi seimbang, kegiatan games berupa media puzzle gizi untuk meningkatkan pengetahuan terkait pengelompokan jenis makanan dan pengenalan poster isi piringku sebagai informasi acuan makanan sehat dan bergizi bagi pelajar. Siswa-siswi telah mengetahui materi terkait jenis zat gizi, pengelompokkan makanan berdasarkan zat gizinya, dan pengertian isi piringku serta materi terkait dampak bahaya mie instan.  Pada akhir sesi setiap pemaparan materi diberikan 5 pertanyaan sebagai bahan evaluasi. Siswa-siswi dapat memanfaatkan materi tersebut sebagai acuan untuk mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi dan berupaya mengurangi konsumsi mie instan. Hampir semua peserta sasaran kegiatan membawa bekal dari rumah yang berisi nasi, lauk, sayur dan buah berdasarkan acuan isi piringku dan dibuktikan hasil kuesioner terkait isi piringku sebesar 78,1% atau 50 peserta benar dalam menjawab terkait materi isi piringku.
Analisis Faktor Demografi, Medis, dan Gaya Hidup terhadap Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Lansia: Studi Cross-sectional di Posyandu Lansia Ngudi Waras Pudakpayung Banyumanik Yuliaji Siswanto; Ita Puji Lestari; Anggi Margaretha; Ferdias Arkhan Setya Ardana; Siti Rodlotul Jannatun Naim
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Vol. 8 No. 1 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di dunia dan menjadi masalah kesehatan utama pada kelompok lansia. Kota Semarang mencatat jumlah kasus DM tipe 2 tertinggi di Jawa Tengah, dengan peningkatan kasus hingga tingkat pelayanan primer. Puskesmas Pudakpayung, yang mencakup wilayah Posyandu Lansia Ngudi Waras Banyumanik, melaporkan 501 kasus DM tipe 2 pada tahun 2022. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh lansia yang terdaftar di Posyandu Lansia Ngudi Waras tahun 2024 (N=100). Sampel sebanyak 62 lansia dipilih menggunakan purposive sampling berdasarkan kesediaan mengikuti pemeriksaan gula darah acak . Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Chi-Square . Aktivitas fisik menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia (p<0,05), di mana lansia dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami DM tipe 2. Pola makan tidak berhubungan signifikan dengan DM tipe 2 (p>0,05). Faktor medis seperti riwayat keluarga (p=0,263) , obesitas (p=0,905), dan hipertensi (p=0,264) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Faktor demografis usia (p=0,805), jenis kelamin (p=0,907), dan status pekerjaan juga tidak berhubungan signifikan, meskipun terdapat kecenderungan prevalensi lebih tinggi pada lansia dengan tingkat pendidikan rendah. Aktivitas fisik merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian diabetes tipe 2 pada lansia. Intervensi promotif–preventif di Posyandu Lansia perlu difokuskan pada peningkatan aktivitas fisik terstruktur sebagai strategi utama pencegahan DM Tipe 2 Kata kunci: Aktivitas Fisik , Lansia, Faktor Risiko Metabolik, Diabetes Tipe 2 ABSTRACT Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with a high global prevalence and is a major health concern among the elderly. Semarang City has recorded the highest number of T2DM cases in Central Java, with an increasing trend reaching primary healthcare levels. Pudakpayung Health Center, which oversees the Ngudi Waras Elderly Integrated Health Post (Posyandu Lansia) in Banyumanik, reported 501 cases of T2DM in 2022. This study is a quantitative observational analytical study using a cross-sectional design. The population consisted of all elderly individuals registered at the Ngudi Waras Elderly Posyandu in 2024 ($N=100$). A sample of 62 elderly participants was selected using purposive sampling based on their willingness to undergo random blood glucose testing. Data were analyzed descriptively and inferentially using the Chi-Square test. Physical activity showed a significant correlation with the incidence of T2DM in the elderly ($p < 0.05$), where those with low physical activity levels had a higher risk of developing T2DM. Dietary patterns did not show a significant correlation with T2DM ($p > 0.05$). Medical factors such as family history ($p = 0.263$), obesity ($p = 0.905$), and hypertension ($p = 0.264$) did not show significant associations. Demographic factors including age ($p = 0.805$), gender ($p = 0.907$), and occupational status were also not significantly related, although there was a trend of higher prevalence among those with lower educational levels. Physical activity is the dominant factor influencing the incidence of T2DM in the elderly. Promotive and preventive interventions at the Elderly Posyandu should focus on increasing structured physical activity as a primary strategy for preventing Type 2 Diabetes Mellitus. Keywords: Physical Activity, Elderly, Metabolic Risk Factors, Type 2 Diabetes