Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Kepuasan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Non Penerima Bantuan Iur terhadap Mutu Pelayanan Klinik Khohar, Abdul; Uliya, Bilqis Fikrotul; Lestari, Karisma Indah; Lestari, Ita Puji; Afandi, Alfan
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 3 No 1 (2019): HIGEIA: January 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v3i1.28687

Abstract

Era Jaminan Kesehatan Nasioanal (JKN),sistem pembayaran kesehatan berbasis asuransi .Jumlah seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasioanal (JKN) terhitung 1 Desember 2017 mencapai 186.602. Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama(FKTP) sebanyak 65% peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tidak puas dengan pelayanan kesehatan yang diberikan untuk Dokter Keluarga di wilayah Ungaran Timur, dan sebanyak 75% puas dengan pelayanan kesehatan di Klinik di wilayah Ungaran Timur,Untuk itu perlu diteliti tingkat kepuasan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)  Non Penerima Bantuan Iur  (PBI) terhadap mutu pelayanan Di Klinik Gracia Ungaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan 30 responden. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner dan Observaasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Non Penerima Bantuan Iur  (PBI) di Klinik Gracia,Ungaran Timur,Kabupaten Semarang berdasarkan kelima dimensi mutu pelayanan dalam kategori puas.Untuk perbedaan kepuasan pesera Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berdasarkan kelasnya, peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kelas III memiliki nilai kepuasan yang tinggi yaitu mencapi 90%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepuasan terhadap mutu pelayanan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Non Penerima Bantuan Iur  (PBI) di Klinik Gracia, tinggi.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peran Kader dalam Penemuan Kasus Tuberkulosis BTA Positif di Kabupaten Magelang Ita Puji Lestari; Auly Tarmali
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 5, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v5i1.314

Abstract

Angka kematian dari penyakit tuberkulosis masih sangat tinggi dan upaya untuk memerangi itu harus dipercepat jika sesuai dengan target global pada tahun 2030 dengan menggunakan target Sustainable Development Goals. Prevalensi TB di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 adalah sebesar 106,42 per 100.000 penduduk. Penemuan kasus dan Case Detection Rate di bawah standar 70%, pada level kota/ kabupaten maupun level puskesmas dan untuk CDR terendah di Kabupaten Magelang yaitu 21,82%. Kabupaten Magelang pada tahun 2013 perkiraan kasus baru TB Paru BTA positif sebanyak 1285 orang dengan cakupan penemuan kasus TB Paru BTA positif pada tahun 2013 mencapai 17,98%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan peran kader dalam penemuan kasus tuberkulosis. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh kader TB sebanyak 47 orang. Analisis data dilakukan secara bivariat. Hasil penelitian dengan uji statistik menunjukkan  ada hubungan antara faktor pengetahuan dengan peran kader (p=0,042), ada hubungan antara faktor motivasi dengan peran kader (p=0,0001),tidak ada hubungan antara faktor sikap badan pelaksana dengan peran kader (p=0,442), ada hubungan antara sarana dan prasarana dengan peran kader (p=0,013), ada hubungan antara faktor pengawasan dan pembinaan dari Puskesmas dengan peran kader (p=0,001). Disarankan Puskesmas untuk mengadakan pelatihan bagi kader secara periodik dan Optimalisasi fasilitasi sarana dan prasarana dari Puskesmas sebagai pengelola program TB.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Implementasi Program Pengendalian Tuberkulosis di Puskesmas Wilayah Kabupaten Magelang Ita Puji Lestari; Laksmono Widagdo; Mateus Sakundarno Adi
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.6.2.2018.114-120

Abstract

Prevalensi TB di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 adalah sebesar 106,42 per 100.000 penduduk. Penemuan kasus dan Case Detection Ratedi bawah standar 70%, pada level kota/ kabupaten maupun level puskesmas dan untuk CDR terendah di Kabupaten Magelang yaitu 21,82%. Kabupaten Magelang pada tahun 2013 perkiraan kasus baru TB Paru BTA positif sebanyak 1285 orang dengan cakupan penemuan kasus TB Paru BTA positif pada tahun 2013 mencapai 17,98%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan implementasi program pengendalian TB di Puskesmas Kabupaten Magelang.Jenis penelitian adalah observasional analitik  dengan pendekatan Cross Sectional. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh petugas pelaksana yang terdiri satu perawat koordinator program, seorang tenaga laboratorium, dan serang dokter sebanyak 87 orang. Analisis data dilakukan secara multivariat.Hasil penelitian dengan uji statistik menunjukkan  ada hubungan antara faktor komunikasi dengan implementasi (p=0,001), ada hubungan antara faktor disposisi dengan implementasi (p=0,001),ada hubungan antara faktor karakteristik badan pelaksana dengan implementasi (p=0,001), ada hubungan antara pemahaman standar dengan implementasi (p=0013),tidak ada hubungan antara faktor sumber daya dengan implementasi (p=0,240), dan tidak ada hubungan yang bermakna antara faktor lingkungan dengan implementasi program TB (p=0,057).Disarankan Puskesmas untuk menyusun instrumen yang mengukur efektifitas koordinasi dalam program,membuat kegiatan pendidikan dan pelatihan kaderisasi penyakit TB secara berkala. Puskesmas menjalin jejaring kerja sama dengan stakeholder dan masyarakat, menyusun pengembangan sistem reward bagi petugas maupun kader TB yang memiliki peran yang aktif ,menyusun suatu  task force khusus untuk program pengendalian TB yang dilegalkan dengan Surat Keputusan dari Kepala Puskesmas.  
Status Gizi dan Merokok sebagai Determinan Kejadian Hipertensi pada Remaja SMA Yuliaji Siswanto; Ita Puji Lestari
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 10 No 2 (2020): April 2020
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.804 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit yang tidak hanya menyerang pada usia lanjut saja, namun saat ini hipertensi pada anak muda dan anak kecil semakin banyak ditemukan. Prevalensi hipertensi pada remaja sebesar 9% pada tahun 2007, kemudian meningkat menjadi 10,7% pada tahun 2013. Remaja yang mengalami hipertensi dapat terus berlanjut pada usia dewasa dan memiliki risiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dan merokok dengan kejadian hipertensi. Penelitian dilakukan di SMA yang berada di Kabupaten Semarang pada 138 siswa yang diambil dengan menggunakan two stage cluster sampling. Instrument yang digunakan adalah timbangan berat badan, microtoice, tensimeter digital, dan panduan wawancara. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat dengan uji chi-square, fisher exact test, dan kolmogorov smirnov. Hasil penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian hipertensi (p=0,004), terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan menghindari asap rokok dengan kejadian hipertensi (p=0,005), dan tidak terdapat hubungan yang bermakna kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi (p=0,435). Dapat disimpulkan bahwa status gizi dan kebiasaan merokok sebagai determinan kejadian hipertensi pada remaja SMA sehingga perlu adanya upaya pencegahan mulai sejak dini untuk menekan risiko morbiditas dan mortalitas. Kata kunci : hipertensi, status gizi, merokok, remaja NUTRITIONAL STATUS AND SMOKING AS DETERMINANT EVENTS OF HYPERTENSION IN ADOLESCENTS ABSTRACT Hypertension is a disease that not only attacks the elderly, but now hypertension in attacks young children too . The prevalence of hypertension in adolescents in 2007 was 9% in 2007, then increased to 10.7% in 2013. Adolescents with hypertension can continue as adult and have a high risk of morbidity and mortality.This research was observational analytic study that aims to know nutritional status and smoking related to the incidence of hypertension. This research has been conducted in senior high schools in Semarang Regency on 138 students taken using two stage cluster sampling. The instruments used were weight scales, microtoice, digital tensimeter, and interview guides. Data analysis used univariate and bivariate with chi-square test, fisher exact test, and Kolmogorov Smirnov. Data analysis was done by using univariate and bivariate with the chi-square test, fisher exact test, and Kolmogorov Smirnov.The results showed that there was a significant correlation between nutritional status and the incidence of hypertension (p = 0.004), there was a significant correlation between the habit of avoiding cigarette smoke with the incidence of hypertension (p = 0.005), and there was no significant correlation between smoking habits and the incidence of hypertension (p = 0.435). It can be concluded that the nutritional status and smoking habit as a determinant of the incidence of hypertension in high school adolescents so that prevention efforts need to be started early on to reduce the risk of morbidity and mortality. Keywords: hypertension,nutritional status,smoking, adolescents
Pemberdayaan Ibu Sebagai Strategi Penurunan Angka Pernikahan Dini Ita Puji Lestari; Sigit Ambar Widyawati; Sri Wahyuni
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 1 No. 1 (2019): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei Vol.1 No.1
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.013 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v1i1.212

Abstract

Pernikahan dini memiliki dampakpada kesehatan pasangan usia muda karena memiliki pengaruh pada tingginya angka kematian ibu. Pernikahan usia dini terjadi pada anak—anak yang secara perkembangan aspek psikologis baik perkembangan psikologis fisik, aspek perkembangan psikologis kognitif dan psikologi emosi anak yang rentan dalam artian belum cukup usia dan belum dewasa tidak diperbolehkan menikah dibawah umur.Salah satu upaya pencegahan pernikahan dini adalah optimalisasi peran orang tua khususnya Ibu, selama ini pemberdayaan belum dioptimalkan pada aspek ini sehingga penanganan terhadap risiko yang ditimbulkan oleh pernikahan dini belum mendapat perhatian khusus. Berdasarkan konsep penanganan kesehatan, bahwa terabaikannya permasalahan disebabkan oleh ketidaktahuan, ketidakmampuan dan ketidakmauan, maka kegiatan pengabdian ini dilaksanakan.Peran serta perguruan tinggi Universitas Ngudi Waluyo dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi salah satunya pengabdian masyarakat, sehingga dapat mendekatkan diri kepada masyarakat sehingga dapat mengenal, mengetahui dan merasakan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, sehingga ditemukan permasalahan terkait dengan kesehatan reproduksi remaja.Dari kegiatan pengabdian masyarakat ini pada tahap pertama didapatkan peningkatan pengetahuan tentang penyebab terjadinya pernikahan dini sebanayak 100% dari peserta pengabdian. Pada tahap kedua yang memiliki peningkatan pengetahuan tentang dampak dan risiko dari pernikahan dini sebanyak 95,83%. Pada tahap ketiga dihasilkan peningkatan pengetahuan pada peserta pengadian tentang cara untuk encegah supaya tidak terjadipernikahan dini sebanyak 95,83 %.Dalam upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pernikahan dini baik kepada orang tua maupun pada remaja maka kegiatan serupa perlu dilakukan secara rutin baik di lokasi yang sama maupun di lokasi yang berbeda dengan sasaran masyarakat yang benar-benar membutuhkan pelayanan kesehatan terutama mengenai kesehatan reproduksi pada remaja dan edukasi kepada orang tua dalam hal memberikan pola asuh yang baik kepada anak-anaknya.                                                                                                                                            Kata kunci: Peran Ibu, Pernikahan Dini 
PENINGKATAN KEMANDIRIAN HYGIENE PERSONAL BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Ita Puji Lestari; Sigit Ambar Widyawati
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 2 No. 1 (2020): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei Vol.2 No.1
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.964 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v2i1.524

Abstract

Anak berkebutuhan khusus memiliki resiko lebih tinggi untuk terserang penyakit daripada anak pada umumnya. Berbagai macam penyakit atau gangguan kesehatan yang menyerang anak umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus yang berasal dari lingkungan sekitar. Sehingga, salah satu cara untuk menekan masalah ini adalah dengan menghindarkan anak dari lingkungan yang tidak sehat.Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mejadikan anak dengan berkebuthuan khusus lebih mandiri dan disiplin sehingga tidak bergantung pada orang lain  dalam menjalani kehidupannya serta dapat meningkatkan kemampuan sosialisasi dan komunikasi anak dengan orang disekitarnya. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan personal higiene dan memberikan edukasi kepada anak-anak tentang praktik personal higiene dengan menggunakan teknik senam agar siswa tertarik dan dapat mengaplikasikan gerakan senam pada rutinitas mandi sehari-hari .  Kegiatan ini diikuti oleh 49 siswa dengan beragam macam kebutuhan khusus yang terdiri dari kelas 1 hinga kelas 6 beserta para guru. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa dapat mengkuti gerakan mandi dengan benar dengan antusias kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan senam mandi memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan siswa dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, hal ini terbukti dengan seluruh peningkatan jumlah siswa yang telah menerapkan langkah mandi yang aik dan benar, hal ini diketahui dari keterangan orang tua dan guru yang mengajar. Kata kunci: Personal Hygiene, Anak Berkebutuhan Khusus 
Implementasi Program TB di Puskesmas Wilayah Kabupaten Magelang Ita Puji Lestari; Fitria Wulandari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2019): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, Januari 2019
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.241 KB) | DOI: 10.35473/pro heallth.v1i1.122

Abstract

The prevalence of TB in Central Java in 2012 was 106.42 per 100,000 people. The cases and Case Detection Rate below the standard of 70% are found in the level of cities, regencies or health centers. The lowest CDR is in Magelang regency which is 21.82%. In 2013, it is estimated that there were new cases of lung TB in Magelang regency and there were 1,285 people suffering from positive BTA in 2013 reached 17.89%. This research aims to know the implementation in the program of controlling TB in Public Health Centers in Magelang regency.This research was observational analytic using Cross Sectional Approach. The population is nurse as the program coordinator, as many as 29 people. Data analysis was done by using univariat. The results showed that the description of the implementation of the TB control program in the Magelang District Health Center from the aspects of preparation included in the good category at 62.06% and enough at 37.94%, in the aspect of coverage of activities and controls that were in the good category at 24.14%, enough 68.97% and less at 6.89%, and aspects of recording and reporting included in the good category at 48.27%, just 57.93% and less at 13.79%. Public Health Centers have to compile the instruments to measure the effectiveness of the coordination in the program, and to make the activities of education and cadre training of TB disease periodically.  Public Health Center should make cooperative networks with stakeholders and society, should compile the development of reward system for the employees and TB cadres who have contribution and active roles, and should compile a specific task force for the program of controlling TB which are legalized with the decree letter from the Public Health Center.
Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Implementasi Program Pengendalian Tuberkulosis di Puskesmas Wilayah Kabupaten Magelang Ita Puji Lestari; Laksmono Widagdo; Sakundarno Adi
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, Juli 2019
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.599 KB) | DOI: 10.35473/pro heallth.v1i2.246

Abstract

The prevalence of TB in Central Java in 2012 was 106.42 per 100,000 people. The cases and Case Detection Rate below the standard of 70% are found in the level of cities, regencies or health centers. The lowest CDR is in Magelang regency which is 21.82%. In 2013, it is estimated that there were new cases of lung TB in Magelang regency and there were 1,285 people suffering from positive BTA in 2013 reached 17.89%. This research aims to know the factors related to the implementation in the program of controlling TB in Public Health Centers in Magelang regency. This research was observational analytic using Cross Sectional Approach. The population was all executive employees consisting of one nurse as the program coordinator, one laboratory employee, and a doctor as many as 87 people. Data analysis was done by using bivariat. The research results using statistical test showed that there was a correlation between communication factors and the implementation (p value=0,001), there was a correlation between dispositional factors and the implementation (p value=0,001),  there was a correlation between characteristic of Public Health Centers and the implementation of program to control TB  (p value=0,001), there was a correlation between the factors of understanding factors and the targets and the implementation (p value =0,013), there was no correlation between resources factor and the implementation of TB program  (p value=0,240),  and there was no correlation between environmental factors and the implementation of TB program (p value =0,057). Public Health Centers have to compile the instruments to measure the effectiveness of the coordination in the program, and to make the activities of education and cadre training of TB disease periodically.  Public Health Center should make cooperative networks with stakeholders and society, should compile the development of reward system for the employees and TB cadres who have contribution and active roles, and should compile a specific task force for the program of controlling TB which are legalized with the decree letter from the Public Health Center.
Pengetahuan Penyakit Tidak Menular dan Faktor Risiko Perilaku pada Remaja Yuliaji Siswanto; Ita Puji Lestari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2020): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2020
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.6 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v2i1.269

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs) including the most causes of death in the world including Indonesia.  Adolescence is one of the periods that determine the pattern of formation of health status in adulthood. Risk behaviors generally begin in the teenage period. Risk factors for unhealthy lifestyles in adolescents are caused by many factors, one of which is knowledge. Knowledge or cognitive is a domain that is very influential on a person's actions or behavior. The objective of the study was to assesknowledge about NCDs and behavioural risk factors in adolescents. This research uses descriptive method with cross sectional approach and data collection is done by using a questionnaire. The sample in this study was taken purposively from SMAN 2 Ungaran, SMAN 1 Bergas, and SMA Muhammadiyah Sumowono as many as 146 students. The data obtained were then analyzed using descriptive analysis. The results showed that the most percentage were respondents who had good knowledge about non-communicable diseases that was equal to 46.3%. Nevertheless there are still many respondents who have a fairly good knowledge of 41.8% and as many as 11.0% of respondents still have poor knowledge. Therefore, efforts are needed to increase the knowledge of high school adolescents about non-communicable diseases from schools through collaboration with relevant parties.
THE CONSUMER DECISION OF CHANGES PURCHASING GLASSES IN OPTICAL NAOMY YEAR 2019 Wahjoe Handini Dina; Ita Puji Lestari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2020): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2020
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.059 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v2i1.362

Abstract

The purchase decision process is the process through which consumers when buying a product. It can be seen as a special form of cost-benefit analysis. This study is about knowing the decision of consumers in the purchase of glasses in the form of design, price, services, promotions and materials. The type of research is descriptive research conducted with the main objective to create a picture or a description of a situation objectively with the approach used in the study is Cross-sectional namely researchers put through observation or measurement variables at one time. Research in Optics Naomy shows that in the period July - September 2019 there were 32 respondents consisting of 19 (59.4%) of female respondents and 13 (40.6%) male respondents - men. Most aged 15-25 years as many as 26 people (81.3%), not married as many as 26 people (81.3%), student / student as many as 23 people (71.9%) and earn less than Rp 1 million, 00 as many as 26 people (81.3%). The majority of respondents in the optical Naomy declare eyeweare design is Good (62,5%), the price of the glasses in the optical Naomy is Less Suitable (65,6%), services in the optical Naomy is Good (65,6%), promotion in the optical Naomy is Good (62,5%), materials in optical glasses Naomy Good (56,2%). The decision making process of consumers in the purchase of glasses in the optical Weleri in this study prefer the design (22%) and services (21.8%), materials (21.2%), price (19.8%) and promotions (15.2 %).Â