Muhammad Babul Ulum
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra Jakarta

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Konsep Boikot dalam Al-Qur’an: Studi atas Kitab Tafsīr Sūrah Al-Mumtaḥanah Karya ‘Alī Khāmenei Ali Falaqul Ishbah; Muhammad Babul Ulum; Dani Nur Pajar
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol 23, No 2 (2024): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v23i2.43283

Abstract

The recent phenomenon of boycotts has attracted global attention. There have been both pros and cons in viewing the boycott movement. Some believe that this movement causes loss to certain parties, while others argue that boycotts are a necessary choice to exert pressure on groups that threaten the existence of others. Against this background, this sresearch aims to resolve the intellectual dispute in society and provide a scholarly response by examining the movement from the perspective of the Qur’an. The author uses the perspective of ‘Alī Khāmenei and his work, “Tafsīr Sūrah Al-Mumtaḥanah”. This research is a thematic-figure study using a qualitative method based on literature sources. The study concludes that ‘Alī Khāmenei views the boycott as a declaration of ‘barā’ah’ (disassociation) from the enemies of Allah and Islam. According to Khāmenei’s view, the boycott must cover three aspects: separation of the heart, ideology, and practice. This was exemplified by Prophet Ibrahim (AS) and is mentioned in Surat Al-Mumtaḥanah. Those who should be boycotted are those who deny the truth of Islam and who expel or wage war against Muslims. One group that openly engages in such actions is the Israel Zionism. ‘Alī Khāmenei encourages Muslims to take preventive action by boycotting them. The boycott serves as a way to prevent Muslims from being considered traitors while maintaining their faith, which could harm Islam by forming ties with infidels. A practical form of the boycott, for example, includes not establishing cooperation with Zionist Israel or those who support them, not purchasing their products, and avoiding any kind of affiliation with them.
ETIKA BELAJAR DALAM KITAB TA’LIM AL-MUTA‘ALLIM: TINJAUAN FILSAFAT PENDIDIKAN Suhendar, Suhendar; Ulum, Muhammad Babul
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 4 No 2 (2024): alfikrah
Publisher : STAI Binamadani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/alfikrah.v4i2.687

Abstract

Penelitian ini membahas tentang etika belajar yang diajarkan dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim kemudian ditinjau dari sudut padang filsafat pendidikan. Dalam proses belajar mengajar etika menjadi salah satu aspek yang sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan belajar, namun pada kenyataannya, etika belajar telah banyak diabaikan bahkan ditinggalkan oleh banyak siswa saat ini. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Obyek penelitiannya yaitu Kitab Ta'lim al-Muta'allim. Penelitian ini menggunakan metode analisis dekriptif. Kesimpulan dari penelitian ini ditemukan bahwa etika yang terdapat dalam Kitab Ta'lim al-Muta'allim masuk dalam kategori etika normatif. Dalam hal ini az-Zarnuji menetapkan berbagai jenis etika belajar sebagai panduan yang harus dilakukan oleh peserta didik. Az-Zarnuji membuat rincian hal-hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam belajar. Sehingga dengan demikian para peserta didik mendapatkan panduan untuk mencapai kebahagiaan tertinggi yaitu mendapatkan ridha Allah sebagai tujuan akhir dari kehidupan.
An Examination of the Role of the Companions in Early Hadith Forgery Ulum, Muhammad Babul
JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/quhas.v14i1.44422

Abstract

The role that the Prophet's companions played in the campaign to fake hadiths is investigated in this article. There are two competing opinions regarding the genesis of the appearance of fake hadith, while both agree that political factors are the fundamental trigger. According to the first opinion, since the beginning of Islam, there have been incorrect hadith. The first group of Muslims, the Companions of the Prophet, are the ones who are at fault. The majority of Western Revisionist academics, led by Goldziher and Schacht, agree with this viewpoint; non-mainstream Islamic scholars, such Ahmad Amin and Abu Rayyah, endorse it. On the other hand, mainstream Islamic scholars, led by Muhammad Mustafa Azami, disagree, citing the Companions’ justification (‘adalah al-sahabah). This article attempts to evaluate the arguments using the abductive method. Opinions that correspond to the data are taken, which are contrary to the rejection. It follows that the view that the Companions were complicit in the hadith’s falsification is the one that is more grounded in scientific evidence. Conversely, the viewpoints that dispute it are founded solely on the widely accepted Companions’ conception of justice, which is better described as dogma than actual scientific knowledge.
KONSEP KEADILAN DALAM POLIGAMI PERSPEKTIF AḤMAD MUṢṬAFA AL-MARᾹGHĪ Widya, Maswidya; Babul Ulum, Muhammad
AR ROSYAD: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Qur'an And Culture Studies
Publisher : LPPM IAI Hasanuddin Pare-Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55148/arrosyad.v3i2.1165

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang konsep keadilan dalam poligami perspektif Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī dalam Tafsīr al-Marāghī terkait QS. An-Nisā’ ayat 3 dan 129 dan QS. At-Taghābun ayat 14. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji dan menganalisis lebih dalam terkait konsep keadilan dalam poligami serta implikasinya dengan berkiblat pada penafsiran Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī dalam Tafsīr al-Marāghī. Penelitian ini adalah penelitian dalam bentuk library research atau studi kepustakaan berjenis kualitatif dengan menggunakan metode tematik tokoh (mauḍū’i fī al-shakhṣ). Dalam analisis data, penelitian ini mengadopsi pendekatan deskriptif untuk menguraikan temuan dan hasil dari sumber-sumber yang telah dipelajari. Hasil analisa penulis adalah pertama, Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī mengatakan bahwa orang yang diizinkan untuk menikah lagi dengan lebih dari satu istri adalah orang yang percaya bahwa dia dapat berlaku adil dengan pasti. Kedua, keadilan hanya berlaku dalam hal-hal yang dapat dikendalikan oleh manusia, seperti kesetaraan dalam tempat tinggal, pakaian, dan sejenisnya. Ketiga, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan seperti kecenderungan hati kepada salah satu istri bukan termasuk keadilan yang harus dipenuhi dalam poligami. Kata Kunci: Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī, Poligami, QS. An-Nisa
KONSEP KEADILAN DALAM POLIGAMI PERSPEKTIF AḤMAD MUṢṬAFA AL-MARᾹGHĪ Widya, Maswidya; Babul Ulum, Muhammad
AR ROSYAD: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Qur'an And Culture Studies
Publisher : LPPM IAI Hasanuddin Pare-Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55148/arrosyad.v3i2.1165

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang konsep keadilan dalam poligami perspektif Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī dalam Tafsīr al-Marāghī terkait QS. An-Nisā’ ayat 3 dan 129 dan QS. At-Taghābun ayat 14. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji dan menganalisis lebih dalam terkait konsep keadilan dalam poligami serta implikasinya dengan berkiblat pada penafsiran Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī dalam Tafsīr al-Marāghī. Penelitian ini adalah penelitian dalam bentuk library research atau studi kepustakaan berjenis kualitatif dengan menggunakan metode tematik tokoh (mauḍū’i fī al-shakhṣ). Dalam analisis data, penelitian ini mengadopsi pendekatan deskriptif untuk menguraikan temuan dan hasil dari sumber-sumber yang telah dipelajari. Hasil analisa penulis adalah pertama, Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī mengatakan bahwa orang yang diizinkan untuk menikah lagi dengan lebih dari satu istri adalah orang yang percaya bahwa dia dapat berlaku adil dengan pasti. Kedua, keadilan hanya berlaku dalam hal-hal yang dapat dikendalikan oleh manusia, seperti kesetaraan dalam tempat tinggal, pakaian, dan sejenisnya. Ketiga, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan seperti kecenderungan hati kepada salah satu istri bukan termasuk keadilan yang harus dipenuhi dalam poligami. Kata Kunci: Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī, Poligami, QS. An-Nisa
Paradigma Pendidikan Islam Transformatif dalam Pemikiran Abdurrahman Wahid: Integrasi Epistemologi, Spiritualitas, dan Keadilan Sosial Chandra, Widyawati; Ulum, Muhammad Babul
HUMANIKA Vol 32, No 2 (2025): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v32i2.78168

Abstract

Islamic Education in Indonesia has long been trapped in a dichotomy between religious sciences and secular sciences, coupled with a technocratic tendency that reduces its spiritual dimension and liberative Islamic values. This article presents a philosophical inquiry into the paradigm of transformative Islamic education, drawing on the thought of Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Employing a qualitative approach —comprising library research and interpretative philosophical analysis — this study elaborates on the ontological, epistemological, and axiological foundations of Gus Dur’s transformative education. The findings reveal that Gus Dur situates religious rationality as the epistemological basis that integrates reason, revelation, and historical experience. Education, in his perspective, is not merely the transmission of information but an emancipatory praxis that harmoniously cultivates intellectual, moral, and spiritual dimensions—leading to the formation of human beings who are humanistic, inclusive, and committed to social justice. This article further presents curricular, pedagogical, and policy implications for implementing a transformative model within the contexts of pesantren, madrasah, and Islamic higher education.
ABDUCTIVE REASONING AND THE RENEWAL OF ISLAMIC THEOLOGY: A CRITICAL ANALYSIS OF ANTI-SHĪʿĪ TENDENCIES IN INDONESIA Ulum, Muhammad Babul; Harun , Makmur
Al-A'raf : Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. 22 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/ajpif.v22i2.13413

Abstract

This study seeks to offer a renewal-oriented reading of Islamic Theology (kalām) in light of the abductive method proposed by the Indonesian thinker Amin Abdullah, as an alternative approach capable of breaking the epistemic stagnation in advanced Islamic studies and overcoming the epistemological impasse inherited by classical kalām from the medieval period. The study further attempts to employ this method in analyzing the rise of anti-Shīʿī tendencies in Indonesia, viewing them as a model of theological–political conflict reproduced within the local context. Adopting a comparative critical-analytical approach, the study concludes that the renewal of kalām cannot be achieved except through a re-reading of the theological tradition in light of contemporary social and political realities, alongside the integration of abductive reasoning, which enables intellectual flexibility and multiplicity of hypotheses without falling captive to sectarianism or exclusionary dogmatism.
ETIKA BELAJAR DALAM KITAB TA’LIM AL-MUTA‘ALLIM: TINJAUAN FILSAFAT PENDIDIKAN Suhendar Suhendar; Muhammad Babul Ulum
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 4 No 2 (2024): alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/alfikrah.v4i2.687

Abstract

Penelitian ini membahas tentang etika belajar yang diajarkan dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim kemudian ditinjau dari sudut padang filsafat pendidikan. Dalam proses belajar mengajar etika menjadi salah satu aspek yang sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan belajar, namun pada kenyataannya, etika belajar telah banyak diabaikan bahkan ditinggalkan oleh banyak siswa saat ini. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Obyek penelitiannya yaitu Kitab Ta'lim al-Muta'allim. Penelitian ini menggunakan metode analisis dekriptif. Kesimpulan dari penelitian ini ditemukan bahwa etika yang terdapat dalam Kitab Ta'lim al-Muta'allim masuk dalam kategori etika normatif. Dalam hal ini az-Zarnuji menetapkan berbagai jenis etika belajar sebagai panduan yang harus dilakukan oleh peserta didik. Az-Zarnuji membuat rincian hal-hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam belajar. Sehingga dengan demikian para peserta didik mendapatkan panduan untuk mencapai kebahagiaan tertinggi yaitu mendapatkan ridha Allah sebagai tujuan akhir dari kehidupan.
Konsep Boikot dalam Al-Qur’an: Studi atas Kitab Tafsīr Sūrah Al-Mumtaḥanah Karya ‘Alī Khāmenei Ali Falaqul Ishbah; Muhammad Babul Ulum; Dani Nur Pajar
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 23 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v23i2.43283

Abstract

The recent phenomenon of boycotts has attracted global attention. There have been both pros and cons in viewing the boycott movement. Some believe that this movement causes loss to certain parties, while others argue that boycotts are a necessary choice to exert pressure on groups that threaten the existence of others. Against this background, this sresearch aims to resolve the intellectual dispute in society and provide a scholarly response by examining the movement from the perspective of the Qur’an. The author uses the perspective of ‘Alī Khāmenei and his work, “Tafsīr Sūrah Al-Mumtaḥanah”. This research is a thematic-figure study using a qualitative method based on literature sources. The study concludes that ‘Alī Khāmenei views the boycott as a declaration of ‘barā’ah’ (disassociation) from the enemies of Allah and Islam. According to Khāmenei’s view, the boycott must cover three aspects: separation of the heart, ideology, and practice. This was exemplified by Prophet Ibrahim (AS) and is mentioned in Surat Al-Mumtaḥanah. Those who should be boycotted are those who deny the truth of Islam and who expel or wage war against Muslims. One group that openly engages in such actions is the Israel Zionism. ‘Alī Khāmenei encourages Muslims to take preventive action by boycotting them. The boycott serves as a way to prevent Muslims from being considered traitors while maintaining their faith, which could harm Islam by forming ties with infidels. A practical form of the boycott, for example, includes not establishing cooperation with Zionist Israel or those who support them, not purchasing their products, and avoiding any kind of affiliation with them.
KONSEP KEADILAN DALAM POLIGAMI PERSPEKTIF AḤMAD MUṢṬAFA AL-MARᾹGHĪ Maswidya Widya; Muhammad Babul Ulum
AR ROSYAD: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Qur'an And Culture Studies
Publisher : LPPM IAI Hasanuddin Pare-Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55148/arrosyad.v3i2.1165

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang konsep keadilan dalam poligami perspektif Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī dalam Tafsīr al-Marāghī terkait QS. An-Nisā’ ayat 3 dan 129 dan QS. At-Taghābun ayat 14. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji dan menganalisis lebih dalam terkait konsep keadilan dalam poligami serta implikasinya dengan berkiblat pada penafsiran Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī dalam Tafsīr al-Marāghī. Penelitian ini adalah penelitian dalam bentuk library research atau studi kepustakaan berjenis kualitatif dengan menggunakan metode tematik tokoh (mauḍū’i fī al-shakhṣ). Dalam analisis data, penelitian ini mengadopsi pendekatan deskriptif untuk menguraikan temuan dan hasil dari sumber-sumber yang telah dipelajari. Hasil analisa penulis adalah pertama, Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī mengatakan bahwa orang yang diizinkan untuk menikah lagi dengan lebih dari satu istri adalah orang yang percaya bahwa dia dapat berlaku adil dengan pasti. Kedua, keadilan hanya berlaku dalam hal-hal yang dapat dikendalikan oleh manusia, seperti kesetaraan dalam tempat tinggal, pakaian, dan sejenisnya. Ketiga, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan seperti kecenderungan hati kepada salah satu istri bukan termasuk keadilan yang harus dipenuhi dalam poligami.   Kata Kunci: Aḥmad Muṣṭafa al-Marāghī, Poligami, QS. An-Nisa