Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

CIPTA RUANG BERSAMA ANAK DALAM PERUMUSAN STRATEGI DESAIN HUNIAN RAMAH ANAK DI PANTI ASUHAN SANTO YUSUP SINDANGLAYA CIPANAS Prakoso, Susinety; Dewi, Julia; Handoyo, Andreas Dwiputro; Srinaga, Felia
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 29, No 4 (2023): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v29i4.43773

Abstract

Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas adalah panti asuhan yang diresmikan pada Tahun 1949 dan dikelola oleh Ordo Fransiskan, serta menampung sekitar 194 anak asuh usia pendidikan dasar hingga menengah. Sejalan dengan usianya yang sudah 75 tahun, maka ada kebutuhan untuk melakukan pemugaran dan perluasan bangunan, khususnya pada bangunan hunian atau wisma. Wisma Klara adalah salah satu wisma untuk 58 anak asuh putri kelas 7-9 (usia 12-15 tahun) di lingkungan panti asuhan yang mendesak untuk direnovasi guna menampung lebih banyak anak-anak asuh. Harapannya adalah menjadikan wisma Klara tidak hanya sebagai tempat berlindung secara fisik, namun sebagai model hunian bagi renovasi wisma-wisma lain selanjutnya di lingkungan panti asuhan. Kegiatan PKM ini merupakan bagian dalam upaya mewujudkan kebutuhan dan harapan panti asuhan. Pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah pendekatan cipta ruang bersama anak. Pendekatan ini dipilih agar menghasilkan strategi desain renovasi Wisma Klara yang berkelanjutan dan ramah terhadap anak. Cipta ruang bersama anak menghasilkan rumusan strategi desain yang meliputi: integrasi ruang-ruang dengan kesamaan sifat, penyusunan ruang berdasarkan urutan aktivitas, pengaturan kejelasan pola sirkulasi, penyediaan ruang kreatif minat bakat yang meminimalkan gangguan antar aktivitas, keterbukaan ruang melalui penyediaan ruang terbuka hijau, serta penerapan aspek-aspek stimulasi lingkungan pada ruang.
PERANCANGAN RUANG PUBLIK TERINTEGRASI WISATA SUSUR SUNGAI DI DESA BOJONG KULUR Dewi, Julia; Thiodore, Jacky; Amunisianto, Gregorius Anugrah Gegana; Prakoso, Susinety; Yosefanny, Felicia; Limas, Jessica Novia
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 30 No. 2 (2024): APRIL-JUNI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v30i2.56850

Abstract

Desa Bojong Kulur merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Desa Bojong Kulur secara geografis diapit oleh dua buah sungai yaitu Sungai Cikeas di sisi sebelah barat dan Sungai Cileungsi di sisi sebelah timur. Potensi dan daya tarik alam pada sungai Cikeas menarik untuk dikembangkan sebagai wisata susur sungai. Pemerintah Desa mengembangkan Desa Bojong Kulur sebagai Desa Wisata dengan memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki. Selain potensi alam sungai, Desa Bojong Kulur juga memiliki populasi yang cukup tinggi sejumlah 70.156 jiwa. Populasi yang cukup tinggi juga menjadi potensi sumber daya manusia yang baik untuk pengembangan desa. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Bojong Kulur merupakan kerja sama Program Studi Arsitektur UPH dan Fakultas Pariwisata UPH dengan mitra Pemerintah Desa Bojong Kulur dan Kemenparekraf. Kegiatan PKM meliputi proses pengumpulan data melalui FGD dengan pemerintah dan masyarakat desa, observasi dan pemetaan site, dan proses desain. Kegiatan PKM di Desa Bojong Kulur ini berhasil merancang usulan pengembangan dan desain untuk ruang publik pada empat lokasi pengembangan wisata susur sungai yang menjadi bagian dari master plan Desa Wisata Bojong Kulur
CIPTA RUANG BERSAMA ANAK DALAM PERUMUSAN STRATEGI DESAIN HUNIAN RAMAH ANAK DI PANTI ASUHAN SANTO YUSUP SINDANGLAYA CIPANAS Prakoso, Susinety; Dewi, Julia; Handoyo, Andreas Dwiputro; Srinaga, Felia
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 29 No. 4 (2023): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v29i4.43773

Abstract

Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas adalah panti asuhan yang diresmikan pada Tahun 1949 dan dikelola oleh Ordo Fransiskan, serta menampung sekitar 194 anak asuh usia pendidikan dasar hingga menengah. Sejalan dengan usianya yang sudah 75 tahun, maka ada kebutuhan untuk melakukan pemugaran dan perluasan bangunan, khususnya pada bangunan hunian atau wisma. Wisma Klara adalah salah satu wisma untuk 58 anak asuh putri kelas 7-9 (usia 12-15 tahun) di lingkungan panti asuhan yang mendesak untuk direnovasi guna menampung lebih banyak anak-anak asuh. Harapannya adalah menjadikan wisma Klara tidak hanya sebagai tempat berlindung secara fisik, namun sebagai model hunian bagi renovasi wisma-wisma lain selanjutnya di lingkungan panti asuhan. Kegiatan PKM ini merupakan bagian dalam upaya mewujudkan kebutuhan dan harapan panti asuhan. Pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah pendekatan cipta ruang bersama anak. Pendekatan ini dipilih agar menghasilkan strategi desain renovasi Wisma Klara yang berkelanjutan dan ramah terhadap anak. Cipta ruang bersama anak menghasilkan rumusan strategi desain yang meliputi: integrasi ruang-ruang dengan kesamaan sifat, penyusunan ruang berdasarkan urutan aktivitas, pengaturan kejelasan pola sirkulasi, penyediaan ruang kreatif minat bakat yang meminimalkan gangguan antar aktivitas, keterbukaan ruang melalui penyediaan ruang terbuka hijau, serta penerapan aspek-aspek stimulasi lingkungan pada ruang.
Investigasi strategi desain ruang ramah tunarungu berbasis simulasi multisensori Trisnawati, Ersalina; Dewi, Julia; Prakoso, Susinety
ARSNET Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode simulasi analisis akustik dan visual untuk mengevaluasi kualitas ruang, serta memahami bagaimana desain ruang tertentu dapat menghadirkan kualitas multisensori yang dapat mendukung penyandang tunarungu. Simulasi analisis akustik menggunakan Ecotect untuk mengukur reverberasi dan pantulan suara. Sementara simulasi analisis visibilitas menggunakan depthmapX untuk mengukur isovist pengguna, integrasi, dan visibilitas ruang. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ruang dengan sumber suara dari atas akan lebih baik dalam mendistribusi suara tanpa menimbulkan tingkat reverberasi ruang yang tinggi. Sumber suara berbentuk pocket dan organic enclosure dapat mengurangi tingkat reverberasi dan pantulan suara dalam ruang, meningkatkan privasi ruang sekaligus memberikan lapang pandang yang cukup luas bagi penglihatan kaum tunarungu. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ada tiga konsep utama yang mempengaruhi kualitas akustik dan visual bagi kaum tunarungu, yaitu enclosure yang mempengaruhi tingkat privasi dan reverberasi ruang, integrasi yang menentukan visibilitas spasial dan orientasi massa atau bidang, serta material yang mempengaruhi kualitas absorpsi suara dalam ruang. This study addressed the auditorial necessity and visual potential of the deaf using acoustic and visual analysis simulation. Due to the poorly designed room acoustics, the deaf people had difficulties communicating, despite the use of hearing aids or cochlear implants. This condition often causes some distorted sound waves in hearing aids. To compensate for the deficiency in auditory abilities, the deaf people relied on their peripheral vision as a source of information for communication. However, the understanding of parameters of room geometry that are necessary to support both the acoustic and visual qualities of the deaf was limited. Based on the depthmapX and Ecotect simulations, this study discovered that the source of the sound in space should come from the top to minimise the reverberation time. Spaces in the form of pockets and with organic enclosure also minimise the reverberation time and sound reflection, achieving privacy while maintaining the potential peripheral vision of the deaf. The study also revealed that a room with acoustic and visual qualities for the deaf should incorporate three concepts, i.e., an enclosure to achieve a certain level of privacy and sound reverberation; integration of spatial visibility following the room or wall orientations; and consideration of the use of materials to absorb the different frequencies of sound.