Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Training and Educating of Pineapple Farmers in Producing Organic Fertilizer Using The Bio-EM4 Application Technology in Lendang Nangka Utara Village, Masbagik, East Lombok Kisman Kisman; I Ketut Ngawit; Suprayanti Martia Dewi
Unram Journal of Community Service Vol. 5 No. 2 (2024): June
Publisher : Pascasarjana Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ujcs.v5i2.649

Abstract

The aim of this community service activity is to train and mentor farmers to produce organic fertilizer from cattle pen waste to create a village community that is self-sufficient in meeting the fertilizer needs for its pineapple farming business. The activity used a participatory action method, which was carried out for 19 months. The results of the activities show that the implementation of the activities ran smoothly and successfully. Farmers' participation and enthusiasm, which was previously moderate, turned out to be increased to high after implementing direct assistance in the field. Farmers' knowledge and skills are increasing as evidenced by the fertilizer produced based on SNI standards which is classified as good quality. Organic fertilizer produced by farmers can be used as a substitute for Urea, ZK and TSP fertilizer because application of a dose of 25 tons ha-1 plus NPK Ponska dose of 100 kg ha-1 can balance the growth and yield of pineapple in plots fertilized with NPK dose of 500 kg ha-1 . So the recommended application dose for organic fertilizer produced by this program is 25 tons ha-1 plus NPK Ponska 100 kg ha-1 with the application time after soil processing.
Kompetisi Gulma Teki (Cyperus rotondus L.) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah di Lahan Kering I Wayan Budiartha; I Ketut Ngawit; Ni Wayan Sri Suliartini
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/tgjyzg38

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui indeks kompetisi dan kehilangan hasil bawang merah akibat kompetisi teki dengan model percobaan aditif, substitusi dan dinamik. Indeks kompetisi teki saat bawang merah berumur 28, 56 dan 84 HST 0,01615; 0,01876 dan 0,02057, sehingga kehilangan hasil bawang merah mencapai 16,15%, 18,76% dan 20,57%. Hasil ini, relevan dengan prediksi kehilangan hasil bawang merah yang dihitung dengan dominansi terbobot, yaitu 16,10%, 18,76% dan 20,57%. Jumlah populasi gulma teki yang dapat ditolerir kehadirannya oleh bawang merah pada umur 28, 56, dan 84 HST 4,00 rumpun m-2, .5,27 rumpun m-2 dan 3.00 rumpun m-2. Kemampuan bawang merah menekan populasi teki menurun pada umur 56 HST dan kembali meningkat pada umur 84 HST. Sebaliknya kemampuan teki menekan pertumbuhan bawang merah pada umur 56 HST meningkat, akan tetapi sedikit menurun pada umur 84 HST, yaitu dari jumlah populasi 3,35 rumpun menjadi 4,244 rumpun. Jadi keberadaan teki pada tanaman bawang merah tidak boleh dibiarkan sampai pencapai populasi 3-4 rumpun m2. Penguasaan sarana tumbuh (Relative Space Occupantion) = RSO) bawang merah pada umur 28 HST lebih tinggi dibandingkan dengan RSO teki. Akan tetapi pada saat tanaman berumur 56 HST, penguasaan sarana tumbuh teki pada semua tingkat kerapatannya, signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan penguasaan sarana tumbuh bawang merah. Pada tingkat kerapatan populasi 5 rumpun m-2 - 35 rumpun m-2, nilai RSO bawang merah 10,273% – 44,,491%, sedangkan nilai RSO gulma teki 32,512% – 77,128%, dengan nilai pembending berkisar antara 22,239% - 32,637%.
Komposisi dan Kepadatan Seed Bank Gulma pada Berbagai Kedalaman Tanah Pertanaman Palawija di Desa Anyar, Lombok Utara I Ketut Ngawit; Irwan Muthahanas; M. Sopian Holis
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ds3wfv39

Abstract

Seed Bank gulma dalam tanah terdiri atas berbagai species dengan jumlah yang sangat banyak. Kedalaman letak seed bank gulma dapat menjadi dasar untuk mengetahui tingkat persaingan gulma yang memengaruhi hasil tanaman pokok. Penelitian bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kepadatan seed bank gulma pada berbagai kedalaman tanah pertanaman palawija di Desa Anyar, Lombok Utara. Pengambilan sampel dilakukan di pertanaman jagung, kedelai dan kacang tanah pada kedalaman tanah: 0 - 10 cm, 10 - 15 cm, 15 - 20 cm, 20 - 25 cm dan 25 - 30 cm. Parameter yang diamati adalah jumlah gulma yang tumbuh, komposisi gulma yang tumbuh dan waktu tumbuh gulma setiap kedalaman tanah. Ada perbedaan komposisi dan kepadatan seed bank yang signifikan pada berbagai kedalaman tanah di areal pertanaman palawija. Hal ini tampak dari jumlah spesies, jumlah populasi dan kemampuan tumbuh serempak yang tertinggi dari seed bank gulma terjadi pada tanah dari pertanaman jagung dengan kedalaman 0 - 10 cm dan 10 - 25 cm, kemudian semakin menurun pada kedalaman tanah 20 - 25 cm dan signifikan paling rendah terjadi pada kedalaman tanah 25 - 30 cm. Komposisi, kerapatan dan waktu tumbuh gulma semakin menurun dengan kedalaman tanah yang semakin dalam.
Periode Kritis Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) dalam Kompetisi dengan Gulma di Lahan Kering I Ketut Ngawit; Nihla Farida; Lalu Nara Andana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/0awg8g59

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan periode kritis kacang hijau berkompetisi dengan gulma di lahan kering. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok, terdiri atas tujuh perlakuan periode tanaman bebas gulma dan bergulma selama 10, 20, 30, 40, 50, 60 dan 70 hari setelah tanam (HST). Parameter pengamatan, meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, luas daun, populasi gulma, bobot biomas kering tanaman dan bobot biomas kering gulma saat tanaman berumur 21, 35, 49, 63 dan 77 HST. Data dianalisis menggunakan analisis varian dengan uji lanjut BNJ pada taraf nyata 5% dan uji statistik William’s Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode kritis kacang hijau berkompetisi dengan gulma di lahan kering terjadi pada periode umur 20 - 30 HST. Kacang hijau dapat mentolerir keberadaan gulma di lahan kering hanya sampai umur 30 HST. Penyiangan gulma pada pertanaman kacang hijau pada periode umur 30 - 40 HST, menyebabkan pertumbuhannya tidak bisa dikembalikan ke fase normal. Kacang hijau, yang berkompetisi dengan gulma selama periode umur 30 -70 HST, tidak bisa diselamatkan karena kehilangan hasilnya mencapai 99,094%. Disarankan, penyiangan gulma kacang hijau dilakukan ketika tanaman berumur 20 - 30 HST. Penyiangan tidak dianjurkan setelah kacang hijau berumur lebih dari 30 HST.
Periode Kritis Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dalam Kompetisi dengan Gulma terhadap Pertumbuhan dan Hasil Maulana; I Ketut Ngawit; I Wayan Sutresna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/vhbnd845

Abstract

Penelitian ini bertujuan menentukan periode kritis bawang merah (Allium ascalonicum L.) dalam kompetisi dengan gulma pada kondisi lahan sawah tadah hujan di Nusa Tenggara Barat serta menentukan waktu pengendalian gulma yang tepat. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 20 perlakuan, yaitu periode tanaman bebas gulma dan bergulma selama 1–10 minggu setelah tanam (MST), dengan tiga blok. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan dan hasil bawang merah serta populasi dan biomassa gulma. Data dianalisis menggunakan analisis varian, uji BNJ 5%, analisis regresi-korelasi, dan William’s t-test. Hasil menunjukkan periode kritis bawang merah dalam kompetisi dengan gulma terjadi pada umur 4–5 MST. Keberadaan gulma sampai umur 5 MST masih dapat ditoleransi, tetapi penundaan pengendalian setelah periode tersebut menyebabkan pertumbuhan dan hasil tidak dapat dipulihkan. Bawang merah yang berkompetisi dengan gulma selama 5–10 MST mengalami penurunan hasil 64,759%–99,992%, sedangkan tanaman yang bebas gulma hanya sampai umur 1–3 MST mengalami penurunan hasil hingga 99,992%. Hasil ini memperkuat informasi mengenai periode kritis bawang merah pada kondisi lahan sawah tadah hujan di NTB. Pengendalian gulma perlu dilakukan sebelum atau memasuki periode kritis, dan tidak ditunda setelah tanaman berumur 5 MST.
Indeks Kompetisi Gulma Teki (Cyperus rotundus L.) dan Kehilangan Hasil Bawang Merah di Lahan Kering Ni Luh Shanti Adriani; I Ketut Ngawit; I Wayan Sutresna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/b2adnp69

Abstract

Penelitian eksperimental dengan model percobaan aditif bertujuan untuk mengetahui pengaruh kerapatan populasi teki terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah, indeks kompetisi dan kehilangan hasil bawang merah akibat kompetisi teki. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 7 perlakuan tanaman bawang merah mengalami saingan gulma teki dengan kerapatan 0, 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 rumpun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan populasi teki berpengaruh signifikan terhadap Relative Growth Rate tinggi tanaman⁻¹, jumlah daun, jumlah anakan, bobot biomassa kering dan bobot umbi konsumsi bawang merah. Bawang merah mengalami tekanan pertumbuhan dan hasil secara signifikan setelah mendapat saingan teki dengan kerapatan populasi 2-3 rumpun tanaman⁻¹, sehingga pertumbuhan dan hasil bawang merah tidak bisa diselamatkan setelah mendapat saingan teki 4 - 6 rumpun tanaman⁻¹. Indeks kompetisi teki terhadap bawang merah umur 28, 56 dan 84 HST sebesar 0,1779, 0,1945 dan 0,2055. Akibatnya, kehilangan hasil bawang merah mencapai 28,00%, 45,00% dan 58,00%. Hasilini relevan dengan prediksi kehilangan hasil bawang merah yang dihitung dengan parameter dominansi terbobot, yaitu 27,857%, 45,045% dan 58,126%. Populasi teki yang dapat ditolerir kehadirannya pada tanaman bawang merah 1 rumpun tanaman⁻¹. Keberadaan gulma teki pada tanaman bawang merah harus segera disiangi jika jumlah populasinya telah mencapai 2 rumpun tanaman⁻¹.