Dwi Ambarwati
Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Edukasi terhadap Pengetahuan Bahaya Seks Bebas pada Usia Remaja Deby Indriastuti; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/eqc3cs61

Abstract

Pergaulan bebas pada remaja di era milenial masih menjadi isu serius, terutama karena kemajuan teknologi yang memudahkan akses informasi, termasuk yang berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi Edukasi terhadap pengetahuan bahaya seks bebas pada usia remaja. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif, melibatkan 32 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner berisi 20 pertanyaan dengan skala Guttman, di mana setiap jawaban yang benar diberikan nilai 1 dan jawaban yang salah diberikan nilai 0. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu dimulai dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, kemudian dilanjutkan dengan pemberian edukasi mengenai bahaya seks bebas, dan diakhiri dengan post-test guna mengevaluasi efektivitas dari edukasi yang telah diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, 31,25% siswa berada pada kategori pengetahuan rendah, 46,87% cukup, dan 21,80% baik. Setelah edukasi, siswa dengan pengetahuan rendah menurun menjadi 15,62%, kategori cukup menjadi 25%, dan kategori baik meningkat menjadi 59,38%. Rata-rata nilai pengetahuan meningkat dari 62,81 menjadi 78,90 setelah edukasi dilakukan. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa edukasi efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja terhadap bahaya seks bebas.   Free socializing among teenagers in the millennial era remains a serious issue, especially due to technological advances that facilitate access to information, including risky content. This study aims to examine the implementation of Health Education on teenagers' knowledge about the dangers of free sex. The research uses a case study design with a descriptive approach, involving 32 students selected through purposive sampling. Data collection was conducted using a questionnaire containing 20 questions with a Guttman scale, where each correct answer was scored 1 and each incorrect answer scored 0. The data collection process was carried out in three stages: starting with a pre-test to measure initial knowledge, followed by providing education about the dangers of free sex, and concluding with a post-test to evaluate the effectiveness of the education given. The results showed that before the education, 31.25% of students were in the low knowledge category, 46.87% moderate, and 21.80% high. After the education, the percentage of students with low knowledge decreased to 15.62%, moderate to 25%, and those with high knowledge increased to 59.38%. The average knowledge score rose from 62.81 to 78.90 after the education was conducted. The conclusion indicates that health education is effective in improving teenagers' understanding of the dangers of free sex.
Efektivitas Terapi Bermain Kata Terhadap Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Pra Sekolah Natasha Putri Azrina; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/av91jy21

Abstract

Menurut World Health Organization (WHO), gangguan perkembangan bahasa terjadi cukup tinggi di seluruh dunia, dengan angka sebesar 27,5% atau sekitar tiga juta anak. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan pada tahun 2023 melaporkan sekitar 0,4 juta (16%) anak mengalami gangguan perkembangan. Salah satu hambatan umum pada anak usia pra sekolah adalah keterlambatan bicara yang berdampak pada kemampuan membaca, verbal, sosial, psikososial, dan prestasi akademik. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran, baik dari segi metode maupun media, untuk meningkatkan minat dan partisipasi anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi bermain kata terhadap perkembangan bahasa anak usia pra sekolah dengan keterlambatan bicara di PSAA Balita Tunas Bangsa. Desain penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Metode yang digunakan non probability sampling dengan pendekatan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 4 anak (2 laki-laki dan 2 perempuan) dengan mayoritas berusia 3 tahun 6 bulan. Instrumen yang digunakan berupa wawancara, lembar observasi bermain kata, dan KPSP. Hasil menunjukkan nilai rata-rata perkembangan bahasa sebelum terapi adalah 1,43 (kurang) dan setelah terapi meningkat menjadi 2,81 (baik) dengan selisih 1,38. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi bermain kata efektif meningkatkan perkembangan bahasa pada anak usia pra sekolah dengan keterlambatan bicara di PSAA Balita Tunas Bangsa.   According to the World Health Organization (WHO), language development disorders occur at a relatively high rate worldwide, with a prevalence of 27.5% (3million children. In Indonesia, the Ministry of Health reported in 2023 that around 0.4 million (16%) children experience developmental disorders. One common obstacle among preschool-aged children is speech delay, which affects reading ability, verbal skills, social and psychosocial development, and academic performance. Therefore, effective and enjoyable learning strategies, both in terms of methods and media, are needed to enhance children’s interest and participation. This study aims to examine the effect of word play therapy on the language development of preschool children with speech delays at PSAA Balita Tunas Bangsa. The research design uses a case study with a descr  iptive approach. The method applied is non-probability sampling with a purposive sampling technique. The sample consisted of 4 children (2 boys and 2 girls), the majority of whom were 3 years and 6 months old. The instruments used included interviews, word play observation sheets, and KPSP. The results showed that the average language development score before therapy was 1.43 (poor), which increased to 2.81 (good) after therapy, with a difference of 1.38. These results indicate that word play therapy is effective in improving language development in preschool children with speech delays at PSAA Balita Tunas Bangsa
Efektivitas Edukasi Hand Hygiene Dalam Upaya Menurunkan Penyakit ISPA Dengan Metode Audio Visual Pada Anak Usia Pra Sekolah Chintya Dewi; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/g0hkyx14

Abstract

Anak usia prasekolah merupakan kelompok rentan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat sistem imun yang belum berkembang optimal. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah peningkatan perilaku hand hygiene sejak dini melalui edukasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi edukasi hand hygiene menggunakan media audio visual serta kecenderungan perubahannya terhadap keterampilan mencuci tangan dan gejala ISPA pada anak usia prasekolah di PSAA Balita Tunas Bangsa. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian dipilih secara purposive sampling sebanyak empat anak prasekolah yang mengalami ISPA. Intervensi berupa edukasi hand hygiene berbasis audio visual diberikan selama tiga hari berturut-turut. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi keterampilan hand hygiene dan klasifikasi gejala ISPA sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor keterampilan hand hygiene dari 13,1 menjadi 17,4 serta penurunan rata-rata skor klasifikasi gejala ISPA dari 8 menjadi 3,5. Temuan ini menunjukkan adanya kecenderungan perbaikan keterampilan mencuci tangan yang diikuti dengan penurunan gejala ISPA setelah pemberian edukasi. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah subjek yang kecil dan desain deskriptif sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan. Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi edukasi kesehatan berbasis audio visual dalam praktik keperawatan komunitas anak.   Preschool-aged children are a vulnerable population to Acute Respiratory Infections (ARI) due to their immature immune systems. One preventive strategy to reduce ARI risk is promoting proper hand hygiene behavior through early health education. This study aimed to describe the implementation of audio-visual-based hand hygiene education and its observed tendency to improve handwashing skills and reduce ARI symptoms among preschool children at PSAA Balita Tunas Bangsa. This research employed a descriptive case study design. Four preschool children diagnosed with ARI were selected using purposive sampling. The intervention consisted of hand hygiene education delivered through audio-visual media over three consecutive days. Data were collected using observation sheets assessing hand hygiene skills and ARI symptom classification before and after the intervention. The results showed an increase in the average hand hygiene skill score from 13.1 to 17.4, along with a decrease in the average ARI symptom classification score from 8 to 3.5. These findings indicate a tendency toward improved hand hygiene skills accompanied by reduced ARI symptoms following the educational intervention. However, this study is limited by a small sample size and a descriptive design, which restrict the generalizability of the findings. Nevertheless, the results may serve as preliminary evidence to support the development of audio-visual-based health education interventions in pediatric community nursing practice.