Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Paradox of Legislative Performance: Human Resource Capacity and Executive Dominance in the Regional People’s Representative Council of Teluk Bintuni Regency Charlos G Maay; Muhammad Irvan Nur Iva; Herman H; Andi Kasmawati; Didik Iskandar
Journal of Public Policy and Local Government (JPPLG) Volume 3, Issue 1, 2026
Publisher : ASHA Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70188/ddr0j674

Abstract

This study examines the paradox of legislative performance in the Regional People’s Representative Council of Teluk Bintuni Regency during the 2021–2024 period, where increasing legislative output does not necessarily reflect stronger institutional capacity or independence. This study uses a qualitative case study approach to examine legislative performance in the Regional People’s Representative Council of Teluk Bintuni Regency. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document analysis involving council members, secretariat staff, and representatives of the regional government. Data were analyzed using an interactive model, including data reduction, data display, and conclusion drawing, to identify patterns related to human resource capacity, executive dominance, and legislative performance. The findings show that legislative performance reflects a combination of increasing output and persistent structural constraints. The realization of the Regional Legislation Program demonstrates a generally rising trend, indicating improved legislative productivity. However, the majority of council members have a secondary education background, which reflects limited formal capacity in legislative functions. In addition, the executive dominates the legislative process, as indicated by the high proportion of draft regulations initiated and prepared by the executive. Institutional coordination is formally established but uneven in effectiveness, while public participation mechanisms remain limited and not consistently institutionalized. This study concludes that legislative performance is characterized by a paradox in which improvements in quantitative output are not accompanied by stronger institutional capacity or independence. These findings highlight the need to move beyond output-based assessments and to consider structural and relational factors in understanding legislative performance in decentralized governance systems.
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Ekonomi Sirkular Melalui Pelatihan Pengelolaan Bank Sampah di Kelurahan Maccini Parang Kota Makassar Muhammad Luthfi Siraj; Suprianto Suprianto; Ismail Ismail; Didik Iskandar; Syarifiuddin Syarifiuddin; Een Astari Ahmad
INNOVA-S: Journal of Innovation and Sustainable Services Volume 2, Issue 1, 2026
Publisher : LPPM INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS DAN MARITIM BALIK DIWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63249/innova-s.v2i1.116

Abstract

Permasalahan sampah perkotaan di Kota Makassar masih menjadi tantangan akibat meningkatnya timbulan sampah rumah tangga, rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah, serta belum optimalnya pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular dalam pengelolaan bank sampah di Kelurahan Maccini Parang, Kota Makassar. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui tahapan observasi, penyuluhan, praktik simulasi, pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Sebanyak 25 peserta mengikuti pelatihan yang difokuskan pada peningkatan pengetahuan tentang ekonomi sirkular, keterampilan pemilahan sampah, serta penguatan pengelolaan bank sampah. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kapasitas masyarakat yang ditandai dengan 88% peserta mengalami peningkatan pemahaman mengenai pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, 80% mampu melakukan pemilahan sampah secara mandiri, serta 72% aktif berpartisipasi dalam kegiatan bank sampah setelah pelatihan. Secara keseluruhan, tingkat keberhasilan program mencapai 80%. Program ini juga menghasilkan dampak positif berupa meningkatnya kesadaran lingkungan, terbentuknya kebiasaan pemilahan sampah dari sumber, penguatan operasional bank sampah, serta munculnya peluang ekonomi dari pemanfaatan sampah yang dengan pendekatan ekonomi sirkular melalui bank sampah terbukti efektif dalam mendukung pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Alun-Alun English Camp Berbasis Kolaborasi Pemerintah Daerah dan Organisasi Kepemudaan untuk Penguatan Literasi Bahasa Inggris Remaja di Kabupaten Barru Muhammad Ishak; Didik Iskandar; Zarni Adia Purna; Faisal Ardiansyah; Tri Cahyo Nugroho
JURNAL AKADEMIK PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 4 No. 3 (2026): Mei
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/japm.v4i3.10311

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendeskripsikan model pelaksanaan Alun-Alun English Camp Chapter 2 sebagai ruang penguatan literasi Bahasa Inggris remaja berbasis kolaborasi Pemerintah Daerah dan organisasi kepemudaan di Kabupaten Barru. Kegiatan dilaksanakan pada 22–23 Mei 2026 di Alun-Alun Colliq Pujie/Alun-Alun Kota Barru dan diikuti oleh remaja/pelajar tingkat SLTP dan SLTA se-Kabupaten Barru. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif berbasis praktik Bahasa Inggris melalui empat tahap, yaitu persiapan, pengondisian peserta, pelaksanaan inti, serta evaluasi dan penutupan. Rangkaian kegiatan mencakup koordinasi panitia dan mitra, pemasangan tenda, pembagian kelompok, briefing peserta, penyampaian materi English Camp, pembukaan resmi, workshop “Peduli Lingkungan”, Malam Pentas AEC, Practice English Camp, Outbound, dan English Challenge Games. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Alun-Alun English Camp terlaksana sebagai program pengabdian berbasis ruang publik yang memadukan pembelajaran nonformal, praktik komunikatif, kerja kelompok, penampilan, permainan edukatif, dan pemberdayaan remaja. Kolaborasi lintas aktor menjadi faktor penting dalam memperkuat legitimasi kegiatan, mobilisasi peserta, pengelolaan teknis, dan peluang keberlanjutan program. Kata kunci: English Camp, literasi Bahasa Inggris, pembelajaran nonformal, ruang publik, organisasi kepemudaan, pemberdayaan remaja.