Tisna Prabasmoro
Universitas Padjadjaran

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Interkulturalisme dalam Tari Kontemporer: “Anak Ciganitri” Karya Alfiyanto Wening Sari Anzailla; Tisna Prabasmoro; Teddi Muhtadin
PANGGUNG Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i3.3559

Abstract

ABSTRAK Meskipun keragaman budaya menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan tari kontemporer, masih sedikit koreografer yang menggunakannya sebagai acuan dalam berproses dan berproduksi seni. Salah satu koreografer di Indonesia, Alfiyanto, merepresentasikan keragaman tradisi dari Sunda, Minangkabau, dan Jawa melalui tari kontemporer. “Anak Ciganitri” merupakan karya tari kontemporer yang menampilkan dimensi budaya dialogis dari berbagai etnis yang saling berkelindan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan interkulturalisme pada karya “Anak Ciganitri”. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data melalui studi pustaka, studi lapangan, wawancara, dan observasi. Dialog pertemuan etnis yang saling berkelindan dalam karya “Anak Ciganitri” menjadi realisasi Alfiyanto dalam meningkatkan pengayaan keberagaman berdasarkan hasil dari gabungan beberapa budaya dan membangun toleransi yang bersifat aktif. Penelitian ini berpendapat bahwa interkulturalisme yang dilakukan Alfiyanto dapat memberi stimulus bagi penari dan penonton untuk mengetahui keunikan dan rasa yang dihadirkan dari etnis lain. Gagasan ini memungkinkan Alfiyanto mewujudkan solidaritas budaya dan keterbukaan terkait etnis dari tari di luar Sunda. Kata kunci: Interkulturalisme, Tari kontemporer, Alfiyanto, Anak Ciganitri
Maskulinitas dan Relasi yang Termediasi dalam Perfect Strangers Iqbal Abdul Rizal; Tisna Prabasmoro; Ari J. Adipurwawidjana
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32603

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji performativitas maskulinitas dalam relasi langsung dan termediasi oleh telepon seluler yang disajikan Perfect Stranges (2022). Perfect Strangers (2022) yang bergenre drama komedi, menyajikan hubungan yang termediasi menimbulkan kekaburan dalam identitas gender yang memengaruhi performativitas maskulinitas tokoh laki-laki karena adanya mediasi telepon seluler. Fase gerhana bulan dalam Perfect Strangers (2022) menjadi media film untuk menyampaikan komedi yang memuat permasalahan terkait performativitas maskulinitas. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan naratologi film dengan mengelaborasi gagasan maskulinitas Connell, gagasan performativitas gender Judith Butler, dan gagasan Cerulo & Ruanie terkait relasi yang termediasi.  Penelitian akan mengkaji penyajian sinematik hubungan antara performativitas maskulinitas dalam relasi yang termediasi oleh telepon seluler dalam Perfect Strangers (2022) versi Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam Perfect Strangers performativitas gender melalui telepon seluler digambarkan menimbulkan kekaburan dalam hubungan fisik atau relasi tatap muka. Performativitas gender yang mengacu pada penampilan dan tindakan berulang dalam hubungan tatap muka berbeda dengan relasi yang termediasi dapat digunakan untuk menutupi jati diri yang sebenarnya termasuk identitas seksual. Individu nonheteronormatif dapat menyembunyikan identitas seksualnya dalam hubungan relasi yang termediasi.   This study aims to examine the performativity of masculinity in direct and mediated relationships by cell phones presented in Perfect Strangers (2022). Perfect Strangers (2022), a comedy-drama genre, presents a mediated relationship that causes blurring in gender identity that affects the masculinity performativity of male characters due to the mediation of cell phones. The lunar eclipse phase in Perfect Strangers (2022) becomes a film medium to convey comedy that contains problems related to masculinity performativity. This research is analyzed using film narratology by elaborating on Connell's idea of masculinity, Judith Butler's idea of gender performativity, and Cerulo & Ruanie's idea of mediated relationships.  The research will examine the cinematic presentation of the relationship between masculinity performativity in cell phone-mediated relationships in the Indonesian version of Perfect Strangers (2022). This research shows that in Perfect Strangers, gender performativity through cellular phones is depicted as causing blurring in physical or face-to-face relationships. Gender performativity which refers to the appearance and repetitive actions in face-to-face relationships in contrast to mediated relationships can be used to mask true identities including sexual identity. Non-heteronormative individuals can hide their sexual identity in mediated relationships
Community identity construction: A case study of digital literacy activists in Next Generation Indonesia Community Jibril Bela Abdillah; Tisna Prabasmoro; Dade Mahzuni
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39470

Abstract

Next Generation Indonesia (NXG Indonesia), a community dedicated to enhancing digital literacy, underscores its role as a social actor within the digital literacy discourse. The status of NXG Indonesia as a social actor in this discourse renders discussions about it inherently linked to issues of identity. Consequently, this study aims to elucidate the construction of the identity of the NXG Indonesia community and examine how this identity construction influences the habitus of NXG Indonesia. To achieve these research objectives, a qualitative methodology employing a case study approach was utilized, with data collected through in-depth interviews with five informants who were members of the NXG Indonesia community. The findings indicate that the identity of the NXG Indonesia community is constructed through elements such as locus, distinctiveness, identification, orientation, evaluation of community life, and evaluation of community functioning, all of which have implications for the NXG Indonesia habitus, particularly its commitment to digital literacy. Therefore, this study concludes that social interactions among individuals within NXG Indonesia significantly impact the construction of the community's identity and habitus.   Next Generation Indonesia (NXG Indonesia), sebuah komunitas yang berdedikasi dalam mengupayakan peningkatan literasi digital, menegaskan perannya sebagai aktor sosial dalam wacana literasi digital. Status NXG Indonesia sebagai aktor sosial dalam wacana ini mengakibatkan diskusi mengenai NXG Indonesia tidak dapat dipisahkan terkait dengan masalah identitas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi identitas komunitas NXG Indonesia dan melihat bagaimana konstruksi identitas tersebut mempengaruhi habitus dari NXG Indonesia. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, penelitian ini mengunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam bersama dengan lima informan yang tergabung dalam komunitas NXG Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas komunitas NXG Indonesia dikonstruksi melalui elemen-elemen seperti locus, distinctiveness, identification, orientation, evaluation of community of life, dan evaluation of community functioning yang berimplikasi pada habitus NXG Indonesia, khususnya komitmennya terhadap literasi digital. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa interaksi sosial di antara individu-individu di dalam NXG Indonesia secara signifikan memengaruhi konstruksi identitas dan habitus komunitas.
Atelir Ceremai: Identity negotiation and artists’ resistance in urban collective space Fajar Hanif Mubarok; Tisna Prabasmoro; Lina Meilinawati Rahayu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41735

Abstract

This study explores the strategies of urban art collectives in shaping collective identity through collaborative practices within social spaces. Focusing on Atelir Ceremai, an art collective located on the cultural periphery of Jakarta (East Jakarta), the research examines how contemporary artists respond to marginal urban contexts through community-based artistic production. Drawing on social constructionism, collective identity theory, and theories of spatial practice, the study examines how space, language, and group dynamics shape the formation of collective consciousness among artists. This process reflects a shift from individual creativity to a communal artistic ecosystem, from market norms to symbolic autonomy, and from personal identity to a more adaptive collective identity. Based on in-depth interviews, document analysis, and participatory observation, the study finds that this transformation is made possible through various activities, including knowledge-sharing, collective use of space and tools, and the activation of joint projects. The study concludes that art collectives such as Atelir Ceremai play a crucial role in creating spaces for artistic production while simultaneously articulating adaptive forms of identity through dialectical processes. This adaptive identity is expressed through performative language, collective decision-making, and shared labor, symbolically distancing itself from the norms and logic of the art market.   Penelitian ini mengeksplorasi strategi kolektif seni urban membentuk identitas kolektif melalui praktik kolaboratif dalam ruang sosial. Dengan menyoroti Atelir Ceremai, sebuah kolektif seni yang berlokasi di pinggiran lanskap budaya Jakarta (Jakarta Timur), riset ini mengkaji bagaimana seniman kontemporer merespons konteks urban-pinggiran melalui produksi artistik berbasis komunitas. Bertolak dari kerangka konstruksionisme sosial dan teori identitas kolektif, serta teori mengenai praktik ruang, studi ini menelusuri bagaimana ruang, bahasa, dan dinamika kelompok membentuk kesadaran kolektif di antara seniman. Hal ini berkontribusi pada pergeseran dari kreativitas individual ke ekosistem artistik komunal, dari norma pasar ke otonomi simbolik, dari identitas individual ke identitas kolektif yang adaptif. Melalui wawancara mendalam, analisis dokumen, dan observasi partisipatif, ditemukan bahwa proses pergeseran tersebut dimungkinkan melalui sejumlah aktivitas yang merentang dari saling berbagi pengetahuan, ruang dan alat, serta serangkaian aktivasi proyek bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolektif seni seperti Atelir Ceremai memainkan peran penting dalam menciptakan ruang produksi artistik sekaligus bentuk-bentuk adaptasi identitas yang terjadi secara dialektis. Identitas adaptif ini terartikulasi melalui bahasa performatif, keputusan bersama, serta kerja kolektif yang secara simbolik mengambil jarak dari norma dan logika pasar seni.