Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Differences in Perception and Diction on Two Translations Lelaki Tua dan Laut from Ernest Hemingway’s The Old Man and The Sea Lina Meilinawati Rahayu
Humaniora Vol 28, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.333 KB) | DOI: 10.22146/jh.22284

Abstract

Translation of literary work is never simply the business of translating the work in the source language into the target language. Translation is always culture-sensitive, as it also means translating the source culture into the target culture. This study examines two translations of the novel The Old Man and The Sea (1952) by Ernest Hemingway in the Indonesian language. Both are titled Lelaki Tua dan Laut. The earlier  was published in 1973 and was translated by Sapardi Djoko Damono, while the latter was translated by Dian Vita Ellyati and was published in 2010. These two translated versions are compared with each other in order to identify differences in perception and diction. Differences in diction further influence the reader’s perception. Close examination of the two versions discovers contrasting perception and diction. The study finds that Djoko Damono’s translation builds meaning by using Indonesian equivalents to represent the concepts presented in the novel, while Ellyati’s builds meaning through description and explanation of said concepts. Djoko Damono’s translation attempts to maintain poetic expressions through the use of rhyming words; Ellyati’s translation goes for clarity of meaning. Djoko Damono’s translation uses extensive vocabulary with specific meanings, while Ellyati’s chooses to employ words with more generic meanings. These differences indicate that translation work is never final; it is an ongoing, ever changing process.
Upaya Resistensi pada Rezim Represif melalui Sastra Drama: Telaah atas 'Opera Kecoa' karya Riantiarno dan 'Perahu Retak' karya Emha Ainun Najib (Resistance Efforts towards the Repressive Regime: Study on Riantiarno’s ‘Opera Kecoa’ and Emha Ainun Najib’s ‘Perahu Retak’) Lina Meilinawati Rahayu; Aquarini Priyatna
Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Budaya Asing (FBBA), Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.042 KB) | DOI: 10.26714/lensa.9.2.2019.120-136

Abstract

Tulisan ini ingin membuktikan bagaimana upaya perlawanan terhadap penguasa disampaikan melalui karya sastra. Penganalisisan berfokus pada  peristiwa, adegan, kalimat, dan ungkapan yang mengindikasikan upaya resistensi. Drama yang dijadikan sumber data adalah Opera Kecoa (1985) karya Riantiarno dan Perahu Retak (1992) karya Emha Ainun Najib.  Kedua drama tersebut diterbitkan pada zaman pemerintahan Orde Baru yang pada saat itu membatasi kebebasan berbicara dan berpendapat. Resistensi atau perlawanan terhadap struktur yang mapan ini banyak dilakukan para sastrawan. Upaya ini merupakan bagian dari penyadaran bahwa sebenarnya kita sedang diopresi tanpa disadari. Kritik sosial yang disampaikan dalam drama --juga bentuk-bentuk kesenian-- tentu tidak gamblang karena pengarang sadar akan situasi pemerintahan. Dengan demikian, sistem komunikasi diubah sedemikian rupa agar maksud sampai pada penonton atau pembaca. Penyadaran ini juga akan menjadi kontrol terhadap jalannya suatu sistem sosial. Data dalam teks drama akan dianalisis menggunakan pendekatan new historicism. Hasil kajian ingin membuktikan bahwa sejarah sebuah bangsa dapat dibaca melalui karya sastra. New Historicism  berkeyakinan bahwa selalu ada kaitan antara teks (sastra) dan sejarah. Pemikiran ini memberi persfektif bahwa “kenyataan sejarah” tidak lagi tunggal dan absolut, tetapi bisa bermacam-macam versi dan sudut pandang. Dalam konteks demikian teks sastra yang merefleksikan sejarah dapat diposisikan sebagai pembacaan sejarah dari versi yang lain. Hasil penelitian membuktikan bahwa selalu ada upaya resisten dengan berbagai cara pada penguasa yang represif.Kata kunci: resistensi, represif, penguasa, dramaABSTRACTThis paper aims to show the resistance effort towards the authorities. The analysis focuses on the events, scenes, sentences, and expressions which indicate the resistance efforts. The dramas used as the data in this research are titled Opera Kecoa ‘The Cockroach Opera’ (1985) by Riantiarno and Perahu Retak ‘The Cracked Boat’ (1992) by Emha Ainun Najib. The both of dramas were published during the New Order regime when the freedom of speech and expression were restricted. Resistance towards that established structure was mostly done by authors. This action is kind of effort to make us realized that we were actually being oppressed but did not realize it. The social criticsm delivered through the drama –as well as the form of art—of course, cannot be adequately conveyed because the authors are aware of the situation of the government. Hereafter, the communication system is changed in such a way so that the messages contained in the drama can be understood by the audiences or the readers. This awareness effort also becomes the controller for the implementation of the social system. The data in the drama text is analysed by using new historicism approach. The research results aim to show that the history of a nation can be read through the literary works. New Historicism believes that there is always connection between text (literature) and history. This thought gives perspective that “historical reality” is no longer singular or absolute, but also can be various versions with many points of view. In this context, literary texts which reflected the history can be positioned as a reading on a history from the different versions. The research results show that there are always resistance efforts towards the repressive authority with which the delivery methods are done in various ways.
MEMANGGUNGKAN PRAMOEDYA: KEKUATAN NASKAH, AKTING, DAN TEKNOLOGI DALAM PEMENTASAN “BUNGA PENUTUP ABAD" Lina Meilinawati Rahayu; Aquarini Priyatna
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 1 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.1.2

Abstract

Dengan menggunakan pemikiran Elam, paper ini menunjukkan bahwa komunikasi teatrikal, yakni bagaimana panggung ditata, berkontribusi terhadap keberhasilan suatu pementasan. Dalam menganalisi teater, Elam menekankan eksistensi komunikasi dalam setiap pertunjukkan melalui perubahan panggung yang semula merupakan ruang yang kosong menjadi ruang yang diisi oleh “sesuatu yang tampak” dan “yang terdengar”. Bunga Penutup Abad adalah transformasi gabungan dua dari empat karya tetralogy Pramoedya Ananta Toer, yakni: Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Ditampilkan di dua kota, Jakarta (Agustus 2016) dan di Bandung (Maret 2017), pementasan ini mengundang minat banyak penonton. Dengan menggunakan pendekatan yang diajukan Elam mengenail semiotika teater dan drama, kami berpendapat bahwa apa yang tampak dan terdengar adalah apa yang “dibuat menjadi tampak dan terdengar”, yakni melalui naskah, akting dan teknologi yang mentransformasi ruang kosong menjadi ruang yang bermakna. Komunikasi teatrikal ini memungkinkan penonton untuk terlibat dalam pementasan. Dalam konteks Bunga Penutup Abad, ketiga faktor menjadi penentu keberhasilan pementasan. Lebih jauh lagi, keseluruhan proses dapat dianggap sebagai bentuk teknology yang mentransformasi naskah menjadi pementasan.
KOPI PRIANGAN: PENGUKUHAN IDENTITAS MELALUI BUDAYA NGOPI DAN BERMEDSOS (MEDIA SOSIAL) Lina Meilinawati Rahayu; Ritma Fakhrunnisa; Safrina Noorman
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.8

Abstract

Tulisan ini membahas konstruksi identitas kopi Priangan dan bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dipopulerkan melalui media sosial. Kopi Priangan menjadi populer di kalangan penggemar kopi ketika harganya melambung di kancah perkopian internasional. Popularitas ini berdampak pada penghadiran kopi Priangan di kedai kopi di Jawa Barat, dalam hal ini di Bandung dan Jatinangor. Di kedua tempat ini ngopi di kedai kopi telah menjadi gaya hidup para mahasiswa yang bersekolah di sana. Tulisan ini memeriksa bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dihidupkan kembali dalam wacana kopi yang telah turut membangun gerakan budaya baru di daerah tersebut. Budaya baru berkopi ini dianggap mengandung interaksi kompleks yang memuat dikotomi lokal-global dan/atau lama-baru. Melalui kuesioner yang dibagikan di kafe-kafe dan wawancara kelanjutannya, ditemukan bahwa gerakan budaya berkopi sebagai gaya hidup tidaklah menguatkan identitas yang ajeg bagi kopi Priangan. Gaya hidup dengan ngopi ternyata tidak serta merta melahirkan penggemar kopi. Oleh karena itu, untuk membangungidentitas kopi Priangan yang lebih ajeg, para pengopi perlu"dididik". Selain itu, peran sosial media perlu dioptimalkan untuk mengangkat dan menyadarkan adanya vatian kopi lokal, khususnya kopi Priangan.  ABSTRACTThis article discusses the identity construction of Priangan coffee and how it is reflected in the way it is consumed as part of a lifestyle and is later popularized via the social media. Priangan coffee has gained popularity among coffee enthusiasts as it was valued at a higher price in comparison to other Indonesian local coffee. The renewed interest has brought the coffee to the many coffee shops in West Java, in particular Bandung and Jatinangor, where going to coffee shops becomes part of the university students living there. The article looks into the way (or ways) Priangan coffee is consumed and revamped in the coffee discourse which might have partly constituted a new cultural movement in the area. The new culture surrounding coffee is assumed to contain complex interactions of dichotomies such as local-global and given-new. Through questionnaires distributed in coffee shops in Bandung and Jatinangor and interviews that follow, it was found that the cultural movement built around the idea of coffee as part of a new life lifestyle has not strengthened a solid identity for Priangan coffee. Going to coffee shops has become part of a lifestyle which does not necessarily lead to the making coffee enthusiasts. Therefore, there is a need to "educate" coffee goers and to optimize the role played by social media in developing awareness on the local coffee variants, especially Priangan coffee.Tulisan ini membahas konstruksi identitas kopi Priangan dan bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dipopulerkan melalui media sosial. Kopi Priangan menjadi populer di kalangan penggemar kopi ketika harganya melambung di kancah perkopian internasional. Popularitas ini berdampak pada penghadiran kopi Priangan di kedai kopi di Jawa Barat, dalam hal ini di Bandung dan Jatinangor. Di kedua tempat ini ngopi di kedai kopi telah menjadi gaya hidup para mahasiswa yang bersekolah di sana. Tulisan ini memeriksa bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dihidupkan kembali dalam wacana kopi yang telah turut membangun gerakan budaya baru di daerah tersebut. Budaya baru berkopi ini dianggap mengandung interaksi kompleks yang memuat dikotomi lokal-global dan/atau lama-baru. Melalui kuesioner yang dibagikan di kafe-kafe dan wawancara kelanjutannya, ditemukan bahwa gerakan budaya berkopi sebagai gaya hidup tidaklah menguatkan identitas yang ajeg bagi kopi Priangan. Gaya hidup dengan ngopi ternyata tidak serta merta melahirkan penggemar kopi. Oleh karena itu, untuk membangungidentitas kopi Priangan yang lebih ajeg, para pengopi perlu"dididik". Selain itu, peran sosial media perlu dioptimalkan untuk mengangkat dan menyadarkan adanya vatian kopi lokal, khususnya kopi Priangan.  ABSTRACTThis article discusses the identity construction of Priangan coffee and how it is reflected in the way it is consumed as part of a lifestyle and is later popularized via the social media. Priangan coffee has gained popularity among coffee enthusiasts as it was valued at a higher price in comparison to other Indonesian local coffee. The renewed interest has brought the coffee to the many coffee shops in West Java, in particular Bandung and Jatinangor, where going to coffee shops becomes part of the university students living there. The article looks into the way (or ways) Priangan coffee is consumed and revamped in the coffee discourse which might have partly constituted a new cultural movement in the area. The new culture surrounding coffee is assumed to contain complex interactions of dichotomies such as local-global and given-new. Through questionnaires distributed in coffee shops in Bandung and Jatinangor and interviews that follow, it was found that the cultural movement built around the idea of coffee as part of a new life lifestyle has not strengthened a solid identity for Priangan coffee. Going to coffee shops has become part of a lifestyle which does not necessarily lead to the making coffee enthusiasts. Therefore, there is a need to "educate" coffee goers and to optimize the role played by social media in developing awareness on the local coffee variants, especially Priangan coffee.
Konsep Manunggaling Kawula Gusti Pada Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono Heri Isnaini; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu; Muhamad Adji
IdeBahasa Vol 1 No 2 (2019): Jurnal Ide Bahasa
Publisher : Asosiasi dosen IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.539 KB)

Abstract

ABSTRACT This article discusses the depiction of the concept of manunggaling kawula Gusti in Sapardi Djoko Damono’s poetry. The concept of manunggaling kawula Gusti is discussed based on metaphors arise from diction and meaning of poetry. The discussion of the metaphor will refer to the concept of the sign arisen in the structure of the poetry based on Pierce’s concept of representamen, object, and interpretant. In addition, how the signs relate to other texts and their relationship with the Javanese mysticism as part of the Islam-Javanese ideology are perused. Therefore, this article offers a comprehensive discussion of the Manunggaling kawula Gusti concept that is embodied in the metaphor of divine love that is described through emptiness, emptiness, and oneness. Keywords: Manunggaling kawula Gusti, Metaphor, Semiotics, Poetry ABSTRAK Artikel ini membahas penggambaran konsep manunggaling kawula Gusti pada puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Konsep manunggaling kawula Gusti tersebut akan dibahas berdasarkan metafora yang dibangun melalui diksi dan makna di dalam puisi. Pembahasan metafora tersebut akan mengacu pada konsep tanda yang dibangun di dalam struktur puisi-puisinya. Teori yang digunakan adalah teori semiotika Pierce, yakni dengan membahas representament, object, dan interpretant. Di samping itu, akan dilihat juga keterkaitan tanda-tanda tersebut dengan teks-teks lain serta hubungannya dengan gagasan mistikisme Jawa sebagai bagian dari ideologi Islam-Jawa. Dengan demikian, artikel ini menawarkan pembahasan komprehensif mengenai konsep Manunggaling kawula Gusti yang diwujudkan dalam metafora cinta ilahi yang dideskripsikan melalui kekosongan, kesunyataan, dan kemanunggalan. Kata Kunci: Manunggaling kawula Gusti, Metafora, Semiotika, Puisi
IDEOLOGI PADA SAJAK “PROLOGUE” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Heri Isnaini; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu; Muhamad Adji
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2019): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas ideologi pada sajak "Prologue" karya Sapardi Djoko Damono. Pembahasan ideologi difokuskan pada aspek-aspek tanda yang terdapat pada sajak tersebut. Pada penelitian ini, ideologi diejawantah berdasarkan relasi tanda yang muncul sebagai bagian dari representasi yang mewakili sesuatu yang lain. Tanda-tanda yang akan dianalisis mengacu pada teori Semiotika yang dikemukakan oleh Pierce, yakni dengan melihat ikon, indeks, dan simbol. Representasi terhadap tanda ini akan merujuk pada makna yang ada pada keseluruhan sajak. Selain itu, pembahasannya akan diperkuat dengan intertekstualitas yang terdapat pada sajak dengan melihat keterkaitannya dengan teks lain.
REPRESENTASI GAYA HIDUP DAN TRADISI MINUM KOPI DALAM KARYA SASTRA Muhamad Adji; Lina Meilinawati Rahayu
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.869 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.523

Abstract

Artikel ini bertujuan menunjukkan bagaimana minum kopi sebagai tradisi dan gaya hidup ditampilkan dalam karya sastra. Objek penelitian ini adalah cerpen berjudul “Filosofi Kopi” karya Dee (Dewi Lestari). Cerpen ini membicarakan budaya minum kopi pada masyarakat urban dan masyarakat rural di Indonesia. Dalam artikel ini digunakan teori representasi Stuart Hall. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) cerpen “Filosofi Kopi” menampilkan budaya minum kopi dalam dua representasi,  yaitu kopi sebagai gaya hidup dan kopi sebagai tradisi. (2) Representasi minum kopi sebagai gaya hidup diperlihatkan dari cara kaum urban memproduksi citra tertentu melalui aktivitas minum kopi. Sementara itu, minum kopi sebagai tradisi diperlihatkan dari cara masyarakat rural memaknai kopi sebagai bagian yang melekat dalam kehidupan keseharian mereka yang sederhana. Teks cerpen ini juga menunjukkan keberpihakan secara ideologis terhadap citra minum kopi sebagai tradisi, sebagai wacana yang perlu disuarakan di tengah masifnya citra minum kopi sebagai gaya hidup. This article aims to show how drinking coffee as a tradition and lifestyle is featured in literary works. The object of this research is a short story entitled "Philosophy of Coffee" by Dee (Dewi Lestari). This short story discusses the culture of drinking coffee in both urban and rural communities in Indonesia. Using Stuart Hall's theory of representation with descriptive analytical method the results of the study concluded that: (1) the short story "Philosophy of Coffee" displays the culture of drinking coffee in two representations, namely coffee as both a lifestyle and a tradition. (2) Representation of drinking coffee as a lifestyle is shown in the way urbanites produce certain images through coffee drinking activities. Meanwhile, drinking coffee as a tradition is shown by the way rural people interpret coffee as an inherent part of their simple daily lives. The text of this short story also shows ideological leaning towards the image of drinking coffee as a tradition, as a discourse that needs to be voiced in the midst of the massive image of drinking coffee as a lifestyle.
UNSUR BUDAYA DALAM KUMPULAN CERPEN MELINTASI MALAM KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN Aflaz Maosul Kamilah; Lina Meilinawati Rahayu; Baban Banita
Salingka Vol 19, No 2 (2022): SALINGKA: Edisi Desember 2022
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v19i2.747

Abstract

Penelitian ini membahas unsur budaya, kearifan lokal, dan dampak pelanggaran nilai-nilai lokalitas dalam kumpulan cerpen Melintasi Malam karya Korrie Layun Rampan dengan metode analisis deskripstif. Penelitian ini menggunakan antropologi sastra sebagai model pendekatan untuk memberikan gambaran terhadap tema-tema yang akan dibahas dalam objek penelitian. Berdasarkan hasil analisis, unsur budaya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Melintasi Malam ini yaitu, (1) sistem bahasa berupa kosakata lokal suku Dayak Benuaq; (2) sistem pengetahuan berupa pengetahuan terhadap alam flora, fauna, serta bahan mentah; (3) sistem organisasi sosial berupa sistem kekerabatan dan kepemimpinan; (4) sistem peralatan hidup dan teknologi berupa alat-alat produksi, senjata, wadah, makanan, tempat berlindung, dan alat-alat transportasi; (5) sistem mata pencaharian berupa bercocok tanam di ladang serta berburu dan meramu; (6) sistem religi berupa sistem keyakinan dan upacara; serta (7) sistem kesenian berupa seni patung dan seni musik. Bentuk-bentuk kearifan lokal terdiri dari lou, upacara belian, kegiatan merunti, upacara kematian, sistem pertanian huma, berburu, serta sistem kepemimpinan berupa kepala adat dan petinggi. Adapun dampak pelanggaran nilai-nilai lokalitas terdiri dari kerusakan hutan, kemiskinan, konflik antarkampung, dan kutukan.
Negotiation of East–West identities in the German children’s literature Gertrude Grenzenlos Naflah Fakhira Maulida; Lina Meilinawati Rahayu; Ida Farida Sachmadi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41183

Abstract

Since the 1960s, German children’s and young adult literature has placed strong emphasis on political aspects, presenting both historical and contemporary social depictions. A subgenre of problem-oriented children’s literature has even emerged, specifically focusing on more particular political issues such as social identity, ideology, and fascism. Regarding social identity, German children’s literature tends to highlight the history of the Holocaust and post-war trauma. However, there are still few works that address ideology-based social identity issues with a focus on social discrimination. Gertrude grenzenlos (2018) by Judith Burger presents a story of social discrimination experienced by a child protagonist in the East German community due to ideological differences. This study aims to show how this children’s novel portrays social discrimination channelled by the government as institutional discrimination both directly and indirectly, against families inclined toward Western ideology. The study employs identity theory by Tajfel and Turner along with Foucault's theory of power. Using a narratological approach, the narrative reveals the dynamics of power between communities of differing ideologies, which then form new identities and blur social boundaries because power is not absolute, thus creating ideological gaps that allow for the negotiation of power. Consequently, the novel illustrates the negotiation of Western and Eastern ideologies within the authoritarian and exclusive socio-political structure of East German society.   Sejak 1960-an, sastra anak dan remaja Jerman menekankan aspek politik, menyajikan gambaran sosial historis dan kontemporer di dalamnya. Sebuah subgenre sastra anak berorientasi masalah muncul menyoroti isu-isu seperti identitas sosial, konflik ideologi, dan fasisme. Dalam konteks identitas sosial, sastra anak Jerman kerap menyoroti sejarah Holocaust dan trauma pascaperang, namun karya yang membahas identitas berbasis ideologi dengan fokus pada diskriminasi sosial masih relatif sedikit. Kemudian, Gertrude grenzenlos (2018) karya Judith Burger terbit yang menceritakan diskriminasi sosial yang dialami seorang tokoh anak di komunitas Jerman Timur akibat perbedaan ideologis. Penelitian ini memperlihatkan bagaimana novel itu menggambarkan diskriminasi sosial yang disalurkan pemerintah sebagai bentuk diskriminasi institusional, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap keluarga yang condong ke ideologi Barat. Kajian memakai teori identitas Tajfel dan Turner serta teori kekuasaan Foucault. Dengan pendekatan naratologis, narasi mengungkap dinamika kekuasaan antara komunitas berideologi berbeda yang membentuk identitas baru dan mengaburkan batas sosial karena kekuasaan tidak mutlak, sehingga tercipta celah ideologis yang memungkinkan negosiasi kekuasaan. Akibatnya, novel ini menggambarkan negosiasi antara ideologi Barat dan Timur dalam struktur sosial-politik Jerman Timur yang otoriter dan eksklusif. Kajian ini juga menyoroti dampak pengalaman individual terhadap solidaritas komunitas serta bagaimana praktik sehari-hari, kebijakan, dan wacana resmi saling berinteraksi sehingga memperkuat atau melemahkan posisi sosial kelompok yang menjadi korban diskriminasi. dalam konteks perubahan sejarah dan politik.
Atelir Ceremai: Identity negotiation and artists’ resistance in urban collective space Fajar Hanif Mubarok; Tisna Prabasmoro; Lina Meilinawati Rahayu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41735

Abstract

This study explores the strategies of urban art collectives in shaping collective identity through collaborative practices within social spaces. Focusing on Atelir Ceremai, an art collective located on the cultural periphery of Jakarta (East Jakarta), the research examines how contemporary artists respond to marginal urban contexts through community-based artistic production. Drawing on social constructionism, collective identity theory, and theories of spatial practice, the study examines how space, language, and group dynamics shape the formation of collective consciousness among artists. This process reflects a shift from individual creativity to a communal artistic ecosystem, from market norms to symbolic autonomy, and from personal identity to a more adaptive collective identity. Based on in-depth interviews, document analysis, and participatory observation, the study finds that this transformation is made possible through various activities, including knowledge-sharing, collective use of space and tools, and the activation of joint projects. The study concludes that art collectives such as Atelir Ceremai play a crucial role in creating spaces for artistic production while simultaneously articulating adaptive forms of identity through dialectical processes. This adaptive identity is expressed through performative language, collective decision-making, and shared labor, symbolically distancing itself from the norms and logic of the art market.   Penelitian ini mengeksplorasi strategi kolektif seni urban membentuk identitas kolektif melalui praktik kolaboratif dalam ruang sosial. Dengan menyoroti Atelir Ceremai, sebuah kolektif seni yang berlokasi di pinggiran lanskap budaya Jakarta (Jakarta Timur), riset ini mengkaji bagaimana seniman kontemporer merespons konteks urban-pinggiran melalui produksi artistik berbasis komunitas. Bertolak dari kerangka konstruksionisme sosial dan teori identitas kolektif, serta teori mengenai praktik ruang, studi ini menelusuri bagaimana ruang, bahasa, dan dinamika kelompok membentuk kesadaran kolektif di antara seniman. Hal ini berkontribusi pada pergeseran dari kreativitas individual ke ekosistem artistik komunal, dari norma pasar ke otonomi simbolik, dari identitas individual ke identitas kolektif yang adaptif. Melalui wawancara mendalam, analisis dokumen, dan observasi partisipatif, ditemukan bahwa proses pergeseran tersebut dimungkinkan melalui sejumlah aktivitas yang merentang dari saling berbagi pengetahuan, ruang dan alat, serta serangkaian aktivasi proyek bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolektif seni seperti Atelir Ceremai memainkan peran penting dalam menciptakan ruang produksi artistik sekaligus bentuk-bentuk adaptasi identitas yang terjadi secara dialektis. Identitas adaptif ini terartikulasi melalui bahasa performatif, keputusan bersama, serta kerja kolektif yang secara simbolik mengambil jarak dari norma dan logika pasar seni.