Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

STUDI TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 OLEH GURU MATA PELAJARAN PPKn DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 4 KUPANG Daud Nassa; Mientje Oedjoe; Andy Sogen
Jurnal Gatranusantara Vol. 20 No. 1 (2022): Edisi April
Publisher : Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, kendala-kendala yang dihadapi dan upaya penanggulangan kendala oleh guru mata pelajaran PPKn pada Kurikulum 2013 di SMA Negeri 4 Kupang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dari tiga guru dan tiga siswa melalui wawancara, pedoman observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan guru melaksanakan implementasi perencanaan pembelajaran langsung menganalisis perancangan RPP dan tidak didahului dengan analisis keterkaitan SKL, KI, KD dan penilaian. Guru sudah mengimplementasikan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah saintifik namun secara subtantif materi yang disampaikan terbatas pada buku siswa, media juga terbatas pada yang tercantum di buku siswa, guru lebih dominan dalam menjawab pertanyaan siswa dan sebagian kecil siswa yang aktif dan waktu tidak cukup. Penilaian sudah dilakukan secara baik melalui sikap, pengetahuan dan keterampilan namun jumlah siswa banyak sehingga guru sulit mengamati sikap dan memberi penilaian, pada penilaian pengetahuan ada siswa yang tidak tuntas diberikan remedial berupa PR, penilaian keterampilan guru menilai siswa masih terbatas pada keterampilan berdiskusi dengan memilih beberapa indikator dari indikator keterampilan. Kendala yang dihadapi guru adalah: pemahaman guru belum utuh tentang perencanaan, pelaksanaan dan penilaian, buku sumber masih terbatas, format penilaian terlalu banyak, internet belum ada, siswa belum terbiasa belajar dengan pendekatan saintifik, siswa masih malu bertanya dan menjawab pertanyaan. Upaya guru mengatasi kendala dengan bertanya kepada teman guru dan instruktur, mencaritau lewat internet, melapor Kepala Sekolah untuk pengadaan buku dan fasilitas terutama internet serta pelatihan guru lebih baik lagi tentang Kurikulum 2013 dan IT serta jumlah siswa pada rombel perlu di rasionalkan sesuai regulasi.
Tinjauan Tentang Kampus Merdeka Ditinjau Dari Perspektif Hak Asasi Manusia Daud Yefkanius Nassa
Jurnal Kewarganegaraan Vol 7 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v7i2.5977

Abstract

Abstrak Kebijakan yang dibuat oleh Mendikbud Nadiem Makarim yang bernama Kebijakan Kampus Merdeka menyebabkan beberapa pro dan kontra dikalangan masyarakat khususnya guru-guru dan juga para Mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan alasan yang kongkrit dari tanggapan “para insan perguruan tinggi untuk menanggapi permasalahan kebijakan baru yang dibuat oleh Mendikbud sekarang ini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi literatur atau studi kepustakaan agar dapat menemukan permasalahan masyarakat yang dihadapi saat ini dalam permasalahan kebijakan tersebut secara langsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan banyak masyarakat kontra dengan kebijakan tersebut, yaitu didalam buku “kritik Kampus Merdeka “ menurut Putu Ariawantara bahwa beliau mengkhawatirkan terhadap kebijkan baru yang berbunyi“ kebebasan mahasiswa untuk belajar diluar prodi“ beliau beranggapan bahwa ada beberapa permasalahan besar yang beliau temui. yaitu akan ada kesulitan yang luar biasa dalam penanganan administrasi mahasiswa yang pindah – pindah dari satu prodi ke prodi lainnya. dengan beberapa penyebab tersebut. kami telah menemukan sebuah solusi untuk memecah permasalahan tersebut, yaitu dengan cara kita sebagai masyarakat sebaiknya mengikuti atau menjalankan dulu kebijakan dari pemerintah dalam hal ini Mendikbud sambil melihat sisi positif maupun negatif dari hasil kebijakan pemerintah tersebut. Kata Kunci: Kampus Merdeka, Hak Asasi Manusia
Improving students' critical thinking skills using e-modules-contextual teaching and learning (CTL) on the interaction of living organisms with their environment Amrilizia, Nassa; Habiddin, Habiddin; Marsuki, Muhammad Fajar
Journal of Disruptive Learning Innovation (JODLI) Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um072v3i22022p65-82

Abstract

The ability to think critically is one of the 21st-century skills that students should master. Previous studies and international surveys such as PISA showed that the profile of Indonesian students' critical thinking skills is insufficient. This study developed e-modules based on Contextual Teaching and Learning (CTL) on the interaction of living organisms with their environment. The e-module was declared very feasible regarding its content, technological and assessment tools with 86.92%, 86.33%, and 93.5%, respectively. The readability test results by teachers and students were categorised as very feasible with 89,66 % and 88.08% percentages. The e-module was also tested empirically and demonstrated an improvement in students' understanding of the topic. The statistical procedures confirmed it, including the paired-sample t-test and the N-gain analysis.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESA LAWANG URU DALAM MENGHADAPI ERA INDUSTRIALISASI Susanto, Deri; Liliyantie, Liliyantie; Inriani, Eva; Netanyahu, Kurniawan; Sampurna Raja, Daido Tri; Garuda, Nasa; Nisapingka, Diren; Ariyani, Arisna
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v7i1.52915

Abstract

Era industrialisasi telah mengubah pola ekonomi di banyak daerah, mempengaruhi kehidupan masyarakat lokal. Meskipun membawa dampak positif seperti peningkatan kesejahteraan, industrialisasi juga membawa risiko bagi pembangunan berkelanjutan dan lingkungan. Pengabdian Kepada Masyakat ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan memperoleh sumber dari wawancara kepada aparatur pemerintahan desa dan masyarakat desa baik secara internal ataupun melalui kegiatan forum group discussion (fgd). Pengabdian Kepada Masyakat tersebut menunjukkan pentingnya pemberdayaan masyarakat desa dalam menghadapi industrialisasi. Namun, dengan berdasarkan temuan dilapangan bahwa diperlukan adanya pembentukan modal sosial di Desa Lawang Uru. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilaksanakan adanya dengan membentuk modal sosial di Desa Lawang Uru. Kesimpulan dari Pengabdian Kepada Masyakat ini adalah program pemberdayaan di desa ini diharapkan dapat mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan manusia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan terutama di era industrialisasi. Namun, keberadaan modal sosial menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program pemberdayaan masyarakat dalam sebuah daerah termasuk di Desa Lawang Uru. The era of industrialization has transformed economic dynamics in numerous regions, impacting local communities. While it brings about positive outcomes like increased welfare, industrialization also poses risks to sustainable development and the environment. This study adopts a qualitative approach, drawing from interviews with village government officials and community members, as well as through forum group discussions (FGDs). It underscores the significance of empowering village communities to confront industrialization. However, field findings highlight the imperative need for building social capital in Lawang Uru Village. Therefore, the initial step to undertake is the establishment of social capital in Lawang Uru Village. The research concludes that the empowerment program in this village aims to harness the potential of natural and human resources to enhance community welfare sustainably, particularly in the industrialization era. Nonetheless, the presence of social capital stands as a pivotal determinant for the success of community empowerment initiatives in any locale, including Lawang Uru Village.
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII Menggunakan Model Project Based Learning (PjBL) dengan Strategi Diferensiasi Melalui Metode Lesson Study pada Topik Bumi dan Tata Surya Nassa Amrilizia; Nurul Kusuma Dewi; Susi Ratnawati
SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA) Vol 2, No 2 (2023): Implementasi kurikulum merdeka menuju transformasi pendidikan dalam mempersiapka
Publisher : SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan hasil belajar peserta didik melalui model Project Based Learning (PjBL) dengan strategi diferensiasi. Strategi diferensiasi yang digunakan meliputi diferensiasi proses, konten dan produk sesuai dengan pengelompokan gaya belajar (visual, audiotori dan kinestetik). Penulisan artikel ini merupakan hasil Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif (PTK Kolaboratif) antara mahasiswa, dosen dan praktisi lapangan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran di SMPN 11 Madiun menggunakan tahapan lesson study yaitu plan, do see. Hasil belajar siswa dalam siklus I menunjukkan ketuntasan klasikal sebesar 45,8% dengan rata-rata 66,67 sehingga belum mencapai ketuntasan belajar yang optimal. Pada siklus II penelitian dilanjutkan berdasarkan perbaikan sesuai kritik dan saran sehingga ketuntasan klasikal yang diperoleh setelah pembelajaran meningkat menjadi 87.5% dengan rata-rata 84,16. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi model PjBL dengan strategi diferensiasi pada topik Bumi dan Tata Surya mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Mewujudkan Generasi Melek Politik Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045 Nassa, Daud Yefkanius
WASIS : Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol 5, No 2 (2024): WASIS : Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : PGSD Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/wasis.v5i2.12818

Abstract

This study aims to analyze the role of civic education in enhancing political awareness and active engagement among young people. The research employs a qualitative approach, utilizing literature review and document analysis methods. Data collection techniques involve reviewing academic articles, policy reports, and existing civic education program documents. Research instruments include document analysis sheets to evaluate curriculum content, teaching materials, and instructional methods. The data were analyzed using thematic analysis to identify patterns and relationships relevant to youth political awareness.The findings indicate that civic education has a positive impact on increasing political awareness among youth. Interactive and contextual programs, such as simulations, discussions, and participation in local and national political activities, have proven more effective in improving political literacy. However, the study also highlights challenges, including limited resources and curricula that are less aligned with current socio-political realities. Recommendations include curriculum improvements, educator training, and increased access to educational resources. These efforts require collaboration between educational institutions, the government, and the community to ensure that civic education can adequately prepare the younger generation to face future challenges and contribute positively to Indonesia’s Golden Era.
Pendampingan Penyusunan Modul Ajar bagi Guru SMP Se-Kabupaten Belu Bani, Marsi; Ly, Petrus; Uf, Soleman Nub; Nassa, Daud; Lobo, Leonard; Masi, Thomas Kemil; Kollo, Fredik
KANGMAS: Karya Ilmiah Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 3 (2023): KANGMAS: Karya Ilmiah Pengabdian Masyarakat
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/kangmas.v4i3.1499

Abstract

Kurikulum merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan. Kurikulum yang akan dilibatkan dalam pendidikan ialah kurikulum merdeka, bersamaan dengan teknik pembuatan modul ajar. Perlunya kegiatan pendampingan ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh mitra, yakni para guru di Kabupaten Belu yang belum memahami konsep kurikulum merdeka dan teknik pembuatan modul ajar berbasis kurikulum merdeka. Metode pelaksanaan yang digunakan ialah melakukan studi pendahuluan, sosialisasi, dan pelatihan. Adapun dengan menggunakan metode melakukan studi pendahuluan untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh mitra. Selanjutnya, metode sosialisasi dilakukan oleh kepala sekolah dan Tim Kurikulum Sekolah serta Tim Pengabdian Masyakarat, dan diadakannya pembuatan modul bahan ajar dengan memaparkan teori terkait kurikulum merdeka dan modul ajar kurikulum merdeka dalam menggunakan metode pelatihan. Melalui tiga metode tersebut, kegiatan yang dilaksanakan ialah menyebarkan pemahaman mengenai kurikulum merdeka dan pembuatan modul ajar. Berdasarkan hasil pengamatan selama kegiatan pendampingan, menunjukkan bahwa semua peserta sudah memahami konsep kurikulum merdeka dan teknik menyusun modul ajar berbasis kurikulum merdeka.
Optimalisasi Hasil Belajar IPA Berbasis Problem Based Learning (PBL) Melalui Lesson Study Amrilizia, Nassa; Yusro, Andista Candra; Tamami, Muhammad Dafiq
N A T U R A L: Jurnal Ilmiah Pendidikan IPA Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/natural.v10i2.14828

Abstract

The role of the science teacher in the learning process is as a facilitator in achieving learning objectives. Teachers are involved in the process of planning, implementing and reflecting. This is a challenge for teachers in managing their classes and enhancing their professional identity. Implementation of lesson study can be used as an alternative for school-based teacher professional development so as to improve the performance of science learners. This research is a classroom action research by implementing the Problem Based Learning (PBL) learning model through lesson study with the stages of plan, do see. This research collaborated with 4 PPG students and science expert teachers. Student learning outcomes show that 75% of students complete above KKM 75 so that there are only 25% of other students who have not completed. However, the results of the percentage of students' classical completeness only reached 63% so that in one class they had not achieved optimal learning mastery.
URGENSI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER BANGSA YANG TANGGUH DI ERA DIGITAL Dorkas Yufice Ariyanti Kale; Fadil Mas'ud; Daud Yefkanius Nassa
Media Sains Vol. 25 No. 1 (2025): Terbitan Juni 2025
Publisher : Pendidikan MIPA Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69869/54ce0473

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pembentukan karakter bangsa. Tantangan globalisasi, kemudahan akses informasi, serta arus budaya yang serba cepat menuntut generasi muda untuk memiliki karakter bangsa yang kuat, berakhlak mulia, dan berwawasan kebangsaan. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memegang peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila, nasionalisme, toleransi, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa yang tangguh di era digital. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis urgensi Pendidikan Kewarganegaraan dalam membentuk karakter bangsa yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur, ditemukan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya berfungsi sebagai wahana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai media pembelajaran kritis yang membekali peserta didik dengan keterampilan literasi digital, berpikir kritis, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Urgensi tersebut mencakup upaya mitigasi pengaruh negatif digitalisasi, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan degradasi moral. Oleh karena itu, Pendidikan Kewarganegaraan perlu diintegrasikan dengan pendekatan kontekstual dan berbasis teknologi agar relevan dengan kebutuhan generasi muda di era digital. Implikasi dari kajian ini menunjukkan bahwa penguatan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan langkah strategis dalam menciptakan generasi bangsa yang berkarakter, berdaya saing, dan mampu menghadapi dinamika global dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. 
Narasi Lingkungan di Media Digital dan Pembentukan Kesadaran Kewarganegaraan Ekologis Fadil Mas'ud; Izhatullaili Izhatullaili; Yosep Copertino Apaut; Irham Wibowo; Daud Yefkanius Nassa
Media Sains Vol. 25 No. 2 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Pendidikan MIPA Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69869/f7yv8614

Abstract

Isu lingkungan semakin menjadi perhatian publik seiring meningkatnya krisis ekologis dan peran media digital dalam membentuk opini serta partisipasi warga negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasi lingkungan di media digital serta kontribusinya terhadap pembentukan kesadaran kewarganegaraan ekologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis narasi dan analisis wacana kritis terhadap konten media digital yang mengangkat isu lingkungan, dengan fokus konteks lokal Nusa Tenggara Timur. Data dikumpulkan melalui observasi digital dan dokumentasi pada platform media sosial dan portal berita daring, kemudian dianalisis secara tematik dan kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi lingkungan di media digital membentuk tiga pola utama, yaitu narasi krisis ekologis, narasi tanggung jawab moral warga negara, dan narasi aksi kolektif berbasis komunitas. Narasi tersebut berkontribusi pada pembentukan kesadaran kewarganegaraan ekologis melalui dimensi kognitif, afektif, dan konatif. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa narasi lingkungan masih cenderung menekankan perubahan perilaku individual dan belum secara optimal mengintegrasikan dimensi struktural, seperti kebijakan publik dan tata kelola lingkungan. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan narasi lingkungan yang kontekstual, kritis, dan partisipatif dalam membangun kewarganegaraan ekologis yang berkelanjutan di era digital.