Viktoria Friski Lestari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Pertunjukkan Lagu “Gemu Fa Mire” Pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN 2023 Viktoria Friski Lestari; Andhika Perdana Zebua
Clef: Jurnal Musik dan Pendidikan Musik Vol. 5 No. 1 (2024): Clef: Jurnal Musik dan Pendidikan Musik
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/cjmpm.v5i1.1804

Abstract

Tulisan kali ini akan membahas mengenai pertunjukan lagu Gemu Fa Mi Re pada KTT Asean 2023. Pengemasan lagu Gemu Fa Mi Re dengan gaya yang lebih modern mengakibatkan mood dan suasana dari lagu ini juga berubah drastis. Oleh karena itu, penulis akan mengkaji penyajian pertunjukan lagu ini pada KTT Asean 2023 agar dapat mengetahui bagaimana para musisi dapat mengemas lagu ini dengan mempertahankan esensi asli dari lagu ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penyajian pertunjukan lagu daerah Gemu Fa Mi Re pada KTT Asean 2023 dan apakah pertunjukan lagu daerah Gemu Fa Mi Re pada KTT Asean 2023 sudah memenuhi aspek-aspek seni pertunjukan untuk dapat menginterpretasi lagu tersebut dengan baik. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif-deskriptif, dengan landasan teori yang memakai definisi kajian, lagu daerah dan teori-teori mengenai pertunjukan musik (musical performance). Lagu Gemu Fa Mire pada dasarnya sudah melekat dengan stigma kegembiraan dan musik tarian yang enerjik. Penampilan lagu ini di KTT ASEAN 2023 dengan aransemen megah yang jauh berbeda dengan versi aslinya tidak menghilangkan esensi kegembiran dari lagu ini. Dalam pertunjukan lagu ini, para penampil berhasil membawakannya dengan apik, yang terbukti dari terpenuhinya seluruh aspek pertunjukan musik oleh Johan Patrick Thomas di penampilan ini.
Characteristics of the Teren Bas Instrument of Orkes Kampoeng Wangak Viktoria Friski Lestari; Ezra Deardo Purba; Rianti Mardalena Pasaribu
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 9 No. 2 (2025): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DECEMBER 2025
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v9i2.66634

Abstract

Teren Bas is a distinctive musical instrument from Maumere that has developed from the village music traditions of East Flores. In the context of contemporary ethnic music, this instrument has undergone a transformation in both form and function through the musical practices of the group Orkes Kampoeng Wangak based in Yogyakarta. This study explores the characteristics of the Teren Bas instrument as performed by Orkes Kampoeng Wangak, particularly through the song "Gemu Fa Mi Re." Teren Bas is a unique Maumere instrument resembling a one-stringed contrabass, played using a stick in a percussive manner. The aim of this research is to identify the organological, acoustic, and musical characteristics of the Teren Bas from a musicological perspective. The method employed is qualitative-descriptive with a musicological approach. The findings indicate that Orkes Kampoeng Wangak is a contemporary ethnic music ensemble that blends Maumere traditions into a modern format. The Teren Bas is constructed from kemiri (candlenut) wood, producing a rounded and rhythmic bass sound. Its playing patterns include the styles of Kripso, Langgam, Mars, and Dolo-Dolo, which reflect the cultural roots of Maumere. In the arrangement of “Gemu Fa Mi Re,” the Teren Bas serves as the rhythmic core and a symbol of musical identity, creatively combined with other instruments such as the juk, benyol, violin, flute, and jimbe. The arrangement process integrates modern chord progressions, energetic musical structures, and local sound explorations typical of Maumere through both traditional and non-traditional instruments.