Jane M. Mamuaja
Universitas Sam Ratulangi

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

KONDISI KESEHATAN PADANG LAMUN DI PERAIRAN LANTUNG KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Soniya Br Sipayung; Calvyn F.A. Sondak; Veibe Warouw; Joice R. Rimper; Kurniati Kemer; Jane M. Mamuaja; Ferdinand F. Tilaar
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53098

Abstract

Seagrasses are flowering plants (angiosperms) that live on a substrate of sand, muddy sand, and sand mixed with coral fragments. Seagrass beds have an important role both for supports the life of various types of marine biota as well as protein source for the coastal community. The purposes of this study were to find out the types of seagrasses and to assess seagrass bed conditions around Lantung village waters. The line transect quadrat method was using for data collection. Four transects were laid perpendicular from the sea to the shoreline. A 50 x 50 cm frame was used to asstimet seagrass percent cover and laid every ten meters along the transect line. This study found 7 species of seagrass namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halodule pinifolia, Halophila decipiens, and Halophila ovalis. The average value of seagrass percent cover at the location was 66.44% and it was categorized as ‘healthy’. The environmental parameters values were 29.86°C, 29.05‰ and 8.45 for temperature, salinity and pH respectively.Keywords: Lantung, seagrass, health condition, percent coverABSTRAK Lamun adalah tumbuh-tumbuhan berbunga (angiospermae) yang hidup pada substrat pasir, pasir berlumpur, dan pasir bercampur pecahan karang. Padang lamun memiliki peran penting dalam suatu ekosistem perairan dangkal yang menunjang kehidupan beragam jenis biota laut dan lumbung protein bagi masyarakat. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui jenis-jenis lamun yang ada di lokasi penelitian dan mengkaji kondisi kesehatan padang lamun dengan teknik pengumpulan data mengunakan metode transek kuadran yang ditarik tegak lurus garis pantai, dengan ukuran frame 50x 50 cm. Hasil penelitian di Perairan Lantung, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara ditemukan 7 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halodule pinifolia, Halophila decipiens, dan Halophila ovalis. Nilai rata- rata penutupan lamun pada lokasi penelitian sebesar 66,44% dan di kategorikan sehat. Parameter di Perairan Lantung yaitu suhu, salinitas, pH, dan substrat tergolong baik dengan nilai rata- rata parameter tergolong optimun dan berada pada kisaran baku mutu air laut dan dapat di toleransi lamun dengan nilai suhu 29,86°C, nilai salinitas 29,05‰ dan nilai pH 8,45.Kata kunci: Lantung, lamun, kondisi kesehatan, penutupan
KOMPOSISI FORAMINIFERA BENTIK BESAR PADA SEDIMEN MANGROVE Gabriel F. Tulung; Jane M. Mamuaja; Royke M. Rampengan; Hermanto W. K. Manengkey; Rignolda Djamaluddin; Rene C. Kepel
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53332

Abstract

Large benthic foraminifera are unicellular organisms that live at the surface of the sediments and have the ability to form shells of calcium carbonate (CaCO3). This research was conducted with the aim of describing and analyzing the composition of the large benthic foraminifera found in the coastal mangrove areas of Tasik Ria and Tongkeina. Sampling activities were carried out by taking sediment samples from mangrove areasTasik Ria and Tongkeina. The large benthic foraminifera identified were 3,680 specimens. Foraminifera species and genera obtained were 28 species from 15 genera in the mangrove sediments of Tasik Ria Beach and 23 species from 11 genera in the mangrove sediments of Tongkeina Beach. The dominant foraminifera genera with a proportion of more than 5% at both study sites were Ammonia, Amphistegina, Calcarina, Elphidium and Neorotalia. Based on the type of shells, foraminifera with light shells were more commonly found in the mangrove area of Tasik Ria than in Tongkeina. In contrast, more sandy-shelled foraminifera were found in the mangrove area of Tongkeina than in Tasik Ria. Furthermore, the Diversity Index for large benthic foraminifera obtained at both locations was in the medium category with values indicating the diversity of foraminifera species obtained in the mangrove area of the Tasik Ria coast was higher than the foraminifera obtained in the mangrove area of the Tongkeina coast. Keywords: Large Benthic Foraminifera, Mangrove Area, Tasik Ria Beach, Tongkeina BeachABSTRAKForaminifera bentik besar merupakan organisme uniseluler yang hidup di dasar perairan dan memiliki kemampuan membentuk cangkang dari zat kapur kalsium karbonat (CaCO3). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis komposisi foraminifera bentik besar yang terdapat pada area mangrove pantai Tasik Ria dan Tongkeina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kegiatan pengambilan sampel hingga tahap identifikasi foraminifera bentik berukuran besar yang ditemukan pada sedimen mangrove pantai Tasik Ria dan pantai Tongkeina. Foraminifera bentik berukuran besar yang teridentifikasi adalah sebanyak 3.680 spesimen. Sejumlah 28 spesies dari 15 genus ditemukan pada sedimen mangrove Pantai Tasik Ria dan 23 spesies dari 11 genus pada sedimen mangrove Pantai Tongkeina. Genus foraminifera yang dominan dengan proporsi lebih dari 5% yang diperoleh pada lokasi penelitian adalahAmmonia, Amphistegina, Calcarina, Elphidium dan Neorotalia. Berdasarkan tipe cangkang, foraminifera bercangkang gampingan lebih banyak ditemukan di kawasan mangrove pantai Tasik Ria daripada di Tongkeina. Sebaliknya, foraminifera bercangkang pasiran lebih banyak ditemukan di kawasan mangrove pantai Tongkeina daripada Tasik Ria. Selanjutnya Indeks Keanekaragaman foraminifera bentik berukuran besar yang diperoleh pada kedua lokasi dikategorikan sedang dengan nilai yang diperoleh pada kawasan mangrove pantai Tasik Ria lebih tinggi dibandingkan kawasan mangrove pantai Tongkeina.Kata Kunci: Foraminifera Bentik Besar, Kawasan Mangrove, Pantai Tasik Ria, Pantai Tongkeina
KOMPOSISI FORAMINIFERA GENUS CALCARINA DI PERAIRAN DESA WINERU, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, SULAWESI UTARA Roosa C. Kalebos; Jane M. Mamuaja; Markus T. Lasut; Medy Ompi; Royke M. Rampengan; Kurniati Kemer
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.57804

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi spesies dan mendeskripsikan morfologi foraminifera genus Calcarina di tiga habitat berbeda di Perairan Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan mencakup pengambilan sampel secara purposive sampling di tiga habitat: Daerah Terumbu Karang (DTK), Daerah Terumbu Karang Rubble (DTKR), dan Daerah Berpasir (DBP), pada kedalaman 1-2 meter. Sampel kemudian diproses di laboratorium melalui tahap pencucian, pengeringan, penjentikan, identifikasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Calcarina spengleri adalah spesies dominan di semua lokasi, dengan jumlah individu tertinggi dibandingkan spesies lain seperti Calcarina defrancei, Calcarina gaudichaudii, Calcarina hispida, dan Calcarina sp. Pola distribusi spesies ini mencerminkan variasi kondisi lingkungan dan faktor ekologi di masing-masing lokasi penelitian. Meskipun Calcarina memiliki kontribusi yang relatif kecil dalam komunitas foraminifera yang masuk dalam kelompok yang memiliki simbion (foraminifera bentik besar), dengan persentase 38,5% dari total individu, penelitian ini berhasil mendeskripsikan morfologi spesies dengan baik, termasuk bentuk, ciri, dan struktur cangkang yang unik. Distribusi geografis spesies ini luas di berbagai ekosistem perairan, termasuk di Perairan Desa Wineru, sebagaimana tercatat dalam World Foraminifera Database dan WoRMS. Kata kunci: Foraminifera Calcarina, Komposisi Spesies, Morfologi Spesies, Likupang
SEBARAN OYSTER Saccostrea cuccullata DI TIANG DERMAGA LABORATORIUM BASAH LIKUPANG Supriadi Lalandos Losoh; Farnis B. Boneka; N. Gustaf F. Mamangkey; Deiske A. Sumilat; Billy T. Wagey; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.58218

Abstract

Kerang Saccostrea cuccullata merupakan spesies penting dalam ekosistem pesisir. Keberadaanya pada struktur buatan manusia seperti dermaga dapat memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan perairan dan potensi pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi tentang sebaran S. cuccullata di tiang dermaga Likupang serta menganalisis hubungan antara ukuran cangkang S. cuccullata dengan posisi vertical pada tiang dermaga Laboratorium Basah, Likupang. Prosedur pengambilan sampel dilakukan dengan cara mengobservasi kehadiran oyster di dinding tiang dermaga pada beberapa sisi; sisi depan, sisi belakang, dan sisi luar kemudian mendeskripsikan sebaran ukuran oyster terhadap posisi vertical dengan mencatat ketinggian oyster dan mengambil oyster untuk dilakukan pengukuran Panjang cangkang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88,75% tiang dihuni Saccostrea cuccullata. Pengukuran Panjang cangkang S. cuccullata menunjukkan bahwa oyster yang menempati level atas dengan Panjang rata-rata 3,50 cm; level tengah berukuran 6, 35 cm; dan level bawah 8, 33 cm. Dengan demikian, posisi vertical sangat berpengaruh pada periode makan dan secara langsung berdampak pada pertumbuhan dan ukuran tubuh oyster. Kata kunci: Saccostrea cuccullata, sebaran, ukuran cangkang
KARAKTERISTIK SAMPAH LAUT DI PERAIRAN PANTAI TIWUDE PULAU BEENG DARAT KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Andrew M. Sadue; Natalie D.C. Rumampuk; Markus T. Lasut; Rosita A.J. Lintang; Erly Y. Kaligis; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.59141

Abstract

Sampah laut adalah sampah yang berasal dari daratan, badan air, dan pesisir yang mengalir ke laut, atau sampah yang berasal dari kegiatan di laut. Sampah laut terdapat di seluruh bagian di laut, mulai dari kawasan-kawasan padat penduduk hingga lokasi-lokasi terpencil yang tak terjamah manusia dari pesisir dan kawasan air dangkal hingga palung-palung laut dalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi ukuran (berat dan jumlah), komposisi, dan kepadatan sampah laut di Pantai Tiwude, Pulau Beeng Darat, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Dalam penelitian ini, digunakan metode pemantauan sampah pantai (beach litter). Pengambilannya menggunakan metode line transek mengikuti panduan/pedoman tentang pemantauan sampah pantai oleh Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan RI. Cara pengambilannya, secara singkat, dilakukan dengan menarik line transek sepanjang 100 m sejajar garis pantai, dan membagi menjadi 5 bagian dengan jarak 20 m, yang di dalamnya terdapat sub traksek dengan ukuran 5 x 5 m, yang kemudian dibagi menjadi 25 kotak dengan ukuran 1 x 1 m. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat jenis sampah makro dan sampah meso pada transek, yang berjumlah sebanyak 83 item dengan berat total 485,8 gram. Sampah plastik ditemukan dengan jumlah terbanyak, yang diikuti oleh sampah logam, kain, dan bahan lainnya. Faktor penyebab banyaknya sampah laut di Perairan Pantai Tiwude Pulau Beeng Darat diduga disebabkan oleh sampah yang berasal dari aktivitas masyarakat di darat yang masuk kelingkungan laut/perairan melalui sungai dan runoff kemudian terdampar di pantai. Kesimpulan penelitian ini adalah jenis sampah laut yang ditemukan di lokasi penelitian umumnya berupa sampah plastik, busa plastik, logam ,kain, kaca dan keramik, juga bahan lainnya.
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI GRANULOMETRI SEDIMEN PADA BEBERAPA KAWASAN WISATA PANTAI KECAMATAN LEMBEAN TIMUR KABUPATEN MINAHASA Evilin Papoiwo; Royke M. Rampengan; Agung B. Windarto; Grevo S. Gerung; Indri S. Manembu; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.61284

Abstract

Kecamatan Lembean Timur di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara merupakan kecamatan  sedang berkembang aktivitas wisata pantainya, memanfaatkan keberadaan lahan gisik sebagai objek utamanya.  Oleh karena itu telah dilaksanakan penelitian bertujuan mendeskripsi komposisi dan menganalisis distribusi granulometri sedimen yang menghampari permukaan gisik beberapa kawasan wisata pantai di Kecamatan Lembean Timur. Pengambilan sampel sedimen dilaksanakan tanggal 6 Juni 2024 di gisik kawasan wisata Kamenti Beach, Kora-Kora Beach, dan BW Beach.  Pengambilan sedimen dilakukan pada permukaan lahan gisik dengan ketebalan 1 cm.  Hasil penelitian menunjukkan komposisi sedimen permukaan lahan gisik terdiri dari sedimen berukuran debu sampai dengan kerakal.  Sedimen pada permukaan gisik lebih dari 90 % berupa pasir dari berbagai ukuran (pasir sangat halus sampai pasir sangat kasar) di mana kondisi ini sangat menunjang berkaitan dengan penggunaan lahan untuk wisata pantai. Peubah rataan empirik  menunjukkan kecenderungan peningkatan ukuran butir sedimen untuk kawasan pantai yang berada di bagian Selatan kecamatan ini.  Kriteria penyortiran umumnya tersortir sedang, kemencengan umumnya berada pada kriteria simetris granulometri sampai asimetris kuat ke ukuran kecil. Peruncingan berada pada kriteria leptokurtik sampai platikurtik di mana pada lahan gisik di kawasan wisata yang terletak semakin ke arah Selatan terjadi peningkatan proporsi kriteria platikurtik. Kata kunci: sedimen gisik, komposisi sedimen, distribusi granulometri, Lembean Timur
Benthic Foraminifera in Intertidal Sediments Around UNSRAT Marine Station in Likupang, North Minahasa Jane M. Mamuaja; Markus T. Lasut; Royke M. Rampengan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62196

Abstract

Despite their biological and ecological importance, research on foraminifera is still very limited. In recent years (from 2018 to present), interest in foraminifera studies has begun to emerge and it was shown by publication of several research articles. The study was aimed to obtain basic information on the presence of foraminifera in intertidal area around UNSRAT Marine Station in Likupang, North Minahasa. Sampling for foraminifera was conducted in five stations in front of the marine station. Sediments were collected from the upper 2 cm of sediments, brought to the laboratory, washed through 63µm sieve, and air-dried. A number of > 300 foraminifera tests were picked for identification and photographed. A total of 16 genera were found and they were grouped into three functional groups: symbiont-bearing, opportunistic, and heterotrophic foraminifera. In symbiont-bearing group, Calcarina was found present in all stations and it was followed by Baculogypsina and Amphistegina. Genus Elphidium was found to be dominant in the opportunistic group, while Quinqueloculina was the only opportunistic foraminifera that was found in all stations. The study also revealed that most of the foraminifera tests were categorized intact, meaning that their morphological features were still well preserved. Keywords: benthic foraminifera, sediments, UNSRAT, Likupang
The Abundance of Microplastics in Gastropods in The Molas Waters of North Sulawesi Nadia I. Khoirunnisa; Nickson J. Kawung; Natalie D. C. Rumampuk; Elvy L. Ginting; N. Gustaf F. Mamangkey; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64778

Abstract

Marine debris is a global problem faced by many countries. One of the most common types of waste found in marine environments is plastic. Plastic takes about 200–1000 years to fragment without being completely degraded. In aquatic environments, plastics are exposed to ultraviolet rays, causing degradation and breaking down into smaller sizes known as microplastics. Microplastics are particles less than 5 mm in size derived from the breakdown of larger plastics. The types of microplastics include film, fiber, fragment, granule, and foam. Microplastics can enter gastropods through contaminated water or sediments. This study aims to identify the types and abundance of microplastics in gastropods. Samples were collected in Molas Waters at two different times, July 2024 and April 2025, using the roaming method. The gastropods sampled were Tylothais sp. and Terebralia sp.. The results showed that in July 2024, the number of microplastics was 3.05 particles/20 individuals, while in April 2025 it decreased to 2.2 particles/20 individuals. There was a difference in abundance between the two species, where in July 2024 Tylothais sp. had the highest number, whereas in April 2025 Terebralia sp. showed the highest. The most common type of microplastic found was fiber. Keywords: plastic, mikroplastic, particle, gastropod, abundance   Abstrak Sampah laut merupakan masalah global yang dihadapi banyak negara. Salah satu jenis sampah yang paling sering ditemukan di perairan adalah plastik. Plastik membutuhkan waktu 200–1000 tahun untuk terpecah tanpa bisa benar-benar terurai. Di perairan, plastik terpapar sinar ultraviolet sehingga mengalami degradasi dan berubah menjadi ukuran lebih kecil yang dikenal sebagai mikroplastik. Mikroplastik adalah partikel berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari pecahan plastik lebih besar. Jenis mikroplastik meliputi film, fiber, fragmen, granul, dan foam. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh gastropoda melalui air maupun sedimen yang terkontaminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan mikroplastik pada gastropoda. Sampel diambil di Perairan Molas pada dua waktu berbeda, yaitu Juli 2024 dan April 2025, menggunakan metode jelajah. Gastropoda yang dijadikan sampel adalah Tylothais sp. dan Terebralia sp.. Hasil analisis menunjukkan pada Juli 2024 jumlah mikroplastik sebesar 3,05 partikel/20 individu, sedangkan pada April 2025 turun menjadi 2,2 partikel/20 individu. Terdapat perbedaan kelimpahan antara kedua spesies, di mana pada Juli 2024 Tylothais sp. memiliki jumlah tertinggi, sedangkan pada April 2025 tertinggi terdapat pada Terebralia sp.. Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber. Kata kunci: plastik, mikroplastik, partikel, gastropoda, kelimpahan
Abalone Haliotis varia in Tanjung Likupang, North Minahasa, North Sulawesi Bill A. Marongi; Medy Ompi; Erly Y. Kaligis; Farnis B. Boneka; Rosita A. J. Lintang; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64846

Abstract

Abalone (Haliotis varia) is a marine gastropod commonly known as a seven-eyed shell or sea snail. It serves as an important source of marine protein and plays a significant economic role for coastal communities. The abalone has been caught easily by fisherman.  As a result, the abalone population might decrease.  However, there has been limited information of its population in nature up to now. This study aimed to assess the species, density, size, and distribution pattern of abalone in the intertidal zone of Tanjung Likupang, North Sulawesi. Sampling was conducted using the quadrat transect method, with six 25×25 meter (625 m²) placed at two different sites. Each site had 3 replicated.  The results showed variations in abalone density between the two locations. Site 2 had a higher mean density (9.67 individuals/625 m² or 0.02 individuals/m²) compared to Site 1 (7 individuals/625 m² or 0.01 individuals/m²). Size variation at site 1 ranged from 32.9 mm to 52.1 mm (average 40.59 mm), while Site 2 ranged from 20.3 mm to 44 mm (average 38.78 mm). However, statistical analysis indicated no significant difference in both average density and shell length between the two sites. Morisita’s index value was approximately 1 for both locations, suggesting a random distribution pattern. These findings provide a preliminary understanding of the current status of abalone populations in Tanjung Likupang. Keywords: Abalone, Haliotis varia, density, size distribution   Abstrak Abalon (Haliotis varia) merupakan gastropoda laut yang dikenal sebagai sumber protein dan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat pesisir. Abalone mudah ditangkap di alam oleh nelayan.  Hingga populasinya dihipotesa telah menurun di alam.  Namun informasi tentang popualsi abalone adalah masih terbatas sampai saat ini.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kepadatan, ukuran, dan pola distribusi abalon di daerah pasang surut Tanjung Likupang, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat, dengan ukuran 25x25 m (625 m²) ditemaptkan di 2 lokasi.  Maisng-masing lokasi memiliki 3 replikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kepadatan abalon antara kedua lokasi. Lokasi 2 memiliki kepadatan rata-rata lebih tinggi (9,67 individu/625 m² atau 0,02 individu/m²) dibandingkan dengan lokasi 1 (7 individu/625 m² atau 0,01 individu/m²). Ukuran panjang abalon di lokasi 1 berkisar antara 32,9 mm hingga 52,1 mm, dengan rata-rata 40,59 mm, sedangkan di lokasi 2 berkisar antara 20,3 mm hingga 44 mm, dengan rata-rata 38,78 mm. Meskipun terdapat perbedaan angka, uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam kepadatan maupun ukuran panjang antara dua lokasi. Nilai indeks Morisita di kedua lokasi mendekati 1, mengindikasikan pola distribusi individu abalon bersifat acak. Temuan ini memberikan gambaran awal tentang kondisi populasi abalon di kawasan Tanjung Likupang. Kata Kunci: Abalon, Haliotis varia, kepadatan, distribusi ukuran