Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Kaji Eksperimental Pengaruh Penempatan Dua Unit Outdoor Berbaris terhadap Kinerja AC Split (Unit Outdoor Depan sebagai Perangkat yang Diuji) Riska Saliandi; Andriyanto Setyawan; Parisya Premiera Rosulindo; Hafid Najmudin
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 15 No. 1 (2024): Prosiding 15th Industrial Research Workshop and National Seminar (IRWNS)
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v15i1.6212

Abstract

AC Split menjadi faktor yang meningkatkan kenyamanan manusia didalam ruangan. AC split terdiri dari dua bagian yaitu bagian indoor dan outdoor. Bagian outdoor mengeluarkan panas yang dihasilkan oleh kondenser sehingga ditempatkan di ruang terbuka namun karena keterbatasan ruang dari suatu gedung seringkali jarak outdoor satu dengan lainnya terlalu dekat. Oleh karena itu dilakukan penelitian didalam psychrometric chamber disesuaikan dengan standar ISO 5151:2010. Pada kondisi dua unit outdoor yang ditempatkan berbaris dengan unit depan yang diuji pada variasi jarak 30 cm, 50 cm, 70 cm, 90 cm, dan 110 cm serta kondisi normal tanpa adanya aliran udara tambahan dari unit outdoor yang ada di belakangnya. Terjadi selisih penurunan daya input mulai dari 30 cm (8.87W), 50 cm (8,6W), 70 cm (8,51W), 90 cm (3,39W) dan normal terjadi kenaikan sebesar 59,52 watt. Kenaikan kapasitas pendingin dengan selisih mulai dari 30 cm (10,71W), 50 cm (20,30W), 70 cm (19,90W), 90 cm (2,1W) dan normal terjadi penurunan sebesar 152,20 watt. Kenaikan Energy Efficiency Ratio (EER) selisih mulai dari 30 cm (1,22), 50 cm (1,04), 70 cm (0,86), 90 cm (0,81) dan pada normal terjadi penurunan sebesar 1,36. Jarak 110 cm sudah tidak berpengaruh terhadap kinerja AC Splitberbaris.
Simulasi Numerik Akumulasi Konsentrasi COâ‚‚ Di Dalam Ruang Kelas Gedung Teknik Refrigerasi dan Tata Udara Mutiara Nurul Azmi; Bowo Yuli Prasetyo; Parisya Premiera Rosulindo
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 15 No. 1 (2024): Prosiding 15th Industrial Research Workshop and National Seminar (IRWNS)
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v15i1.6214

Abstract

Ruang kelas merupakan ruangan yang digunakan untuk proses pembelajaran sehingga banyak aktivitas dilakukan pada ruangan tersebut. Adanya aktivitas dalam ruangan membuat nilai konsentrasi CO₂ meningkat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui akumulasi konsentrasi CO₂ selama kegiatan belajar berlangsung. Penelitian tugas akhir ini dilakukan pada ruang kelas LG 1 yang terletak di Gedung Jurusan Teknik Refrigerasi dan Tata Udara dengan kapasitas maksimal penghuni sebanyak 32 orang dalam ruangan. Tugas akhir ini menggunakan metode simulasi numerik berupa Computational Fluid Dynamics (CFD) dengan jendela pivot dalam kondisi terbuka 45° pada satu sisi ruangan dan data pengukuran langsung digunakan untuk proses validasi hasil simulasi. Hasil yang didapatkan menunjukan bahwa temperatur diperoleh sebesar 26 °C, kecepatan udara sebesar 1,21 m/s, dan, nilai konsentrasi CO₂ sebesar 1012 ppm. Berdasarkan hasil simulasi nilai konsentrasi CO₂ pada ruang LG 1 melebihi standar ASHRAE yang menetapkan batas konsentrasi CO₂ maksimum sebesar 700 ppm, dapat disimpulkan pada ruang LG 1 memiliki kualitas udara buruk yang dapat mengiritasi mata, hidung, dan tenggorokan.
Analisis Jumlah Partikel Akibat Variasi Pengaturan Debit Udara Pada Cleanroom Class ISO 9 Desvina Nachrisya Nainggolan; Sumeru; Parisya Premiera Rosulindo
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 16 No. 1 (2025): Vol. 16 No. 1 (2025): Prosiding 16th Industrial Research Workshop and National
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v16i1.6649

Abstract

Cleanroom berperan penting dalam menjaga kebersihan udara guna menjamin kualitas dan keamanan produk, khususnya pada industri kosmetik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi pengaturan debit udara terhadap jumlah partikel pada cleanroom class ISO 9. Pengujian dilakukan dengan mengatur Variable Speed Drive (VSD) pada frekuensi 30 Hz, 40 Hz, dan 50 Hz. Parameter yang diukur meliputi jumlah partikel, airflow, dan temperatur ruangan menggunakan particle counter, accubalance air capture hood dan thermohygro, mengacu pada standar ISO dan CPOB. Hasil menunjukkan peningkatan frekuensi VSD menurunkan jumlah artikel udara dan temperatur ruangan serta meningkatkan Air Change per Hour (ACH). Pada frekuensi 50 Hz, ACH mencapai 7,6 kali/jam dengan jumlah partikel terendah disbanding frekuensi lainnya, meskipun biaya listrik harian tertinggi (Rp. 43.000/hari). Berdasarkan hasil tersebut, pengaturan VSD pada 50 Hz direkomendasikan untuk menjaga kualitas udara cleanroom karena memenuhi standar ISO dan CPOB, meskipun memerlukan biaya energi lebih besar.
Analisis Efektivitas Sistem HVAC dalam Mengoptimalkan Waktu Pemulihan Jumlah Partikel Pada Cleanroom Class ISO 8 Arif Hidayat; Susilawati; Parisya Premiera Rosulindo; Anita Septiani
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 16 No. 1 (2025): Vol. 16 No. 1 (2025): Prosiding 16th Industrial Research Workshop and National
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v16i1.6690

Abstract

Cleanroom dirancang khusus untuk pengendalian kontaminasi partikel di udara, yang sangat penting dalam berbagai industri seperti farmasi, elektronik, dan bioteknologi. Standar ISO 8 menetapkan batasan jumlah partikel yang diperbolehkan dalam cleanroom untuk memastikan lingkungan yang bersih dan aman bagi proses produksi. Pengujian ini mencakup parameter untuk menjamin kualitas udara dan kenyamanan penghuni adalah waktu pemulihan partikel, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengembalikan konsentrasi partikel ke tingkat yang dapat diterima setelah terjadi gangguan dengan menggunakan asap aerosol. Sistem HVAC berperan penting dalam menjaga kualitas udara di cleanroom dengan pengendalian jumlah partikel yang ada pada cleanroom. Dalam penelitian ini, dilakukan pengukuran jumlah partikel sebelum dan sesudah proses penggantian filter pada sistem AHU dengan kebocoran filter menurun menjadi 0,042% dari 0,23%. Penurunan jumlah partikel hasil pengukuran sesudah pergantian filter sebesar 59,19% untuk partikel 0,5 µm dan 63,71% untuk partikel 5,0 µm serta waktu pemulihan partikel meningkat sebesar 38,46% atau lebih cepat 10 menit dari sebelum dilakukannya pergantian filter untuk partikel 0,5 µm dan peningkatan waktu pemulihan partikel sebesar 70,00% atau 14 menit lebih cepat dibanding waktu pemulihan sebelum pergantian filter untuk kembali ke standar class ISO 8 untuk partikel 5,0 µm.
Analisis Risiko Pajanan PM10 Dan PM2.5 Terhadap Kesehatan Pekerja Mesin Insinerator Sampah Di Kabupaten Bandung Fandias; Andriyanto Setyawan; Parisya Premiera Rosulindo
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 16 No. 1 (2025): Vol. 16 No. 1 (2025): Prosiding 16th Industrial Research Workshop and National
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v16i1.6692

Abstract

Penggunaan insinerator di TPS3R MOTAH Sukaberseri, Kabupaten Bandung, menjadi alternatif pengelolaan sampah, namun berpotensi menimbulkan risiko kesehatan akibat emisi partikulat halus. Penelitian ini menganalisis pajanan PM₁₀ dan PM₂.₅ terhadap pekerja dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran dilakukan selama lima hari di tiga titik pemantauan dengan melibatkan 24 responden. Hasil menunjukkan rata-rata PM₁₀ sebesar 55 µg/m³ masih di bawah ambang batas, sedangkan PM₂.₅ mencapai 56,25 µg/m³, melebihi baku mutu. Nilai ISPU sebagian besar berkategori “Sedang”, dengan nilai tertinggi 94,68 untuk PM₂.₅. Sebanyak 25% responden memiliki nilai RQ > 1, menandakan potensi risiko kesehatan. Disarankan penerapan teknologi pengendalian emisi seperti wet scrubber, fabric filter, dan electrostatic precipitator, penggunaan APD, pembatasan durasi kerja, serta penguatan regulasi dan pengawasan lintas sektor sebagai upaya mitigasi.