Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Praktikum pada Materi Sistem Indera untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains pada Siswa SMAN 3 Langsa Mawarda, Lisa; Mawardi, Abdul L.; Mahyuny, Siska Rita
Jurnal Jeumpa Vol 10 No 2 (2023): Jurnal Jeumpa
Publisher : Department of Biology Education, Faculty of Teacher Training and Education, Samudra University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jj.v10i2.8384

Abstract

Penelitian ini bertolak dari masih kurangnya pemahaman siswa dalam pembelajaran biologi serta kurangnya penilaian terhadap keterampilan proses sains di SMAN 3 Langsa. Hal ini menyebabkan peserta didik menjadi tidak aktif dan keterampilan proses sains siswa menjadi tidak berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran praktikum terhadap peningkatan keterampilan proses sains di SMAN 3 Langsa pada materi sistem indra.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, desain penelitian menggunakan tes awal dan tes akhir satu kelompok (one group pretest-posttest design), subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 SMAN 3 Langsa yang berjumlah 30 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan tes keterampilan proses sains siswa. Analisis data menggunakan penilaian lembar observasi, uji N-Gain dan untuk pengujian hipotesis menggunakan uji paired sample t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pembelajaran praktikum dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa kelas XI IPA 2 SMAN 3 Langsa pada hasil tes KPS siswa dengan perolehan rata-rata skor pretest 41 dan posttest 65.33 serta nilai rata-rata N-gain 0.4 dengan kategori sedang. Pembelajaran praktikum dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa kelas XI IPA 2 SMAN 3 Langsa pada sepuluh indikator KPS yakni merencanakan percobaan, mengamati, menggunakan alat dan bahan, berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, menerapkan konsep, meramalkan, membuat hipotesis dan menyimpulkan dengan perolehan skor rata-rata sebesar 63.67 % kategori baik. Kata Kunci: praktikum; keterampilan proses sains; hasil belajar
Reinterpretasi Hadis Larangan Kepemimpinan Perempuan: Telaah Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Mawarda, Lisa; Masruhan, Masruhan
Islamic Review: Jurnal Riset dan Kajian Keislaman Vol 14 No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Mafapress - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPMAFA Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35878/islamicreview.v14i2.1677

Abstract

This study focuses on reinterpreting the meaning of hadiths on female leadership and the implications of Nasr Hamid Abu Zayd's hermeneutics on contextual hadiths. This study is a qualitative study using library research and Nasr Hamid Abu Zayd's hermeneutics approach. The final results obtained from this study are, first, the interpretation of the Qur'an and hadith as texts cannot only be understood through linguistic analysis, but also the historical context at the time the Qur'an and hadith were revealed because the texts have historical dimensions. Second, Abu Zayd explains that in interpreting texts, a mufassir must be able to explain three main concepts, namely meaning (dalalah), significance (magza), and maksut 'anhu (unspoken dimensions). Third, based on the application of hermeneutics, it is concluded that the meaning of the hadith is that the prohibition is specific to the conditions of society at the time of the Prophet. Its significance affirms that leadership requires capacity, not gender, and that Islam must be understood in the spirit of justice and the benefit of the people. Meanwhile, the implicit purpose of the hadith (maqsūd 'anhu) points to the need for stability and social justice that can be achieved by anyone, male or female, as long as they meet the criteria for leadership.
THE SOCIAL CONSTRUCTION OF HADITH AUTHORITY: A Comparative Analysis of al-Shafi’is and al-Tusi’s Epistemological Frameworks Mawarda, Lisa; Arifah, Afro' Anzali Nurizzati; Said, Imam Ghazali; Salim, Moh Fuad; Agatha, Afifah Nurulia
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.34081

Abstract

This study compares the methodologies for validating āḥādḥadīth according to Imām al-Shāfiʿī (Sunni) and Shaykh al-Ṭūsī (Imāmī Shīʿī). A sociology of knowledge analysis demonstrates that the fundamental differences between the two systems are not merely technical, but rather reflect distinct social contexts and communal needs. The findings show that al-Shāfiʿī formulated universal criteria, such as the integrity (ʿadl) and precision (ḍabṭ) of transmitters, to unify a fragmented Muslim community during the Abbasid era. The system he developed functioned to centralize legal authority based on textual sources, thereby reinforcing Sunni identity as an integrated majority. In contrast, al-Ṭūsī developed a four-tier classification that associates the highest level of authority (ṣaḥīḥ) with Imāmī Shīʿī transmitters, while simultaneously positioning reason (ʿaql) as an independent evaluative filter. Al-Ṭūsī’s system served to maintain identity boundaries, safeguard doctrinal authority, and strengthen internal coherence within a minority community in the post-Occultation period. Both methodologies were subsequently institutionalized through their canonical works such as al-Risālah and al-Kutub al-Arbaʿah, thereby shaping enduring scholarly frameworks that persist until now. This study contributes by uncovering the sociological roots of epistemological differences in ḥadīth studies, demonstrating that religious knowledge authority is shaped by social dynamics such as majority integration and minority preservation. [Penelitian ini mengkomparasikan metodologi validasi hadis āḥād menurut Imam al-Shāfiʿī (Sunni) dan Shaykh al-Ṭūsī (Syiah Imamiyah). Analisis sosiologi pengetahuan menunjukkan bahwa perbedaan mendasar kedua sistem bukan semata teknis, melainkan refleksi dari konteks sosial dan kebutuhan komunal yang berbeda. Hasil menunjukkan bahwa al-Shāfiʿī merumuskan kriteria universal, seperti integritas (‘adl) dan ketelitian (ḍabṭ) periwayat, untuk menyatukan umat Muslim yang terfragmentasi di era Abbasiyah. Sistem yang dikembangkan al-Shafi’i berfungsi memusatkan otoritas hukum berbasis teks, memperkuat identitas Sunni sebagai mayoritas yang terintegrasi. Sebaliknya, al-Ṭūsī mengembangkan klasifikasi empat tingkat yang mengaitkan otoritas tertinggi (ṣaḥīḥ) dengan periwayat Syiah Imamiyah, sekaligus menempatkan nalar (‘aql) sebagai filter mandiri. Sistem yang dikembangkan al-Ṭūsī berfungsi menjaga batas identitas, melindungi otoritas doktrinal, dan memperkuat koherensi internal komunitas minoritas pasca okultasi Imam. Kedua metodologi tersebut kemudian terinstitusionalisasi melalui karya kanonik mereka berupa al-Risālah dan al-Kutub al-Arbaʿah, sehingga membentuk kerangka keilmuan yang bertahan hingga kini. Penelitian ini berkontriusi dengan mengungkap akar sosiologis dari perbedaan epistemologis dalam studi hadis, yakni menunjukkan bahwa otoritas pengetahuan agama dibentuk oleh dinamika sosial seperti integrasi mayoritas dan preservasi minoritas.]