Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Implementation and Effectiveness of Project-Based Learning in the Japanese-Indonesian Translation Course Dwi Astartia, Dina; Rochim, Julita Fahrul; Hapsari, Intan; Darrienda, Aldilah Alifany; Fatin, Jihan Salsa Biela
Chi e Journal of Japanese Learning and Teaching Vol. 12 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v12i2.11806

Abstract

  This study aims to describe two primary issues in the following case study: (1) how Project-Based Learning (PjBL) is applied, and (2) whether students can implement “proactive learning,” “interactive learning,” and “authentic learning” through PjBL. Based on the findings, we also explore an outline and framework for PjBL, specifically in a Japanese Translation course. The study examines the effectiveness and implementation of PjBL by analyzing observations and interviews with students during the project “Translation and Japanese-Indonesian Subtitling for Occupational Safety Training for Indonesian Workers in Japan's Manufacturing Industry.”The results indicate that PjBL was conducted in five steps: (1) connecting to the problem, (2) setting the structure, (3) revisiting the problem, (4) producing the product, and (5) evaluation. We conclude that by following these steps, students effectively implemented “proactive learning,” “interactive learning,” and “authentic learning.”. 
Analisis Kontrastif Kata yang Menyatakan Emosi Marah dalam Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia (Ditinjau dari Segi Sintaksis) Fadillah, Andi Novita Rozaliana; Rochim, Julita Fahrul; Darrienda, Aldilah Alifany; Fatin, Jihan Salsa Biela
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 1 (2024): JUPIN Februari 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.285

Abstract

Marah merupakan salah satu emosi dasar manusia. Emosi ini termasuk ke dalam emosi negatif. Konsep emosi marah setiap budaya berbeda-beda karena kosakata emosi merupakan khas dari setiap budaya. Penggunaan kosakata emosi marah dalam bahasa Jepang berbeda dengan kosakata emosi marah dalam bahasa Indonesia, misalnya kata shikaru dalam bahasa Jepang belum tentu sama dengan kosakata emosi marah dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan bentuk pengungkap ekspresi marah dalam bahasa Jepang dan Indonesia, serta mengidentifikasi dan mendeskripsikan persamaan dan perbedaan bentuk pengungkap ekspresi marah dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia dengan menggunakan data tuturan yang bersumber dari situs corpus online Bahasa Jepang dan koran online untuk data tuturan bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk pengungkap ekspresi marah dalam bahasa Jepang adalah okoru, shikaru, hara ga tatsu, rippuku suru, gekido suru, dan kanshaku suru. Sedangkan, bentuk pengungkap ekspresi marah dalam bahasa Indonesia adalah marah, berang, dan gusar. Persamaan yang ditemukan antara bentuk pengungkap ekspresi marah kedua bahasa tersebut adalah terdapat empat fungsi yang sama, yaitu untuk mengungkapkan rasa marah terhadap hal-hal yang tidak disukai, hal yang bersifat ancaman, hal yang tidak nyaman, dan hal-hal yang menyinggung perasaan. Sedangkan perbedaan yang ditemukan adalah perbedaan jenis kata, perubahan morfologis, dan fungsi lain yang tidak sama antara kedua bentuk pengungkap ekspresi marah tersebut.
Workshop Yukata dan Kimono pada Pembelajar Bahasa Jepang Politeknik Takumi Cikarang Fadillah, Andi Novita Rozaliana; Astartia, Dina Dwi; Rochim, Julita Fahrul; Fatin, Jihan Salsa Biela; Ni'mah, Alvie Shailly; Malau, Heru Sanjaya
Jurnal Pengabdian Masyarakat Inovasi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): JPMII - Februari 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jpmii.310

Abstract

Politeknik Takumi Cikarang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Vokasi di daerah Cikarang. Politeknik Takumi menjadi salah satu perguruan tinggi yang bernuansa Jepang, Pembelajar Bahasa Jepang di Politeknik Takumi tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan Bahasa Jepang yang baik, namun juga memiliki pemahaman terkait budaya Jepang. Budaya Jepang sangat beragam. Salah satu produk budaya Jepang adalah Yukata dan Kimono. Yukata dan Kimono merupakan pakaian tradisional Jepang yang digunakan dibeberapa momen dan kegiatan tertentu. Minimnya pengetahuan mahasiswa terkait budaya Yukata dan Kimono hingga saat mengenakan Kimono ketika menyambut tamu Jepang menjadi sebuah hal yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, kegiatan workshop ini dilakukan guna memperkenalkan budaya Yukata dan Kimono. Peserta pada kegiatan ini adalah seluruh mahasiswa/i Politeknik Takumi. Melalui kegiatan ini, peserta mampu memahami historis dan perbedaan antara yukata dan kimono, serta memahami dan mengimplementasikan pemakaian Yukata dan Kimono dengan baik dan benar.
Cultural Interference in Indonesian Folktale Writing in Japanese Puspitosari, Dwi; Setiawati, Ai Sumirah; Rochim, Julita Fahrul; Kaede, Toguchi; Ananto, Tohru Tanaya Paramudya
IJLHE: International Journal of Language, Humanities, and Education Vol. 9 No. 1 (2026): IJLHE: International Journal of Language, Humanities, and Education
Publisher : Master Program in Indonesian Language Education and The Institute for Research and Community Service STKIP PGRI Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52217/tbb2t643

Abstract

This study examines cultural interference in Indonesian folktale writing in Japanese produced by university-level learners of Japanese as a foreign language. The research aims to identify patterns of cultural interference and to describe how Indonesian cultural concepts are transferred, adapted, or inadequately represented in Japanese narrative texts. Employing a qualitative descriptive approach, the study analyzes 39 folktales written by Indonesian students at intermediate to upper-intermediate proficiency levels. The data were analyzed at lexical, grammatical, and discourse levels using contrastive analysis, error analysis, interlanguage analysis, and contrastive rhetoric. The findings reveal that cultural interference occurs consistently across all texts. Lexical interference is reflected in inappropriate word choice and the use of culturally bound terms without adequate adaptation. Grammatical interference appears in inconsistent sentence-final forms, inaccurate tense and aspect marking, and frequent misuse or omission of particles. At the discourse level, interference manifests through abrupt subject shifts, non-natural sentence structures, and insufficient contextual introduction of characters and settings, which disrupt narrative coherence. The study demonstrates that cultural interference in foreign language writing extends beyond linguistic error and represents learners’ ongoing intercultural negotiation. The findings highlight the importance of integrating cultural discourse awareness into Japanese language writing instruction, particularly in narrative-based learning contexts.