Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Exploration the Influence of Ag+ Ion Solution Concentration Variations Coated on Biofoam Based on Cassava Starch and Corn Fiber on Crystallinity, Density, and Porosity Ginting, Pariaman; Sutiarno, Sutiarno; Wijaya, Galang Haedi; Karo, Pulung Karo; Suka, Ediman Ginting; Riyanto, Agus
Journal of Energy, Material, and Instrumentation Technology Vol 5 No 2 (2024): Journal of Energy, Material, and Instrumentation Technology
Publisher : Departement of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jemit.v5i2.177

Abstract

The bio-foam in this study was made from biopolymers in the form of cassava starch, cellulose from corn stalks, and a binder polymer in the form of polyvinyl alcohol (PVA). The bio-foam was molded using the thermo pressing method at T = 150 °C and pressed for t = 3 minutes. Ag+ ions were added as an initial review of the physics properties of the bio-foam to serve as a reference for future antibacterial bio-foam manufacturing. Ag+ ions were produced using the electrolysis method from AgBr rods with an electric voltage of 15 volts. Then, the electrolyzed solution containing Ag+ ions was varied in concentration (12 ppm, 17 ppm, 22 ppm, 27 ppm). The ions were then coated on the bio-foam using the dip coating method and dried at room temperature. Along with the increase in the concentration of the Ag+ ion solution coated on the bio-foam, there was an increase in the bio-foam crystallinity with test values of 34.4%, 40.8%, 41.2%, and 42.6%, respectively. Based on these data, the crystallinity value of the bio-foam does not change significantly. It also aligns with the density test values, which tend to be constant with an average test value of 0.322 g/cm³. Furthermore, the concentration of the solution containing Ag+ ions did not influence the bio-foam's porosity properties, where the four samples tended to remain with an average value of 5.9%.
Pengaruh Variasi Ion Ag+ terhadap Pembentukan Biofoam Antibakteri Berbasis Pati Singkong dan Selulosa Batang Jagung Wijaya, Galang Haedi; Sutiarno, Sutiarno; Ginting, Pariaman; Riyanto, Agus; Karokaro, Pulung; Syafriadi, Syafriadi
Phi: Jurnal Pendidikan Fisika dan Terapan Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/p-jpft.v7i2.13369

Abstract

Telah dilakukan penelitian biofaom menggunakan biopolimer alam berupa pati singkong, selulosa dari serat jagung, dan polivinil Alkohol (PVA). Pembuatan biofoam tersebut dicetak menggunakan metode thermopressing dengan T=150 OC dan ditekan t = 3 menit. Untuk meningkatkan kualitas produk, ditambahkanlah bahan aditif berupa ion Ag+ yang dapat memberikan sifat antibakteri biofoam. Ion Ag+ diproduksi dengan menggunakan metode elektrolisis dari batang AgBr  menggunakan tegangan listrik 15 Volt. Kemudian, larutan yang mengandung ion Ag+  hasil elektrolisis divarisasikan konsentrasi (12 ppm, 17 ppm, 22 ppm, 27 ppm). Ion tersebut kemudian dilapiskan ke dalam produk biofoam menggunakan metode dip coating, lalu dikeringkan pada suhu ruangan. Berdasarkan hasil karakterisasi FTIR,  gugus fungsi O-H dan N-H bending diduga tempat menempelnya ion Ag+ pada biofoam. Hal ini dikarenakan tingginya afinitas gugus tersebut serta perbedaan nilai keelektronegatifan pada atom O dan N. Berdasarkan hasil uji antibakteri bakteri Bacillus sp didapatkanlah nilai diameter zona hambat pengujian pada keempat sampel berturut-turut 1,88 mm, 2,88 mm, 5,55 mm, dan 7,44 mm. Namun, hasil berbeda didapatkan pada pengujian bakteri Escherchia coli dengan tidak munculnya zona hambat yang dihasilkan. Kemudian, penambahan ion Ag+ pada biofoam tidak mempengaruhi pengujian daya serap air karena nilai pengujian cendrung tetap dengan rata-rata pengujian daya serap air mecapai 18,37%.
Rancang Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid di Daerah Pesawaran, Lampung Azfaro, Muhammd Fairo Yans; Alfaris, Muhammad Fabian; Daffa, Natraya El; Pauzi, Gurum Ahmad; Sutiarno, Sutiarno
Teknosains Vol 19 No 3 (2025): September-Desember
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v19i3.60230

Abstract

Ketergantungan Provinsi Lampung terhadap pasokan listrik eksternal menimbulkan berbagai permasalahan seperti pemadaman tidak terduga, biaya operasional tinggi, dan keterbatasan akses listrik di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan merancang sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) yang mengintegrasikan energi surya, angin, dan gelombang laut untuk meningkatkan kemandirian energi daerah. Lokasi penelitian dipilih di Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran yang memiliki potensi energi terbarukan melimpah dengan kecepatan angin rata-rata 10 m/s, periode gelombang 4,63 detik, dan intensitas cahaya mencapai 0,315 W/m². Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data sekunder potensi energi terbarukan, perhitungan matematis output daya menggunakan Microsoft Excel, serta perancangan desain sistem menggunakan AutoCAD dan Blender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu unit PLTH yang mengintegrasikan panel surya polycrystalline, turbin angin vertikal (VAWT), dan pembangkit gelombang laut tipe Archimedes Wave Swing mampu menghasilkan daya maksimal 1.012,02 Watt dan minimal 546,46 Watt, dengan kontribusi terbesar dari PLTGL (663,78 Watt), diikuti PLTS (318 Watt) dan PLTB (30,24 Watt) pada kondisi optimal. Sistem PLTH ini dapat menghasilkan energi listrik harian sebesar 87,4 kWh (maksimal) hingga 47,2 kWh (minimal). Untuk memenuhi kebutuhan listrik harian Provinsi Lampung sekitar 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25% diperlukan berturut-turut sekitar 8.065 unit, 16.130 unit, 24.195 unit, 32.260 unit, dan 40.325 unit PLTH yang terintegrasi dalam suatu sistem instalasi. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa integrasi tiga sumber energi terbarukan dalam sistem PLTH dapat meningkatkan stabilitas dan kontinuitas pasokan listrik, mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal, serta mendukung pengembangan ekonomi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan sumber daya energi lokal yang berkelanjutan.