Manoppo, Jeanette Irene Christiene
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Fecal short-chain fatty acids level and pediatric relapsing nephrotic syndrome Manoppo, Jeanette Irene Christiene; Yolanda, Natharina; Umboh, Adrian
Paediatrica Indonesiana Vol. 64 No. 4 (2024): July 2024
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi64.4.2024.332-8

Abstract

Background The gut microbiota has a potential role in the development of nephrotic syndrome. Fecal short-chain fatty acid (SCFA) levels are representative of gut microbiota activity. Objective To assess for potential associations of fecal short-chain fatty acid levels in pediatric relapsing nephrotic syndrome. Methods This cross-sectional study was done on patients at the Pediatric Nephrology Subdivision of Prof. Dr. R.D. Kandou General Hospital, a referral hospital in Manado, Indonesia. Subjects were 25 patients aged less than 18 years with nephrotic syndrome (NS). We compared the levels of fecal acetic acid, propionic acid, butyric acid percentage, absolute butyric acid, and total short-chain fatty acid between children with relapsing and non-relapsing NS. A receiver operating characteristic (ROC) curve analysis was conducted to determine the significant SCFA cut-off level to diagnose NS. Results Comparison of fecal SCFAs between relapsing and non-relapsing NS groups showed significantly lower butyric acid percentages, absolute butyric acid level, and total SCFAs levels in the relapsing NS group, but not in acetic acid or propionic acid levels. Further multivariate analysis did not show a significant difference in total SCFA levels between relapsing and non-relapsing NS. Absolute butyric acid level had the strongest association with relapsing NS, with the highest predictive score. The absolute butyric acid cut-off value of 0.85 mg/mL had a high sensitivity (90%) and high specificity (93.3%) for predicting relapsing nephrotic syndrome. Conclusion Fecal acetic acid, propionic acid, and total short-chain fatty acid in stool are not associated with relapsing NS in children. However, fecal butyric acid measurements are inversely associated with relapsing NS.
ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR MOTIVASI, BEBAN KERJA, DAN LINGKUNGAN KERJA DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI Supit, Ollivia Enggelina; Manoppo, Jeanette Irene Christiene; Manoppo, Jonesius Eden
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.29626

Abstract

Kepuasan kerja merupakan aspek penting dalam manajemen sumber daya manusia, terutama di sektor pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi (RSGM UNSRAT). Berbagai faktor, seperti motivasi, beban kerja, dan lingkungan kerja, diduga memengaruhi tingkat kepuasan kerja pegawai. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara motivasi, beban kerja, dan lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja pegawai di RSGM UNSRAT. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain potong lintang, melibatkan 71 pegawai sebagai populasi dan sampel melalui metode total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mencakup variabel motivasi, beban kerja, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja, yang kemudian dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS). Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif signifikan antara lingkungan kerja dengan kepuasan kerja (koefisien 0,459) serta beban kerja dengan kepuasan kerja (koefisien 0,382). Motivasi kerja memiliki hubungan langsung yang kecil dengan kepuasan kerja (koefisien 0,038) tetapi menunjukkan efek positif melalui lingkungan kerja (koefisien tidak langsung 0,261). Karakteristik individu memiliki pengaruh negatif terhadap kepuasan kerja (-0,165) dan beban kerja (-0,256), menyoroti pentingnya kesesuaian tugas dengan karakteristik individu. Kesimpulannya, lingkungan kerja dan beban kerja yang terkelola dengan baik berkontribusi signifikan terhadap kepuasan kerja pegawai. RSGM UNSRAT perlu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, mendistribusikan beban kerja secara proporsional, serta meningkatkan program motivasi untuk mendukung kinerja dan kesejahteraan pegawai.
Implementasi Kebijakan Promotif dan Preventif Terhadap Pengendalian Hipertensi: Analisis Kualitatif di Kota Tomohon, Indonesia Pojoh, Venita Septami; Manoppo, Jeanette Irene Christiene; Kaseke, Martha Marie; Nelwan, Jeini Ester; Mantjoro, Eva Mariane
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 6 (2025): Desember 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i6.2476

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat termasuk di Kota Tomohon, dengan prevalensi tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Taratara, yang membutuhkan kebijakan promotif dan preventif sebagai bagian dari upaya pengendalian. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan promotif dan preventif terhadap pengendalian hipertensi di Kota Tomohon menggunakan model implementasi kebijakan George C. Edwards III. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dan dilaksanakan di Puskesmas Taratara pada Oktober–November 2025. Informan terdiri dari Kepala Puskesmas, kader kesehatan, dan penderita hipertensi yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis berdasarkan empat variabel Edwards III, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi telah berjalan melalui mekanisme berjenjang, namun kejelasan dan konsistensinya belum optimal. Sumber daya manusia dan kewenangan relatif memadai, tetapi keterbatasan fasilitas, anggaran, dan informasi masih menjadi hambatan. Disposisi pelaksana menunjukkan komitmen yang baik, meskipun dukungan insentif belum optimal. Struktur birokrasi telah didukung oleh SOP, namun implementasinya dan koordinasi lintas sektor belum berjalan efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi kebijakan promotif dan preventif pengendalian hipertensi di Kota Tomohon masih memerlukan penguatan pada seluruh aspek implementasi kebijakan.