Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Intertemporal and lntergenerational Provision of Club Goods by the Govemrnent: A Literature Survey Soetjipto, Widyono
Economics and Finance in Indonesia Volume 44, Number 2, 1996
Publisher : Institute for Economic and Social Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.873 KB) | DOI: 10.47291/efi.v44i2.145

Abstract

.
DAMPAK EKSPEKTASI DAN VOLATILITAS HARGA PADI TERHADAP ALOKASI LAHAN TANAM PADI DI INDONESIA Nurhayanti, Yanti; Soetjipto, Widyono
Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan Vol 18, No 1: April 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jesp.18.1.3559

Abstract

This paper aims to look at the impact expectations and volatility of the price of rice and corn to the acreage of rice in Indonesia. It is expected that with this paper can contribute academically. BBy using a panel data in district paddy, period 2011-2015, empirically proven expectations rise in price rice may increase the acreage of paddy. The volatility of the price rice paddy decreased acreage of rice.By using a panel data in district paddy, period 2011-2015, empirically proven expectations rise in price rice may increase the acreage of paddy. The volatility of the price rice paddy decreased acreage of rice.y using a panel data in district paddy quarterly period 2011-2015, empirically proven expectations rise in price rice may increase the acreage of rice. Increase the volatility of the price rice can decrease allocation acreage of rice. The estimation results with SYS-GMM method showed any increase in price rice expectations 1% can improve the allocation of planting 0,2500%. The volatility of rice can decrease 0,0051%  acreage of rice ceteris paribus. While the increase volatility of corn prices can increase the allocation of land for planting rice 0,0049% ceteris paribus. The estimation results also indicate that the allocation of land planting rice more responsive than planting corn land allocation to alter expectations and price volatility. Policy price /HPP for farmers are not guaranteed to improve the allocation of arable land rice in each planting season.
Urbanisasi, Konsumsi Energi, dan Emisi CO2 : Adakah Perbedaan Korelasinya di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI)? Anastasia Widya Kristiani; Widyono Soetjipto
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 7, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.7.3.166-180

Abstract

Indonesia’s rapid urbanization has become one of the indicators of development that also continues to increase. It is undeniable, improving stage of development is often have an impact on environmental degradation such as excessive fossil energy consumption and CO2 emissions. However, not all regions in Indonesia are at the same stage of development. There are high economic and socio-demographic inequalities and differences between western Indonesia (KBI) and eastern Indonesia (KTI). This study aims to provide empirical evidence and analyze impact of urbanization on energy consumption and CO2 emissions in the country that has different stage of developments across the region. Taking regional heterogeneity in Indonesia, panel data estimation method was applied at the provincial level during the 2011-2015 period. The results of the study show that urbanization in KBI and KTI has different effects on per capita fossil energy consumption. Urbanization in KBI has a positive relationship to per capita energy consumption, whereas urbanization in the KTI has a negative correlation. Urbanization in KBI has a negative correlation with CO2 emissions. However, there was no difference effect of urbanization on CO2 emissions in both of region because the estimation results in KTI showed values that were not statistically significant. These findings not only help advance the existing literature, but also add insight to policy makers in the urban and regional planning.
COST EFFICIENCY OF RICE FARMING IN INDONESIA: STOCHASTIC FRONTIER APPROACH Reynaldo Angga Siagian; Widyono Soetjipto
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 20, No 1 (2020): JANUARY
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agrise.2020.020.1.2

Abstract

The main objectives of the study are to estimate the farm specific cost efficiency of rice production in Indonesia using Cost Frontier model and to identify and measure the impacts of different factors associated with cost efficiency of rice farmers. The study employed farm level cross sectional data for the years 2010 and 2016. Cost of Irrigation, Fertilizer and labor were found to contribute significantly in the cost efficiency of rice farmers. The average cost efficiency of rice production in 2016 is 83 percent, this result is more higher than 2010. This indicates a good potential for increasing rice output by 17 percent with the existing technology. The model claims that smaller land, more plot in the land, three time crop planting a year, and diversification significantly contribute to cost effeciency in farm production.
COST EFFICIENCY OF RICE FARMING IN INDONESIA: STOCHASTIC FRONTIER APPROACH Reynaldo Angga Siagian; Widyono Soetjipto
Agricultural Socio-Economics Journal Vol. 20 No. 1 (2020): JANUARY
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agrise.2020.020.1.2

Abstract

The main objectives of the study are to estimate the farm specific cost efficiency of rice production in Indonesia using Cost Frontier model and to identify and measure the impacts of different factors associated with cost efficiency of rice farmers. The study employed farm level cross sectional data for the years 2010 and 2016. Cost of Irrigation, Fertilizer and labor were found to contribute significantly in the cost efficiency of rice farmers. The average cost efficiency of rice production in 2016 is 83 percent, this result is more higher than 2010. This indicates a good potential for increasing rice output by 17 percent with the existing technology. The model claims that smaller land, more plot in the land, three time crop planting a year, and diversification significantly contribute to cost effeciency in farm production.
Utang Publik dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Indonesia Ali Syukri Zend; Widyono Soetjipto
Indonesian Treasury Review: Jurnal Perbendaharaan, Keuangan Negara dan Kebijakan Publik Vol 7 No 4 (2022): Indonesian Treasury Review: Jurnal Perbendaharaan, Keuangan Negara dan Kebijakan
Publisher : Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33105/itrev.v7i4.526

Abstract

Tingkat utang publik daerah di Indonesia selama periode tahun 2011 sampai dengan 2019 mengalami tren pertumbuhan yang tinggi dan relatif berkesinambungan. Meskipun secara rasio tingkat utang publik daerah terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) relatif kecil, tetapi tren peningkatan yang tinggi dapat mengancam kesinambungan fiskal pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris terkait hubungan utang publik daerah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis data panel dari tahun 2011 sampai 2019 dengan pendekatan model efek tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang robust kemungkinan sulit didapatkan dikarenakan perbedaan hasil pada kedua model yang digunakan. Hasil estimasi pada model 1 menunjukkan adanya hubungan nonlinear yang signifikan. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa utang publik daerah berhubungan positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, dan pada tingkat utang publik daerah yang relatif tinggi dan melewati debt turning point hubungan tersebut berubah menjadi negatif. Sementara itu, hasil estimasi pada model 2 tidak menunjukkan adanya hubungan nonlinear yang signifikan sehingga dapat diartikan bahwa perubahan utang publik daerah tidak memiliki hubungan dengan perubahan pertumbuhan ekonomi daerah. Perbedaan hasil tersebut kemungkinan terjadi karena pilihan pemodelan dan cakupan data.
Fasilitasi Perdagangan dan Kinerja Ekspor Industri Pengolahan Makanan Indonesia Ke Kawasan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Nurul Haniva Dwihandini; Widyono Soetjipto
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.856 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i10.11579

Abstract

Fasilitasi perdagangan merupakan faktor penting bagi negara-negara di dunia dalam efisiensi perdagangan. Penelitian ini menganalisis dampak fasilitasi perdagangan dan faktor-faktor yang memengaruhi kinerja ekspor terhadap industri pengolahan makanan Indonesia ke kawasan RCEP. Sektor industri pengolahan Indonesia merupakan sektor penyumbang terbesar ekspor Indonesia dan kawasan RCEP merupakan negara tujuan utamanya. Namun, trend pertumbuhan ekspor industri pengolahan makanan Indonesia ke kawasan RCEP dari tahun 2012 sampai 2019 cenderung menurun. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder periode 2012 – 2019 dengan pendekatan gravity model data panel. Variabel fasilitasi perdagangan yang menjadi interest variable yaitu kualitas infrastruktur transportasi, penyerapan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), hambatan prosedur bea cukai, (BOCP) dan kualitas lingkungan bisnis negara RCEP. Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel fasilitasi perdagangan yang sangat memengaruhi nilai ekspor industri pengolahan makanan Indonesia ke kawasan RCEP adalah persentase penyerapan teknologi dan komunikasi (ICT) negara RCEP dan kualitas lingkungan bisnis negara RCEP. Negara RCEP yang memiliki persentase penyerapan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) terbesar yaitu Korea Selatan dan Selandia baru memiliki lingkungan bisnis yang terbaik. Selain itu, variabel ekonomi yang memengaruhi nilai ekspor industri pengolahan makanan Indonesia ke kawasan RCEP adalah jarak ekonomi Indonesia dengan negara RCEP dan jumlah populasi negara RCEP.
Analisis Pengaruh Hubungan Tidak Langsung Volatilitas Nilai Tukar Terhadap EmisI CO2 Di Asean Rahmi Afzhi Wefielananda; Widyono Soetjipto
Cakrawala Repositori IMWI Vol. 6 No. 4 (2023): Cakrawala Repositori IMWI
Publisher : Institut Manajemen Wiyata Indonesia & Asosiasi Peneliti Manajemen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52851/cakrawala.v6i4.406

Abstract

Salah satu penyebab meningkatnya gas rumah kaca dan gas karbon dioksida adalah akibat kegiatan perdagangan antar negara. Perdagangan antar negara terjadi melalui transaksi pembayaran alat tukar yang disepakati oleh negara-negara terikat berupa mata uang. Secara tidak langsung, nilai tukar berperan dalam pergerakan ekonomi, begitu pula terhadap lingkungan. Penelitian ini membahas pengaruh tidak langsung dari kestabilan perubahan nilai tukar yang dilihat dari nilai volatilitasnya terhadap emisi CO2 di 8 negara ASEAN selama periode tahun 1990-2016 dengan menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil yang didapat pada penelitian ini adalah volatilitas nilai tukar dapat menurunkan nilai impor maupun ekspor, namun hanya penurunan impor yang berdampak signifikan pada peningkatan emisi, sementara perubahan pada ekspor tidak berpengaruh signifikan pada emisi.
Dampak Kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Terhadap Sektor Pertanian Widi Rahma Dayanti; Widyono Soetjipto
Syntax Idea 1771-1784
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i4.3172

Abstract

Sektor pertanian Indonesia, yang merupakan sumber pangan mengalami ancaman yang diakibatkan oleh alih fungsi lahan untuk berbagai kebutuhan dan aktivitas sektor lain. Salah satu upaya untuk mengatasi hal ini adalah penerapan kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) terhadap sektor pertanian, apakah berpengaruh terhadap pengurangan alih fungsi lahan pertanian atau tidak, yang digambarkan dengan persentase luas lahan sawah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan cara analisis data panel. Data penelitian ini terdiri dari 34 provinsi di seluruh Indonesia selama periode 2000-2019. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan LP2B berpengaruh positif terhadap persentase luas lahan sawah. Faktor lain yang mempengaruhi luas lahan sawah adalah kepadatan penduduk, PDRB ADHB sektor pertanian, dan PDRB ADHB sektor real estate. Pembangunan pemukiman dan perumahan yang ditunjukkan dengan PDRB ADHB sektor real estate masih menjadi ancaman besar bagi pengurangan lahan pertanian saat ini.
DAMPAK KETERGANTUNGAN SOSIAL EKONOMI DESA TERHADAP LUASAN HUTAN MANGROVE DI INDONESIA Itfan, Itfan; Soetjipto, Widyono
Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22212/jekp.v14i1.3519

Abstract

This study aims to find empirical evidence regarding the location of village areas around/within the forest as evidence of population dependence on forest areas in influencing mangrove forests in coastal regions of Indonesia. The motivation for this study is that Indonesia has experienced enormous mangrove deforestation in last three decades. According to empirical studies in Iran, India, Thailand, and Vietnam, livelihood dependence on forests has a negative impact on reducing mangrove forest ecosystems. There are no empirical studies at the village level in Indonesia due to limited data. The author tried to analyze unbalanced panel data by combining geospatial data and PODES. Using FEM to analyze the impact of the location of village areas within the forest area on mangrove forests, it found that villages whose areas are around the forest have a high dependence on natural resources and a negative correlation to the area of mangrove forests. This dependence is good for the economy of rural communities but have a bad impact on the environment. Alternative livelihoods are needed to reduce villagers’ dependence on mangrove forests. The Government of Indonesia needs to encourage mangrove rehabilitation to become an ecotourism center to increase the income of people around mangrove forests.Keywords: dependence, socio-economic, mangrove, panel dataAbstrakStudi ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris mengenai lokasi wilayah desa di sekitar/dalam kawasan hutan sebagai bukti ketergantungan penduduk terhadap kawasan hutan dalam memengaruhi luasan hutan mangrove di wilayah pesisir Indonesia. Motivasi dari studi ini berasal dari fakta bahwa Indonesia mengalami deforestasi mangrove yang sangat besar dalam tiga dekade terakhir. Menurut studi empiris yang dilakukan di Iran, India, Thailand, dan Vietnam, secara umum ketergantungan mata pencaharian pada hutan memberikan dampak negatif dalam mengurangi ekosistem hutan mangrove. Studi empiris pada level desa di Indonesia masih belum ada karena keterbatasan data. Penulis mencoba menganalisis data panel unbalanced dengan kombinasi data geospasial dan PODES. Menggunakan Fixed Effects Model (FEM) untuk menganalisis dampak dari lokasi wilayah desa di dalam kawasan hutan terhadap luasan hutan mangrove, penelitian ini menemukan bahwa desa yang wilayahnya berada di sekitar/dalam kawasan hutan memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya alam dan korelasi negatif terhadap luasan hutan mangrove di wilayah desa tersebut. Ketergantungan tersebut baik bagi perekonomian masyarakat desa, namun akan berdampak buruk terhadap lingkungan,sehingga diperlukan alternatif mata pencaharian di desa untuk mengurangi ketergantungan penduduk desa terhadap hutan mangrove. Pemerintah Indonesia perlu mendorong rehabilitasi mangrove untuk dikembalikan menjadi pusat ekowisata agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan hutan mangrove.Kata kunci: ketergantungan, sosial-ekonomi, mangrove, data panel