Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Manajemen Pendidikan Karakter dalam Menumbuhkan Akhlakul Karimah di MI Nurul Huda Mendala Sirampog Brebes Azhar, Aurizan Himmi; M Misbah, M Misbah; Agus Sutiyono, Agus Sutiyono
Jurnal Basicedu Vol. 7 No. 5 (2023)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i5.4586

Abstract

Dalam tujuan pendidikan karakter, perlu adanya manajemen yang baik dan sinergi antara berbagai komponen pendidikan yang terlibat, baik formal maupun nonformal. Pendidikan karakter di sekolah melibatkan seluruh komponen yang ada di sekolah yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas relasi, penanganan dan pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan kegiatan, pemberdayaan sarana dan prasarana. , pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. . MI Nurul Huda peduli terhadap pendidikan karakter siswanya. Melalui kegiatannya, MI Nurul Huda berupaya mengembangkan karakter siswanya melalui aturan-aturan yang ditetapkan dan melalui isi pelajaran agamanya. Dengan sistem pendidikan Islam untuk menumbuhkan karakter peserta didik yang berakhlak mulia, menjadi salah satu fokus utama yang selalu diterapkan di MI Nurul Huda untuk mengembangkan pendidikan karakter yang dibutuhkan oleh generasi sekarang. MI Nurul Huda mengoptimalkan pengembangan karakter siswa melalui kegiatan yang dilakukan, baik di dalam maupun di luar jam pelajaran
Manajemen Pendidikan Karakter dalam Menumbuhkan Akhlakul Karimah di MI Nurul Huda Mendala Sirampog Brebes Azhar, Aurizan Himmi; M Misbah, M Misbah; Agus Sutiyono, Agus Sutiyono
Jurnal Basicedu Vol. 7 No. 5 (2023)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i5.4586

Abstract

Dalam tujuan pendidikan karakter, perlu adanya manajemen yang baik dan sinergi antara berbagai komponen pendidikan yang terlibat, baik formal maupun nonformal. Pendidikan karakter di sekolah melibatkan seluruh komponen yang ada di sekolah yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas relasi, penanganan dan pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan kegiatan, pemberdayaan sarana dan prasarana. , pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. . MI Nurul Huda peduli terhadap pendidikan karakter siswanya. Melalui kegiatannya, MI Nurul Huda berupaya mengembangkan karakter siswanya melalui aturan-aturan yang ditetapkan dan melalui isi pelajaran agamanya. Dengan sistem pendidikan Islam untuk menumbuhkan karakter peserta didik yang berakhlak mulia, menjadi salah satu fokus utama yang selalu diterapkan di MI Nurul Huda untuk mengembangkan pendidikan karakter yang dibutuhkan oleh generasi sekarang. MI Nurul Huda mengoptimalkan pengembangan karakter siswa melalui kegiatan yang dilakukan, baik di dalam maupun di luar jam pelajaran
Application of The Concept of Mathematical Limits In The Quranic Verse of Yusuf Verse 76: Text And Context Analysis Azhar, Aurizan Himmi; Nurhuda, Abid; Lathif, Nur Muhammad
ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin Vol. 3 No. 10 (2025): ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisplin, Oktober 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/armada.v3i10.1774

Abstract

This article explores the relationship between the concept of limits in mathematics and the verse (QS. Yusuf: 76), which emphasizes that above every knowledgeable person there is one who is more All-Knowing. The limit in calculus describes an endless process of approximation, where a function approaches a certain value without ever actually reaching it. This concept has a philosophical correlation with the teachings of the Qur'an that emphasize intellectual humility and the awareness that human knowledge is always limited compared to God's knowledge. Through a textual and contextual analysis approach, this article examines how the verse is understood by classical and contemporary commentators and interprets it within the framework of modern mathematical epistemology. The analysis finds that both the concept of the limit and the content of the verse teach that the pursuit of knowledge is a continuously evolving process without an endpoint. Thus, the collaboration between science and sacred texts can open a new paradigm in understanding the relationship between mathematical rationality and divine spirituality.
Nasakh dalam Sunnah dan Kajian Multikulturalisme: Tafsir Adaptif dalam Konteks Indonesia Azhar, Aurizan Himmi; Abid Nurhuda; Thariq Aziz, Thariq Aziz; Muhammad Faqihuddin Ismail
Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol 1 No 3 (2026): February: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan: Scripta Humanika
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/33nbar31

Abstract

This article discusses the concept of nasakh in the Sunnah and its relevance to adaptive Qur’anic exegesis in the Indonesian multicultural context. The main issue is how nasakh, often understood as abrogation, can be reframed as an instrument of flexibility within Islamic law that supports Islam as a mercy to all creation (rahmatan lil-‘alamin). This research employs a qualitative-descriptive approach by analyzing classical ulumul Qur’an literature, Sunnah, and contemporary exegesis. The findings reveal that nasakh in the Sunnah is not merely abrogation but a gradual strategy (tadarruj) in the formation of Islamic law. Concrete examples include the prohibition of temporary marriage (mut‘ah) and the change in the law regarding grave visitation. The wisdom of nasakh includes safeguarding welfare, ensuring justice, providing convenience, and testing faith. Meanwhile, multicultural tafsir emphasizes tolerance, justice, and religious freedom, as seen in Indonesian scholars’ interpretations of verses prohibiting insults to other deities (Q. al-An‘am:108), freedom of belief (Q. al-Kahf:29, Q. Yunus:99), and justice toward non-Muslims (Q. al-Mumtahanah:8, Q. al-Māidah:8). The integration of these two perspectives demonstrates that the concept of nasakh can serve as an adaptive exegesis paradigm supporting harmony within Indonesia’s plural society.