Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Penataan Ruang untuk Pengembangan Pariwisata Desa Binaan Guo Rhamadana, Vebryan; Ferial, Rudy; Nurhamidah, Nurhamidah; Syukur, Masril; Junaidi, Ahmad
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 4 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i4.80

Abstract

Indonesia memiliki keindahan, keunikan, dan keberagaman kekayaan alam yang berpotensi sebagai objek wisata. Keberagaman tersebut juga ada di Sumatera Barat khususnya Padang. Selain wisata pantai, padang masih memiliki berbagai potensi wisata lain seperti wisata air terjun, gua kalelawar, dan agrowisata yang belum dikembangkan dengan baik. Pemerintah Kota Padang menyadari hal tersebut sehingga memusatkan pengembangan wisata tersebut khususnya di kawasan timur. Penulis melihat potensi tersebut juga dimiliki oleh Desa Guo yag menyimpan potensi dengan keberadaan 5 objek air terjun yang menarik yaitu Lubuak Tampuruang, Kudo, Sarasah 2 Tingkek, Sarasah 3 Tingkek, dan Lubuak Sampik. Pengembangan kawasan desa wisata menjadi penting karena akan meningatkan kualitas hidup masyarakat. Penulis mengusulkan untuk mengembangkan kawasan tersebut sebagai desa wisata. Pengembangan tersebut dimulai dengan survei, wawancara, studi pustaka, dan pemetaan. Kemudian data tersebut digunakan sebagai dasar dalam memberikan usulan pengembangan. Penulis mengusulkan untuk mengembangkan kawasan dengan konsep wisata ekologis yang berupaya semaksimal mungkin menjaga keasrian alam setempat. Salah satu perwujudan dari hal tersebut adalah dengan membuat skywlak sebagai jaringan jalan yang juga dapat berfungsi sebagai atraksi wisata. Selain itu, kawasan perlu mengembangkan fasilitas pendukung lainnya guna memaksimalkan pengalaman yang akan dirasakan wisatawan. Penulis merasa perlu ada kajian lebih lanjut agar pada akhirnya dapat merumuskan masterplan kawasan sehingga pembangunan menjadi terarah.
Preferensi Tempat Bekerja dan Belajar Produktif Rhamadana, Vebryan; Bachtiar, Jasmine C. U.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.79 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.97

Abstract

Kegiatan produktif seperti bekerja dan belajar dewasa ini mengalami perubahan. Dalam dunia pendidikan, belajar mandiri memiliki peran penting sebagai inti dari proses belajar sehingga membutuhkan ruang-ruang lain di luar ruang formal. Perubahan kecenderungan juga terjadi dalam dunia kerja seperti bekerja yang dapat dilakukan tanpa terikat dengan tempat dan waktu. Kecenderungan tersebut memunculkan kebutuhan yang lebih besar terhadap tempat bekerja dan belajar. Penelitian ini merupakan studi awal untuk melihat preferensi tempat bekerja dan belajar. Preferensi tersebut penting untuk dilihat oleh arsitek sebagai dasar dalam menyediakan tempat bekerja dan belajar yang baik. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode grounded theory. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner daring kepada responden (N=108). Selanjutnya, data diolah dengan open coding, axial coding, dan selective coding. Dari analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa terdapat empat kelompok preferensi tempat bekerja dan belajar yakni kelompok formal, rekreatif, kondusif, dan personal. Arsitek dapat merancang ruang bekerja dan belajar dengan melihat karakteristik dari kelompok yang akan diwadahi berdasarkan keempat kelompok preferensi tersebut. Penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan yang ada sehingga menguatkan teori yang muncul tentang empat kelompok preferensi tempat bekerja dan belajar. Working and learning are two productive activities that are evolving. Independent learning is an essential part of the educational process that necessitates alternative venues outside the official classroom. Trends shift in the workplace, where work can be done without location or time constraints. This disposition has a stronger desire to work and learn. This study offers a preliminary look at people's preferences for working and learning spaces. These preferences are fundamental for architects when designing a healthy work and study environment—choosing the grounded theory method to produce qualitative research. First, respondents (N = 108) received an online questionnaire to fill out. Then, the data processing process uses open, axial, and selective coding. According to the findings, there are four types of virtual working and learning settings: formal, recreational, conducive, and personal. Architects may create working and learning environments that consider the unique characteristics of the various groups that will be accommodated based on the four preferences groups. Further research is needed to validate the findings—study options—to improve the hypothesis surrounding the four categories of work and study options.
Kajian Kebutuhan SDM Arsitektur Indonesia dan Kelayakan Pendidikan Arsitektur Rudy Ferial; Rhamadana, Vebryan; Masril Syukur; Ahmad Junaidi; Nurhamidah
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 3 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i3.79

Abstract

Pemerintah memberikan perhatian terhadap Arsitek dengan mengesahkan Undang-Undang Arsitek No 6 Tahun 2017. Undang-Undang tersebut memberikan jaminan terhadap arsitek dan pengguna jasa arsitek. Meskipun demikian, peran arsitek masih sering digantikan atau bahkan dihilangkan. Kemajuan teknologi memungkinkan proses desain dilakukan oleh selain arsitek sehingga perannya semakin mudah digantikan. Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan terkait relevansi profesi arsitek serta relevansi dan kelayakan pendidikan arsitektur. Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut serta apa yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara pendidikan. Berdasarkan data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2020, Indonesia hanya memiliki 21.421 tenaga ahli arsitektur padahal kebutuhannya diperkirakan mencapai 200.000 orang. Paparan ini merupakan sebuah diskursi yang didapatkan melalui telaah Undang-Undang. Hasilnya mengarah pada pemahaman bahwa pendidikan arsitektur dituntut untuk meningkatkan kualitas lulusan dengan menekankan pengajaran pada aspek tersebut sehingga menegaskan peran arsitek yang sulit tergantikan. Perguruan tinggi perlu memiliki pandangan jauh kedepan karena berperan melahirkan calon arsitek yang berkarir pada 5 atau 10 tahun ke depan.