Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Edukasi Kesehatan Terhadap Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang Pencegahan HIV/AIDS di SMAN 10 Depok Wijaya, Rafika Dora; Puspita, Ratumas Ratih; Ma’muroh, Ma’muroh; Sartika, Lani
Bunda Edu-Midwifery Journal (BEMJ) Vol. 7 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Akademi Kebidanan Bunga Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54100/bemj.v7i2.218

Abstract

HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan global yang menyerang seluruh rentang usia dan jenis kelamin. Menurut World Health Organization (WHO) 2021 memperkirakan di dunia ada sekitar 650.000 orang meninggal akibat terpapar virus HIV. Remaja merupakan kelompok yang rentan terapapar disebabkan oleh berbagai permasalahan yang komplek pada remaja serta informasi dan pengetahuan mereka yang masih kurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan siswa tentang pencegahan HIV/AIDS di SMAN 10 Depok. Metode yang digunakan adalah Pre Eksperiment dengan rancangan one group pre test post tes design. Instrument yang digunakan berupa kuesioner HIV-KQ-18. Jumlah sampel sebanyak 170 siswa SMA 10 Depok, dengan teknik pengambilan sampel yaitu Simple Random Sampling. Hasil penelitian diperoleh rata-rata nilai pengetahuan siswa sebelum dilakukan edukasi kesehatan adalah 42,95 Kemudian setelah dilakukan edukasi kesehatan rata-rata nilainya meningkat menjadi 79,59 dan diperoleh nilai P value, yaitu 0,000 kurang lebih 0,05 jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh edukasi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan siswa tentang penceahan HIV/AIDS di SMAN 10 Depok. Saran dari hasil penelitian ini diharapkan setelah diberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan HIV/AIDS agar para remaja bisa mendapatkan informasi yang baik dan melakukan pencegahan secara dini terhadap penyakit infeksi menular HIV/AIDS
NILAI-NILAI EDUKASI SPIRITUAL DALAM REDAKSI HADIS SHALAT TASBIH Edidarmo, Toto; Ma’muroh, Ma’muroh
FIKRAH Vol 6 No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Ibn Khaldun University, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/fikrah.v6i2.20580

Abstract

Shalat Tasbih adalah shalat sunnah yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. kepada pamannya, al-‘Abbas. Tata cara shalat ini berbeda dengan shalat fardu dan shalat sunnah lainnya. Shalat sunnah tasbih berjumlah 4 rakaat; pada tiap rakaatnya dibaca tasbih 75 kali, sehingga total bacaan tasbih sebanyak 300 kali. Ditinjau dari perspektif ilmu hadis, hadis tentang Shalat Tasbih ditemukan pada Sunan Abi Dawud (w. 275 H), hadis nomor 1297; Sunan al-Tirmidzi (w. 279 H), hadis nomor 481, Sunan Ibn Majah (w. 273 H), hadis nomor 1387, Shahih Ibn Khuzaimah (w. 311 H), alMustadrak ‘ala al-Shahihain karya al-Imam al-Hakim (w. 405 H), dan al-Sunan alKubra karya al-Imam al-Baihaqi (w. 458 H). Hadis-hadis shalat tasbih memiliki kualitas yang hasan (bagus) karena jalur periwayatannya (sanad) banyak dan bersambung. Terdapat perawi yang dianggap majhul (tidak diketahui), tetapi setelah ditelusuri dapat dibuktikan kejujurannya serta ketersambungan sanadnya. Ada juga yang dianggap lemah hafalannya, tetapi didukung hadis penguat (syāhid) sehingga peringkatnya naik menjadi hasan li-ghairi (bagus karena didukung hadis lain). Untuk memahami hadis shalat tasbih, terdapat dua metode, yaitu metode ahli hadis dan metode ahli fikih. Metode ahli hadis cenderung tekstualis dan menerima shalat tasbih sebagai amal sunnah yang disyariatkan. Metode ahli fikih lebih kontekstual dan rasional serta memahami shalat tasbih sebagai sunnah yang disyariatkan dengan cara tertentu. Hasil analisis terhadap redaksi hadis, ditemukan pula nilai-nilai edukasi spiritual yang amat berharga, yaitu: (1) pengulangan bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sebanyak 300 kali, (2) anjuran mengulangi shalat tasbih minimal setahun sekali atau seumur hidup, (3) penguatan sikap tawajjuh (fokus menghadap) kepada Allah Swt. dalam durasi yang lama, (4) penguatan kesabaran dan keteguhan hati dalam beribadah, (5) penguatan nilai kesetaraan dalam kehidupan sosial dan nilai kerendahan manusia di hadapan Sang Khalik sebagai aktulisasi rukuk dan sujud, (6) pengampunan atas semua dosa yang pernah dilakukan, (7) benefit spiritual berupa ketenteraman dan kebahagiaan hati.
OPTIMALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI PELATIHAN PEMULASARAAN JENAZAH DI SMA MUHAMMADIYAH 25 PAMULANG Ma’muroh, Ma’muroh; Rohanah, Rohanah; Dora, Rafika; Yulia, Yulia; Dewi, Liza Puspa
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i1.5825

Abstract

ABSTRACT Islamic Religious Education (PAI) plays a crucial role in shaping students' character and spirituality, while also equipping them with practical skills that are valuable in community life. Among these essential skills, the proper handling of deceased persons (jenazah care)—a collective obligation (fardhu kifayah) in Islam—is rarely taught in depth at schools. Beyond imparting religious knowledge, this skill also fosters students’ sense of social responsibility within the Muslim community. This community service program aims to enhance the understanding and practical skills of students at SMA Muhammadiyah 25 Pamulang in performing jenazah care through a training initiative based on Participatory Action Research (PAR). The PAR approach enables students to engage actively in experiential learning, wherein they not only study the theoretical aspects but also practice each stage of jenazah care, including washing, shrouding, and burial in accordance with Islamic law. The training outcomes indicate a significant improvement in students’ competencies and comprehension, as well as an increased awareness of their social responsibilities as members of the Muslim ummah. In addition to enriching the quality of Islamic Religious Education, this program serves as a model of applied and participatory education, which is expected to be sustainably integrated into the school curriculum. By providing hands-on experiences and a deeper understanding of religious obligations, the training equips students with essential life skills and prepares them to contribute meaningfully to society, in line with core Islamic values. Furthermore, this program demonstrates the potential of PAR-based approaches to develop impactful and sustainable models of religious education in schools. ABSTRAK Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan spiritualitas siswa, serta membekali mereka dengan keterampilan praktis yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat. Di antara keterampilan penting tersebut, pemulasaraan jenazah—kewajiban kolektif (fardhu kifayah) dalam Islam—jarang diajarkan secara mendalam di sekolah. Selain memberikan pengetahuan agama, keterampilan ini juga memperkuat rasa tanggung jawab sosial siswa dalam komunitas Muslim. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa SMA Muhammadiyah 25 Pamulang dalam melaksanakan pemulasaraan jenazah melalui pelatihan berbasis Participatory Action Research (PAR). Pendekatan PAR memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran praktis, di mana mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mempraktikkan setiap tahapan pemulasaraan jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, hingga menguburkan sesuai dengan syariat Islam. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan dan pemahaman siswa, serta peningkatan kesadaran mereka akan tanggung jawab sosial sebagai anggota komunitas Muslim. Selain meningkatkan kualitas pembelajaran PAI, program ini berfungsi sebagai model pendidikan yang aplikatif dan partisipatif, yang diharapkan dapat diintegrasikan secara berkelanjutan dalam kurikulum sekolah. Dengan memberikan pengalaman langsung dan pemahaman tentang kewajiban agama, pelatihan ini membekali siswa dengan keterampilan hidup yang berharga dan mempersiapkan mereka untuk berkontribusi aktif dalam masyarakat, sesuai dengan nilai-nilai inti Islam. Program ini juga menunjukkan potensi pendekatan berbasis PAR dalam menciptakan model pendidikan agama yang berkelanjutan dan berdampak di sekolah-sekolah.
IMPLEMENTASI KURIKULUM KEPERAWATAN AIPNI 2021 BERBASIS FIKIH PADA MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Ma’muroh, Ma’muroh; Rohanah, Rohanah; Dora, Rafika; Yulia, Yulia; Dewi, Liza Puspa
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i2.5824

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the implementation of the 2021 AIPNI Nursing Curriculum in Islamic Religious Education courses based on Islamic jurisprudence (Fikih) at STIKes Dharma Husada Tangerang. The background of this study is the importance of integrating Islamic values, especially Islamic jurisprudence, in shaping the spiritual competence and professional ethics of nursing students. The 2021 AIPNI Curriculum emphasizes an outcome-based education approach and professional character, thus requiring an implementative strategy in teaching Islamic religious courses that are relevant to clinical practice and the dynamics of medical ethics. This study uses a qualitative-descriptive approach with data collection techniques through classroom observation, RPS document studies, and semi-structured questionnaires and interviews with 34 students of the S1 Nursing Study Program in the odd semester of the 2024/2025 academic year. The results of the study indicate that the implementation of the curriculum has covered several aspects of practical fiqh that are directly related to the world of nursing, such as fiqh for caring for dying patients, ethics of interaction between the sexes, and the use of drugs in emergency conditions. However, obstacles were also found such as limited contextual teaching resources, the dominance of cognitive approaches, and the lack of collaboration between religious lecturers and nursing lecturers in compiling teaching materials. The conclusion of this study confirms that the implementation of Islamic Religious Education based on fiqh in the AIPNI curriculum has great potential to strengthen the spiritual integrity of nursing students, but requires strengthening in the aspects of methodology, content based on clinical case studies, and synergy between lecturers across fields. These findings are expected to be input in the development of a more holistic and Islamic higher health education curriculum. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Kurikulum Keperawatan AIPNI 2021 pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam berbasis ilmu fikih di STIKes Dharma Husada Tangerang. Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya integrasi nilai-nilai keislaman, khususnya fikih, dalam membentuk kompetensi spiritual dan etika profesional mahasiswa keperawatan. Kurikulum AIPNI 2021 menekankan pendekatan pembelajaran berbasis capaian (outcome-based education) dan karakter profesional, sehingga memerlukan strategi implementatif dalam pengajaran mata kuliah agama Islam yang relevan dengan praktik klinik dan dinamika etika medis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi kelas, studi dokumen RPS, serta kuesioner dan wawancara semi-terstruktur kepada 34 mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan semester ganjil tahun akademik 2024/2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kurikulum telah mencakup beberapa aspek fikih praktis yang berkaitan langsung dengan dunia keperawatan, seperti fikih perawatan pasien sekarat, etika interaksi antar jenis kelamin, dan penggunaan obat-obatan dalam kondisi darurat. Namun, ditemukan pula hambatan seperti keterbatasan sumber ajar kontekstual, dominasi pendekatan kognitif, serta kurangnya kolaborasi antara dosen agama dan dosen keperawatan dalam penyusunan materi ajar. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa implementasi Pendidikan Agama Islam berbasis fikih dalam kurikulum AIPNI memiliki potensi besar untuk memperkuat integritas spiritual mahasiswa keperawatan, tetapi memerlukan penguatan pada aspek metodologi, konten berbasis studi kasus klinik, dan sinergi antar dosen lintas bidang. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi kesehatan yang lebih holistik dan Islami.
Sosialisasi dan edukasi remaja sehat bebas anemia untuk meningkatkan tingkat pengetahuan remaja pada pencegahan anemia Dora Wijaya, Rafika; Rohanah, Rohanah; Ratih Puspita, Ratumas; Ma’muroh, Ma’muroh; Puspa Dewi, Liza
Hasil Karya 'Aisyiyah untuk Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/hayina.4072

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi pada generasi muda, khususnya SMP, karena siklus menstruasinya. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kurangnya makanan kaya nutrisi dan kurangnya nutrisi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk memupuk kesadaran siswa akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini dan membantu mengurangi jumlah siswa yang mengalami anemia pada rematri. Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah ceramah dan diskusi. Nilai p value 0,001<0,05 sehingga disimpulkan bahwa ada pengaruh edukasi dan sosialisiasi remaja sehat bebas anemia terhadap tingkat pengetahuan remaja. Terdapat peningkatan skor rata-rata pretest 9,00 menjadi 14,15. Kegiatan berjalan dengan baik dan sukses mencapai tujuannya. Saran: kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin. Diperlukan Kolaborasi dengan pihak Puskesmas untuk pemeriksaan anemia secara berkala. Penyediaan makanan sehat yang kaya zat besi.
NILAI-NILAI EDUKASI SPIRITUAL DALAM REDAKSI HADIS SHALAT TASBIH Edidarmo, Toto; Ma’muroh, Ma’muroh
FIKRAH Vol 6 No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Ibn Khaldun University, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/fikrah.v6i2.20580

Abstract

Shalat Tasbih adalah shalat sunnah yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. kepada pamannya, al-‘Abbas. Tata cara shalat ini berbeda dengan shalat fardu dan shalat sunnah lainnya. Shalat sunnah tasbih berjumlah 4 rakaat; pada tiap rakaatnya dibaca tasbih 75 kali, sehingga total bacaan tasbih sebanyak 300 kali. Ditinjau dari perspektif ilmu hadis, hadis tentang Shalat Tasbih ditemukan pada Sunan Abi Dawud (w. 275 H), hadis nomor 1297; Sunan al-Tirmidzi (w. 279 H), hadis nomor 481, Sunan Ibn Majah (w. 273 H), hadis nomor 1387, Shahih Ibn Khuzaimah (w. 311 H), alMustadrak ‘ala al-Shahihain karya al-Imam al-Hakim (w. 405 H), dan al-Sunan alKubra karya al-Imam al-Baihaqi (w. 458 H). Hadis-hadis shalat tasbih memiliki kualitas yang hasan (bagus) karena jalur periwayatannya (sanad) banyak dan bersambung. Terdapat perawi yang dianggap majhul (tidak diketahui), tetapi setelah ditelusuri dapat dibuktikan kejujurannya serta ketersambungan sanadnya. Ada juga yang dianggap lemah hafalannya, tetapi didukung hadis penguat (syāhid) sehingga peringkatnya naik menjadi hasan li-ghairi (bagus karena didukung hadis lain). Untuk memahami hadis shalat tasbih, terdapat dua metode, yaitu metode ahli hadis dan metode ahli fikih. Metode ahli hadis cenderung tekstualis dan menerima shalat tasbih sebagai amal sunnah yang disyariatkan. Metode ahli fikih lebih kontekstual dan rasional serta memahami shalat tasbih sebagai sunnah yang disyariatkan dengan cara tertentu. Hasil analisis terhadap redaksi hadis, ditemukan pula nilai-nilai edukasi spiritual yang amat berharga, yaitu: (1) pengulangan bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sebanyak 300 kali, (2) anjuran mengulangi shalat tasbih minimal setahun sekali atau seumur hidup, (3) penguatan sikap tawajjuh (fokus menghadap) kepada Allah Swt. dalam durasi yang lama, (4) penguatan kesabaran dan keteguhan hati dalam beribadah, (5) penguatan nilai kesetaraan dalam kehidupan sosial dan nilai kerendahan manusia di hadapan Sang Khalik sebagai aktulisasi rukuk dan sujud, (6) pengampunan atas semua dosa yang pernah dilakukan, (7) benefit spiritual berupa ketenteraman dan kebahagiaan hati.