Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Design of a Rumah Budaya in the Context of Preserving Karo Culture in Desa Lingga, Karo Regency, North Sumatra Nasution, Putri Handayani; Ginting, Salmina Wati
International Journal of Culture and Art Studies Vol. 7 No. 2 (2023): International Journal of Culture and Art Studies (IJCAS)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/ijcas.v7i2.13692

Abstract

The Siwaluh Jabu Traditional House is one of the cultural heritages from the ancestors of the Karo people from the past. This traditional house is located in Desa Lingga (Lingga Village), Karo Regency, North Sumatra, Indonesia. The interest of tourists in visiting this traditional house has made the local government make Desa Lingga a cultural village. Traditional houses and other cultural heritage symbolize the greatness of the Batak Karo ancestors in the past. Nevertheless, the "remains" (inheritance) of greatness seems to have less attention anymore. This paper was created with the aim of examining the existence of cultural heritage with tourism potential of the Siwaluh Jabu Traditional House in Desa Lingga and providing architectural design solutions as a form of Karo Cultural preservation by creating a Rumah Budaya that provides lodging facilities and cultural learning facilities in order to preserve Karo Culture. The research was conducted using a qualitative descriptive method where the authors obtained the data by observing and describing th eenvironmental conditions of the object. Referring to the research results, it was found an idea for an design that has a cultural program where visitors and tourists can enjoy the atmosphere of Lingga Village, which is unique to its Karo Culture while learning about this culture. The design of this cultural learning facility will impact the Siwaluh Jabu Traditional House because this traditional house will experience preservation which is expected to lead to an increase in tourist visits to the Desa Budaya Lingga.
Au-some Able Place: penyembuhan autisme melalui perancangan bangunan yang berkelanjutan Tampubolon, Maylan Naomi; Ginting, Salmina Wati
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 7 No. 2 (2024): Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v7i2.1003

Abstract

Saat ini disabilitas autism bukanlah menjadi suatu disabilitas yang langka. Autisme merupakan suatu keadaan di mana terdapat kelainan yang terjadi pada jaringan otak. Salah satu masalah keterlambatan penanganan anak autistic terutama di Indonesia adalah masih banyaknya orang tua dan masyarakat umum belum mengerti dan memahami gejala-gejala awal autisme sehingga penanganan yang didapat anak menjadi terlambat. Hal ini dikarenakan kurangnya fasilitas yang mewadahi baik orangtua ataupun penyandang autistic dalam mencari informasi mengenai penyakit ini., ruangan yang tidak mendukung proses terapi, serta organisasi ruang yang menyulitkan anak beradaptasi.  Oleh karena itu, melalui studi literatur, studi lapangan, dan pengolahan hasil analisa tapak dan konsep desain yang telah dilakukan dapat didesain sebuah Pusat Terapi Anak Penyandang Autisme Kota Medan dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan yang memperhatikan tata peletakkan organisasi ruang dengan zonasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna untuk menciptakan lingkungan yang kondusif terutama pada kegiatan pembelajaran dan terapi dengan memperhatikan integrasinya dengan lingkungan sekitar, desain interior yang mendukung kegiatan terapi dan pengguna lainnya, pemilihan material yang kuat dan aman, pemilihan warna pada eksterior dan interior bangunan, hingga peletakan bukaan yang merespon tapak. Diharapkan desain ini mampu menjadi wadah yang memfasilitasi anak autisme untuk memperoleh penyembuhan dan ilmu bagi khalayak umum.
RASA KEPEMILIKAN: PENERAPAN KONSEP 'HOME' DI PANTI ASUHAN Pratama, Muhammad Bayu; Ginting, Salmina Wati
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 7 No. 2 (2024): JAUR April
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v7i2.11666

Abstract

Orphanages are responsible child protection institutions that safeguard children's rights and act as substitutes for parents. The problem lies in the proliferation of illegal and unfit orphanages. This study investigates various strategies and approaches used in providing inclusive caregiving environments aimed at creating a place where children feel comfortable. By examining the implementation of the "home" concept in orphanage settings, this journal highlights the importance of improving emotional well-being and meeting the unique needs of each child. The "Home" concept in orphanage design aims to create an environment that resembles a real home for the children residing there. This can be achieved through architectural designs that prioritize functional and ergonomic spaces, the use of warm colors, and adequate lighting. The selection of furniture and interior decorations also plays a crucial role in creating a comfortable and personal atmosphere. By implementing the "home" concept in orphanage design, it is expected that children living there can experience a sense of comfort, warmth, and security similar to being in their own homes. This concept not only creates an optimal environment for the growth and development of children but also fosters strong emotional bonds between children and their surroundings.
Perubahan Ruang dan Identitas Arsitektur: Refleksi Filosofis Ginting, Salmina Wati
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.3749

Abstract

Perubahan ruang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan arsitektur, namun implikasinya terhadap identitas arsitektur masih jarang dibahas secara filosofis. Artikel ini bertujuan menganalisis hubungan antara perubahan ruang dan identitas arsitektur melalui perspektif filsafat arsitektur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis konseptual terhadap karya-karya mengenai filsafat identitas, filsafat arsitektur, fenomenologi ruang, serta arsitektur tradisional Melayu. Analisis dilakukan melalui identifikasi konsep, analisis komparatif, dan sintesis konseptual untuk menjelaskan hubungan antara organisasi ruang, pengalaman berhuni, makna budaya, dan identitas arsitektur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang merupakan atribut fundamental identitas arsitektur karena organisasi spasial membentuk pengalaman berhuni yang menghasilkan makna budaya. Oleh karena itu, perubahan ruang tidak secara otomatis mengubah identitas arsitektur, tetapi berpotensi mentransformasikannya ketika perubahan organisasi ruang mengubah pengalaman berhuni dan makna budaya yang menopang identitas tersebut. Rumah Melayu digunakan sebagai refleksi konseptual untuk menunjukkan bahwa keberlanjutan identitas tidak hanya ditentukan oleh bertahannya bentuk fisik, tetapi juga oleh keberlanjutan hubungan spasial yang membentuk pengalaman berhuni. Artikel ini menawarkan perspektif konseptual yang menempatkan organisasi ruang sebagai penghubung antara dimensi fisik dan sosial-budaya dalam memahami transformasi identitas arsitektur.