Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Religious and sustainability: Studi integrasi antara pentakostalisme, populisme, dan politik Sitorus, Pontus; Pasaribu, Jonias
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.487

Abstract

As part of the world community, Pentecostals must consider their role in achieving the Sustainable Development Goals (SDGs). This role must be carried out in various aspects, including socio-political with a populism approach to unify the identity of Pentecostalism. This research integrates Pentecostalism, politics, and populism to achieve sustainable development. The research method used is descriptive qualitative with a constructive theological approach. The research results show that Pentecostalism populism in politics has a cheerful face in efforts to achieve sustainability. The universalism of the Sustainable Development Goals (SDGs) must be combined with a more internal view and involve the Pentecostal community in the struggle for hegemony over the concept of sustainable development. Populism, which often mobilizes support through emotional issues and religious identity, can be integrated with sustainability strategies through religious communities providing spiritual and moral support. Integration between Pentecostalism, populism, and politics to achieve effective and inclusive sustainable development while recognizing the challenges and need for adaptation in the face of global social, political, and economic change. AbstrakPentakostal sebagai bagian dalam masyarakat dunia ditantang untuk memikirkan peranannya dalam mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Peranan tersebut mesti dilakukan dalam berbagai aspek, termasuk sosial-politik dengan pendekatan populisme sebagai sarana pemersatu identitas Pentakostalisme. Tujuan penelitian ini adalah mengintegrasikan antara Pentakostalisme, politik, dan populis sebagai sarana untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi konstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populisme Pentakostalisme dalam politik berwajah positif dalam upaya mencapai sustainability. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB harus dipadukan dengan pandangan yang lebih internal dan melibatkan komunitas Pentakostal dalam perjuangan mendukung dan menolak hegemoni atas konsep pembangunan berkelanjutan. Populisme, yang seringkali memobilisasi dukungan melalui isu-isu emosional dan identitas religius, dapat diintegrasikan dengan strategi keberlanjutan melalui komunitas agama yang menyediakan dukungan spiritual dan moral. Integrasi antara Pentakostalisme, populisme, dan politik sebagai sarana untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang efektif dan inklusif, sambil mengakui tantangan dan kebutuhan adaptasi dalam menghadapi perubahan sosial, politik, dan ekonomi global.
Teologi relasional 4.0: Membangun kesehatan mental melalui komunitas digital kristiani di era post-truth Pasaribu, Jonias
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1165

Abstract

This research examines the development of a relational theology model that addresses mental health challenges in the digital and post-truth era. Through a practical theology approach and phenomenological analysis, this article argues that Christian digital communities can serve as effective therapeutic spaces for building mental wholeness. Research findings suggest that Trinity-centered relational theology 4.0 can offer a robust epistemological foundation to counteract mental fragmentation resulting from disinformation and digital isolation. The proposed model integrates principles of digital pastoral care, virtual ecclesiology, and contextual hermeneutics to create communities that support their members' mental health. This research contributes to the development of contemporary practical theology relevant to digital reality, providing constructive alternatives to destructive post-truth narratives.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi pengembangan model teologi relasional yang responsif terhadap tantangan kesehatan mental di era digital dan post-truth. Melalui pendekatan teologi praktis dan analisis fenomenologis, artikel ini mengargumentasikan bahwa komunitas digital Kristiani dapat menjadi ruang terapeutik yang efektif untuk membangun keutuhan mental. Temuan penelitian menunjukkan bahwa teologi relasional 4.0 yang berpusat pada Trinitas dapat memberikan fondasi epistemologis yang kokoh untuk melawan fragmentasi mental akibat disinformasi dan isolasi digital. Model yang diusulkan mengintegrasikan prinsip-prinsip pastoral care digital, eklesiologi virtual, dan hermeneutika kontekstual untuk menciptakan komunitas yang mampu menopang kesehatan mental anggotanya. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi praktis kontemporer yang relevan dengan realitas digital dan memberikan alternatif konstruktif terhadap narasi post-truth yang destruktif.