Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Exploring the Qualities of Ibadurrahman: Insights from Surah Al-Furqan 63-77 in Tafsir Al-Munir by Wahbah Az-Zuhaili Br Munthe, Rizki Marliana; Sahrin, Abu
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29412

Abstract

The concept of Ibadurrahman in the Qur'an, especially in Surah Al-Furqan verses 63-77, offers profound moral and spiritual guidance for Muslims. In this modern era, when social, moral and spiritual challenges are increasingly complex, the characteristics of Ibadurrahman which reflect noble morals and submission to Allah become very relevant. Therefore, this study aims to examine the concept of Ibadurrahman in the Qur'an in Surah Al-Furqan verses 63-77 through the interpretation approach of Al-Munir by Wahbah Az-Zuhaili. This study uses a library research method using a content analysis approach. The results of this research show that Ibadurrahman is not only a group of servants of God with commendable qualities, but is also an example for humanity in living a life of noble character. The characteristics of 'Ibadurrahman according to al-Munir's interpretation include tawadhu, gentleness, diligent in offering night prayers (Tahajud), fear of the punishment of Allah SWT, fair in giving, avoiding polytheism, killing and adultery, avoiding false testimony or speaking lies, receive advice, and pray wholeheartedly to Allah SWT. So as servants we are required to be able to implement the characteristics of 'Ibadurrahman. Konsep Ibadurrahman dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Furqan ayat 63-77, menawarkan panduan moral dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Di era modern ini, ketika tantangan sosial, moral, dan spiritual semakin kompleks, karakteristik Ibadurrahman yang mencerminkan akhlak mulia dan ketundukan kepada Allah menjadi sangat relevan. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep Ibadurrahman dalam Al-Qur’an pada surah Al-Furqan ayat 63-77 melalui pendekatan tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan pendekatan content analysis (analisis isi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ibadurrahman bukan hanya sekelompok hamba Allah dengan sifat terpuji, tetapi juga menjadi teladan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan yang berakhlak mulia. Adapun ciri-ciri sifat ‘Ibadurrahman menurut tafsir al-Munir yakni diantaranya tawadhu, lemah lembut, rajin mendirikan shalat malam (Tahajud), takut dengan adzab Allah Swt, adil dalam berinfak, menjauhi syirik, membunuh, dan zina menjauhi persaksian palsu atau berbicara dusta, menerima nasihat-nasihat, serta berdoa dengan penuh hati kepada Allah Swt. Sehingga sebagai seorang hamba kita dituntut agar mampu mengimplementasikan ciri dari sifat ‘Ibadurrahman tersebut.
Harmoni dalam Keberagaman: Peran Pura Agung Swamandala dalam Memperkuat Relasi Islam-Hindu Hayati, Nur; Sahrin, Abu
Jurnal Perspektif Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Perspektif
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jp.v9i2.355

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika hubungan antarumat beragama Islam dan Hindu di Dusun IV KNPI, Desa Damuli Kebun, dengan menyoroti peran Pura Agung Swamandala sebagai ruang sosial yang berkontribusi dalam menciptakan kehidupan harmonis antaragama. Pendekatan kualitatif digunakan dalam studi ini dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam dilakukan terhadap dua tokoh agama Hindu dan Islam, serta dua anggota masyarakat dari masing-masing agama karena dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai hasil penelitian ini, sertastudi pustaka yang mendukung temuan penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pura Agung Swamandala tidak hanya menjadi tempat ibadah eksklusif bagi umat Hindu, tetapi juga terbuka bagi masyarakat lintas agama yang ingin berkunjung, belajar, dan berinteraksi. Masyarakat Muslim sebagai mayoritas turut aktif dalam berbagai kegiatan yang berlangsung di pura, seperti membantu saat acara keagamaan, menjaga keamanan, hingga memasak dan menyambut tamu. Sebaliknya, umat Hindu juga menunjukkan resiprokalitas melalui keterlibatan dalam kegiatan keagamaan umat Islam, seperti perayaan Maulid Nabi, Idul Fitri, dan kegiatan sosial lainnya.Nilai-nilai seperti Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan Vasudhaiva Kutumbakam menjadi landasan spiritual yang mendorong umat Hindu untuk hidup seimbang dan menghormati sesama, sedangkan umat Islam menunjukkan prinsip saling tolong-menolong dan keterbukaan.
Program Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam Pembinaan Politik Masyarakat Kabupaten Deli Serdang Hidayat, Pika Hapnijar; Arifinsyah, Arifinsyah; Sahrin, Abu
Polyscopia Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/polyscopia.v3i2.1658

Abstract

This study explores the political education program of the United Development Party (Partai Persatuan Pembangunan/PPP) in Deli Serdang Regency and its role in shaping the political awareness and participation of local communities. The research is driven by the question: How does PPP contribute to political socialization and civic engagement in Deli Serdang through its political outreach and organizational strategies? Employing a qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews with PPP officials, community members, and political observers, as well as document analysis of party programs and local government reports. The findings reveal that PPP’s political programs—such as public forums, youth engagement activities, and religious-cultural events—have provided a structured platform for increasing political literacy, fostering democratic values, and promoting civic responsibility among constituents. However, the impact of these programs varies across demographic groups and is often constrained by limited resources and partisan fragmentation. The study concludes that while PPP's initiatives have contributed meaningfully to community-level political development, greater institutional support and broader participation are essential for sustained impact and inclusivity in the political process.
Masa Depan Partai Politik Islam di Kota Medan : (Dinamika Koalisi Dalam Pilkada Medan 2024) Muthahhari, Murtheza; Sahrin, Abu
Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama Vol 9 No 2 (2024): Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat IAIN Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/almabhats.v9i2.6710

Abstract

Abstract: Low voter participation and the shifting strategic role of Islamic political parties in the Medan mayoral election reflect structural problems within local democracy. This study analyzes how coalition pragmatism and a political recruitment crisis create a cycle that systematically erodes public trust. Employing a qualitative methodology with a case study approach in Medan City, data were collected through in-depth interviews, observation, and document analysis. The findings reveal a "Cycle of Democratic Erosion," wherein the dominance of pragmatic politics and oligarchy triggers a recruitment crisis, resulting in transactional coalitions and low-quality candidates, which in turn foster public apathy. The main finding is that paradoxically, low voter turnout reinforces the elite status quo by reducing accountability, thereby perpetuating this cycle. Improving local democracy requires comprehensive rather than partial interventions, with fundamental reforms in party internal recruitment systems identified as critical steps to break the cycle, improve candidate quality, and restore public trust in the democratic process. Abstrak: Rendahnya partisipasi pemilih dan pergeseran peran strategis partai politik Islam dalam Pemilihan Walikota Medan mencerminkan masalah struktural dalam demokrasi lokal. Penelitian menganalisis bagaimana pragmatisme koalisi dan krisis perekrutan politik menciptakan siklus yang secara sistematis mengikis kepercayaan publik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Kota Medan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan adanya "Siklus Erosi Demokrasi" di mana dominasi politik pragmatis dan oligarki memicu krisis perekrutan, menghasilkan koalisi transaksional dan kandidat berkualitas rendah, yang kemudian menumbuhkan sikap apatis publik. Temuan utama adalah jumlah pemilih yang rendah secara paradoks memperkuat status quo elit dengan mengurangi akuntabilitas, sehingga melanggengkan siklus tersebut. Perbaikan demokrasi lokal juga memerlukan intervensi komprehensif, bukan parsial, dengan reformasi mendasar pada sistem rekrutmen internal partai sebagai langkah kritis untuk memutus siklus, meningkatkan kualitas kandidat, dan memulihkan kepercayaan publik dalam proses demokrasi.
Demokrasi dalam Dunia Islam Perspektif Al-Mawardi Sahrin, Abu; Munandar, Munandar; Adnir, Farid
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 5 (2024): Journal of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i5.1471

Abstract

Sebelum demokrasi berkembang di dunia Barat (Eropa), sekitar abad 18, di Dunia Islam Al Mawardi telah menulis tentang demokrasi di dalam buku monumentalnya Al-Ahkam Al Sulthaniyah, begitu juga tentang teori-teori dan unsur-unsur demokrasi seperti Eksekutif, legislatif dan yudikatif. Untuk eksekutif Al Mawardi menyebutnya dengan Al Imamah, Legislatif- Ahlul Halli wal Aqdi, sedang untuk Yudikatif ia sebut dengan Al-Muhakamah. Tentang pengangkatan seorang pemimpin Al Mawardi menyatakan sebaiknya dipilih, begitu juga wakil rakyat, dan pimpinan daerah seperti gubernur yang ia sebut dengan Amir haruslah dipilih. Sedang pengangkatan seorang yudikatif Imamlah yang mengangkatnya. Seorang Imam (Kepala Negara), tugasnya haruslah dibatasi jika tidak ia akan berbuat sewenang-wenang (otoriter), jika itu terjadi maka Imam boleh dilengserkan. Sebelum imam berkuasa ia terlebih dahulu dibaiat dan melakukan kontrak sosial dengan rakyat yang dipimpinnya, jika janji dan kontraknya ia langgar maka, Imam boleh diberhentikan dan diganti dengan yang lain.