Purnama, Tetti Eka
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Degradasi budaya tolong menolong Pasingkopkon dalam acara Marolek Kampung Fadila, Nurul; Indrawadi, Junaidi; Bakhtiar, Yusnanik; Purnama, Tetti Eka
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 4 No. 2 (2024): Eighth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v4i2.480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk degradasi budaya tolong menolong pasingkopkon di Nagari Padang Mantinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman serta mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya degradasi budaya tolong menolong. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Informan ditetapkan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik dan alat pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Uji keabsahan data dilakukan melalui ketekunan pengamatan, member check, dan teknik triangulasi meliputi triangulasi sumber data dan triangulasi teknik. Selanjutnya analisis data dilakukan melalui redaksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian dilapangan menunjukkan bahwa tolong menolong pasingkopkon dalam acara marolek kampung di Nagari Padang Mantinggi mengalami degradasi atau penurunan. Adapun bentuk-bentuk degradasi budaya tolong menolong pasingkopkon dalam acara marolek kampung secara umum dibagi menjadi dua yakni pertama tolong menolong pasingkopkon dalam acara marolek kampung bentuk materi meliputi tolongan beras atau kelappa dan STM Siriaon. Kedua tolong menolong pasingkopkon dalam acara marolek kampung bentuk non materi meliputi tolong menolong bantuan tenaga terbagi menjadi memasak gulai kaum bapak, memasak nasi, manyaok ombu-ombu, mencuci peralatan masak kaum ibu dan memarut kelapa atau mencari buah nangka oleh pemuda. Terjadinya degradasi budaya tolong menolong tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adanya sistem penunjukan kerja, ekonomi, modernisasi, dan karakter sosial.
Kedisiplinan siswa dalam proses belajar mengajar pada Pendidikan Pancasila Nahdah Kurnia, Arinda; Indrawadi, Junaidi; Moeis, Isnarmi; Purnama, Tetti Eka
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 5 No. 1 (2025): Eleventh Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v5i1.693

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pelanggaran kedisiplinan siswa dalam proses belajar mengajar dan upaya guru dalam mendisiplinkan siswa dalam proses belajar mengajar PPKn di MAN 1 Kota Padang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Penentapan informan penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik dan alat pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan studi dokumentasi. Alat yang digunakan pedoman wawancara, alat perekam suara, kamera, dan buku catatan. Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber. Teknik analisis data dilakukan dengn cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan bahwa pelanggaran kedisiplinan oleh siswa masih terjadi. Kedisiplinan siswa dalam proses belajar mengajar PPKn dapat membuat siswa memiliki dan komitmen dalam pelaksanaan kedisiplinan dalam lingkungan sekolah atau madrasah.
Faktor penyebab respons negatif siswa terhadap praktik penanaman nilai-nilai moral di SMP Dellafebriyanti, Dellafebriyanti; Moeis, Isnarmi; Fatmariza, Fatmariza; Purnama, Tetti Eka
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 5 No. 2 (2025): Twelfth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v5i2.707

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab respons negatif siswa terhadap praktik penanaman nilai-nilai moral di SMP Negeri 2 Tilatang Kamang. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui observasi dan wawancara untuk mengumpulkan data. Informan merupakan guru dan siswa yang dipilih berdasarkan teknik Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons negatif siswa dalam bentuk pengabaian terhadap ajaran guru dalam menanamkan nilai moral dengan bersikap tidak acuh terhadap tata tertib sekolah, nasehat, teguran, bahkan sanksi yang diberikan dengan melakukan pelanggaran yang sama. Masih banyak siswa yang memberikan respons negatif yang ditandai dengan perilaku kurangnya rasa hormat, disiplin dan tanggung jawab siswa baik dalam proses pembelajaran, pemenuhan tata tertib, kegiatan rohani, dan kepedulian terhadap lingkungan. Respons negatif ini disebabkan baik dari faktor internal maupun eksternal yaang memiliki pengaruh cukup besar terhadap perkembangan moral siswa. Dampak dari respons negatif ini mencakup menurunnya kualitas moral siswa dan ketidakefektifan proses pembelajaran bagi siswa maupun guru. Penelitian ini merekomendasikan perlunya upaya kolaboratif antara guru dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penanaman nilai-nilai moral, sehingga siswa dapat merespons secara positif terhadap ajaran moral yang diberikan.
Penanaman pendidikan nilai karakter mandiri di panti asuhan Wilsandi, Afifa; Purnama, Tetti Eka; Moeis, Isnarmi; Tiara, Monica
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 5 No. 2 (2025): Twelfth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v5i2.721

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi penanaman pendidikan karakter mandiri di Panti Asuhan Alfalah Mentawai Padang, dan untuk mengidentifikasi kendala dalam penanaman pendidikan karakter mandiri tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif metode deskriptif. Informan penelitian ini ditentukan secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi penanaman pendidikan karakter mandiri di panti asuhan dilakukan melalui kegiatan yang terprogram dan kegiatan insidental. Kegiatan terprogram meliputi piket harian, mencuci dan menyetrika pakaian, gotong royong, serta kegiatan keagamaan yang dirancang secara sistematis untuk membentuk tanggung jawab, disiplin, inisiatif, dan kemandirian anak-anak. Sementara itu, kegiatan insidental seperti memperbaiki fasilitas dan menerima tamu memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan kemandirian melalui pengalaman langsung. Melalui kegiatan ini terbentuk inisiatif, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemandirian berpikir, dan keberanian bertindak, yang muncul secara spontan tanpa perintah. Selanjutnya kendala yang dihadapi dalam melaksanakan penanaman pendidikan karakter mandiri di Panti Asuhan dibagi menjadi dua aspek. Dari pihak panti, kendala mencakup perbedaan latar belakang anak, kurangnya sosialisasi dari pemerintah, keterbatasan dana dan waktu, serta tidak adanya panduan sistematis. Dari pihak anak asuh, berupa kurangnya rasa percaya diri dan ketergantungan pada pengasuh.
Makna tradisi ba-alua pada proses pertunangan Oftayanti, Nala; Dewi, Susi Fitria; Indrawadi, Junaidi; Purnama, Tetti Eka
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 5 No. 2 (2025): Twelfth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v5i2.736

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami makna tradisi ba alua pada prosesi pertunangan di Nagari Mahat. Permasalahan dalam penelitian ini muncul ketika berdasarkan data usia terlihat bahwa semakin kebawah rentang usia, semakin sedikit jumlah tokoh yang dapat menggantikan peran dalam tradisi ini. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian adalah tokoh masyarakat yang terdiri dari tokoh adat, bundo kanduang, dan tokoh pemuda yang dipilih berdasarkan teknik Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pelaksanaan tradisi ba alua pada prosesi pertunangan di Nagari Mahat adalah interaksi yang interaktif, terlihat dalam tujuh tahapan tradisi ba alua. Tujuh tahapan dalam tradisi ba alua yaitu, pertama pihak laki-laki datang kerumah pihak perempuan, kedua penyerahan kompia siriah, ketiga penyajian snack dan nasi bajamba, keempat pidato sirih, kelima ma uluan tando, keenam berdoa, dan ketujuh tahapan mintak turun. Tradisi ba alua pada prosesi pertunangan mengandung tiga makna, yaitu makna penghormatan, kerendahan hati, serta ketelitian dan kecermatan.
Membentuk Generasi Toleran: Studi Empiris Proses dan Faktor Pendorong Internalisasi Nilai Multikultural Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Purnama, Tetti Eka
Journal of Moral and Civic Education Vol 9 No 2 (2025): Journal of Moral and Civic Education
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/8851412922025917

Abstract

Indonesia is rich in cultural, ethnic, religious, linguistic, and traditional diversity. This situation demands the presence of a young generation who is inclusive, open, and respect to the differences. This article aims to analyze the process of internalizing multicultural values ​​through Pancasila and Citizenship Education (PPKn) learning at Universitas Negeri Padang. The method used in this article is descriptive qualitative. Data were obtained through interviews, observation, and documentation, then analyzed using triangulation techniques to ensure the validity of the findings. This study was conducted on PPKn students at Universitas Negeri Padang. The results show that the internalization of multicultural values ​​occurs through direct experience, personal reflection, and cross-cultural social interactions. Internal factors include motivation, self-awareness, and family background, while external factors include field experience, the role of education, and positive support in developing students' attitudes of tolerance. This attitude is characterized by increased openness, empathy, adaptability, and willingness to establish harmonious relationships amidst diversity. This study confirms that multicultural-based Pancasila and Citizenship Education learning is effective in instilling the value of tolerance. This research is limited to the internalization of values ​​in PPKn students at UNP, so the results may not be directly generalizable to other study programs or universities without further research.
Peran seni bela diri Silek Pauh dalam menanamkan nilai moral di kalangan generasi muda: Zalia, Fathihah Resky; Purnama, Tetti Eka; Indrawadi, Junaidi; Tiara, Monica
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 6 No. 1 (2026): Fifteenth Edition
Publisher : Departemen Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Hukum Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v6i1.945

Abstract

This study aims to analyze the role of the traditional martial art Silek Pauh in instilling moral values among young people, with a focus on the values of discipline and self-control that influence social behavior. This study uses a qualitative approach with a descriptive research design and was conducted at Sanggar Ranah Tigo Raso, Pauh District, Padang City. Research informants were determined through purposive sampling, consisting of Silek Pauh trainers, training participants, participants’ parents, community leaders, youth, and local residents. Data collection was carried out through observation, interviews, and documentation studies. Data validity was tested through technique triangulation, while data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that Silek Pauh plays a role as an effective form of non-formal education in shaping the moral values of young people. The values of discipline and self-control are instilled in a structured and sustainable manner through adherence to training rules, trainers’ role modeling, habituation of attitudes, as well as the internalization of Minangkabau customary values and philosophy. This process encourages the formation of responsible attitudes, the ability to manage emotions, and social awareness, which are reflected in participants’ behavior in family and community environments. These findings affirm that Silek Pauh has a significant contribution in supporting the development of young people’s character based on local cultural values.
Makna spiritualitas dan sosial dalam tradisi mandi kaek pada masyarakat Melayu Jambi Sahfitri, Lutfi; Dewi, Susi Fitria; Luthfi, Zaky Farid; Purnama, Tetti Eka
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 6 No. 1 (2026): Fifteenth Edition
Publisher : Departemen Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Hukum Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v6i1.961

Abstract

The Mandi Kaek tradition is a cultural heritage of the Jambi Malay community that contains spiritual and social values. This study aims to analyze the implementation of the tradition as well as the meanings of spirituality and social aspects contained within it for the people of Teluk Kuali Village, Tebo Regency. The research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that the Mandi Kaek tradition is still consistently practiced on the seventh day after birth, maintaining the core ritual structure, although there have been adaptations in location and variations in scale based on the family's economic conditions. The meaning of spirituality is reflected in the recitation of prayers and verses as an expression of gratitude, an effort for the baby's spiritual protection, and the inner experience of the parents. The social meaning is evident in the tradition's function as an official announcement of a new community member, a space for interaction and strengthening social ties, and the affirmation of the principle of reciprocity in community life. The Mandi Kaek tradition serves as a social glue that strengthens the cohesion and collective identity of the Jambi Malay community amidst changing times.
Etnonasionalisme pada Tradisi Serak gulo Putri Pertiwi, Amanda; Luthfi, Zaky Farid; Anggraini, Rita; Purnama, Tetti Eka
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 6 No. 1 (2026): Fifteenth Edition
Publisher : Departemen Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Hukum Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v6i1.970

Abstract

This study aims to analyze the form of ethnonationalism reflected in the Serak gulo tradition among the Indian Muslim community in Padang Selatan District, as well as to identify obstacles and efforts in maintaining the Serak gulo tradition. The Serak gulo tradition is a local wisdom that not only has religious meaning but also serves as a form of gratitude and fulfillment of vows and strengthens social solidarity. This study uses a descriptive qualitative approach with a case study method. Data collection techniques were carried out through observation, in-depth interviews, and documentation with informants consisting of Indian Muslim community leaders, tradition practitioners and surrounding communities of different ethnicities. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions using triangulation techniques to maintain data validity. The results of the study show that ethnonationalism in the Serak gulo tradition is reflected through the meaning, symbols, and stages of the tradition that emphasize the cultural identity of the Indian Muslim community. The stages of the tradition are carried out sequentially starting from collecting sugar, wrapping, reciting prayers, to the process of distributing sugar to the community. However, there are obstacles such as the distribution of sugar that is not carried out simultaneously, thus reducing the value of togetherness. Efforts made to maintain this tradition include hereditary preservation, strengthening the values ​​of togetherness, and active community involvement in every implementation.