Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DINAMIKA KUALITAS AIR PADA PEMBESARAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) SECARA INTENSIF DI PT. ANDULANG SHRIMP FARM DESA ANDULANG KECAMATAN GAPURA KABUPATEN SUMENEP JAWA TIMUR Halim, Atika Marisa; Krisnawati, Mega; Fauziah, Anna
Chanos Chanos Vol 19, No 2 (2021): Chanos chanos
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.931 KB) | DOI: 10.15578/chanos.v19i2.10229

Abstract

Litopenaeus vannamei merupakan salah satu produk perikanan terpenting di Indonesia. Sejak agroindustri udang windu di Indonesia mengalami penurunan, pengembangan vannamei menjadi alternatif yang cocok untuk kegiatan budidaya. Pengelolaan kualitas air yang baik dan tepat dapat meningkatkan produktivitas udang vannamei. Air memiliki peran penting dalam menunjang keberhasilan budidaya udang vannamei khususnya di tambak intensif. Parameter kualitas air harus dalam kisaran yang baik untuk mendukung tingkat kelangsungan hidup dan kinerja pertumbuhan udang vannamei. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika kualitas air (Litopenaeus vannamei) di PT. Andulang Shrimp Farm, Desa Andulang, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Pengukuran kualitas air yang dilakukan adalah dengan melakukan pengukuran kecerahan air, suhu, salinitas, DO, NH4+, NO2-, PO4, kepadatan plankton dan jumlah bakteri di perairan. Pengukuran kualitas air dilakukan pada tambak D1 dan D2. Berdasarkan hasil pengukuran parameter kualitas air baik parameter kimia, fisika maupun biologi, tambak D1 berhasil dipanen pada DOC 70 dengan total tonase 1413,25 ton, SR 64,05 % dan FCR 1,84. Sedangkan pada tambak D2 panen total dilakukan pada DOC 59 dengan total tonase 1027,46 ton, SR 73,01% dan FCR 1,82.
Peran Advokasi FORLIKA sebagai Mediator Jaringan Multi-stakeholder dalam Implementasi SDGs 8, 14, dan 17 di Sigending, Teluk Sulaiman Krisnawati, Mega; Amin, Khoirul; Al Farauqi, Mohammad
Journal of Community Development Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i2.1864

Abstract

Kawasan wisata Sigending Teluk Sulaiman menghadapi paradoks pembangunan. Pertumbuhan pariwisata mempercepat degradasi ekosistem laut dan belum memberi manfaat optimal bagi masyarakat lokal akibat lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Pengabdian ini bertujuan menganalisis peran advokasi Forlika sebagai mediator jaringan multi pemangku kepentingan dalam mendukung implementasi SDGs 8, 14, dan 17 di kawasan ekowisata Sigending Teluk Sulaiman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil observasi menunjukkan bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan masih bersifat terbatas dan transaksional. Forlika berperan sebagai mediator melalui strategi advokasi enabling, networking, framing, dan representasi kepentingan komunitas. Enabling dilakukan melalui fasilitasi penerapan SK Bupati yang memberi legal standing pengelolaan kawasan lindung seluas 1.461,85 ha. Networking diwujudkan melalui kolaborasi vertikal dan horizontal dengan pemerintah serta lembaga donor. Framing dilakukan dengan menerjemahkan isu konservasi ke dalam pendekatan ekonomi berbasis realitas lokal. Representasi diwujudkan dengan memperjuangkan kepentingan komunitas pesisir. Intervensi konkret meliputi penanaman 250.000 pohon mangrove, pemberdayaan ekonomi produktif bagi 75 persen kelompok perempuan, pelatihan keterampilan pariwisata, dan pembentukan patroli kawasan berbasis masyarakat. Forlika berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal melalui diversifikasi mata pencaharian, konservasi ekosistem pesisir melalui penetapan zona lindung dan rehabilitasi mangrove, serta penguatan kemitraan multi pemangku kepentingan. Namun, keberlanjutan model ini terhambat oleh ketiadaan forum koordinasi yang terlembaga, ketergantungan pada pendanaan eksternal, dan keterbatasan data kuantitatif. Menegaskan perlunya penguatan koordinasi, diversifikasi pendanaan, sistem pemantauan berbasis data, dan manajemen daya dukung kawasan.