Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Students' Difficulty In Learning Tenses Hasibuan, Agus Salim; Hutagalung, Rahmad Rizki; Lestari Pane, Tiara Indah; Fadillah, Wisnu; Lubis, Yani
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 1, No 11 (2024): June
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11449249

Abstract

English is an international language used by many foreign countries. In Indonesia, there is very little interest in the use of English because many people, especially students, are reluctant to learn English. To be able to learn English, you need to know the basics to make it easier to understand the lesson in question. Tenses are an example of the basic forms of learning in English. Through tenses, we can differentiate sentence forms by adjusting the time specified. The use of tenses also adapts to the time when used in conversation. By understanding tenses as the basis for mastering English, it will make it easier to communicate with foreign citizens, make it easier to get information related to education in English so that the insight we gain does not only come from our own country's language but we have insight from abroad. Very few people really understand mastery in learning tenses. This is because the delivery of the material is less interesting, so students are also reluctant to express their interest in English. For this reason, we gathered several students to find out the extent of their understanding of tenses. Having a discussion will make your peers understand more about learning that is not understood in class. Through peers it is possible to gain more efficient understanding
MENGANALISIS JENIS-JENIS RAPAT DI SMP IT AS-SHIDDIQIN Fadillah, Wisnu; Azzahra, Syahida; Br Siagian, Elvi Rizki Hidayati; Darmansah, Tengku
Journal of Community Devation Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : CV. Arsy Persada Quality

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63736/jcd.v2i2.686

Abstract

This study aims to identify and analyze the types of meetings conducted at SMP IT Ash-Shiddiqin as part of institutional management in an integrated Islamic education setting. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observations, and documentation involving key informants from the school environment. The findings reveal two main types of regularly held meetings: weekly and monthly meetings, along with several specific meetings such as curriculum and activity planning meetings. Each meeting varies in structure, frequency, and purpose based on the school’s managerial needs. Weekly meetings focus more on internal coordination and evaluation within the junior high school level, while monthly meetings involve all educational units under the foundation. Meeting effectiveness is determined by the clarity of the agenda, active participation of members, and systematic follow-up documented through official minutes. The results indicate that successful meeting management depends not only on how often meetings are held but also on the quality of the process and the involvement of all school stakeholders. This study recommends a more structured system of classification and documentation to optimize the strategic function of meetings in achieving educational objectives.
MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA DALAM MENDUKUNG KEGIATAN PEMBELAJARAN DI PESANTREN DARUL FALAH Daula, Anysah Daula; Fadillah, Wisnu; Fadillah, Raja Nazira Tasya; Iqbal, Muhammad
Journal of Community Devation Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : CV. Arsy Persada Quality

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63736/jcd.v2i2.688

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis manajemen sarana dan prasarana dalam mendukung kegiatan pembelajaran di Pesantren Darul Falah Aek Songsongan. Fokus utama kajian ini adalah menelusuri proses perencanaan, pengadaan, pemanfaatan, pemeliharaan, hingga evaluasi sarana dan prasarana yang dilakukan di lingkungan pesantren, serta dampaknya terhadap efektivitas pembelajaran santri. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sarpras dilakukan secara partisipatif dengan mengedepankan nilai-nilai religius dan semangat gotong royong, meskipun belum didukung sistem administrasi yang terdokumentasi secara formal. Keterbatasan dana dan fasilitas disiasati melalui swadaya masyarakat, infak santri, serta bantuan dari alumni dan donatur. Pengelolaan sarpras yang berbasis nilai tersebut terbukti mampu mendukung kenyamanan belajar dan keberlangsungan kegiatan pendidikan, meskipun masih terdapat kelemahan pada aspek evaluasi dan fasilitas digital. Temuan ini merekomendasikan perlunya pengembangan sistem dokumentasi, pemanfaatan teknologi informasi, dan perluasan jejaring kemitraan agar pengelolaan sarpras menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan dalam konteks pendidikan pesantren.
Pembelajaran Berbasis HOTS dalam Menumbuhkan Keaktifan Belajar Siswa di Kelas Fadillah, Wisnu; Fujianti, Nazila; Fadillah, Agum Nur; Lubis, Artika; Sipahutar, Mirna Rismala Rosi Raihan; Darajah, Zakiyah; Daulay, Nurika Khalila
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran berbasis HOTS merupakan pembelajaran yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Mengembangkan pemikiran kritis menuntut latihan, menemukan pola, menyusun penjelasan, membuat hipotesis, melakukan generalisasi, dan mendokumentasikan temuan-temuan dengan bukti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inovasi pembelajaran yang dilakukan yaitu dengan menerapkan pembelajaran berbasis HOTS berdampak pada meningkatkan minat dan semangat belajar para peserta didik di kelas. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode fenomenologi yang hasilnya berasal dari wawancara dengan guru-guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan berpikir kritis siswa yaitu refleksi pembelajaran, dan penerapan pembelajaran HOTS yang baik dapat memengaruhi keaktifan siswa dan hasil belajar siswa. Pembelajaran berbasis HOTS dilakukan guna untuk meningkatkan kualitas pola fikir peserta didik supaya lebih kritis dalam berfikir, mampu menyelesaikan suatu permasalahan mulai dari yang rendah sampai yang sulit, mendorong siswa agar mengemukakan pendapat yang dimiliki dan masih banyak lagi manfaat dari inovasi pembelajaran berbasis HOTS. Peran guru ialah sebagai pendamping peserta didik supaya kemampuan berfikir kritis peserta didik dapat terarahkan sesuai dengan proses belajar mengajar yang berlangsung.
Perencanaan dan Pengembangan Kompotensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Sekolah Dasar Negeri 060874 Medan Asri, Dwi; Fadillah, Wisnu; Siagian, Elvi Riski Hidayati Br.; Siagian, Irwansyah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Sekolah Dasar Negeri 060874 Medan, perencanaan dan pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan dievaluasi dalam penelitian ini. Perencanaan pengembangan yang sistematis dan berkelanjutan diperlukan karena kemampuan dan profesionalisme guru sangat memengaruhi kualitas pendidikan. Penelitian ini mengguna kan pendekatan deskriptif kualitatif dan mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di SDN 060874 Medan, berbagai program pelatihan dan peningkatan keterampilan digunakan untuk meningkatkan kompetensi pendidik. Namun pelatihan dan pengembangan kompotensi guru tidak signifikan dalam meningkatkan kompotensi pendidik dan tenaga kependidikan. Di karenakan beberapa hal ataupun tantangan yang di hadapi seperti, kurangnya evaluasi dan tindak lanjut setelah pelatihan,metode pelatihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan, keterbatasan waktu untuk implementasi, dan tidak ada kesesuaian materi pelatihan dengan kebutuhan.