Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

MEMORY MAKING: H.M. SOEHARTO IN THE MANDALA MONUMENT OF WEST IRIAN LIBERATION IN MAKASSAR Ilmi, Fadhilah Utami
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v12i1.165

Abstract

This research took an example of memory making by raising the role of Soeharto in the Mandala commando and the establishment of a monument located in the center of Makassar to commemorate the operation of the struggle for West Irian from the Dutch in 1961. This operation was led by General Soeharto, then it is called the Mandala Monument due to this operation’s name. There were many stories of the greatness of Mandala Operation and the Indonesian soldiers in seizing West Irian from the Dutch. This research used qualitative research with observation and literature study of data collection methods. From this research result, the researcher concluded that establishing the historical monuments functioned to commemorate the events of Indonesian history. Several monuments were also established as an appreciation, so that the role of Suharto in several movements can be remembered. The establishment of the Mandala Monument was not only to commemorate the death of the soldiers who were victim in the struggle for West Irian, but also a form of political memory towards the increasing prestige of the father of establishment in the state.
HISTPRIOGRAFI FEMINIST: PERAN PEREMPUAN DALAM MASYARAKAT DAN ISLAM A. Fadhilah Utami Ilmi Rifai; A. Fadhilah Utami Ilma Rifai
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.213 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i2.45214

Abstract

Masuk dan berkembangnya islam di Indonesia tidak menjadikan negara ini tertutup dengan banyaknya paham selain islam. Salah satu paham yang menjadi sangat menarik yaitu feminis pada kalangan perempuan. Menarikanya bahwa keragaman agama, budaya dan perspektif menjadikan paham feminis tumbuh dan berkembang dengan berbaur dengan hal tersebut. Hal yang menarik bahwa dalam melihat perempuan lokal bagaimana paham ini dapat menjadi sebuah paham yang mengerti bagaimana perempuan sejak dahulu menjadi salah satu dasar dan tombak dalam mengusir penjajah dibeberapa daerah. Salah satu rujukan yang terlihat adalah pemrempuan dari Sulawesi Selatan. Bagi beberapa suku yang berada di Sulawesi Selatan, perempuan merupakan sebuah simbol besar yang menjadi identitas mereka. Dalam tulisan ini, penulis akan fokus mengunakan konsep historiografi dan antropologi dalam aspek perumpuan lokal dalam perspektif feminis dan pandangan islam didalamnya. Dalam melihat kajian tentang perempuan lokal mungkin telah banyak dibahas akan tetapi, dalam tulisan ini penulis akan tetap berfokus pada bagaimana pandangan islam dan feminis berbaur dan menjadi satu pada perempuan lokal sejak dulu hingga saat ini yang mungkin terjadi akibat adanya akulturasi.Kata Kunci: Perempuan Lokal, Feminis, Padangan Islam
Transisi Sosial Budaya Adat Pernikahan Suku Bugis Di Makassar 1960 A. Fadhilah Utami Ilmi R.
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 1 No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.673 KB) | DOI: 10.22146/jwk.767

Abstract

Berkembangnya pendidikan di Kota Makasar pada tahun 1960 mampu merubah budaya adat pernikahan Suku Bugis yang sangat mahal dan tatacara yang rumit menjadi lebih sederhana. Tata cara pernikahan yang rumit dan mahal tersebut dipengaruhi oleh ideologi adat pernikahan yang sangat memperhatikan “Siri” yang berarti harga diri dan “Messe” yang berarti peduli pada orang lain. Pernikahan Adat Bugis harus melalui berbagai tahapan yaitu Mammanu ‘manu’ yaitu mencarikan jodoh untuk anak laki-laki, Mappese ‘pese’ yaitu menyelidiki calon pengantin perempuan, Massaro yaitu meminang, Mappetu Ada yaitu menentukan hari pernikahan, uang belanja serta mahar, Mappare Boting yaitu mengantarkan pengantin laki-laki ke pengantin perempuan dan Mapparola yaitu mengantarkan pengantin perempuan ke keluarga pengantin laki-laki. Proses ini dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan membutuhkan biaya besar. Di samping biaya tersebut pengantin laki-laki juga dibebani uang ‘Panai’ (mahar) yang sangat mahal tergantung kondisi sosial ekonomi pengantin perempuan. Studi Pustaka yang dilakukan menunjukkan majunya pendidikan di Kota Makasar yang ditandai dengan berdirinya Universitas Negeri Makasar (UNHAS) pada tahun 1956 dan Universitas Negeri Makasar (UNM) pada tahun 1961 berdampak pada majunya pendidikan masyarakat setempat dan mampu merubah pola pikir masyarakat tentang adat pernikahan. Perubahan yang terjadi adalah penyederhanaan tatacara pernikahan dan penentuan uang panai yang semakin murah.
Pekabaran Injil di Afdeeling Makassar, 1930–1950-an A. Fadhilah Utami Ilmi
Lembaran Sejarah Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.72539

Abstract

This article discusses christianization in the Makassar and Bone region between the 1930s and 1950s. This study went through three periods of reign: the Dutch Indies period, the Japanese occupation, and the Proclamation of Independence. This study applied the historical methods that employed primary sources such as Indonesia Protestant Church Archives/Arsip Gereja Protestan Indonesia (AGPI), Indonesian Church Fellowship Archives/Arsip Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (APGI), and several newspapers published during the colonial period. Dutch evangelists took the initial approach to the Muslim people in the colonial era. Behind the work of the Dutch evangelists, the problem appears. The biggest problem was the financial crisis in Makassar and Bone region and the political movement in the name of Islam. This movement often gifted difficulties for the evangelists to curried out their duties.
PERKEMBANGAN TANA TORAJA MENUJU DAERAH WISATA RELIGI 1970AN-2013 Ilmi, A. Fadhilah Utami
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 7, No. 2, June 2024
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v7i2.298

Abstract

Tana toraja merupakan salah satu daerah dengan mayoritas memeluk agama Kristen terbesar di Sulawesi Selatan. Agama Kristen masuk tahun 1913 dan berkembang bersamaan dengan kepercayaan lokal seperti aluk to dolo hingga berkembang seperti sekarang ini. Sejak tahun 1970an Toraja telah berkembang menjadi sebuah daerah wisata etnik atau agro wisata yang banyak dikenal tidak hanya di dalam negeri tetapi hingga mancanegara. Bersamaan dengan hal tersebut, penelitian ini mengkaji bagaimana proses berkembang dan bertahannya Tana Toraja sebagai sebuah daerah wisata etnik menjadi daerah wisata religi ditengah dominasi agama Kristen, adat dan budaya leluhur yang mereka pertahankan serta laksanakan. Untuk mengkaji tulisan ini, penulis menggunakan metode kajian literatur dengan sumber sekunder berupa buku-buku, essai atau jurnal yang berkaitan dengan judul atau tema. Selain itu penggunaan Teknik meta-analisis digunakan dalam menganalisis kembali sumber primer yang di dapatkan sehingga penulis dapat menghubngkan variable yang ada dengan lebih baik. Metode sejarah seperti heuristik, verifikasi sumber dan interpretasi juga digunakan dalam tulisan ini. Dari penelitian ini penulis mendapatkan kesimpulan bahwa kunjungan wisata adat yang mulai berkembang sejak tahun 1970an yang dilakukan oleh para wisatawan tersirat wisata religi. Hal ini berdasarkan dari pariwisata yang ditawarkan oleh Tana Toraja seperti rumah adat, makam dan acara adat. Kunjungan para wisatawan ke Tana Toraja dengan tujuan untuk menikmati wisata adat seperti rumah Tongkonan yang merupakan rumah adat masyaratat Tana Toraja, kuburan batu hingga menghadiri upacara Rambu Solo merupakan bagian dari agama asli atau agama lokal yang dianut oleh masyarakat Tana Toraja. Agama lokal tersebut yaitu, Aluk Todolo. Disamping agama lokal, agama samawi seperti Kristen yang menjadi agama mayoritas juga memberikan pandangan bahwa Taa Toraja sarat akan wisata religi. Hingga pada tahun 2015 telah diresmikan patung Yesus Kristus yang terletak Buntu Bunake dan pembangunan patung tersebut menambah khasanah wisata religi di Tana Toraja.