Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Personal growth initiative as a predictor of psychological distress in college students during the covid-19 pandemic Fathiyah, Amya Bunga; Mardhiyah, Sayang Ajeng
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 11 No. 1 (2023): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.431 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v11i1.20913

Abstract

This study aims to determine the role of personal growth initiatives (PGI) in psychological distress among undergraduate students during the COVID-19 pandemic. This study hypothesizes that there is a role of PGI in psychological distress among undergraduate students during the COVID-19 pandemic. Respondents in this study were 200 active undergraduate students in Indonesia. The sampling technique used was purposive sampling. The measuring instruments were the General Health Questionnaire-12 (GHQ-12) and the PGI scale. The results show that PGI had a significant role in psychological distress, with F(1.198) = 13.784, p= 0.000, R2 = 0.065, and R2 adjusted = 0.060. The regression coefficient (β = -0.175) indicated that an increase in PGI, on average, could decrease the psychological distress score by 0.175. Thus, the hypothesis proposed in this study can be accepted.
Systematic Literature Review: Dukungan Sosial sebagai Pilar Kesejahteraan Psikologis Lansia Fathiyah, Amya Bunga; Seniati, Ali Nina Liche
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i1.14231

Abstract

The increasing number and proportion of the elderly population in Indonesia, reaching one in 10 Indonesians, has led to various challenges, including economic slowdown, demographic imbalance, limited adoption of healthy lifestyles, and a higher risk of depression. Additionally, older adults must cope with physical, social, and emotional changes associated with aging. This phenomenon is a global concern, as their psychological well-being is strongly influenced by the quality of social support they receive. This study integrates previous findings to provide a comprehensive understanding of the role of social support in enhancing elderly psychological well-being. Using a systematic literature review, the selection process from JSTOR and Scopus databases resulted in 10 relevant articles. The synthesis identified three key themes: (1) the function of social support in psychological well-being, (2) mechanisms for improving psychological well-being, and (3) sources of social support influencing psychological well-being. By integrating insights from multiple sources, this review highlights the impact of social support in mitigating the negative effects of aging and improving elderly well-being. These findings are expected to serve as a foundation for more effective interventions and policies to enhance the psychological well-being of older adults, particularly in addressing the challenges posed by an aging population. Peningkatan jumlah dan proporsi penduduk berusia lanjut di Indonesia yang berada pada angka satu dari 10 orang penduduk Indonesia menimbulkan berbagai masalah, seperti perlambatan ekonomi, ketidakseimbangan demografi, hingga meningkatnya risiko depresi. Selain itu, mereka juga harus menghadapi perubahan fisik, sosial, dan emosional akibat penuaan. Fenomena ini menjadi perhatian global, terutama karena kesejahteraan psikologis lansia sangat dipengaruhi oleh kualitas dukungan sosial yang mereka terima dari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan temuan terdahulu untuk memberikan gambaran holistik mengenai peranan dukungan sosial dalam mendukung kesejahteraan psikologis lansia. Dengan menggunakan metode systematic literature review, proses seleksi berbagai artikel dari database JSTOR dan Scopus menghasilkan 10 artikel yang memenuhi kriteria relevansi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa terdapat tiga tema utama mengenai bagaimana dukungan sosial berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan psikologis lansia, yaitu: (1) fungsi dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis; (2) mekanisme peningkatan kesejahteraan psikologis; dan (3) sumber dukungan sosial yang memengaruhi kesejahteraan psikologis. Dengan mengintegrasikan wawasan dari berbagai sumber, hasil tinjauan literatur ini berdampak pada peningkatan kesadaran akan pentingnya memperkuat jaringan sosial lansia guna meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka di hari tua. Temuan ini diharapkan menjadi acuan bagi intervensi yang lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia di masa depan, khususnya dalam menghadapi fenomena penuaan penduduk.
ALL EYES ON RAFAH: UNDERSTANDING THE INDONESIAN BOYCOTT MOVEMENT THROUGH THE LENS OF PARASOCIAL RELATIONSHIPS WITH SOCIAL MEDIA INFLUENCERS Akhmad Saputra Syarif; Amya Bunga Fathiyah
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 14, Nomor 4, Tahun 2025 (Agustus 2025)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2025.51665

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana hubungan parasosial dengan influencer media sosial membentuk niat konsumen untuk melakukan boikot terhadap produk yang terkait dengan konflik Palestina-Israel. Dengan mengacu pada Reasoned Action Approach dan teori emotional contagion, studi ini menempatkan interaksi parasosial sebagai kekuatan potensial dalam menggerakkan konsumerisme politik digital. Tujuan penelitian adalah untuk menguji apakah perasaan permusuhan memediasi pengaruh hubungan parasosial terhadap niat boikot. Menggunakan metode kuantitatif, data dikumpulkan dari 169 partisipan dan dianalisis dengan Structural Equation Modeling (SEM). Penelitian ini mengukur sejumlah konstruk utama seperti identifikasi diri, interaksi imajiner, sikap, permusuhan, dan niat boikot. Hasil menunjukkan bahwa hubungan parasosial memengaruhi niat boikot melalui dua jalur: secara langsung dari hubungan parasosial ke niat boikot, dan secara tidak langsung melalui mediasi perasaan permusuhan terhadap Israel. Temuan ini mengungkap mekanisme psikologis di balik bagaimana hubungan yang dimediasi dengan influencer dapat mendorong tindakan politik di dunia nyata. Studi ini menekankan peran penting keterikatan emosional dalam mendorong perilaku konsumsi politik dan memberikan wawasan baru mengenai bagaimana keterlibatan daring dapat mendorong aksi kolektif dalam masyarakat digital masa kini.
“Saya Tidak Mau Ikut Demonstrasi”: Collective Action terhadap Procedural Injustice Ditinjau dari Empat Tipologi Budaya Syarif, Akhmad Saputra; Fathiyah, Amya Bunga; Bahtiar, Fadhilatussyifa Auliyarahmani; Arafah, Fajriah Rahmah B; Rosalinda, Nadhifa Annisa
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3342

Abstract

This study aims to examine whether cultural typologies: vertical collectivism (VC), horizontal collectivism (HC), vertical individualism (VI), and horizontal individualism (HI), predict individuals’ intentions to engage in collective action in response to procedural injustice. The study employed a quantitative survey design involving 300 participants (67.67% female; 89% aged 18–30 years). Participants were presented with a procedural injustice vignette and subsequently completed the Individualism–Collectivism Scale (Triandis & Gelfand, 1998) and the Belief-Aligned Collective Action Scale (Cervone et al., 2023). Data were analyzed using multiple linear regression while controlling for age and gender. The findings indicate that vertical individualism significantly predicts higher intentions to engage in collective action (p < .001), whereas other cultural typologies do not show significant effects. These results suggest that individualistic orientations emphasizing competition and status differentiation may play a stronger role in motivating collective action under conditions of procedural injustice.   Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran tipologi budaya; vertical collectivism (VC), horizontal collectivism (HC), vertical individualism (VI), dan horizontal individualism (HI), dalam memprediksi intensi individu untuk terlibat dalam aksi kolektif ketika menghadapi ketidakadilan prosedural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei yang melibatkan 300 partisipan (67,67% perempuan; 89% berusia 18–30 tahun). Partisipan terlebih dahulu diberikan skenario ketidakadilan prosedural (vignette), kemudian diminta mengisi Individualism–Collectivism Scale (Triandis & Gelfand, 1998) dan Belief-Aligned Collective Action Scale (Cervone et al., 2023). Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan mengontrol variabel usia dan jenis kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya tipologi budaya vertical individualism yang secara signifikan memprediksi peningkatan intensi aksi kolektif (p < .001), sementara tipologi budaya lainnya tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa orientasi individualistik yang menekankan kompetisi dan diferensiasi status memiliki peran yang lebih kuat dalam mendorong aksi kolektif dalam konteks ketidakadilan prosedural.
PENGARUH PERSEPSI IKLIM KELAS TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA Susanto, Chandra; Bunga Fathiyah, Amya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10429

Abstract

Research on perceived classroom climate and students’ psychological well-being in Indonesia remains limited, particularly in higher education contexts and in studies using a correlational-predictive design. This study aimed to examine perceived classroom climate as a predictor of students’ psychological well-being, without drawing experimental causal conclusions. This study employed a quantitative approach with a correlational-predictive design. The participants were 150 active undergraduate students selected through simple random sampling. Data were collected using a classroom climate scale adapted from the College and University Classroom Environment Inventory (CUCEI) and a psychological well-being scale adapted from Ryff’s Psychological Well-Being Scale (RPWB). Both instruments underwent expert validation and reliability testing, with results indicating that they were appropriate for use in research data collection. The data were analyzed using simple linear regression. The results showed that perceived classroom climate positively and significantly predicted students’ psychological well-being, F(1,148) = 76.541, p < .001, with R² = .341. This finding indicates that perceived classroom climate explained 34.1% of the variance in students’ psychological well-being. Thus, the more positive students’ perceptions of the classroom climate, the higher their tendency to experience psychological well-being. This study concludes that a supportive, inclusive, and psychologically safe classroom climate plays an important role in supporting students’ well-being. The practical implication of this study highlights the need to strengthen lecturers’ competencies in building supportive classroom interactions, providing constructive feedback, and creating learning environments that are responsive to students’ psychological needs in higher education. ABSTRAK Penelitian mengenai persepsi iklim kelas dan kesejahteraan psikologis mahasiswa di Indonesia masih terbatas, terutama pada konteks pendidikan tinggi dan penggunaan desain korelasional-prediktif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji persepsi iklim kelas sebagai prediktor kesejahteraan psikologis mahasiswa, tanpa menarik kesimpulan kausal secara eksperimental. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional-prediktif. Partisipan terdiri atas 150 mahasiswa aktif tingkat sarjana yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala iklim kelas yang diadaptasi dari College and University Classroom Environment Inventory (CUCEI) dan skala kesejahteraan psikologis yang diadaptasi dari Ryff’s Psychological Well-Being Scale (RPWB). Kedua instrumen telah melalui validasi ahli dan uji reliabilitas, dengan hasil yang menunjukkan kelayakan instrumen untuk digunakan dalam pengumpulan data penelitian. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi iklim kelas secara positif dan signifikan memprediksi kesejahteraan psikologis mahasiswa, F (1,148) = 76,541, p < 0,001, dengan R² = 0,341. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi iklim kelas menjelaskan 34,1% varians kesejahteraan psikologis mahasiswa. Dengan demikian, semakin positif persepsi mahasiswa terhadap iklim kelas, semakin tinggi kecenderungan kesejahteraan psikologis yang dimiliki. Penelitian ini menyimpulkan bahwa iklim kelas yang suportif, inklusif, dan aman secara psikologis berperan penting dalam mendukung kesejahteraan mahasiswa. Implikasi praktis penelitian ini menekankan perlunya penguatan kompetensi dosen dalam membangun interaksi kelas yang suportif, memberikan umpan balik konstruktif, dan menciptakan lingkungan belajar yang responsif terhadap kebutuhan psikologis mahasiswa di perguruan tinggi.