Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KESANTUNAN BERBAHASA SISWA DALAM KEGIATAN DISKUSI PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS XI SMAN 1 BAREGBEG Adhim, Muhammad Fauzan; Herdiana, Herdiana
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8, No 1 (2024): JURNAL DIKSATRASIA JANUARI 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v8i1.8540

Abstract

ABSTRAKDalam kegiatan interaktif, perlu adanya aturan untuk mengatur peserta yang berbicara, sehingga terjalin komunikasi yang baik antara keduanya. Kaidah komunikasi dapat dilihat pada prinsip kesantunan berbahasa yang diungkapkan oleh para pragmatis (Leech, 1983: 206). Leach membagi prinsip kesopanan menjadi enam prinsip, yaitu, kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, konsensus, dan kasih sayang.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif deskriptif. Data penelitian yang digunakan berupa tuturan santun siswa dalam kelas bahasa Indonesia. Sumber data merupakan tuturan santun siswa dalam interaksi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Baregbeg. Data berupa tuturan siswa saat kegiatan diskusi berlangsung. Teknik pengumpulan data melalui teknik simak, teknik catat, dokumentasi, dan observasi langsung.Aspek yang dikaji dalam penelitian ini yaitu berkaitan dengan maksim maksim dalam kesantunan berbahasa. hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan yang dihasilkan memenuhi syarat kesantunan berbahasa. adapun maksim yang terpenuhi oleh peserta tutur yaitu, maksim kebijaksanaan yang ditunjukkan saat berdiskusi, maksim kedermawanan, maksim kerendahan hati, maksim pujian, maksim kesepakatan, dan maksim simpati.hal tersebut menunjukkan bahwa peserta tutur mampu berkomunikasi dengan santun, baik dengan guru bahkan dengan teman sejawat. teori kesantunan berbahasa dapat digunakan sebagai bahan ajar, khususnya dalam bidang komunikasi langsung dalam pembelajaran bahasa Indonesia. tujuannya yaitu untuk memperbaiki kualitas bahasa yang dimiliki remaja dan melestarikan bahasa Indonesia dari interferensi bahasa asing.
UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGANALISIS STRUKTUR DAN KAIDAH KEBAHASAAN DALAM TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI (LHO) DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) Ropiah, Hani Siti; Rochlik, Genisa Gading; Adhim, Muhammad Fauzan; Agustina, Rina; Husen, Husen
Literasi : Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya Vol 8, No 2 (2024): JURNAL LITERASI OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/literasi.v8i2.16514

Abstract

Salah satu kompetensi dasar pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) kelas X yang wajib dipahami oleh peserta didik antara lain ialah kompetensi menganalisis struktur serta kaidah kebahasaan dalam teks laporan hasil observasi. Walaupun demikian pada kenyataanya di kelas X Teknik Otomotif 4 SMKN 2 Ciamis tahun ajaran 2024/ 2025 masih ada peserta didik yang belum mampu menggapai KKTP. Untuk menangani kasus tersebut, penulis melakukan suatu penelitian.Penelitian yang dicoba bertujuan guna mengetahui dapat ataupun tidaknya model pembelajaran Problem Based Learning berbantu media pembelajaran Teka- teki Silang serta Ice Breaking Clep Boom Pen sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar dalam kemampuan menganalisis struktur serta kaidah kebahasaan dalam bacaan laporan hasil observasi di kelas X Teknik Otomotif 4 SMKN 2 Ciamis tahuan ajaran 2024/ 2025. Prosedur penelitian penulis gunakan merupakan penelitian tindakan kelas( PTK) dengan memakai teknik pengumpulan data berbentuk wawancara, metode observasi, serta metode tes.Saat sebelum pelaksanaan tindakan peserta didik yang belum menggapai KKTP sebanyak 24 orang alias 67% sebaliknya partisipan didik yang telah menggapai KKTP sebanyak 12 orang alias 33%. Sementara itu setelah terdapat tindakan pada siklus kesatu Peserta didik yang belum menggapai KKTP sebanyak 8 orang alias 22% sementara itu yang peserta didik yang telah menggapai KKTP sebanyak 28 orang alias 78%.Pada siklus kedua seluruh peserta didik 100% telah menggapai KKTP yang sudah diresmikan ialah 75.Berlandaskan uji wilcoxon dikenal jika nilai Wilcoxon hitung lebih kecil dari pada Wilcoxon tabel ialah nilai Whitung pada jumlah positif yaitu 3, 5 lebih kecil dari pada Wtabel( 116, 9) dalam taraf siginifikansi 5%( 0, 05). Sehingga bisa ditafsirkan jika data pada siklus kesatu serta kedua membuktikan terdapatnya perbedaan sehingga bisa disimpulkan terdapatnya peningkatan yang signifikan dari siklus pertama ke siklus kedua. Berlandaskan uji statistik yang sudah dicoba tersebut menguatkan hasil jika model pembelajaran Problem Based Learning berbantu media pembelajaran Teka- teki Silang serta Ice Breaking Clep Boom Pen guna meningkatkan motivasi belajar dalam kemampuan menganalisis struktur serta kaidah kebahasaan dalam teks laporan hasil observasi pada peserta didik kelas X Teknik Otomotif 4 SMKN 2 Ciamis tahun ajaran 2024/ 2025 berhasil serta bisa diterima.
Comparison of arch length and width in the angle Class II malocclusion with extraction and non-extraction in the Dental Hospital Universitas Airlangga Hamid, Thalca; Adhim, Muhammad Fauzan; Alida, Alida
Indonesian Journal of Dental Medicine Vol. 7 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Dental Medicine
Publisher : Faculty of Dental Medicine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijdm.v7i2.2024.57-59

Abstract

Background: Depending on the disparity seen, orthodontic treatments frequently take into account the possibility of tooth extraction or non-extraction. Class II Angle malocclusion cases are the specific emphasis of this study, whereas Class I Angle malocclusion patients were the focus of earlier research. Purpose: Examining how tooth extraction and non-extraction therapies affect arch length in patients with Class II Angle malocclusion is the goal. Method: Arch length was measured using pre- and post-treatment models of individuals with Class II Angle malocclusion who had extraction and nonextraction treatments. To find out if there were any notable variations, the collected data was analyzed. Results: The maxillary and mandibular arch lengths in the extraction group were significantly different before and after orthodontic treatment (p<0.05). Likewise, the the widths of the mandibular and maxillary arches before and after orthodontic treatment were significantly different (p<0.05). The maximum and arch length in the non-extraction group had a signifiant different before and after orthodontic treatment (p<0.05). Conclusion: the sagittal arch length decreased in both extraction and nonextraction treatments, the arch width decreased in extraction treatments, and the arch width increased in non-extraction treatments. In patients with Class II malocclusion, there are notable changes in the sagittal arch width and length before and after orthodontic treatment, whether extraction or non-extraction. Compared to the non-extraction treatment group, the extraction treatment group experienced more substantial alterations in sagittal arch length and width.