Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Incidence of Anemia and Its Relationship With Nutritional Status (A Study on Female Students at SMA Negeri 3 Gorontalo) Inayah, Alifya Isty; Otto, Suliyanti; Dungga, Elvie Febriani; Ibrahim, Sri Andriani; Ihsan, Maimun
Jambura Medical and Health Science Journal Vol 3, No 2 (2024): Jambura Medical and Health Science Journal
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jmhsj.v3i2.27165

Abstract

Introduction: The calibre of its human resources dramatically impacts the development of a nation. However, specific health concerns, such as malnutrition, specifically anemia, continue to impede the progress of women of reproductive age, particularly teenage girls, due to the increasing requirement for iron during puberty and menstruation. This study aims to explore the correlation between nutritional status and the prevalence of anemia in female students, specifically focusing on high school students.Method: This cross-sectional study examined the correlation between the nutritional status of female students in grade XI at SMA Negeri 3 Gorontalo from September to November 2023. Microtoise and digital scales will be employed to obtain the student's body mass index (BMI) values to evaluate their nutritional status. Anemia will be detected using a digital strip-test Hb measuring instrument, and purposive sampling will be used as the sampling technique. The Spearman rank analysis test will be used to determine the significance of the associative hypothesis.Results: The study primarily consisted of young women, with the majority being 15 years old (41.2%), possessing normal nutritional status (76.5%), and not experiencing anemia (66.7%). An intriguing correlation was discovered between nutritional status and anemia incidence among female students at SMA Negeri 3 Gorontalo (r=-0.364, p= 0.009).Conclusion: The prevalence of anemia among female students at SMA Negeri 3 Gorontalo is related to their nutritional status. It is recommended that healthcare professionals provide counselling and education on anemia, particularly for teenage girls. Keywords: Anemia, teenage girl, nutritional status.
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Gula Darah Puasa pada Peserta PROLANIS: Correlation between Body Mass Index and Fasting Blood Sugar in PROLANIS Participants Paransi, Putri Indah; Antu, Yuniarty; Otto, Suliyanti; Nur Syukriani Yusuf, Muhammad; Helma Mokoginta, Nelyan
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 1: Januari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i1.6739

Abstract

Parameter antropometri yang digunakan untuk mengevaluasi status gizi dan sering dikaitkan dengan risiko gangguan metabolik adalah Indeks Massa Tubuh (IMT). Kondisi ketidakseimbangan kadar gula darah dapat memicu penyakit kronis seperti diabetes mellitus dan hipertensi juga seringkali dikaitkan dengan IMT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara status IMT dan kadar gula darah puasa pada peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS). Dengan pendekatan kuantitatif analitik dan desain cross-sectional, penelitian ini melibatkan 41 sampel yang telah dipilih melalui kriteria inklusi dan eksklusi dengan menggunakan metode simple random sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran tinggi badan, berat badan, dan kadar gula darah puasa menggunakan alat standar. Hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan koefisien korelasi Spearman's Rank. Mayoritas responden memiliki status IMT dan kadar gula darah puasa yang melebihi batas normal. Namun, hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara IMT dan kadar gula darah puasa pada peserta PROLANIS. Penelitian lanjutan diharapkan dapat mempertimbangkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi kedua parameter ini, seperti pola aktivitas fisik, kebiasaan makan, tingkat stres, riwayat kesehatan keluarga, penggunaan obat-obatan tertentu, dan persentase lemak tubuh.
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa Darah Puasa pada Mahasiswa Sarjana Fakultas Kedokteran Sabrina, Denafa Dienia; Rahma, Sitti; Otto, Suliyanti; Karim, Cecy Rahma
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 2 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i2.649

Abstract

Parameter untuk mengetahui komposisi tubuh menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), obesitas termasuk kelompok dengan IMT tertinggi. Mahasiswa kedokteran memiliki risiko obesitas. Mahasiswa kedokteran mengalami stres berlebih dikarenakan jangka waktu studi yang lebih panjang dan dipenuhi kegiatan perkuliahan. Hal ini mengakibatkan mahasiswa kedokteran berisiko obesitas. Ketika obesitas, kadar reseptor merespons hormon insulin dengan menerima glukosa yang lokasinya di jaringan tubuh yang akhirnya kadar glukosa akan meningkat. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan IMT terhadap kadar Glukosa Darah Puasa (GDP). Jika hasil didapatkan pengaruh, maka dilakukan intervensi untuk mengatasi kadar GDP yang tinggi, termasuk pencegahan diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini bersifat kuantitatif memakai metode observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan mahasiswa Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo sebagai sampel. Pemilihan sampel dilakukan dengan memenuhi syarat inklusi dan eksklusi, menggunakan metode total sampling. Metode analisis bivariat ini bertujuan memperoleh informasi apakah ada keterkaitan antar variabel dependen dan independen, diolahnya data memakai uji Spearman Rho. Distribusi responden berdasarkan IMT mayoritas termasuk IMT kategori normal. Selanjutnya, ditempati kategori obesitas, kurus, dan berat badan berlebih. Namun, IMT kategori obesitas ini menjadi cerminan ketidakseimbangan antara asupan kalori dan pengeluaran energi. Berdasarkan penelitian, sebagian besar mahasiswa kedokteran FK UNG memiliki kadar GDP dalam rentang prediabetes, pihak institusi pendidikan disarankan mengembangkan program promotif dan preventif yang terstruktur, seperti edukasi, pemantauan rutin IMT dan GDP, serta kegiatan fisik terjadwal di lingkungan kampus. Institusi perlu mempertimbangkan kebijakan kesehatan mahasiswa yang lebih komprehensif menuju diabetes dapat diminimalkan.