Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Existence of Islamic Legal Sources: A Contrastive Study on The Legality of Maslahah Mursalah from The Perspectives of Imam Al-Ghazali and Najm Ad-Din Thufi alfan nasrullah, Achmad Muzammil
Islamic Studies Journal for Social Transformation Vol 7 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/isjoust.v7i2.6880

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep umum berkaitan dengan maslahah mursalah serta legalisasinya sebagai sumber hukum Islam menurut Imam al-Ghazali dan al-Thusi. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif diskriptif dengan jenis kajian pustaka (library research) yang menggunakan dua sumber yaitu sumber utama berupa kitab manuskrip dari imam al-Ghazali dan al-Thusi serta sumber sekunder berupa literasi-literari ilmiah seperti buku, Artikel Jurnal Nasional dan Internasional. Tekhnik pengumpulan data menggunakan pengumpulan teori dan konsep terkait topik pembahasan. Serta analisis data yang digunakan adalah analisis Kontrastif Analitis. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwasanya konsep umum dari maslahah mursalah adalah salah satu sumber hukum Islam yang disepakati oleh kalangan ulama untuk mendapat sisi maslahah pada kasus yang tidak didukung dalil oleh syara’ secara detail serta tidak menolaknya. Dan legalisasi konsep maslahah mursalah menurut imam al-Ghazali dan al-Thusi dibenarkan sebagai salah satu sumber hukum Islam. Meskipun diantara dua tokoh Muslim ini memiliki pandangan yang berbeda terkait syarat, kriteria, dan posisi kredibelitasnya dalam hirarki sumber hukum Islam
Sakralitas Séré Pénang: Simfonik Budaya dan Hukum Islam sebagai Simbol Ketahanan Keluarga di Pamekasan Alfan Nasrullah, Achmad Muzammil; Elman, Moh.; Busahwi; Mahrus
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v21i1.12405

Abstract

This research aims to capture the efforts of the Madurese people in maintaining family resilience through a cultural approach, as well as to examine the harmony and alignment between the values of the séré pénang tradition as part of the cultural approach and the principles of Islamic law. The research employs a literature review approach, utilizing scholarly sources related to the overarching themes of tradition and Islamic law. The data analysis follows an interactive analysis model. The findings indicate that Madurese people, rich in cultural, traditional, and heritage values, have adopted a cultural approach as part of their efforts to strengthen family resilience. A concrete effort in this regard is the implementation of the séré pénang Tradition, regarded as a symbol of family commitment. This tradition has positive implications for enhancing the resilience of family components to both internal and external pressures. The evaluation of the séré pénang Tradition demonstrates its alignment with the principles of Islamic law, both directly and indirectly, without conflicting with the concepts and principles of Islamic law.
INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER ISLAMI DAN NILAI-NILAI HUKUM ISLAM: TELAAH LITERATUR TERHADAP PENDEKATAN PEMBELAJARAN HOLISTIK Alfan Nasrullah, Achmad Muzammil; Muin, Abdul; Rosyid, Moh. Zaiful; Mahrus; Elman, Moh.
Cognitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 1 (2025): April
Publisher : CV. Jendela Gagasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61743/cg.v3i1.131

Abstract

This study aims to analyze the integration of Islamic character education with Islamic legal values in holistic learning context as response to educational system fragmentation separating religious aspects from practical application. Moral degradation in globalization era demands character education revitalization integrating fundamental Islamic law values as foundation for noble morals formation. Research employs qualitative paradigm with library research approach, analyzing literature through thematic analysis to identify integration patterns and key concepts. Results indicate integration can be implemented through three models: integrative thematic approach, experiential learning, and collaborative learning emphasizing direct experience and contextual problem-solving. Theoretical framework integrates ontological, epistemological, and axiological components in four levels: philosophical, theoretical, methodological, and practical with maqashid al-syariah principles as evaluation foundation. Research contributes to developing Islamic education models responsive to contemporary challenges while maintaining authentic Islamic identity, producing graduates with excellent character and deep Islamic law understanding for civil society formation.
Integrasi Ilmu Pengetahuan (Studi Kritis Tentang Konsep Islamisasi Ilmu Syed Muhammad Naquib Al-Attas Dan Ismail Raji Al-Faruqi) Alfan Nasrullah, Achmad Muzammil
CBJIS: Cross-Border Journal of Islamic Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAI Sultan Muhammad Syafiuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/cbjis.v7i2.4646

Abstract

Integrasi ilmu pengetahuan merupakan salah satu wacana sentral dalam upaya rekonstruksi epistemologi Islam kontemporer, yang direspons secara kritis oleh dua pemikir terkemuka: Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Ismail Raji Al-Faruqi. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis konsep integrasi ilmu dari kedua tokoh tersebut, dengan fokus pada persamaan, perbedaan, serta implikasi metodologisnya. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi kepustakaan yang bersifat kualitatif, menganalisis karya-karya primer dan sekunder, serta pendekatan komparatif-kritis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun sama-sama merespons hegemoni epistemologi Barat sekuler dan berkomitmen pada pengilmuan yang berakar pada worldview Islam, kedua pemikir ini menawarkan metodologi yang berbeda secara fundamental. Al-Attas menekankan proses “Islamisasi Ilmu” yang bersifat dekonstruktif dan bersifat mendasar (radikal). Bagi Al-Attas, Islamisasi dimulai dari purifikasi akal dan jiwa dari sekularisme, dualisme, dan unsur-unsur lain yang bertentangan dengan Tauhid, diikuti oleh pengisian kembali (infusion) dengan unsur-unsur kunci Islam (seperti Tuhan, wahyu, manusia, ilmu, dan agama) ke dalam kerangka ilmu kontemporer. Titik tolaknya adalah masalah ta‘rif (definisi) yang benar dalam bahasa Arab klasik sebagai medium konseptual Islam. Sementara itu, Al-Faruqi mengusulkan “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” melalui sebuah rencana kerja (Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan) yang lebih sistematis-operasional. Metodenya bersifat lima tahap: penguasaan disiplin ilmu modern, penguasaan warisan Islam, penentuan relevansi Islam bagi disiplin ilmu, analisis kreatif dan sintesis, serta penyebaran ilmu yang telah diislamisasi. Pendekatan Al-Faruqi lebih bersifat integratif-akomodatif terhadap ilmu modern, dengan tujuan mengarahkannya untuk mengabdi pada nilai-nilai dan tujuan Islam (maqashid syariah). Secara kritis, konsep Al-Attas dinilai lebih filosofis-metafisik dan menekankan aspek bahasa dan kebudayaan, sedangkan Al-Faruqi lebih sosiologis-pragmatis dengan kerangka yang lebih terstruktur. Keduanya saling melengkapi: Al-Attas memberikan fondasi filosofis yang kokoh, sementara Al-Faruqi menawarkan peta jalan aplikatif. Namun, keduanya juga menghadapi kritik, seperti tantangan implementasi praktis dalam struktur akademik yang mapan dan risiko simplifikasi dalam proses integrasi. Studi ini menyimpulkan bahwa dialektika antara pendekatan filosofis-fundamental Al-Attas dan metodologis-operasional Al-Faruqi terus menjadi pijakan penting bagi pengembangan proyek integrasi ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam saat ini.