Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penerapan Terapi Musik Pada Pasien Halusinasi Pendengaran Di Ruang Tanjung Rsud Kota Banjar Asep Riyana; Dwiyani Fauzi, Wulan; Djamiatul Maulana, Heri
Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan Mahardika
Publisher : LPPM ITEKES Mahardika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54867/jkm.v11i2.218

Abstract

Salah satu gejala yang paling umum terjadi pada pasien gangguan jiwa adalah halusinasi penegengaran terjadi ketika sistem sensori persepsi tidak mengalami rangsangan atau stimulus dari luar. Salah satu terapi nonfarmakologi yang digunakan untuk membantu mengurangi frekuensi halusinasi adalah terapi musik. Jenis terapi relaksasi ini ntuk membantu seseorang mengatur emosinya menjadi lebih tenang, dan juga dapat menyembuhkan gangguan psikologis. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk mengetahui bagaimana terapi musik dapat berpengaruh pada frekuensi halusinasi. Metode studi kasus yang digunakan adalah studi kasus deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa terapi musik dapat mengubah frekuensi halusinasi pada pasien dengan halusinasi pendengaran.
Implementasi Manajemen Kesiapsiagaan Bencana Akibat Emerging infectious Diseases (IEDs) di Kota Tasikmalaya Jawa Barat Tahun 2023 Rochimat, Imat; Djamiatul Maulana, Heri
Media Informasi Vol. 19 No. 2 (2023): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/mijournal.v19i2.342

Abstract

Latar belakang: Emerging infectious diseases (EIDs) adalah penyakit baru yang menyerang suatu populasi untuk pertama kali, seperti SARS, H7N9, dan Covid-19. Re-emerging diseases adalah penyakit lama yang muncul kembali1. Covid-19 adalah bencana non alam nasional yang masih terasa hingga saat ini. Kesiapsiagaan bencana sangat penting dalam menghadapi EIDs2 dan penelitian menunjukkan bahwa manajemen kesiapsiagaan lebih efektif dalam mengurangi dampak bencana dibandingkan dengan tanpa intervensi3. Penting untuk selalu siap menghadapi penyakit EIDs lainnya di masa depan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran implementasi manajemen kesiapsiagaan bencana kesehatan akibat EIDs dan penerimaan masyarakat terhadap program yang dijalankan. Metode Penelitian: Metode penelitian: Penelitian ini merupakan implementation research4 dengan menggunakan desain mixed methods sequential exploratory5. Pendekatan kualitatif dilaksanakan dengan metode studi kasus tipologi exploratory6, pendekatan kuantitatif dengan analisis univariat. melalui survey dengan kuesioner berdasarkan hasil kualitatif. Hasil: Analisis kualitatif dengan menggunakan NVivo 12 didapatkan hasil 2 Tema, 6 Kategori dan 34 Kode. Tema tersebut 1). Kebijakan dan implementasi program kesiapsiagaan menghadapi IEDs, 2). Potensi perbaikan program pencegahan penyakit menular akibat IEDs, Hasil analisis kuantitatif didapatkan hasil 94,2 % masyarakat menerima terhadap program kesiapsiagaan yang sedang dijalankan pemerintahan Kota Tasikmalaya melalui Dinas Kesehatan dan stakeholder yang terkait Kesimpulan:Hasil kualitatif didapatkan dua tema yaitu adanya kebijakan dan implementasi program kesiapsiagaan menghadapi IEDs dan terdapat potensi perbaikan program pencegahan penyakit menular akibat IEDs di masa depan. Acceptabilitas masyarakat terhadap program manajemen kesiapsiagaan bencana kesehatan akibat EIDs yang sedang dijalankan secara umum 94,2 % masyarakat menerima adanya program tersebut.
Optimalisasi Peran Kader Posbindu Melalui Psikoedukasi dalam Pengendalian Dm Di Puskesmas Sambongpari Kota Tasikmalaya Hartono , Dudi; Djamiatul Maulana, Heri; Cahyati, Peni; Bachtiar , Yanyan
Celebes Journal of Community Services Vol. 3 No. 2 (2024): Juni - November
Publisher : STIE Amkop Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/celeb.v3i2.1819

Abstract

Abstrak DM merupakan penyakit kronis karena ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau penggunaan insulin yang tidak efektif. Upaya strategis dalam mengendalikan resiko penyakit tidak menular mengacu pada penerapan strategi paradigma sehat dan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan posbindu. Kader posbindu mempunyai peran penting sebagai koordinator dan penggerak masyarakat dalam penyelenggaraan posbindu. Upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan kader menjadi sangat penting, salah satunya melalui pelatihan kader tentang konsep Diabetes Melitus dan pengelolaan posbindu. Metode yang dilakukan berupa pelatihan kader Posbindu kelurahan linggajaya wilayah kerja puskesmas sambongpari Kota Tasikmalaya, pada populasi berjumlah 36 orang. Analisis hasil pre-test dan post-test dilakukan dengan menggunakan teknik analisis uji normalitas data, uji univariat, dan uji bivariat. Uji normalitas data dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai kurtosis dengan Std Error. Hasil uji normalitas diperoleh nilai diperoleh nilai 0,7 dan 0,2. hal ini menunjukkan kedua variable terdistribusi data yang normal. Rerata skor pengetahuan sebelum edukasi adalah 64,83 dengan standar deviasi 7,05 dan setelah intervensi 88,06 dengan standar deviasi 4,91. Kenaikan rata-rata skor pengetahuan setelah dilakukan edukasi Diabetes Melitus sebesar 23,2 poin. Kesimpulan pelatihan kader Posbindu di kelurahan Linggajaya wilayah kerja Puskesmas Sambongpari, secara signifikan telah berhasil meningkatkan pengetahuan kader tentang penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus dan pengelolan Posbindu. Kader posbindu yang sudah dilatih diharapkan menjadi penggerak masyarakat yang efektif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan dapat berperan sebagai fasilitator dalam menyampaikan informasi edukasi kepada masyarakat luas. Abstract DM is a chronic disease due to the body's inability to produce the hormone insulin or ineffective use of insulin. Strategic efforts in controlling the risk of non-communicable diseases refer to the implementation of a healthy paradigm strategy and community empowerment through strengthening posbindu. Posbindu cadres have an important role as coordinators and community mobilizers in the implementation of posbindu. Efforts to improve the knowledge, attitudes and skills of cadres are very important, one of which is through cadre training on the concept of Diabetes Mellitus and posbindu management. The method used was training Posbindu cadres in the linggajaya village of the sambongpari health center working area of Tasikmalaya City, in a population of 36 people. Analysis of pre-test and post-test results was carried out using data normality test analysis techniques, univariate tests, and bivariate tests. Data normality test is done by comparing the kurtosis value with Std Error. The normality test results obtained values obtained values of 0.7 and 0.2. this indicates both variables are normally distributed data. The mean knowledge score before education was 64.83 with a standard deviation of 7.05 and after intervention 88.06 with a standard deviation of 4.91. The average increase in knowledge score after Diabetes Mellitus education was 23.2 points. In conclusion, the training of Posbindu cadres in Linggajaya village, Sambongpari Health Center working area, has significantly improved cadres' knowledge of Diabetes Mellitus disease management and Posbindu management. Posbindu cadres who have been trained are expected to be effective community mobilizers in improving public health and can act as facilitators in delivering educational information to the wider community.