Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Pembuatan Resin Phenol Formaldehyde Sebagai Prekursor Untuk Preparasi Karbon Berpori: Pengaruh Jenis Turunan Phenol Terhadap Karakteristik Resin dan Karbon Nuryati; Imam Prasetyo
Jurnal Rekayasa Proses Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.804 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.1896

Abstract

Resin phenolic merupakan hasil polikondensasi antara phenol (P) dengan formaldehyde (F). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan resin phenol formaldehyde yang dimodifikasi dengan menambahkan reaktan turunan phenol seperti tersier butil phenol (T), resorcinol (R) dan hidroquinon (H). Resin yang dihasilkan digunakan sebagai prekursor pembuatan karbon berpori. Reaksi polimerisasi phenol formaldehyde dilakukan dalam reaktor berpengaduk pada suhu 90oC. KOH digunakan sebagai katalisator dan reaksi berlangsung 1-3 jam. Para Toluene Sulfonic Acid (pTSA) ditambahkan sebagai katalisator crosslinking. Proses pirolisis resin dilakukan pada suhu 800oC selama 1 jam untuk menghasilkan karbon berpori. Hasil karakterisasi dari keempat jenis resin tersebut menunjukkan bahwa densitas tertinggi adalah resin PF dan resin PFT, sebesar 1,18 g/ cm3. Resin PF memiliki kekerasan tertinggi yaitu sebesar 17,20 g/mm2. Hasil karakterisasi terhadap karbon menunjukkan bilangan iodin karbon PF sebesar 862,32 mg/g dan karbon PFT sebesar 794,16 mg/g. Karbon PF dan karbon PFT memiliki luas permukaan masing-masing sebesar 836,7 m2/g dan 720,7 m2/g. Kata kunci: resin phenolic, karbon berpori, bilangan iodin, lebar permukaan Phenolic resin is the product of polycondensation between phenol (P) with formaldehyde (F). This research aims to study synthesis of phenol formaldehyde resin modified by adding the reactant in the form of phenol derivatives, such as tertiary butyl phenol (T), resorcinol (R) and hydroquinone (H). The product is applied as precursor for making porous carbon. Reaction of phenol formaldehyde was carried out in a stirred reactor at temperature of 90oC for 1 to 3 hours. KOH was used as catalyst. Para Toluene Sulfonic Acid (pTSA) was added to the resin as a cross linking catalyst. Carbonization process was carried out by pyrolysis at the temperature of 800oC for 1 hour. The results showed that PF and PFT resins had high density of 1.18g/cm3. PF resin had the hardness value of 17.2 g/mm2. The iodine number of the PF and PFT carbon was 862.3 mg/g and 794.16 mg/g, respectively. The surface area of the PF and PFT carbons were 836.7m2/g and 702.7m2/g, respectively. Keywords: phenolic resins, porous carbon, iodine number, surface area.
DEGRADASI LIMBAH ZAT WARNA DENGAN KATALIS KARBON AKTIF TEREMBAN OKSIDA BESI Shinta Amelia; Wahyudi Budi Sediawan Sediawan; Imam Prasetyo; Teguh Ariyanto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2017): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 8 2017
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.582 KB)

Abstract

Limbah zat warna dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan. Metode adsorpsi yang dianggap paling efektif untuk mengelola limbah zat warna memiliki kekurangan karena sistem ini hanya mentransfer limbah ke bahan padat dan adsorben tidak dapat di recycle. Pada studi ini, reaksi degradasi katalitik heterogen zat warna dengan sistem reaksi Fenton dilakukan untuk mengatasi limitasi metode adsorpsi. Katalis heterogen oksida besi/karbon dibuat melalui dua tahapan, yaitu impregnasi garam besi dengan metode incipient wetness dan kalsinasi pada suhu 300 °C. Loading oksida besi divariasikan dari 0.5 sampai 2% massa. Reaksi degradasi katalitik zat warna dengan katalis oksida besi/karbon dilakukan pada sistem batch dengan 200 ml larutan metilen biru (konsentrasi 20 ppm) dan penambahan 5 ml H2O2 50%v/v. Uji adsorpsi tanpa reaksi katalitik dilakukan sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa degradasi katalitik lebih efektif 31.3% dibandingkan proses adsorpsi. Degradasi metilen biru meningkat dengan naiknya katalis loading dan hasil dekolorisasi tertinggi sebesar 0.365 mmol/(gr katalis) dengan katalis 2% oksida besi/karbon. Studi ini menunjukkan bahwa degradasi katalitik dapat menjadi metode yang efektif untuk mengatasi limbah zat warna.Kata kunci: karbon aktif; oksida besi; oksidasi katalitik 
PERBANDINGAN JUMLAH PISTON CALIPER REM CAKRAM TERHADAP JARAK DAN WAKTU PENGEREMAN PADA SEPEDA MOTOR 110 CC Imam Prasetyo
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : POLITALA PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/je.v7i2.130

Abstract

Pada setiap sepeda motor caliper rem cakramnya mempunyai piston yang jumlahnya berbeda. Sehingga tingkat kepakeman rem juga berbeda, sehingga perlu adanya penelitian untuk mencari sistem pengereman yang maksimal berdasarkan jumlah piston yang digunakan. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui jarak dan waktu pengeremannya dan caliper mana yang baik digunakan ataupun yang paling maksimal kinerjanya. Dalam pengujian ini menggunakan beberapa jenis caliper yaitu caliper 1 piston, 2 piston dan 4 piston juga memberikan tekanan yang berbeda pada tuas rem sebesar 2 Kg, 3 Kg dan 4 Kg. Pada pengujian ini menggunakan alat timbangan pegas digital guna untuk menentukan tekanan pada tuas rem dan juga menggunakan stopwatch untuk menentukan waktu pengereman yang dihitung dari titik awal pengereman sampai motor berhenti. Berdasarkan hasil pengujian didapat kinerja caliper dan paling maksimal adalah caliper 2 piston karena memiliki rata-rata waktu dan jarak pengereman yang lebih rendah dari caliper 1 piston dan 4 piston. Dan yang kedua adalah caliper 4 piston karena memiliki jarak dan waktu yang cukup rendah dibandingkan dari caliper 1 piston. Dan yang terakhir adalah caliper 1 piston memiliki jarak dan waktu yang paling tinggi dibandingkan caliper 2 piston dan 4 piston. Kata Kunci : Rem, Caliper, Jarak, Waktu
PENGARUH PENAMBAHAN ZAT ADITIF PADA BAHAN BAKAR TERHADAP EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR Yoyo Saputro; Imam Prasetyo
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : POLITALA PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/je.v7i2.131

Abstract

Asap sepeda motor menjadi salah satu penyumbang polusi terbesar di kota besar tak terkecuali di Indonesia. Maka dari itu munculah beberapa macam varian untuk mengurangi polusi tersebut, termasuk zat aditif yang dicampurkan pada bahan bakar yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda diantara salah satunya yang memiliki fungsi untuk meningkatkan nilai oktan bahan bakar sehingga emisi gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan sedikit berkurang. Salah satu perusahaan ternama yaitu PT. Synergy World telah mengeluarkan produk dari Eco Racing. Dimana Eco Racing adalah sebuah produk yang berbentuk tablet yang terbuat dari bahan-bahan 100 % organik sehingga aman untuk mesin dan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan zat aditif Eco Racing terhadap kadar emisi gas buang, perbandingan variasi jumlah tablet Eco Racing yang dihasilkan terhadap kadar emisi gas buang, perbedaan emisi paling rendah yang dihasilkan dari variasi jumlah tablet Eco Racing. Hasil dari tugas akhir ini adalah kadar CO paling rendah yaitu 0,15% pada campuran bahan bakar pertalite dengan Eco Racing sebanyak 1 butir dan untuk HC yang paling rendah adalah 124 Ppm pada campuran bahan bakar pertalite dengan Eco Racing sebanyak 1 butir, emisi tererndah pada saat menggunakan bahan bakar pertalite dengan campuran 1 butir yaitu: 0,15 % CO (Carbon monoxide) dan untuk HC (Hydro Carbon) yang paling rendah adalah dengan bahan bakar pertalite dengan campuran 1 butir yaitu: 124 Ppm.
Pembuatan Resin Phenol Formaldehyde Sebagai Prekursor Untuk Preparasi Karbon Berpori: Pengaruh Jenis Turunan Phenol Terhadap Karakteristik Resin dan Karbon Nuryati; Imam Prasetyo
Jurnal Rekayasa Proses Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.1896

Abstract

Resin phenolic merupakan hasil polikondensasi antara phenol (P) dengan formaldehyde (F). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan resin phenol formaldehyde yang dimodifikasi dengan menambahkan reaktan turunan phenol seperti tersier butil phenol (T), resorcinol (R) dan hidroquinon (H). Resin yang dihasilkan digunakan sebagai prekursor pembuatan karbon berpori. Reaksi polimerisasi phenol formaldehyde dilakukan dalam reaktor berpengaduk pada suhu 90oC. KOH digunakan sebagai katalisator dan reaksi berlangsung 1-3 jam. Para Toluene Sulfonic Acid (pTSA) ditambahkan sebagai katalisator crosslinking. Proses pirolisis resin dilakukan pada suhu 800oC selama 1 jam untuk menghasilkan karbon berpori. Hasil karakterisasi dari keempat jenis resin tersebut menunjukkan bahwa densitas tertinggi adalah resin PF dan resin PFT, sebesar 1,18 g/ cm3. Resin PF memiliki kekerasan tertinggi yaitu sebesar 17,20 g/mm2. Hasil karakterisasi terhadap karbon menunjukkan bilangan iodin karbon PF sebesar 862,32 mg/g dan karbon PFT sebesar 794,16 mg/g. Karbon PF dan karbon PFT memiliki luas permukaan masing-masing sebesar 836,7 m2/g dan 720,7 m2/g. Kata kunci: resin phenolic, karbon berpori, bilangan iodin, lebar permukaan Phenolic resin is the product of polycondensation between phenol (P) with formaldehyde (F). This research aims to study synthesis of phenol formaldehyde resin modified by adding the reactant in the form of phenol derivatives, such as tertiary butyl phenol (T), resorcinol (R) and hydroquinone (H). The product is applied as precursor for making porous carbon. Reaction of phenol formaldehyde was carried out in a stirred reactor at temperature of 90oC for 1 to 3 hours. KOH was used as catalyst. Para Toluene Sulfonic Acid (pTSA) was added to the resin as a cross linking catalyst. Carbonization process was carried out by pyrolysis at the temperature of 800oC for 1 hour. The results showed that PF and PFT resins had high density of 1.18g/cm3. PF resin had the hardness value of 17.2 g/mm2. The iodine number of the PF and PFT carbon was 862.3 mg/g and 794.16 mg/g, respectively. The surface area of the PF and PFT carbons were 836.7m2/g and 702.7m2/g, respectively. Keywords: phenolic resins, porous carbon, iodine number, surface area.
Studi Ekstraksi Titanium dari Pelindian Pasir Besi Bengkulu menggunakan Larutan Asam Klorida Wanidya Niimmallaili Hadining; Imam Prasetyo; Amalia Fathia; Muhammad Zaki Mubarok
Journal of Metallurgical Engineering and Processing Technology Vol 2, No 3 (July 2022) Special Edition
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmept.v2i3.9368

Abstract

Pasir besi Indonesia yang terdapat disepanjang pantai Samudera Hindia dapat diolah untuk menghasilkan pig iron yang dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi besi baja. Kandungan titanium pada pasir besi menimbulkan permasalahan pada proses peleburan pasir besi karena dapat meningkatkan temperatur leleh terak. Permasalahan ini dapat dihindari dengan proses pengambilan titanium sebagai produk terpisah sehingga dapat meningkatkan nilai tambah pasir besi. Salah satu proses pengambilan titanium dan besi sebagai produk terpisah dapat ditempuh dengan ekstraksi menggunakan larutan asam seperti asam klorida dan asam sulfat. Studi ini dilakukan untuk menentukan kondisi optimum perolehan titanium dan besi dari pasir besi menggunakan larutan asam klorida dengan memvariasikan waktu tinggal, konsentrasi asam HCl, temperatur pengoperasian, fraksi ukuran butiran, kecepatan pengadukan, dan nisbah solid/likuid (S/L). Serangkaian karakterisasi juga dilakukan untuk mendukung hasil percobaan seperti karakterisasi awal menggunakan XRD untuk menentukan fasa senyawa dominan, XRF untuk menentukan kandungan unsur pada pasir besi secara kuantitatif, dan AAS untuk menentukan kadar elemen pada larutan hasil pelindian. Persen ekstraksi titanium tertinggi adalah 91,38% dan menghasilkan produk sampingan besi sebesar 80,72%, pada kondisi optimum proses pelindian selama 8 jam, konsentrasi HCl 8M, temepratur pengoperasian 90oC, fraksi ukuran butiran -200+350mesh, kecepatan pengadukan 300rpm, dan nisbah solid/liquid sebesar 1/20 (gr/mL).
ZnO Production from EAF Solid Waste Using Hydrothermal Methods via Oxalate Precipitation Lukman Nulhakim; Imam Prasetyo; Monna Rozana; Widi Astuti
Aceh International Journal of Science and Technology Vol 12, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Graduate Program of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/aijst.12.1.29579

Abstract

Electric Arc Furnace (EAF) waste contains 50-60% Zn. EAF waste synthesis has the potential to produce ZnO, which can be used in a variety of applications. The hydrothermal method is used in the synthesis, with time variations of 3 and 6 hours and temperature variations of 120 °C, 150 °C and 200 °C using precipitating reagents in the form of sodium hydroxide (NaOH) and oxalic acid (C2H2O4). UV-Vis spectrophotometer characterization result shows the absorbance value at 365 nm, which is the absorbance characteristic of ZnO material. The result of increasing the Zn element was revealed by XRF characterization. The XRD characterization revealed zinc oxalate dehydrates. This result depicts the hydrothermal with the oxalic acid solvent used to produce zinc oxalate dehydration at various temperatures and time variations.
Edukasi Gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Kepada Siswa SDS Midori Cikarang Selatan : Indonesia Irwati, Dwi; Dafid Kholik; Madania Iklimaturriza; Wanda Gilang Ramadhan; Imam Prasetyo
Jurnal Pelita Pengabdian Vol. 1 No. 2 (2023): July
Publisher : DPPM Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37366/jpp.v1i2.2266

Abstract

A clean and healthy environment is the most basic thing for every living thing. To create a clean and healthy environment in our environment, it is necessary to equip or instill education on the reduce, reuse and recycle movement for a clean Indonesia or commonly called the 3R movement. Especially equipping the clean Indonesia movement from an early age at the elementary school level. The provision of the 3R movement is expected to be able to prepare excellent human resources who care for a clean and healthy environment. The purpose of this research is to design and document the provision of the 3R movement for a clean Indonesia at Midori Cikarang Selatan Elementary School. The debriefing is designed in 3 stages, namely preparation, implementation, and evaluation. The results of this training are expected for each individual not to litter which can cause environmental pollution, ecosystem damage, natural disasters, and disease. Keywords: 3R, Education, Environment, Waste
PENGARUH PENERAPAN METODE AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN DI SHOPEE yasmir yasmir; Ariyanto M; Imam Prasetyo
JURNAL ILMIAH EKONOMI DAN MANAJEMEN Vol. 3 No. 2 (2025): Februari
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jiem.v3i2.3823

Abstract

This research aims to find out whether there is an influence between AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) on consumer buying interest at Shopee. The research method used in this research is a quantitative method. The population in this study are Shopee users, while the sample required in this research is 160 Shopee user respondents, with the sampling method being incidental sampling. Next, data processing uses multiple linear regression analysis using the SPSS version 21 program. The results of the t test for the Attention variable (X1) t count are 2.480 > t table 1.975, this is reinforced by a significance value of 0.00 < 0.05, so Attention has a significant effect on buying interest. Interest (X2) t count is 8.909 > t table 1.975 with a significance value of 0.00 < 0.05, so Interest has a significant effect on buying interest. Desire (X3) has a t count of 1.420 < t table 1.975, with a significance value of 0.00 < 0.05, so Desire has no significant effect on buying interest. Action (X4) has a calculated t value of 6.267 > t table 1.975, with a significance value of 0.00 < 0.05, so Desire has a significant effect on buying interest. Based on the f test calculation, the value obtained is 37.426 > from f table 2.43, reinforced by a significance value of 0.00 < 0.05, meaning it is accepted, so it can be concluded that AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) together or Simultaneous influence on buying interest.