Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA MAKASSAR MELALUI BERMAIN DRAMA SISWA KELAS VIII MTs MUHAMMADIYAH BALLO KABUPATEN TAKALAR: MAKASSAR LANGUAGE SPEAKING SKILLS THROUGH DRAMA PLAYING OF GRADE VIII STUDENTS OF MTs MUHAMMADIYAH BALLO, TAKALAR DISTRICT Atri Selviani; Hajrah; Abd Rahim
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 4 No. 4 (2025): APRIL-MEI TAHUN 2025
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v4i4.3576

Abstract

Keterampilan berbicara adalah kompetensi esensial yang perlu dimiliki siswa, termasuk dalam pembelajaran bahasa daerah seperti bahasa Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil keterampilan berbicara bahasa Makassar melalui bermain drama siswa kelas Vlll MTs Muhammadiyah Ballo Kabupaten Takalar. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Vlll MTs Muhammadiyah Ballo Kabupaten Takalar yang berjumlah 32 siswa. Penentuan sampel dalam penelitian ini adalah sampel total dengan sampel 32 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik tes pada sampel penelitian. Keseluruhan data yang diperoleh dianalisis melalui beberapa tahap : 1) membuat daftar skor mentah, 2) membuat distribusi frekuensi dan skor mentah, 3) menghitung skor keterampilan yang diperoleh Siswa, 4) Menghitung nilai rata-rata siswa, 5) Mengklasifikasikan siswa sesuai dengan acuan yang ditemukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 32 sampel ada 23 ( 72% ) siswa yang mendapatkan nilai 70-100, sedangkan siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 70-100 sebanyak 9 (28%). Dengan demikian disimpulkan bahwa Siswa kelas Vlll MTs Muhammadiyah Ballo Kabupaten Takalar dikategorikan terampil berbicara bahasa Makassar melalui bermain drama.
Transformasi Konsumsi Pangan Petani Serta Peran Inovatif Penyuluhan Pertanian di Lapangan (Studi Kasus Kecamatan Wonomulyo Polewali Mandar): The Transformation of Farmers' Food Consumption and the Innovative Role of Agricultural Extension in the Field (A Case Study in Wonomulyo District Polewali Mandar Regency) Muhdiar; Abd Rahim
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.4832

Abstract

Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang berperan penting dalam mendukung keberlanjutan hidup dan pembangunan bangsa. Pola konsumsi petani, yang dipengaruhi oleh gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan ketersediaan makanan bergizi, memainkan peran strategis dalam mencapai status gizi optimal. Namun, di Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, skor Pola Pangan Ideal (PPH) masyarakat masih relatif rendah meskipun wilayah ini memiliki potensi pertanian yang signifikan. Rendahnya skor PPH ini menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi masyarakat belum memenuhi standar keamanan, nutrisi, keseimbangan, dan keberagaman tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengidentifikasi komponen bahan-bahan makanan petani untuk mencapai konsumsi ideal mereka, (2) menganalisis peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam meningkatkan pola konsumsi rumah tangga, (3) Analisis hubungan PPL dengan pola konsumsi dalam rangka meraih Angka Kecukupan Energi (AKE). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode food recall 7x24 jam, skala likert untuk melihat tingkat peran pendampingan PPL. Analisis yang digunakan adalah analisis tingkat hubungan menggunakan rank spearman correlation analysis dan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pola konsumsi petani. Berdasarkan hasil penenlitian ditemukan bahwa beras adalah makanan pokok petani dan tahu tempe menjadi lauk utamanya. Rata-rata AKE aktual dari pola konsumsi petani adalah sebesar 1.644,42 kkal/kapita/hari dengan AKP sebesar 52,53 gram/kapita/hari. Hasil tersebut menunjukan bahwa hasil yang didapatkan masih dibawah standar. Peran edukator dengan AKE memiliki hubungan yang signifikan sementara pola konsumsi tidak memiliki hubungan dengan penyuluh karena belum meratanya penyuluhan mengenai pola konsumsi kepada petani. Food is a basic human need that plays an important role in supporting the sustainability of life and national development. Farmers' consumption patterns, which are influenced by lifestyle, socio-economic conditions and the availability of nutritious food, play a strategic role in achieving optimal nutritional status. However, in Wonomulyo District, Polewali Mandar Regency, the community's Ideal Food Pattern (PPH) score is still relatively low even though this area has significant agricultural potential. This low PPH score indicates that people's consumption habits do not meet the standards of safety, nutrition, balance and diversity. The aims of this research are (1) to identify the components of farmers' food ingredients to achieve their ideal consumption, (2) to analyze the role of field agricultural instructors (PPL) in improving consumption patterns rhouseholds, (3) Analysis of the relationship between PPL and consumption patterns in order to achieve the Energy Adequacy Rate (EAR). This research is a quantitative research using the 7x24 hour food recall method, a Likert scale to see the level of PPL's ​​mentoring role. The analysis used is relationship level analysis spearman rank correlation analysis and analysis linear regression multiple ways to find out the factors that influence farmers' consumption patterns. Based on the research results, it was found that rice is the staple food for farmers and tofu and tempeh is the main side dish. The actual average AKE from farmers' consumption patterns is 1,644.42 kcal/capita/day with AKP of 52.53 grams/capita/day. These results show that the results obtained are still below standard. The role of educators with AKE has a significant relationship while consumption patterns have no relationship with extension workers because there is not even distribution of information regarding consumption patterns to farmers.
Analysis of Factors Affecting the Financial Performance of MSMEs in the Culinary Sector in Makassar City Intan Permata Sari. R; Muhammad Azis; Abd Rahim
Al-Kharaj: Journal of Islamic Economic and Business Vol. 7 No. 4 (2025): All articles in this issue include authors from 3 countries of origin (Indonesi
Publisher : LP2M IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the factors that influence the financial performance of culinary sector MSMEs in Makassar City. The variables used in this study include Financial Literacy, Financial Management, Access to Capital, Product Innovation, Payment Gateway, Age of Business Actors, Length of Formal Education, Business Experience, and dummy variables to differentiate MSME scale categories (micro, small, and medium enterprises). The study population includes all 9,479 culinary sector MSMEs in Makassar City, with sampling using proportional stratified random sampling techniques to obtain 99 respondents. Data collection was carried out through documentation, questionnaires, and direct observation of business actors. Data analysis methods include descriptive percentage analysis, instrument testing (validity and reliability), classical assumption testing (heteroscedasticity and multicollinearity), multiple linear regression analysis, dummy variable testing, and hypothesis testing using the F test, coefficient of determination (R²), and t test. The study uses quantitative methods. The results of the study showed that the coefficient of determination (R²) value was 0.826, indicating that 82.6% of the variation in MSME financial performance could be explained by the independent variables in the model. The F test produced a calculated F value of 47.524, which was greater than the F table of 2.05, so the research model was declared significant simultaneously. Meanwhile, the results of the t test showed that all independent variables had a significant influence on financial performance because the calculated t value was greater than the t table (1.987). The dummy variable test showed that micro businesses had a lower influence on financial performance compared to small businesses, while small businesses showed a more significant and better influence than medium businesses. The results of this study indicate that business scale also determines the variation in financial performance of culinary MSMEs in Makassar City. Keywords: financial literacy, payment gateway, financial performance, culinary MSMEs, Makassar
Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif Varietas Tembakau Lokal dan Unggul Berdasarkan Karakteristik Morfofisiologis Qadri, Sri Nur; Abd Rahim; Andi Muliarni Okasa
Agritrop : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian (Journal of Agricultural Science) Vol. 23 No. 2 (2025): Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agritrop.v23i2.4406

Abstract

Upaya peningkatan kualitas dan produktivitas tembakau secara berkelanjutan memerlukan pemahaman terhadap faktor genetik dan karakter morfofisiologi tanaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan vegetatif dan generatif beberapa varietas tembakau lokal dan unggul berdasarkan karakter morfofisiologi sebagai dasar seleksi varietas adaptif berdaya hasil tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare pada Januari–Juni 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok non-faktorial dengan empat varietas, yaitu Ico Lalo, Ico Sse, Kemloko, dan Prancak-95. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter fisiologis berupa jumlah dan kerapatan stomata berbeda nyata antar varietas. Varietas Ico Lalo menunjukkan performa pertumbuhan terbaik berdasarkan kecenderungan nilai rerata karakter vegetatif dan generatif. Karakter morfofisiologi, khususnya stomata dan kandungan klorofil, berpotensi digunakan sebagai indikator seleksi varietas tembakau adaptif berdaya hasil tinggi.
Tingkat Konsumsi dan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Tani di Keurahan Takatidung Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat: Food Consumption Level and Needs of Farming Households in Takatidung Village Polewali District Polewali Mandar Regency West Sulawesi Muhdiar, Muhdiar; Pratiwi MK; Abd Rahim
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.7180

Abstract

Pangan adalah isu yang sensitif di mana asupan makanan yang bergizi sangat jauh dari ideal di beberapa negara berkembang seperti Indonesia. Pemahaman tentang keragaman makanan yang tersedia dengan berbagai alternatif untuk dikonsumsi juga sangat terbatas. Pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, berimbang dan aman adalah sesuatu yang sangat penting. Untuk itu, merancang solusi alternatif dan merekomendasikan kemungkinan bagi perbaikan pangan dan gizi pada tingkat masyarakat , khususnya petani sebagai sumber produksi sumber daya pangan. Studi ini meneliti pola konsumsi pangan pada keluarga petani yang berbasis program pemberdayaan. Riset ini dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2025 di Kelurahan Takatidung di Kecamatan Polewali, Sulawesi Barat.  Melibatkan 35 keluarga tani dan beberapa stakeholder terkait yang berhubungan dengan pangan. Kuesioner frekuensi makan yang divalidasi dan penarikan recall makan 24 jam diberikan kepada sampel total 34 keluarga petani. Analisis Deskriftif, Analisis Pola Pangan Harapan (PPH), serta Regresi Linear Berganda digunakan untuk menganalisis data.Penelitian ini juga menegaskan bahwa faktor sosial, ekonomi, budaya, pengetahuan gizi, pendapatan, jumlah keluarga, pendidikan dan usia sangat memengaruhi pola konsumsi pangan keluarga tani di wilayah penelitian. Mayoritas rumah tangga  tani menerapkan pola konsumsi yang cukup terhadap umbi-umbian, pangan hewani, sayur dan buah. Keluarga tani seharusnya dapat menerapkan pola konsumsi pangan yang ideal dengan berbagai alternatif seperti memanfaatkan pangan sumber protein, pengelolaan pangan, dan pengetahuan gizi sehingga dapat mencapai pola pangan yang ideal, makanan sehat berbiaya rendah, manajemen kelembagaan yang baik dalam merancang  penciptaan kesadaran dan program  pemberdayaan  untuk mendorong produksi pangan dan mendapatkan akses makanan bergizi. Food is a sensitive issue where nutritious food intake is far from ideal in some developing countries, such as Indonesia. Understanding of the diversity of available foods with various alternatives for consumption is also very limited. A diverse, nutritious, balanced, and safe food consumption pattern is very important, designing alternative solutions and recommending possibilities for improving food and nutrition at the community level, especially for farmers as a source of food resource production. This study examines food consumption patterns in farming families based on an empowerment program. This research was conducted from July 2025 to August 2025 in Takatidung Village in Polewali District, West Sulawesi. Involving a sampling of 35 farming families and several related stakeholders related to food. A validated food frequency questionnaire and 24-hour food recall were administered to a total sample of 34 farming families. Descriptive Analysis, Expected Food Pattern Analysis (PPH), and Multiple Linear Regression were used to analyze the data. This study also confirms that social, economic, cultural factors, nutritional knowledge, income, family size, education, and age greatly influence the food consumption patterns of farming families in the research area. The majority of farming households apply sufficient consumption patterns for tubers, animal foods, vegetables, and fruits. Farming families should be able to apply ideal food consumption patterns with various alternatives, such as utilizing protein sources, food management, and nutritional knowledge, so that they can achieve ideal food patterns, low-cost healthy food, and good institutional management in designing awareness creation and empowerment programs to encourage food production and gain access to nutritious food.
Resiliensi Petani Kemiri di Desa Kaseralau Kecematan Batulappa Kabupaten Pinrang: Adaptasi Terhadap Tantangan di Era Modern: Resilience of Candlenut Farmers in Kaseralau Village, Batulappa District, Pinrang Regency: Adapting to Chalengesin the Modern Era Sukmawati, Sukmawati; Irmayani, Irmayani; Abd Rahim
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.8029

Abstract

Petani Indonesia menghadapi tantangan multidimensi berupa konversi lahan, dominasi petani kecil, kerugian pascapanen, krisis regenerasi pemuda, dan dampak ekstrem perubahan iklim. Penelitian ini menganalisis resiliensi petani kemiri (Aleuritas maluccana) di Desa Kaseralau, Kecamatan Batulappa, Kabupaten Pinrang melalui pendekatan studi kasus kualitatif dengan pengumpulan data November 2025–Januari 2026 menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen yang melibatkan petani kemiri aktif, tokoh masyarakat, pejabat desa, serta penyuluh pertanian. Hasil menunjukkan petani memiliki pengalaman bertani 31 tahun dengan pengetahuan lokal yang kuat, namun pendapatan rumah tangga bulanan rata-rata Rp1,2 juta tidak mencukupi kebutuhan dasar sehingga strategi adaptasi utama dilakukan melalui diversifikasi tanam jagung yang menghasilkan Rp10 juta per musim. Tantangan utama meliputi fluktuasi harga, perubahan iklim berupa kenaikan suhu 0,4–0,8 °C dan pola curah hujan tidak menentu, serta keterbatasan teknologi pengupas kulit kemiri manual. Resiliensi sosiokultural yang berbasis transmisi pengetahuan antargenerasi dan solidaritas komunitas terbukti tangguh, namun resiliensi ekonomi masih lemah signifikan. Praktik pengolahan manual di Kaseralau serupa dengan petani kemiri lainnya. Penguatan institusi, adopsi teknologi tepat guna, peningkatan akses pasar, dan kemitraan pengolahan menjadi prasyarat esensial transformasi resiliensi petani menuju kemakmuran rumah tangga berkelanjutan dan kemajuan sistem pertanian kemiri. Indonesian farmers face multidimensional challenges, including land conversion, smallholder dominance, post-harvest losses, youth regeneration crisis, and extreme climate change impacts. This study analyzes resilience dynamics of candlenut (Aleuritas maluccana) farmers in Kaseralau Village, Batulappa District, Pinrang Regency using a qualitative case study approach with data collection from November 2025 to January 2026 through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis involving active candlenut farmers, community leaders, village officials, and agricultural extension workers. Findings reveal farmers possess 31 years farming experience with strong local knowledge systems yet average monthly household income of IDR 1.2 million proves insufficient for basic needs, prompting primary adaptation strategy through corn diversification, yielding IDR 10 million per season. Major challenges encompass price volatility, climate change effects, evidenced by 0.4-0.8°C temperature increase and erratic rainfall patterns, and limitations in manual candlenut peeling technology. Sociocultural resilience based on intergenerational knowledge transmission and community solidarity has proven resilient, but economic resilience remains significantly weak. Manual processing practices in Kaseralau are similar to those of other candlenut farmers. Strengthening institutions, adopting appropriate technology, improving market access, and developing processing partnerships are essential prerequisites for transforming farmer resilience toward sustainable household prosperity and advancing the candlenut farming system.