Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Program Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Kebumen Wibowo, Anggun Pria; Listyaningsih, Umi; Mulyani, Wiwik Puji; Pitoyo, Agus Joko
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v12i02.73239

Abstract

Peningkatan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan rumah yang terus dibenahi oleh pemerintah. Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) merupakan inovasi pemerintah dalam rangka memperkuat target pembangunan, kesejahteraan, pengendalian penduduk dan keluarga berencana. KKB Desa Ungaran, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah telah berdiri sejak tahun 2018 dan merupakan KKB percontohan tingkat Kabupaten. Riset ini bertujuan guna menganalisis penerapan program KKB yang telah berjalan serta menganalisis dampak program dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Informan dalam riset ini diambil dengan teknik purposif (purposive sampling). Data riset diperoleh menggunakan teknik wawancara, observasi serta dokumentasi. Langkah analisis data menggunakan analisis data dari Miles dan Huberman yang terdiri dari tahapan; reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil riset menunjukkan bahwa struktur pengurus dan program KKB Desa Ungaran telah berjalan sistematis dan rutin. Program unggulan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat diantarnya produk jahe merah instan serta Program Pangan Lesatari (P2L).
Pengetahuan Mitigasi Bencana ditinjau dari Aspek Kearifan Lokal dan Keilmuan Warga Dusun Kalipagu Nugroho, Agung; Irawan, Dedy; Wibowo, Anggun Pria
Media Komunikasi Geografi Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v26i1.88025

Abstract

Letak geografis Indonesia yang berada pada jalur cincin api dunia membuat Indonesia disebut sebagai laboratorium bencana. Hal ini menjadikan sebagian besar Indonesia rentan terhadap potensi rawan bencana. Banyumas salah satu wilayah yang tak luput dari potensi bahaya ini, terutama ancaman erupsi Gunung Slamet. Sebagai gunung berapi tertinggi kedua di Pulau Jawa, Slamet menyimpan potensi letusan yang signifikan, meski aktivitasnya tidak seintensif Merapi. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana memiliki konstruksi sendiri dalam meyikapi dan menghapi ancaman bencana. Konstruksi sosial ini berbentuk kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontruksi masyarakat akan pemahaman mitigasi bencana diliat dari kearifan sosial dan aspek keilmuan. Lokasi penelitian berada di dusun Kalipagu Kecamatan Baturraden, Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Langkah analisis data meliputi: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitigasi bencana ditinjau dari aspek keilmuan yaitu; aspek sikap dan pengetahuan, aspek sistem peringatan, aspek rencana tanggap darurat, dan aspek mobilisasi sumber daya dinilai masih dalam kategori kurang. Sedangkan dari aspek kearifan lokal, terdapat beberapa temuan yaitu penggunaan peralatan tradisional, kepercayaan pada pemuka adat serta adanya upacara adat. Pada akhirnya untuk membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana, diperlukan pendekatan yang holistik yang menggabungkan pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal. Dengan saling melengkapi, kedua jenis pengetahuan ini dapat menjadi kekuatan yang ampuh dalam mengurangi dampak bencana dan melindungi masyarakat.
Building school resilience in high-risk disaster zones: Slamet volcano eruption mitigation education and simulation Nugroho, Agung; Irawan, Dedy; Mareza, Lia; Wibowo, Anggun Pria
Community Empowerment Vol 10 No 11 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.15073

Abstract

Schools located in volcanic disaster-prone areas require high levels of preparedness, yet they are often hindered by a lack of practical training. This community service program aims to enhance the disaster mitigation capacity of the school community at SDN Kecil Munggangsari, Banyumas, situated only 8 km from the summit of Mount Slamet. The implementation utilized a participatory educational approach consisting of two stages: disaster management knowledge transfer and practical self-evacuation simulations for students and teachers. Evaluation results showed a significant surge in disaster literacy and skills. Participants' understanding of mitigation procedures increased from 11% to 100%, while practical simulation experience rose from 6% to 100%. These findings confirm that integrating routine simulations into the educational environment is highly effective in transforming theoretical knowledge into actionable life-saving skills. This program recommends the establishment of a sustainable local mitigation curriculum for schools located in primary volcanic danger zones.
PROGRAM PENCEGAHAN STUNTING MELALUI VARIASI OLAHAN DAUN KELOR BAGI KADER POSYANDU Nugroho, Agung; Untarti, Reni; Irawan, Dedy; Muryaningsih, Sri; Wibowo, Anggun Pria
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i1.36744

Abstract

Abstrak: Stunting menjadi salah satu problem kesehatan yang dialami hampir di semua negera berkembang termasuk Indonesia. Penyebab utama stunting di Indonesia meliputi pola makan yang kurang bergizi, sanitasi yang buruk, serta akses terhadap layanan kesehatan yang masih terbatas di beberapa daerah. Hal ini ditambah realita jika kesadaran masyarakat terhadap isu stunting masih tergolong rendah. Melihat hal ini tentunya perlu penanganan secara integratif melalui edukasi secara berkelanjutan serta dengan dengan meningkatkan asupan gizi melalui konsumsi makanan yang kaya akan nutrisi. Tujuan kegiatan ini yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gizi seimbang dan pencegahan stunting serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat makanan olahan sehat dari daun kelor. Program sosialisasi ini dilaksanakan dengan sasaran penerima yaitu para kader Posyandu di Desa Karangcegak, Kabupaten Purbalingga sebanyak 15 orang. Kegiatan berupa sosialisasi serta pembuatan cookies berbahan baku dain kelor sebagai salah satu inovasi makanan sehat bagi anak. Setelah pelatihan, kader menunjukkan peningkatan pengetahuan dan pengalaman pelatihan dari 40% menjadi 100%. Program ini menjadi strategi edukatif yang efektif dalam upaya pencegahan stunting di tingkat desa serta mendukung pemanfaatan potensi pangan lokal secara berkelanjutan.Abstract: Stunting is one of the health problems experienced in almost all developing countries, including Indonesia. The main causes of stunting in Indonesia include poor nutrition, poor sanitation, and limited access to health services in some areas. This is compounded by the fact that public awareness of stunting is still relatively low. In view of this, an integrated approach is needed through continuous education and by increasing nutritional intake through the consumption of nutrient-rich foods. The objectives of this activity were to raise public awareness about balanced nutrition and stunting prevention, as well as to provide knowledge and skills in making healthy processed foods from moringa leaves. This socialization program was carried out with 15 Posyandu cadres in Karangcegak Village, Purbalingga Regency as the target recipients. The activity involved socialization and the making of cookies using moringa leaves as one of the innovations in healthy food for children. After the training, the cadres showed an increase in knowledge and training experience from 40% to 100%. This program has become an effective educational strategy in efforts to prevent stunting at the village level and supports the sustainable utilization of local food potential.
Collaborative governance model in the implementation of performance-based village fund allocation in Kalibandung Village, Kubu Raya Regency Firdaus Firdaus; Herilasti Pujiningsih; Ksatriawan Zaenuddin; Helen Puspita Sari; Anggun Pria Wibowo
Priviet Social Sciences Journal Vol. 5 No. 11 (2025): November 2025
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v5i11.839

Abstract

The Ecology-based District Budget Transfer Policy (TAKE) is an ecological fiscal innovation developed to link financial transfers between government levels and environmental performance at the village level. This study aims to analyze the implementation of TAKE policies in Kalibandung Village, Kubu Raya Regency, and examine the dynamics of collaboration between actors to support performance-based environmental governance. Using a descriptive qualitative approach, this study explores the views and practices of various actors, including regional apparatus organizations (OPDs), village forest management institutions (LPHD), non-governmental organizations (NGOs), and local communities. The analysis is carried out through thematic interpretations that place the Collaborative Governance Framework and Institutional Analysis and Development as the main theoretical lenses. The results of the study show that the implementation of TAKE is influenced by four collaborative dimensions: unequal initial conditions in terms of capacity and access to information; institutional design that is still top-down without deliberative space; strong facilitative leadership at the village level but not yet sustainable at the district level; and collaborative processes that take place partially and have not been institutionalized. These findings confirm that the success of ecological fiscal policies at the local level is not solely determined by the calculation of incentives and technical indicators but by the quality of social interactions, trust, and institutional design that enable collaboration and shared learning. This study contributes to strengthening the theory of Collaborative Governance in the context of village ecological fiscal policy and provides a direction for policy reform towards participatory and sustainable environmental governance.
Relationship between education level and women's participation in family planning programs (case study in Kampung KB, Ungaran Village, Kutowinangun Subdistrict, Kebumen Regency) Anggun Pria Wibowo; Agung Nugroho; Erwando Erwando; Firdaus Firdaus; Ksatriawan Zaenuddin
Priviet Social Sciences Journal Vol. 5 No. 11 (2025): November 2025
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v5i11.860

Abstract

Uncontrolled population growth has consequences for the increase in birth rates in a region. One of the causes is low community participation, especially among women in family planning programs. This study aimed to analyze the relationship between education level and women's participation in family planning programs. The method used in this study was descriptive with a quantitative approach. The subjects of this study were all women in the fertile age couple category in Kampung KB, Ungaran Village, totaling 63. Research data were obtained through observation, questionnaire distribution, interviews, and documentation. Furthermore, the data were analyzed using descriptive analysis and the chi-square statistical test. The results of the analysis showed that there was no significant relationship between education level and women's participation in the family planning program (p = 0.069 > 0.05). These findings indicate that education is not a major determinant of women's decisions to participate in family planning programs. Most respondents with high levels of education were young PUS who had not yet planned to use contraceptives. Education continues to play an important role in increasing awareness and understanding of reproductive health, but its influence does not directly determine participation in family planning programs.