Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Concomitant Colon Adenocarcinoma And Tuberculous Lymphadenitis Arya Abisatya, Albertus Magnus; Prameswari, Ajeng Andini; Fauzi, Agung Rahmat; Febrianto, Aji Pratama; Nugroho, Alexander Steven; Andisari, Hendrata Erry; Harijono, Pandu; Yudadi, Redemptus
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 10 No. 3 (2023): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v10i3.1007

Abstract

BACKGROUND : Colon involvement in tuberculosis infection is a rare event. The coexistence of colon carcinoma and tuberculous lesions of the colon is less frequently reported. Carcinoma and tuberculosis of the colon can occur at the same site or at different sites. The occurrence of two pathologies at the same site is much less common. CASE PRESENTATION : A 52 year old woman complained of difficulty defecating, an enlarged stomach, pain and decreased appetite and weight loss within one month. On clinical examination, the abdomen appeared convex, slightly distended, and tenderness in the left lower iliac quadrant. Radiological examination supported the diagnose of partial obstructive ileus. The patient was diagnosed with adenocarcinoma of the ascending colon until the hepatic flexura was confirmed through surgery and histopathological examination. On histopathological examination, adenocarcinoma of the colon was found to coexistence with tuberculous lymphadenitis of the colon. CONCLUSION : The etiological and pathophysiological relationship between tuberculous lymphadenitis and colon cancer is still under debate, but surgeons need to be aware of this occurrence, to choose treatment and avoid post-operative worsening.
PENGARUH LATIHAN RENANG INTENSITAS SUBMAKSIMAL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH BETINA KELOMPOK TERLATIH DAN TIDAK TERLATIH Alexander, Michael; Dagradi, Eric Mayo; Andisari, Hendrata Erry
Surabaya Biomedical Journal Vol 4 No 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.118

Abstract

Olahraga adalah kegiatan fisik yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang berolahraga, penting untuk memahami batasan intensitas olahraga yang dilakukan. Intensitas olahraga yang melampaui kemampuan tubuh akan menyebabkan munculnya stres oksidatif. Stres oksidatif akan menimbulkan berbagai masalah fisiologis tubuh, termasuk metabolisme glukosa. Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris. Tikus putih (Rattus norvegicus) betina galur Wistar usia 2 bulan dengan berat badan 180-200 gram dikelompokkan ke dalam 5 kelompok melalui teknik random sampling. K1 merupakan kontrol, K2 diberi latihan setiap hari selama 2 minggu, K3 diberi latihan sekali seminggu selama 2 minggu, K4 diberi latihan setiap hari selama 2 minggu, dan K5 diberi latihan sekali seminggu selama 2 minggu. Semua kelompok setelahnya diistirahatkan selama 1 minggu. K1, K2, dan K3 tidak diberi intervensi. K4 dan K5 diberi intervensi latihan submaksimal 85% rerata waktu tenggelam pertama. Penelitian diterminasi dan dilakukan pengambilan sampel untuk pengujian kadar glukosa darah acak. Hasil kadar glukosa darah acak diolah statistik dengan uji parametrik one-way Anova dan uji post hoc LSD. Hasil kadar glukosa darah (K1) 127,8 mg/dL, (K2) 133,4 mg/dL, (K3) 186,4 mg/dL, (K4) 160,6 mg/dL, dan (K5) 140,6 mg/dL. Uji one-way Anova menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05). Uji post hoc LSD menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok terlatih dengan intervensi dan tidak terlatih dengan intervensi (p>0,05). Intervensi latihan submaksimal setelah istirahat satu minggu pada kelompok terlatih dan tidak terlatih dengan latihan submaksimal tidak memiliki pengaruh terhadap kadar glukosa darah tikus putih (Rattus norvegicus) betina galur Wistar.
PENGARUH LATIHAN RENANG INTENSITAS SUBMAKSIMAL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH BETINA KELOMPOK TERLATIH DAN TIDAK TERLATIH Alexander, Michael; Dagradi, Eric Mayo; Andisari, Hendrata Erry
Surabaya Biomedical Journal Vol. 4 No. 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.118

Abstract

Olahraga adalah kegiatan fisik yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang berolahraga, penting untuk memahami batasan intensitas olahraga yang dilakukan. Intensitas olahraga yang melampaui kemampuan tubuh akan menyebabkan munculnya stres oksidatif. Stres oksidatif akan menimbulkan berbagai masalah fisiologis tubuh, termasuk metabolisme glukosa. Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris. Tikus putih (Rattus norvegicus) betina galur Wistar usia 2 bulan dengan berat badan 180-200 gram dikelompokkan ke dalam 5 kelompok melalui teknik random sampling. K1 merupakan kontrol, K2 diberi latihan setiap hari selama 2 minggu, K3 diberi latihan sekali seminggu selama 2 minggu, K4 diberi latihan setiap hari selama 2 minggu, dan K5 diberi latihan sekali seminggu selama 2 minggu. Semua kelompok setelahnya diistirahatkan selama 1 minggu. K1, K2, dan K3 tidak diberi intervensi. K4 dan K5 diberi intervensi latihan submaksimal 85% rerata waktu tenggelam pertama. Penelitian diterminasi dan dilakukan pengambilan sampel untuk pengujian kadar glukosa darah acak. Hasil kadar glukosa darah acak diolah statistik dengan uji parametrik one-way Anova dan uji post hoc LSD. Hasil kadar glukosa darah (K1) 127,8 mg/dL, (K2) 133,4 mg/dL, (K3) 186,4 mg/dL, (K4) 160,6 mg/dL, dan (K5) 140,6 mg/dL. Uji one-way Anova menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05). Uji post hoc LSD menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok terlatih dengan intervensi dan tidak terlatih dengan intervensi (p>0,05). Intervensi latihan submaksimal setelah istirahat satu minggu pada kelompok terlatih dan tidak terlatih dengan latihan submaksimal tidak memiliki pengaruh terhadap kadar glukosa darah tikus putih (Rattus norvegicus) betina galur Wistar.
Hubungan Antara Lama Hemodialisis Dengan Red Cell Distribution Width (RDW) Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut Dr. Ramelan Surabaya Semara, Putu Bagus Aditya Putra; Herjunianto2, Herjunianto; Andisari, Hendrata Erry
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i9.16334

Abstract

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan yang makin berkembang secara global dan membutuhkan terapi pengganti ginjal. Red cell Distribution Width (RDW) merupakan suatu penanda kuantitatif dari variabilitas ukuran eritrosit. Peningkatan RDW menandakan adanya peningkatan variasi ukuran sel darah merah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama hemodialisis dengan peningkatan Red Cell Distribution Width (RDW) pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan desain penelitian observasional analitik. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 64 pasien PGK yang menjalani HD di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya. Pengambilan data menggunakan data sekunder yaitu rekam medis. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan kedua variabel. Hasil Penelitian menunjukan 64 pasien memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari laki-laki 39(61%) orang dan perempuan 25(39%) orang, dengan rerata umur 53,68±9,54 tahun, rerata lama hemodialisis yang dijalani pasien adalah 10,22±12,29 bulan, dan rerata nilai RDW_CV adalah 15,13±2,36%. Dari hasil uji korelasi Pearson diperoleh koefisien korelasi 0,046 dengan nilai signifikansi (p) = 0,715. Nilai signifikansi (p) 0,715 > (α) 0,05 menunjukan tidak ada hubungan signifikan antara lama hemodialisis dengan peningkatan RDW pasien PGK yang menjalani HD di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa, tidak didapatkan korelasi antara lama HD dengan RDW pasien PGK yang menjalani HD. Nilai RDW pasien PGK yang mejalani HD didapatkan rerata yaitu 15,13%. Lama HD yang dilaksanakan pasien PGK di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya didapatkan rerata yaitu 10,22 bulan.
Efek Ekstrak Etanol Kulit Batang Rhizophora apiculata terhadap Kadar Kolesterol Total Darah pada Rattus norvegicus Jantan yang Diinduksi Deksametason Iswara, Karisma Kasih; Andisari, Hendrata Erry; Handajani, Fitri; Puspita, Angela
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 31 No 6 (2025): NOVEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v31i6.3533

Abstract

Introduction: Hyperlipidemia is an increase in blood lipid levels above normal limits, potentially leading to atherosclerosis and cardiovascular disease. Rhizophora apiculata contains flavonoids that have the potential to lower total blood cholesterol levels. Research on the hypolipidemic effects of R. apiculata is still limited, particularly in dexamethasone-induced animal models. Therefore, this study provides a new contribution to the use of mangrove biota as natural antihyperlipidemic agents. Purpose: This study aims to determine the effect of administering Rhizophora apiculata extract on total blood cholesterol levels in dexamethasone-induced Rattus norvegicus. Methods: This experimental study used a post-test only control group design with 40 male rats divided into four groups: negative control (K–), positive control (K+; induced by dexamethasone at 5 mg/kg BW for 7 days), prophylaxis group (KP; given R. apiculata extract at 56 mg/kg BW from day 8 until the end and induced by dexamethasone like K+), and therapy group (KT; given the extract simultaneously with dexamethasone induction). After treatment, total cholesterol levels were measured from intracardially drawn blood. Results: One-way ANOVA analysis showed a significant difference between groups (p < 0.001). However, post-hoc tests showed no significant difference between the positive control group and the prophylaxis (p = 0.435) or therapy (p = 0.397) groups. Conclusion: Although administration of Rhizophora apiculata extract as prophylaxis or therapy did not significantly reduce total cholesterol levels in dexamethasone-induced Rattus norvegicus, these findings suggest that further research is necessary to elucidate the mechanisms and potential efficacy of R. apiculata active compounds as natural antihyperlipidemic agents. Future studies should consider exploring different dosages, modes of administration, or alternative experimental models to better determine the therapeutic potential of this mangrove extract.