Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALYSIS OF THE DIVERSITY OF RICE FARMING HOUSEHOLD BUSINESSES LEBAK RICE FIELDS ON THE OUTSKIRTS OF PALEMBANG CITY Sari, Komala; Kurniawan, M. Ardi
Journal of Integrated Agribusiness Vol 6 No 1 (2024): Journal of Integrated Agribusiness
Publisher : Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Kelautan Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jia.v6i1.4530

Abstract

Livelihood strategies are various alternative efforts carried out by households to fulfill living needs for sustainable livelihoods. Through the livelihoods approach, we can understand how people/communities create a livelihood, and how they try to survive. The lives of lowland rice farmers on the outskirts of Palembang City are inseparable from the problem of the water regime conditions of the lowlands with all the impacts it causes as well as social and economic aspects and resource aspects (land conversion) from agriculture to residential and housing land. This research aims to 1) analyze the level of business diversity of farmer households, 2) calculate the amount of income of lowland rice farmer households from the on farm, off farm and non farm sectors. 3) distribute the contribution of various incomes from the off-farm and non-farm sectors to the household income of lowland rice farmers on the outskirts of Palembang City. The data used and the analysis carried out used a combination of primary survey data and qualitative data from the results of in-depth interviews with a sample of 32 families. The results of the research show that the diversity of household businesses of lebak farmers on the outskirts of Palembang City, with the calculation of the entropy index, obtained a value of 0.73. This shows that the efforts made by household members are very good. diverse. The average income from rice farming is Rp. 16,168,113.32 /lg/yr and its contribution to the household is moderate (54.96%), the average non-rice farming income is Rp. 4,319,548.42/year with its contribution to households in the low criteria category (14.68%), and the average non-farming income is IDR. 8,928,750.00/year and its contribution to households in the medium criteria category (30.35%).
Menafsirkan Identitas Kolektif dalam Pantun Adat Minangkabau melalui Pendekatan Semiotika Budaya Wulandari, Yosi; Kurniawan, M. Ardi; Purnawan, I Kadek
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.8886

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan identitas kolektif masyarakat Minangkabau sebagaimana tecermin dalam pantun adat melalui pendekatan semiotika budaya. Pantun, sebagai bentuk sastra lisan, tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai teks budaya yang merepresentasikan norma sosial, nilai religius, dan memori kolektif masyarakat pendukungnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis pantun-pantun terpilih dari Pantun Adat Minangkabau karya N.M. Rangkoto (1982) melalui kerangka semiotika budaya. Data dianalisis dengan mengidentifikasi simbol-simbol budaya, menafsirkan makna denotatif dan konotatif, serta menelaah peran simbol tersebut dalam pembentukan identitas kolektif masyarakat Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantun adat Minangkabau memuat sistem tanda yang mengintegrasikan hukum adat dengan prinsip-prinsip Islam. Simbol-simbol seperti “adat”, “syarak”, “sembahyang”, dan “timbangan akal budi” berfungsi sebagai kode ideologis yang menegaskan etika keagamaan, harmoni sosial, serta nilai-nilai matrilineal yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau. Selain itu, pantun berperan sebagai medium naratif yang mentransmisikan nilai-nilai kolektif secara lintas generasi sekaligus merepresentasikan koeksistensi adat dan agama dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian budaya dan sastra, khususnya dalam perspektif semiotika budaya, dengan menunjukkan bahwa pantun adat tidak hanya berfungsi sebagai warisan sastra lisan, tetapi juga sebagai teks ideologis dalam pembentukan dan pemeliharaan identitas kolektif masyarakat Minangkabau. Namun, penelitian ini masih terbatas pada penggunaan satu sumber teks tanpa melibatkan interpretasi masyarakat secara langsung. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi fungsi pantun dalam praktik sosial aktual serta relevansinya dalam kehidupan masyarakat Minangkabau masa kini.