Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KNOWLEDGE AND PERCEPTIONS OF PHARMACY STUDENTS TOWARD TELEPHARMACY SERVICES IN SOUTH KALIMANTAN, INDONESIA Yatminto, Eko; Munif Yasin, Nanang; Wiedyaningsih, Chairun
Journal Pharmaceutical Science and Application Vol. 7 No. 2 (2025): Journal Pharmaceutical Science and Application
Publisher : Pharmacy Department, Math and Sciences Faculty, Udayana Univerity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPSA.2025.v07.i02.p03

Abstract

Background: Telepharmacy offers a promising solution to improve access to pharmaceutical care in remote regions such as South Kalimantan, Indonesia. However, research on pharmacy students’ knowledge and perceptions of telepharmacy remains limited, even though their perspectives are crucial for the digital transformation of pharmaceutical services. Objective: This study aimed to assess pharmacy students’ knowledge and perceptions of telepharmacy in South Kalimantan and to identify associated factors. Methods: A cross-sectional online survey was conducted among 453 pharmacy students from six universities in South Kalimantan (October–December 2024) using a validated 40-item questionnaire. Knowledge and perception scores were categorized by sample medians, and non-parametric statistical analyses were performed using SPSS version 27. Results: Overall, 58.7% of participants had high telepharmacy knowledge, indicating a moderate regional knowledge level, and 54.3% reported positive perceptions. Knowledge was significantly associated with academic year (p < 0.001), parental education (p = 0.014), and university type (p < 0.001), while perceptions were influenced by age (p < 0.001), academic year (p < 0.001), parental education (p = 0.009), and healthcare work experience (p = 0.027). No significant correlation was observed between knowledge and perception scores (ρ = 0.089, p = 0.058). Conclusion: Pharmacy students in South Kalimantan exhibited moderate knowledge and generally positive perceptions of telepharmacy, but these domains were not significantly correlated. The findings underscore the importance of standardized telepharmacy education, integration of practical training, and stronger emphasis on regulatory and data-security aspects to strengthen readiness for digital healthcare transformation.
PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENGOBATAN MANDIRI MENGGUNAKAN METODE CBIA (Community Based Interactive Approach) MASYARAKAT KELAPA SAWIT 14 Akbar, Depy Oktapian; Yatminto, Eko; Fitriah, Rahmayanti; Susiani, Eka Fitri; Muslim, Abdul Aziz; Haliza, Saufa; Damayanti, Rona; Rahmawati, Fitry; Maulida, Nazwa Asysyifa; Nafisah, Seyyidah
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v7i2.15939

Abstract

Meningkatnya praktik pengobatan mandiri di masyarakat sering tidak diiringi dengan pemahaman yang memadai mengenai penggunaan obat yang rasional. Kurangnya pengetahuan tentang cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar berpotensi menyebabkan kesalahan penggunaan obat dan dampak kesehatan yang merugikan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu PKK di Kelurahan Sungai Besar RT 01 mengenai aspek swamedikasi melalui metode Community Based Interactive Approach (CBIA). Metode kegiatan menggunakan desain pretest–post-test satu kelompok pada 30 peserta yang dipilih secara total sampling. Intervensi dilakukan melalui edukasi interaktif menggunakan media PowerPoint, video edukasi, serta praktik langsung berbasis konsep DAGUSIBU. Instrumen evaluasi berupa kuesioner terstruktur 20 butir pernyataan yang dianalisis secara deskriptif menggunakan skala Guttman. Hasil pretest menujukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang pengobatan mandiri masih kurang. Namun pada hasil post-test menujukkan pengetahuan masyarakat mengalami peningkatan. Kesimpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan CBIA efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat secara mandiri. Metode ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan konseptual, tetapi juga membentuk sikap kritis dan kemampuan mengambil keputusan dalam praktik swamedikasi. Oleh karena itu, edukasi CBIA dapat dijadikan strategi preventif yang relevan untuk meningkatkan literasi obat di kalangan masyarakat dan patut untuk diterapkan secara lebih luas.