Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MILANGKALA DESA SEBAGAI UPAYA PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA PADA MASYARAKAT DESA PANULISAN DI DAERAH PERBATASAN JAWA BARAT – JAWA TENGAH Nuraeny, Een; Kuntoro, Kuntoro
Journal of Mandalika Social Science Vol 1 No 1 (2023): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v1i1.80

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pemertahanan bahasa Sunda pada masyarakat Desa Panulisan, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Bahasa tidak dapat dilepaskan dari penuturnya. Hal ini menarik penulis karena Desa Panulisan merupakan sebuah desa yang secara geografis dan etnografis berada di wilayah Jawa Tengah Masyarakat di perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah tepatnya di Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap mengalami kegalauan sejak terbitnya Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 430/9525 Tahun 2014 dan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2021. Masyarakat Dayeuhluhur khususnya para siswa dan pendidik mengalami permasalahan terkait dengan penghapusan pembelajaran bahasa Sunda sebagai muatan lokal. Mereka mengalami masalah yang cukup serius dengan adanya perubahan kurikulum yang mewajibkan bahasa Jawa sebagai muatan lokal. Hampir semua warga di kecamatan Dayeuhluhur menggunakan bahasa Sunda dalam berbagai konteks kehidupan. Keberadaan bahasa Sunda di suatu wilayah perbatasan yang berbeda secara administrasi politik seperti di kecamatan Dayeuhluhur nyaris mati atau justru dimatikan. Pembelajaran mulok bahasa Jawa juga tidak begitu efektif karena keterbatasan kemampuan peserta didik dan mayoritas pendidik yang menggunakan bahasa Sunda. Salah satu upaya yang dikembangkan di suatu desa di kecamatan Dayeuhluhur yaitu Desa Panulisan. Jika secara akademis tidak bisa ditumbuhkembangkan maka ada salah satu upaya yang dilakukan yaitu berupa milangkala desa. Hal ini terlihat dalam upaya pemertahanan bahasa pada hari jadi desa tersebut dengan menggunakan istilah dan budaya sunda yaitu “Milangkala Desa Panulisan” denganmengambil tema pada tiap tahunnya dengan tema “Digjaya Boga Wibawa” dan “Panulisan Pasundan Nu ti Wetan “. Berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritasnya pengguna bahasa Jawa membuat masyarakat Desa Panulisan memiliki tantangan sendiri dalam mempertahankan bahasa Sunda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kajian antropolinguistik. Berdasarkan hasil penelitian seluruh (100%) responden masyarakat Desa Panulisan mengatakan bahwa mereka akan tetap menjaga dan bangga terhadap bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi yaitu bahasa Sunda .Namun responden khawatir jika bahasa Sunda tidak lagi diajarakan secara formal di lembaga pendidikan. Milangkala merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat Desa Panulisan akan mempertahankan bahasa dan kebudayaannya sebagai wujud dan jati diri asal usul dari mana mereka berasal dan merupakan kebudayaan yang harus mereka lestarikan
Peran Linguistik Forensik: Tinjauan Hukum, Bahasa dan Budaya Nuraeny, Een; Wuryantoro, Aris
Journal of Mandalika Social Science Vol 1 No 1 (2023): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v1i1.81

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran Linguistik Forensik yang ditinjau dari sudut pandang hukum, bahasa dan budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan disain deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik simak catat dari dokumen dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE). Data berupa ekpresi verbal dianalisis dengan model alur (flow model) dari sudut pandang hukum, bahasa dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran linguistik forensik sangat penting dalam mengurai permasalahan hukum yang dihadapi oleh warga terkait informasi dan transaksi elektronik, yaitu linguistik forensik dapat membantu proses hukum dalam tahap investigasi, tahap percobaan, dan tahap banding; linguistik forensik dan bahasa memiliki hubungan yang sangat erat; dan pemahaman dan pertimbangan budaya diperlukan di dalam cara kerja linguistik forensik dan hukum, seperti nilai, ideologi atau keyakinan
Analisis Strukturalisme Levi-Strauss dan Dimensi Profil Pelajar Pancasila pada Cerita Rakyat Kerajaan Dayeuhluhur Cikal Bakal Kabupaten Cilacap Nuraeny, Een; Suroso, Eko
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 19 (2024): Proceedings of Webinar International Globalizing Local Wisdom: Integrating Cultural
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v19i.1339

Abstract

Indonesia has a long history of heroism, chivalry, and patriotism throughout its islands. These stories have been told from generation to generation in oral folklore. One of the interesting folktales that contains character cultural values is the folklore from Cilacap regency with the Dayeuhluhur Kingdom of Cilacap Regency. The purpose of this research is to describe and explain the structure of Levi-Strauss and the dimensions of the profile of Pancasila Students in the folklore of the Dayeuhluhur Kingdom of Cilacap Regency. This study uses content analysis techniques. Based on the results of the research, it can be concluded that the episodes in the folklore of the Dayeuhluhur Kingdom of Cilacap Regency consist of five episodes. The episode is explained in sequence and sequence starting from the background of Prabu Gagak Ngampar's wanderings until the Dayeuhluhur Kingdom ends. In the structural analysis, there are 4 levels, the geographical level describes the place that Prabu Gagak Ngampar passed through during his wanderings and found a plain named the Dayeuhluhur Kingdom. The techno-economic structure describes the economy of the Dayeuhluhur people during the Dayeuhluhur Kingdom, namely farming, gardening, and hunting animals. The sociological structure describes the interaction of Kingdom figures and ordinary people. Finally, the cosmological structure describes human life with the Creator as well as the occult and magic. The dimension of the profile of Pancasila students can be reflected in the description of the life of the Dayeuhluhur kings contained in the promise of Prabu Gagak Ngampar which became the philosophy of life of the community known as Rineksa Panca Satya. This life guideline is in line with the dementia profile of Pancasila students.