Vebryana, Lukluk Chaeratunnisya
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEBERAGAMAN PADA KELOMPOK PENGGEMAR K-POP DI INDONESIA Hidayat, Muslim; Ahmadiyati, Jihan Nurrizki; Sulistiyani, Ratna; Vebryana, Lukluk Chaeratunnisya; Azzahra, Yumna; Bobihu, Nursyahdina Al-Rahmah; Maknuna, Luluk
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v2i2.12194

Abstract

Hallyu or Korean cultural wave has become a cultural force in Asia and began to export its cultural products widely to the Middle East, Europe, South America, Africa and North America. Korean pop music or better known as K-pop has now succeeded in placing it self in the global market and producing a new musical sensation. K-pop has the characteristics of music that can provide its own pleasure for the audience, so that this type of music is increasingly favored and consumed by many people regardless of gender or age range. Individuals in early adulthood tend to have a strong attraction to celebrities in their lives, such as pop idols, movie stars, and the like. This will eventually give rise to fan groups who are the most visible part of the audience of cultural texts and practices dominated by people in early adulthood. Fan groups that appear in K-pop culture are called K-popers (K-pop Lovers) or the K-pop community who hunts for all information about their favorite K-pop idols such as groups of singers and Korean music groups commonly referred to as Boy Bands and Girlbands. This study aims to determine the process of forming social groups and how the phenomenon of K-pop fan groups in the process of group formation is viewed from the point of view of social psychology. The method used in this research is to use a literacy study method or commonly referred to as a literature study, where the data obtained are sourced from recording and processing the research data obtained.Abstrak Hallyu atau gelombang budaya korea telah menjadi kekuatan budaya di Asia dan mulai mengekspor produk budayanya secara luas hingga ke Timur Tengah, Eropa, Amerika Selatan, Afrika dan Amerika Utara. Musik pop Korea atau lebih dikenal sebagai K-pop kini berhasil menempatkan diri di pasar global dan menghasilkan sensasi musik yang baru. K-pop memiliki ciri khas musik yang dapat memberikan kesenangan tersendiri bagi para penikmatnya, sehingga jenis musik tersebut semakin digemari dan dikonsumsi oleh banyak orang tanpa membedakan jenis kelamin maupun rentang usia. Individu pada masa dewasa awal cenderung memiliki ketertarikan yang kuat terhadap selebritas dalam kehidupannya, seperti idola pop, bintang film, dan semacamnya. Hal ini pada akhirnya akan memunculkan kelompok penggemar yang merupakan bagian paling tampak dari khalayak teks dan praktik budaya yang didominasi oleh orang-orang pada tahap dewasa awal. Kelompok penggemar yang muncul dalam budaya K-pop disebut dengan K-popers (K-pop Lovers) atau komunitas K-pop yang berburu segala informasi tentang idola K-pop yang disukainya seperti kelompok penyanyi dan grup musik Korea yang biasa disebut dengan Boy Band dan Girl Band. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembentukan kelompok sosial dan bagaimana fenomena kelompok penggemar K-pop dalam proses pembentukan kelompok yang dirtinjau dari sudut pandang ilmu psikologi sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode studi literasi atau biasa disebut juga sebagai studi kepustakaan, dimana data yang diperoleh bersumber dari mencatat dan mengolah data penelitian yang didapatkan. 
KEBERAGAMAN PADA KELOMPOK PENGGEMAR K-POP DI INDONESIA Hidayat, Muslim; Ahmadiyati, Jihan Nurrizki; Sulistiyani, Ratna; Vebryana, Lukluk Chaeratunnisya; Azzahra, Yumna; Bobihu, Nursyahdina Al-Rahmah; Maknuna, Luluk
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v2i2.12194

Abstract

Hallyu or Korean cultural wave has become a cultural force in Asia and began to export its cultural products widely to the Middle East, Europe, South America, Africa and North America. Korean pop music or better known as K-pop has now succeeded in placing it self in the global market and producing a new musical sensation. K-pop has the characteristics of music that can provide its own pleasure for the audience, so that this type of music is increasingly favored and consumed by many people regardless of gender or age range. Individuals in early adulthood tend to have a strong attraction to celebrities in their lives, such as pop idols, movie stars, and the like. This will eventually give rise to fan groups who are the most visible part of the audience of cultural texts and practices dominated by people in early adulthood. Fan groups that appear in K-pop culture are called K-popers (K-pop Lovers) or the K-pop community who hunts for all information about their favorite K-pop idols such as groups of singers and Korean music groups commonly referred to as Boy Bands and Girlbands. This study aims to determine the process of forming social groups and how the phenomenon of K-pop fan groups in the process of group formation is viewed from the point of view of social psychology. The method used in this research is to use a literacy study method or commonly referred to as a literature study, where the data obtained are sourced from recording and processing the research data obtained.Abstrak Hallyu atau gelombang budaya korea telah menjadi kekuatan budaya di Asia dan mulai mengekspor produk budayanya secara luas hingga ke Timur Tengah, Eropa, Amerika Selatan, Afrika dan Amerika Utara. Musik pop Korea atau lebih dikenal sebagai K-pop kini berhasil menempatkan diri di pasar global dan menghasilkan sensasi musik yang baru. K-pop memiliki ciri khas musik yang dapat memberikan kesenangan tersendiri bagi para penikmatnya, sehingga jenis musik tersebut semakin digemari dan dikonsumsi oleh banyak orang tanpa membedakan jenis kelamin maupun rentang usia. Individu pada masa dewasa awal cenderung memiliki ketertarikan yang kuat terhadap selebritas dalam kehidupannya, seperti idola pop, bintang film, dan semacamnya. Hal ini pada akhirnya akan memunculkan kelompok penggemar yang merupakan bagian paling tampak dari khalayak teks dan praktik budaya yang didominasi oleh orang-orang pada tahap dewasa awal. Kelompok penggemar yang muncul dalam budaya K-pop disebut dengan K-popers (K-pop Lovers) atau komunitas K-pop yang berburu segala informasi tentang idola K-pop yang disukainya seperti kelompok penyanyi dan grup musik Korea yang biasa disebut dengan Boy Band dan Girl Band. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembentukan kelompok sosial dan bagaimana fenomena kelompok penggemar K-pop dalam proses pembentukan kelompok yang dirtinjau dari sudut pandang ilmu psikologi sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode studi literasi atau biasa disebut juga sebagai studi kepustakaan, dimana data yang diperoleh bersumber dari mencatat dan mengolah data penelitian yang didapatkan. 
Pengembangan dan Validasi Skala Keberfungsian Keluarga Menggunakan Analisis Faktor Konfirmatori Apriliawati, Denisa; Saputro, Muhammad Riski; Fadhilah, Inayatul; Putra, Megantara; Ashary, Aisyah Ihza; Vebryana, Lukluk Chaeratunnisya
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 4 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v11i4.8264

Abstract

Family functioning is a pivotal factor influencing child’s problems including mental, behavioral, and developmental disorder. This study aimed to assemble and validate family functioning scale using confirmatory factor analysis. The research was done on 134 late adolescences, age ranges were between 18-22 y.o. Family functioning scale was developed from the process model of family functioning which has seven components i.e., task accomplishment, role performance, communication, affective expression, affective involvement, control, and value and norm. The result shows that all components have significant factor loadings, and the scale is reliable. However, the data has shown that the model is not fit enough indicated by underperformed CFI. TLI, and RMSEA. Suggestions for future development were discussed.Keberfungsian keluarga merupakan faktor penting dalam mengatasi permasalahan-permasalahan anak seperti gangguan mental, perilaku, dan perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun dan memvalidasi skala keberfungsian keluarga menggunakan analisis faktor konfirmatori. Penelitian dilakukan terhadap 134 remaja akhir dengan rentang usia 18-22 tahun. Instrumen skala keberfungsian keluarga dikembangkan berdasarkan teori proses keberfungsian keluarga yang memiliki tujuh komponen yaitu pencapaian tugas, kinerja peran, komunikasi, ekspresi afektif, keterlibatan afektif, kontrol, dan nilai serta norma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua komponen memiliki Factor Loading yang signifikan dan skala bersifat sangat reliabel. Hanya saja, skala belum menunjukkan model fit yang cukup karena nilai CFI, TLI, dan RMSEA yang belum mencapai standar. Saran untuk perkembangan penelitian ini telah didiskusikan.